Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Punya SIM


__ADS_3

Hari Minggu, Rara dan Rayyan pun latihan lagi. Bahkan hari ini mereka latihan dari jam tujuh pagi sampai jam tiga sore, sampai Rayyan benar-benar memberika kepercayaan penuh kepada Rara, barulah Rara membawa mobil itu melewati jalan raya. Rara bahkan juga sudah mempelajari rambu-rambu lalu lintas. Dan Rara sudah bisa menyetir dengan mahir. Kini mereka juga bisa jalan-jalan keliling kota, dengan Rara yang menyetir mobil sedangkan Rayyan, ia di samping Rara dan memainkan Hpnya. Ia sudah memberikan Rara kepercayaan, jadi ia tenang-tenang aja.


Rara pun walaupun awalnya gugup, tapi kini ia sudah bisa santai dan rileks.


Keesokan harinya, Rayyan mengantarkan Rara untuk membuat SIM. Bahkan Rayyan sampai rela libur ngajar demi menemani Rara seharian membuat SIM.


Setelah seharian berjuang, akhirnya Rara benar-benar di nyatakan lulus dan kini ia sudah memegang SIM sendiri, bahkan sangking senangnya, Rara sampai memeluk Rayyan dengan erat. Mendapatkan pelukan secara tiba-tiba, jujur Rayyan merasa canggung, tapi ia berusaha untuk terlihat biasa aja.


"Maaf ya, Mas," setelah sadar akan kesalahannya, membuat Rara segera melepas pelukannya.


"Gak papa, aku tau kamu senang. Okay, untuk merayakan kamu yang kini sudah punya SIM sendiri, gimana kalau kita ke Mall," ajak Rayyan.


"Ngapain?"

__ADS_1


"Nonton film di bioskop, katanya ada film baru yang cukup booming," jawabnya.


"Oke, ayo."


Dan mereka pun langsung pergi ke Mall dengan tetap Rara yang menyetir mobilnya. Sesampai di Mall dan memarkirkan mobil, mereka turun dari mobil dan pergi untuk menonton film. Mereka juga membeli makanan agar bisa nonton sambil nyemil.


Rara dan Rayyan duduk di kursi belakang yang cukup gelap, awalnya mereka ingin duduk di kursi depan, tapi sayangnya sudah penuh dan akhirnya mereka hanya mendapatkan bagian belakang, tapi tak apa. Mereka cukup senang dan menikmati film itu sambil mengemil. Bahkan di tengah-tengah film itu, Rara sempat menitikkan air mata, karena melihat wanitanya yang terluka karena di khianati hingga wanita itu memilih untuk pergi dari kehidupan prianya. Dan setelah wanita itu pergi, barulah sang pria merasakan kehilangan dan menyesal sudah mengkhianati wanita yang ia cintai. Tapi sayangnya ia sudah terlambat, karena wanitanya sudah pergi dan ia tak tau wanita itu pergi kemana.


Namun ia tak pantang menyerah, ia mencoba untuk mencari wanita yang sudah membawa separuh hidupnya itu, membawa hati dan cintanya, dan ia akan menemukan wanitanya dan meminta maaf. Tapi sayangnya, setelah berbulan-bulan, ia malah mendapatkan kabar, jika wanitanya sudah menikah dan kini tengah hamil muda. Mendengan hal itu membuat dia sedih dan terluka, tapi ia ikut bahagia melihat wanita yang ia cintai bahagia bersama laki-laki yang tulus mencintainya. Tak seperti dirinya yang mudah berkhianat hanya karena di goda oleh wanita murahan di luar sana.


Namun sayangnya, saat dalam perjalaan pulang, mungkin karena terlalu banyak melamun, ia akhirnya kecelakaan dan meninggal di tempat. Namun di akhirn hidupnya, ia hanya menyebut wanita yang ia cintai dalam hati dan berharap jika wanita itu terus bahagia bersama suami dan calon anaknya. Dan setelah itu, ia menutup mata untuk selamanya.


Melihat hal itu, Rara benar-benar menangis sedih bahkan ia sudah tak minat untuk memakan camilannya yang masih sisa sedikit. Rayyan yang melihatnya jadi tak tega, ia mengambil tisu yang ia beli dan mengusap air mata Rara. Mendapatkan perhatian itu, Rara menoleh ke arah Rayyan.

__ADS_1


"Mas," panggil Rara dengan suara serak.


"Jangan nangis lagi," ucap Rayyan.


"Aku kasihan sama laki-lakinya, Mas. WAlaupun ia bersalah karena sudah mengkhianati dan membuat wanita itu terluka, tapi ia sudah menyesalinya, sayangnya penyesalan itu tak ada gunanya, karena wanita itu sudah menemukan laki-laki yang tulus dan hidup bahagia bersama mereka. Tapi melihat dia meninggal karena kecelakan, membuat hatiku sakit," ucap Rara.


"Ra, apakah kamu akan memaafkan jika suamimu itu juga menyesali perbuatannya?" tanya Rayyan dengan hati-hati


Mendengar hal itu, Rara langsung menggelengkan kepala.


"Aku gak bisa, Mas. Pertama karena Mas Rian sudah berkhianat, bahkan sudah melakukan hubungan badan dengan wanita lain. Kedua, dia tak bertanggung jawab sebagai seorang suami, terlalu pelit dan tak mau memberikan aku nafkah lahir bathin. Ketiga, karena Mas Rian kasar sama aku, suka menghina aku, mencaci maki, aku, membentak aku, bahkan tak jarang menampar aku, memukul dan menendang perut dan tubuh aku sert menjambak rambut aku dan membentukan kepala aku. Setelah semua yang aku rasakan selama ini, aku cukup waras untuk tidak mengulangi kesakitan itu di masa depan," jawab Rara dengan tegas. Membuat itu, Rayyan bernafas lega. Ia pun juga tak akan rela jika Rara harus hidup menderita bersama Rian, orang yang sudah menciptakan banyak luka untuk Rara.


Setelah menonton film, mereka pergi untuk mencari baju couple. Rayyan juga membelikan jam tangan yang cukup mahal untuk Rara, awalnya Rara menolak, tapi seperti biasa, RAyyan pasti akan memaksa Rara untuk menerimanya. Karena menurutnya, wanita yang pakai jam tangan itu makin terlihat cantik dan menawan. Rara pun akhirnya menerimanya bahkan langsung memakainya di tangan kirinya.

__ADS_1


Dan setelah itu, mereka pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam.


__ADS_2