Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Rara dan Lala


__ADS_3

Pulang kuliah, Rara mengajak Putri jalan-jalan ke Mall. Karena hari ini ia nyetir mobil sendiri, jadi ia bebas pulang bareng sahabatnya itu bahkan sebelum pulang, selalu menyempatkan diri mengajak Putri untuk jalan-jalan sebentar, lalu mengantarkan Putri pulang ke rumahnya. Tapi jika Rara berangkat kuliah bareng Rayyan, maka ia tak akan bisa mengantarkan Putri pulang, dan Putri pun akan pulang naik angkot.


"Ra, kita ngapain ke Mall?" tanya Putri, sebenarnya ia ingin segera pulang karena ia merasa tubuhnya sangat lelah, kemarin sepulang kuliah, ia hanya istirahat sebentar. Lalu mulai mengajar les dari jam empat sore, sampai jam lima sore khusus anak TK dan SD. Dan sudah ada sebelas anak yang menjadi murid lesnya. Sedangkan habis maghrib, ia mengajar lagi khusus anak SMP dan sudah ada tujuh anak yang les padanya. Mungkin karena harganya lebih murah dari pada di tempat yang lain sehingga membuat banyak anak-anak yang mau les di tempat Putri.


Untuk anak SMP, ia mengajar dari jam tujuh sampai jam delapan. Cukup satu jam saja, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah itu, ia membantu ibunya untuk membuat kue agar bisa di titipkan di warung-warung dan itu baru selesai jam sebelas malam. Habis itu, Putri masih belum bisa tidur, karena masih harus mengerjakan tugas kuliahnya sampai jam dua pagi karena harus di kumpulkan pagii harinya. Untuk itu, saat ini Putri merasa lelah dan ingin segera pulang dan istirahat sebentar. Namun, ia juga tak bisa menolak keinginan Rara yang sudah baik hati padanya.


Rara sudah membelikan dia Hp, sering mengantarkan dia pulang jika bawa mobil sendiri, suka traktir dirinya makan di kantin, dan juga suka mengajak dirinya jalan-jalan setiap pulang kuliah dan tentu, Rara semuanya yang bayarin. Tanpa Rara, mungkin ia tak akan menginjakkkan kaki di Mall, resto, kafe dan yang lainnya serta merasakan makanan yang cukup mahal, yang tak mungkin ia beli karena ia sadar diri, ia tak sekaya Rara. Lalu jika saat ini, Rara mengajak dirinya jalan, alangkah egoisnya, jika ia masih mau menolak ajakan sahabatnya itu. Untuk itu, walaupun ia lelah, ia tetap mau menemani Rara jalan.


Saat Rara dan Putri tengah jalan-jalan, tiba-tiba seseorang memanggil Rara.


"Kak, Kak Rara," panggilnya dan Rara pun menoleh ke asal suara.


"Lala," ucapnya, ia tersenyum ramah kepada mantan adik iparnya itu.


"Kak Rara, akhirnya kita bertemu juga," ucap Lala terengah-engah, karena ia lari menghampiri Rara.


"Hey, apa kabar?" tanya Rara kaku, karena ia gak tau harus bagaimana menyapa mantan adik iparnya itu.


"Baik, Kak. Kakak, apa kabar?" tanya Lala balik.


"Balik, kamu sama siapa?" tanya Rara.


"Aku sendirian, sebenarnya tadi aku bareng Kak Rian, tapi Kak Rian pulang dulu karena ada panggilan dari pelanggannya," jawab Lala jujur. Ya, hari ini Rian mengajak Lala ke Mall karena kemarin Rian mendapatkan rezeki lebih dan ia ingin menyenangkan Lala karena sudah lama, Lala tidak jalan-jalan. Tapi sayangnya, baru sampai Ke Mall. Rian mendapatkan panggilan dan seseorang membutuhkan dirinya untuk memperbaiki mobilnya. Dan Rian pun awalnya ingin menolak, tapi Lala mencegahnya, karena bagaimanapun rezeki tak boleh ditolak. Akhirnya, Rian pun pulang lebih dulu, namun sebelum pulang, ia memberikan uang kepada Lala tiga ratus ribu agar Lala bisa bersenang-senang.


"Oh, mau bareng aku?" tanya Rara.


"Emang boleh?" tanya Lala sambil melihat ke arah Putri.


"Boleh, oh ya kenalin ini Putri, temannya kakak," ujar Rara karena melihat Lala yang menatap ke arah Putri.


"Hey, aku Putri," ujar Putri sambil berjabat tangan dengan Lala. "Aku, Lala. Salam kenal, Kak," ucap Lala tersenyum, tak ada lagi kesombongan seperti dulu, Lala sudah berubah drastis, tak ada lagi muka angkuh, sombong, dan yang lainnya.


"Kamu sudah makan, La?" tanya Rara.


"Belum sih, Kak."


"Iya sudah, ayo kita makan dulu, setelah itu, Kakak akan antar kamu pulang, atau masih mau jalan-jalan?" tanya Rara.


"Enggak, Kak. Setelah ini, aku langsung mau aku pulang," jawab Lala.


"Iya sudah, kalau gitu, ayo ikut Kakak makan," ajak Rara. Lala pun menganggukkan kepala. Ini adalah kesempatan buat Lala dekat dengan mantan kakak iparnya dan meminta maaf, jadi ia tak mau jika harus pergi walaupun sebenarnya ia masih ingin jalan-jalan.


Mereka bertiga pun pergi ke resto yang ada di lantai tiga. Ya di Mall ini, banyak sekali resto dan kafe, jadi mereka tak perlu pergi ke luar hanya untuk cari makan.


Rara memesan makanan dan minuman kesukannya, ia juga meminta Putri dan Lala untuk memesan makanan dan minuman kesukaan mereka. Awalnya mereka sempat ragu, namun karena Rara mengatakan ia yang membayarnay, maka Putri dan Lala pun memesan makanan dan minuman yang harganya cukup murah, mereka sadar dan tau diri, jadi tak mungkin mereka memilih makanan dan minuman kesukaan mereka yang harganya cukup mahal itu.


"Kamu gak sekolah, La?" tanya Rara sambil menunggu pesanan datang.


"Enggak, Kak. Aku berhenti," jawab Lala dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Kenapa, kamu masih muda loh. Masa depan kamu masih panjang," ucap Rara heran.


"Hehe gak papa, Kak. Aku cuma malas aja mau sekolah," sahutnya berbohong. Ia putus sekolah, bukan karena malas belajar, tapi ia tak mau menjadi beban kakaknya lagi.


"Hmm padahal sayang banget loh," ujar Rara yang mempercayai ucapan Lala. Sedangkan Putri, ia seperti menangkap nada sedih dari ucapan Lala, sebagai sesama orang yang lagi kesulitan ekonomi, Putri bisa faham betul jika Lala tidak sekolah bukan karena malas tapi karena ada alasan lain, dan bisa jadi ekonomi adalah alasan utamanya. Namun, Putri tak mau ikut campur, dan ia memilih diam dan memainkan Hpnya.


"Hehe iya, Kak."


"Kata Kak Rian, Kakak kuliah ya?" tanya Putri.


"Iya, kakak memutuskan melanjutkan sekolah lagi, La. Mumpung masih muda," jawab Rara.


Tak lama kemudian, makanan dan minuman yang mereka pesan pun datang. Lalu mereka pun makan sambil mengobrol.


"Waktu Kakak mengantar Kak Rian ke bengkel, kok gak mampir?" tanya Lala memecahkan suasana.


"Kakak buru-buru waktu itu, tapi lain kali, Kakak akan mampir ke sana,"


"Beneran ya, Kak."


"Iya." jawab Rara tersenyum ramah.


"Oh ya, Put. Tugas yang Pak Andre itu, kamu sudah nemu bukunya, belum?" tanya Rara saat ingat akan tugas yang diberikan Pak Andre.


"Sudah, La. Ini." Putri memperlihatkan buku yang ada di Hpnya. Hanya beruba gambar aja.


"Harganya cukup mahal," ucap Putri, tadi ia emang mencari referensi di google, buku yang ia butuhkan untuk mengerjakan tugasnya karena Minggu depan harus dikumpulkan.


"Oh ya, kalau gitu aku boleh pinjem juga gak?" tanya Putri senang.


"Boleh dong, nanti kita gantian aja, kamu mau mengerjakan dulu atau gimana?" tanya Rara.


"Kamu duluan aja deh, baru aku,"


"Baiklah, kalau aku sudah selesai dengan tugasnya, nanti aku kasih ke kamu,"


"Tapi jangan lama-lama ya, takut waktunya keburu habis,"


"Siap, lagian masih Minggu depan,"


"Iya sih, tapi kan kalau di undur terus, nanti malah keteteran,"


"Baiklah, nanti malam tugasnya langsung aku kerjakan, biar besok langsung aku bawa bukunya."


"Makasih, ya. Enak ya punya kakak seorang dosen, selain bisa membantu kamu mengerjakan tugas juga bisa meminjam bukunya," goda Putri, namun kata-kata itu sukses membuat Lala tercengang. "Sejak kapan Kak Rara, punya kakak seorang dosen. Bukannya Kak Rara itu seorang yatim piatu dan gak punya keluarga?" tanya Lala dalam hati. Namun ia tak berani bertanya karena takut di anggap terlalu kepo dan membuat Rara gak nyaman dengan pertanyaannya.


"Biasa aja sih, Put. Enak gak enak. ENaknya ya aku bisa bertanya jika ada tugas yang gak aku ngerti, gak enaknya, dia terlalu di siplin. Kalau tugas belum selesai di kerjakan, jangan harap, bisa main Hp, nonton tivi, atau pergi jalan-jalan. Dia terlalu tegas orangnya,"


"Itu kan demi kebaikanmu, Ra."

__ADS_1


"Iya juga sih."


Mereka pun terus mengobrol, sampai akhirnya semua makanan dan minuman ludes semua. Lalu setelah itu, Rara mengantar Putri lebih dulu karena rumah Putri cukup dekat dari sini.


"Makasih ya, Ra,"


"Iya, Put. Besok aku gak bisa jemput kamu, karena aku berangkat bareng Mas Ray,"


"Iya, gak papa, kok. Aku tunggu bukunya besok ya,"


"Siap,"


"Iya sudah kamu hati-hati pulangnya."


"Iya, salam buat orang tua kamu ya,"


"Okay."


Dan setelah itu, Putri pun segera melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya.


"La, pindah depan ya," ujar Rara.


"Iya, Kak." Tanpa ada bantahan, Lala pun segera pindah ke kursi depan. Dan setelah itu, Rara pun menjalankan mobilnya untuk mengantarkan Lala.


"Kak, aku minta maaf ya," ucap Lala.


"Minta maaf apa, La?" tanya Rara sambil fokus menyetir.


"Karena sikap aku dulu yang sangat kelewatanan, maaf karena aku sudah mengambil Hak kakak, seharusnya gaji Kak Rian buat Kak Rara. Tapi aku dengan egoisnya malah minta ini dan itu, lalu aku sering kali bersikap kasar, aku benar-benar minta maaf,"


"Aku sudah maafin kamu, La. Aku juga sudah melupakan masa lalu. Aku anggap itu ujian hidupku aja, tanpa masa lalu, aku tak mungkin bisa merasakan kebahagiaanku saat ini. Apa yang terjadi dalam hidupku, itu sudah menjadi suratan takdir, memang sudah jalannya aku hidup seperti itu," jawab Rara tersenyum ramah.


"Aku menyesal, Kak. Sangat menyesal, aku bahkan tak tenang rasanya karena belum minta maaf sama Kak Rara."


"Aku sudah maafin, kok. Jadi santai aja ya, gak usah merasa bersalah lagi. Oh ya kamu mau di antar ke bengkel atau ke rumah?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Rumah aja, Kak. Lagian bengkel tutup hari ini, aku tinggal sama Kak Rian di rumah yang Kakak tempati dulu,"


"Oh, okay. Aku sekalian mau ke rumah Ibu Arsih, kita mampir ke toko kue dulu ya, gak papa, kan?"


"Enggak papa kok, Kak." Lalu setelah itu, Rara pun mencari toko kue, lalu ia membeli dua kue yang cukup besar. Lalu setelah itu, ia pun melanjutkan perjalannya menuju rumah Lala.


Sesampai depan rumah Ibu Arsih, Rara mematikan mobilnya.


"Itu buat kamu, La. Maaf ya, aku cuma nganter sampai sini, soalnya kau mau ketemu Ibu Arsih dulu,"


"Iya, Kak. Makasih ya, Kak. Sudah mengantar aku sampai sini,"


"Iya."

__ADS_1


Dan setelah itu, Lala pun turun dari mobil sambil membawa kue pemberian Rara. Rara pun juga turun dari mobil sambil membawa kue dan berjalan ke rumah Ibu Arsih.


__ADS_2