
Keesokan harinya, selesai sholat shubuh. Rara segera pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan disana. Ia menjadi tukang panggul yang di bayar dua ribu per orang, kadang jika berat dan banyak bisa di kasih sepuluh ribu sampai dua puluh ribu. Jika beruntung, Rara bisa membawa pulang uang lima puluh ribu tapi jika sepi, ia hanya membawa uang lima ribu bahkan pernah ia pulang gak bawa uang sama sekali.
Orang-orang pasar sudah mengenal Rara, kadang mereka juga kasihan melihat Rara, tubuh kurus, wajah tirus, baju yang warnanya bahkan sudah pudar dan wajah yang kusut. Kadang jika ada rezeki lebih, mereka memberi Rara makanan dan minuman, bahkan ada yang memberikan sayuran dan tempe yang sedikit busuk untuk di bawa pulang. Dan tentu Rara akan menerimanya, yang penting ia tak minta lebih dulu.
Rara pergi ke pasar dengan lari-lari agar tak kesiangan sampai pasar. Dan butuh waktu setengah jam ia lari untuk bisa sampai ke pasar. Ia harus kerja lebih giat agar bisa melunasi hutang-hutangnya di warung-warung dan agar bisa beli kebutuhan rumah dan yang lainnya.
Sesampai di pasar, Rara langsung di panggil oleh wanita paruh baya untuk membawakan barangnya ke mobil yang di parkir di depan pasar. Rara pun dengan semangat dan penuh dengan kehati-hatian membawa barang itu sampai ke mobil.
"Terimakasih, ya," ucap Ibu Sarah, langganan Rara selama ini.
"Sama-sama, Bu. Terimakasih juga sudah menggunakan jasa saya selama ini," ujar Rara tersenyum ramah.
"Jika kamu mau, kamu bisa kerja di rumah Ibu,"
"Kerja apa, Bu?" tanya Rara.
"Bantu-bantu saya bersih-bersih rumah,"
"Saya mau, Bu. Tapi saya gak bisa kalau menginap dan saya juga gak bisa datang terlalu pagi ke rumah Ibu,"
"Kenapa?"
"Saya harus menyiapkan sarapan pagi lebih dulu untuk suami saya," ucap Rara jujur membuat Ibu Sarah kaget. Tak menyangka jika wanita muda yang ada di hadapannya ini sudah menikah. Selama ini, ia hanya menggunakan jasa Rara dan hanya berbicara seperlunya aja. Tidak seperti sekarang.
"Loh kamu sudah nikah?"
"Hehe iya, Bu."
"Sudah berapa lama?"
"Bulan depan genap satu tahun,"
"Emang sudah lulus sekolah?"
"Sudah tahun lalu, terus langsung nikah,"
"Hemm gitu, sudah umur berapa?"
"18 tahun, karena saya lulus SMA umur tujuh belas,"
__ADS_1
"Masih muda, orang tua apa merestui?"
"Ibu saya sudah meninggal saat saya baru lulus SMA. Itu alasan kenapa saya memilih menikah, karena saya tak punya orang tua lagi," jawab Rara sedih.
"Ayah kamu?"
"Kebetulan saya di asuh oleh ibu angkat. Seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, dan beliau melihat saya di tempat sampah, lalu beliau mengasuh saya sampai akhirnya ibu angkat saya meninggal tahun lalu saat saya baru lulus SMA. Itulah kenapa saya memilih menikah, karena saya tak ada rumah dan saudara. Rumah yang dulu saya tempati bersama ibu angkat hanya rumah kos yang harus bayar tiap bulan. Dan saya tak mampu untuk membayarnya sehingga Ibu kos mengusir saya, untungnya ada laki-laki yang mau menikahi saya dan menjadikan saya seorang istri." Entah kenapa Rara untuk pertama kalinya menceritakan jalan hidupnya pada Ibu Sarah. Padahal selama ini, ia memilih memendam semuanya seorang diri. Dan hanya menahan semua derita itu tanpa ada yang mengetahuinya.
"Ya Allah ... Tapi suamimu baik kan?" tanyanya. Rara tak menjawabnya, Ibu Sarah yang mengerti pun akhirnya tak lagi menanyakannya. Baginya dengan Rara diam, itu membuat Ibu Sarah mengerti bahwa ada yang tidak beres dalam pernikahan Rara dan suaminya.
"Ya sudah mulai besok kamu datang ke rumah saya ya, kamu bisa datang setelah kamu menyelesaikan pekerjaan rumah kamu. Kamu tau alamat Jalan Anggrek Gang V kan?"
"Tau, Bu. Itu kawasan elit kan?"
"Ya, nanti kamu datang ke sana ya. Rumah saya di Jalan Anggrek Gang V nomer 10."
"Baik, Bu. InsyaAllah saya akan kesana besok, saya usahakan jam sembilan sudah ada disana,"
"Kamu mau naik apa kesana?"
"Jalan kaki,"
"APA!!" Ibu Sara kaget mendengarnya karena rumahnya cukup jauh.
Rara yang di tanya pun hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum malu
"Kamu setiap hari ke pasar naik apa?"
"Jalan kaki, saya lari tiap hari,"
"Ya Allah, rumahmu dimana?"
"Di jalan Mawar,"
"Astagfirullah ... Itu jauh loh,"
"Hehe iya, Bu."
"Kami gak capek setiap hari pulang pergi jalan kaki?"
__ADS_1
"Enggak, Bu. Tapi kadang capek juga sih,"
"Itu bisa satu jam kan kalau jalan kaki,"
"Iya tapi kalau lari setengah jam sudah sampai,"
"Suamimu gak kerja?"
"Kerja, Bu."
"Dimana?"
"PT Angkasa,"
"Bukannya itu pabrik sepatu?"
"Iya,"
"Biasanya gajinya cukup besar di sana. Kamu gak di kasih uang?"
"Di kasih, Bu."
"Di kasih? Tapi kok kamu banting tulang sampai segininya," sindir Ibu Sarah geleng-geleng kepala.
"Iya sudah karena ini sudah siang, ayo saya antar pulang. Biar kamu gak capek," lanjut Ibu Sarah
"Eh, tapi ...." Rara tak mungkin pulang, sedangkan ia belum dapat uang sama sekali.
"Sudahlah, nanti saya kasih uang buat kamu. Ayo, waktu kamu kan juga terbuang sia-sia gara-gara sedari tadi saya ajak ngobrol. Anggap aja, saya beli waktu kamu barusan,"
"Tapi ...." Rara bingung, jika ia pulang dan gak dapat uang, ia harus beli lauk pauk gimana. Tak mungkin ia menghutang lagi. Tapi jika hari ini tak ada lauk pauknya, bisa-bisa ia kena tendangan maut dari suaminya. Mengingat hal itu membuat Rara bergidik ngeri membayangkannya. Ia tak mau ditendang dan dipukul lagi oleh suaminya.
"Nanti saya kasih uang. Ayo, ini sudah siang loh," ajak Ibu Sarah.
Mendengar ia akan di kasih uang, Rara pun akhirnya menyetujuinya.
Ibu Sarah dan Rara pun segera naik mobil.
"Kamu tau gak, Ibu setiap hari selalu kesepian di rumah. Suaminya Ibu selalu sibuk kerja dari pagi sampai malam, kadang juga harus keluar kota. Sedangkan Ibu hanya punya anak laki-laki yang sudah berumur 27 tahun dan dia seorang dosen di Universitas Terbuka. Ibu hanya sendirian, pernah Ibu menggunakan jasa ART dan sudah tiga kali, tak ada yang cocok. Dan daripada hanya membuat Ibu kesal setiap hari, akhirnya Ibu memutuskan untuk tak menggunakan jasa ART lagi. Pernah ada satu ART, sangat cocok sekali. Sayangnya baru dua tahun kerja, ia memilih pulang karena suaminya sakit dan gak pernah kembali lagi. Ibu ingin punya anak perempuan, sayangnya dokter sudah menganggap rahim Ibu hingga membuat Ibu tak bisa punya anak lagi dan harus 0uas dengan satu anak."
__ADS_1
Rara hanya menjadi pendengar baik, karena ia juga bingung mau jawab gimana.
"Saya harap dengan adanya kamu nanti di rumah Ibu, membuat Ibu tak lagi kesepian." Ibu Sarah berusaha mengakrabkan diri dengan Rara agar hubungan mereka dekat dan membuat Rara tak lagi sungkan padanya. Entah kenapa mendengar cerita Rara tadi, membuat Ibu Sarah merasa kasihan dan ingin menolong kehidupan Rara agar kedepannya lebih baik lagi.