Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Surat Cerai


__ADS_3

Keesokan harinya, Rian dan Lala pergi ke pasar untuk membeli perabotan, seperti lemari plastik dan peralatan dapur agar Rian tak lagi beli di luar. Setidaknya jika peralatan di dapur ada, Lala bisa masak sendiri sehingga bisa lebih hemat.


Rian juga membeli karpet untuk taruh di ruang tamu, setelah merasa cukup barulah mereka pulang pakai angkot. Dan sesampai di rumah, Lala langsung menatanya, ia melakukan semuanya dengan semangat. Sedangkan Rian, ia tengah menghubungi seseorang untuk menyewa sebuah toko yang ada di pinggir jalan raya. Harganya cukup mahal, sehingga ia hanya bisa bayar bulanan, karena kalau tahuanan, uangnya tak akan cukup, apalagi ia harus membeli peralatan dan yang lainnya.


Setelah Lala selesai bersih-bersih, ia pun meminta uang seratus ribu, untuk membeli beras, minyak, bumbu dapur dan sayuran untuk di masak. Rian pun mengernyitkandahi, ia membuka dompetnya dan memberikan uang satu juta secara cash kepada Lala. Dan uang itu harus cukup selama satu bulan. Lala pun tak mempermasalahkan, ia akan berusaha agar uang satu juga itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama satu bulan lamanya.


\===


Malam harinya, selesai makan malam, Rian pun mengajak Lala mengobrol berdua di ruang tamu sambil di temani teh hangat yang di buat oleh Lala.


"La, aku sudah menelphon pemilik toko yang ada di pinggir jalan dan dia mau menyewakan toko itu," ujar Rian memberitahu.


"Oh ya, berapa pertahunnya, Kak?" tanya Lala dengan antusias.


"45 juta," jawab Rian membuat Lala melongo.


"Mahal banget, emang uangnya cukup?" tanya Lala. Rian pun menggelengkan kepalanya.


"Enggak cukup, La. Uangnya sisa, 14 juta," jawab Rian dengan tersenyum kecut.


"Terus gimana?" tanya Lala, ia merasa kasihan dengan kakaknya itu.


"Aku bayar bulanan, La. Kalau bulanan, satu bulannya empat juta, jadi sisanya cukup buat beli perlengkapan di bengkel nantinya,"


"Tapi, Kak. Empat juta tiap bulan, apa itu gak mahal, sedangkan kita bahkan gak tau, nanti bengkelnya rame apa gak?" tanya Lala was-was.


"Doain aja, La. Semoga aja rame, lagian menurut Kakak, tempatnya itu kan luas, La. Ada tempat istirhatnya dan ada kamar mandinya juga, jadi kalau Kakak capek, bisa istirahat di kamar sebentar. Apalagi itu pinggir jalan raya dan cukup strategis, jadi wajar sih kalau mahal,"


"Baiklah, nanti kalau aku sudah selesai bersih-bersih rumah, aku akan bantu Kakak di bengkel ya," ujar Lala.


"Sekolah kamu gimana?" tanya Rian.


"Aku berhenti aja, Kak. Lagian aku capek sekolah terus, otakku gak mampu. Mending bantu Kak Rian aja,"


"Iya sudah, jika memang itu kemauan kamu, Kakak gak bisa paksa, lagian juga ilmu gak harus dapat dari rumah, tapi juga bisa dari pengalaman dan yang lainnya," ujar Rian.


"Oh ya, Kak. Gimana kalau aku sambil jual minuman, seperti kopi pahit, kopi susu, kopi jahe, teh panas, es teh, es jeruk, jeruk hangat, dan minuman lainnya seperti jus buah, pok ice dan yang lainnya, Tentu ada camilan juga, jadi sambil nunggu kendaraannya di perbaiki, bisa sambil ngopi dan nyemil. Menurut kakak gimana?" tanya Lala.


"Boleh, sekalian jual gorengan, La. Biar makin mantap, biasanya kan kalau gorengan itu laku banget, seperti tahu goreng, pisang goreng, ote-ote atau hongkong, tahu isi, tempe goreng, dan yang lainnya."


"Baiklah, aku setuju. Untung aku bisa masak jadi buat seperti itu, hal yang sangat mudah bagi aku,"


"Iya, kamu gorengnya di rumah aja, nanti pas ke bengkel tinggal nata aja, jadi gak perlu goreng lagi,"


"Iya, Kak."


"Semoga usaha kita sukses ya, La."


"Aamiiin."

__ADS_1


\====


Sedangkan di tempat berbeda, Rara merasa senang saat ia mendapatkan surat cerai dari pengacarnya, ia bahkan memeluk Rayyan tanpa sadar sangking senangnya. Awalnya Rayyan cukup kaget mendapatkan pelukan erat dari Rara, tapi tak lama kemudian, ia pun membala pelukan Rara. Rayyan merasa bahagia melihat Rara tersenyum lebar, bahkan ia melompat-lompat seperti anak kecil dan memeluk surat cerai itu, sebelum akhirnya ia memeluk Rayyan.


"Mas, aku seneng banget, akhirnya, aku kini jadi janda. Aku sudah tak lagi terikat dengan Mas Rian, baik itu secara agama dan secara hukum. Aku benar-benar bebas darinya," ujar Rara senang.


"Aku juga ikut senang, Ra. Gimana kalau kita merayakannya dengan dinner di luar," ajak Ray.


"Boleh, hari ini kita akan makan dengan puas,"


"Ya, kita akan makan dengan puas," jawab Ray tersenyum.


\===


Malam harinya, Rara menggunakan gaun yang sangat indah berwarna kuning hingga ia terlihat bersinar, apalagi kulitnya yang putih mulus membuat Rara terlihat seperti seorang bidadari. Sangat cantik sekali. Bahkan Rayyan pun sampai terpanah melihatnya, ia tak menyangka jika ada wanita secantik Rara. Entah kenapa jantungnya berdetak begitu cepat, "Apakah aku terkena serangan jantung, kenapa jantungku berdetak cepat?" tanya Rayyan sambil memegang dadanya.


"Melihat Rayyan memegang dadanya, membuat Rara mengira Rayyan tengah sakit. Hingga ia segera menghampiri Rayyan.


"Mas, Mas Ray kenapa? Mas Ray sakit?" Rara memegang kening Rayyan, namun suhu tubuhnya biasa aja. Lalu ia melihat wajah Rayyan yang memerah.


"Mas, dadanya Mas sakit. Kita ke rumah sakit sekarang ya," ajak Rara, ia benar-benar takut, takut jika Rayyan kenapa-napa.


"Enggak, Ra. Aku gak kenapa-napa," jawab Rayyan berusaha untuk terlihat normal. Ia menurunkan tangannya yang tadi memegang dadanya, walaupun jantungnya berdetak dengan cepat, namun ia berusaha untuk terlihat biasa aja.


"Beneran, aku gak mau Mas Ray sakit," ujar Rara mengungkapkan perasaannya.


"Aku gak sakit, percaya sama aku. Kamu sudah siap?" tanya RAyyan mengalihkan pembicaraan.


"Ya udah, yuk berangkat." Rayyan berjalan lebih dulu, sedangkan Rara, ia berjalan di belakangnya.


\===


Di dalam mobil, Rayyan memilih diam dan fokus menyetir. Namun tak akan ada yang tau, apa yang sebenarnya ia fikirkan. Sedangkan Rara, ia merasa jika Rayyan tengah sakit, karena tak biasanya RAyyan diam saja seperti ini. "Kenapa dengan Mas Ray, apakah dia sakit, biasanya dia selalu mengajak aku mengobrol sepanjang jalan, tapi sekarang, ia hanya diam dan tak bicara sepatah katapun, apakah dadanya sakit sekali?" tanya Rara dalam hati.


Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di Resto Chandra, makanan yang di buat khusus oleh Chef Chandra, seorang Chef yang pernah beberapa kali menjadi juri masak di channel VT.


Dan tentu, harganya pun cukup mahal, dua kali lipat di banding resto lainnya, namun untuk rasa, bisa membuat lidah bergoyang karena rasa yang pas hingga membuat banyak orang ketagihan.


"Mas, kok maka di sini?" tanya Rara setelah mereka turun dari mobil.


"Sesekali gak papa," jawab Rayyan tersenyum.


"Ayo," ajak Rayyan sambil menggenggam tangan Rara. Rara pun menganggukkan kepala, lalu mereka masuk ke dalam resto itu yang langsung mendapatkan sambutan hangat dari beberapa pelayan yang berdiri di belakang pintu.


Rayyan memillih duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar, apalagi di malam hari seperti ini, membuat suasana terlihat semakin romantis. Sebenarnya resto ini cocok buat mereka yang tengah menjalin asmara, karena suasana dan tempatnya yang cukup bagus untuk mengajak pasangan ke resto ini.


"Kamu mau makan apa?" tanya Rayyan sambil melihat buku menu yang memang sudah ada di atas meja.


"Samakan seperti punya Mas Ray aja," jawab Rara.

__ADS_1


"Gimana kalau beda, jadi nanti kita bisa saling icip?" tanya Rayyan. Rara pun menganggukkan kepala.


"Gak masalah, itu lebih baik," jawab Rara tersenyum.


Setelah itu, Rayyan pun memanggil pelayan, lalu memesan dua makanan dan dua minuman yang berbeda.


Setelah pelayan itu mencatatnya di buku kecil, ia pun segera pergi dari sana. Sambil nunggu makanan datang, Rayyan pun mengajak Rara mengobrol.


"Ra, besok sudah waktunya kamu masuk kuliah, apakah kamu sudah siap?" tanya Rayyan hati-hati.


"Sudah siap dong, Mas," jawab Rara dengan sangat antuasias sekali, melihat hal itu membuat Rayyan tersenyum.


"Bagus, besok kamu ke kampus mau di antar atau gimana?" tanya Rayyan.


"Aku naik mobil sendiri aja, lagian aku sudah ada SIM. Mas Ray besak juga ada seminar di kampus lain kan?" tanya Rara memastikan.


"Iya, besok aku ada seminar. Dan mungkin aku pulang sore,"


"Enggak papa, yang penting Mas Ray hati-hati aja. Aku gak ingin Mas Ray kenapa-napa," ucap Rara tersenyum tulus.


"Iya, aku akan selalu hati-hati. Oh ya besok aku akan transfer uang buat kamu sebagai uang jajan kamu," ujar Rayyan.


"Loh uang yang Mas Ray kasih kemarin aja, masih ada. Yang di kasih Minggu lalu juga ada, apalagi aku juga di kasih Mama sama Papa, isinya sampai banyak sekali, dan aku belum menggunakannya karena setiap kali keluar Mas Ray selalu aja yang bayar, belum kadang Mas Ray ngasih uang cash sama aku," balas Rara.


"Enggak papa, aku senang berbagi sama kamu," sahut Rayyan.


"Tapi ...."


"Enggak ada tapi-tapian, lagian aku punya rezeki lebih, jadi apa salahnya aku berbagi. Iya kan?"


"Iya juga sih, oh ya, aku sudah mulai nulis, cuma tulisanku belum ada yang melirik hehe," ujar Rara. Yah, dia mulai belajar nulis cerita di beberapa aplikasi agar bisa menghasilkan uang seperti Rayyan.


"Enggak papa, kamu masih pemula. Yang penting rutin nulis setiap hari, pasti lama-lama banyak juga pengikutnya. Lagian tulisan kamu sangat bagus, aku yakin, kamu akan menjadi penulis terkenal suatu saat nanti, bahkan kamu pasti lebih jago dari aku,"


"Ish ... Mas Ray bisa aja," ujar Rara malu.


"Beneran, tulisan kamu itu lebih bagus dari aku loh. Aku bahkan gak nyangka kita punya hobi yang sama, suka baca novel dan nullis novel,"


"Hehe iya, jadi kita bisa sharing ya Mas,"


"Yup."


Saat mereka tengah mengobrol, pelayan pun datang membawa pesanan mereka. Rara dan Rayyan pun mulai menikmati hidangan itu, setelah pelayan itu pergi.


"Enak gak?" tanya Rayyan.


"Enak banget, punya Mas RAy gimana?" tanya balik Rara.


"Enak, coba kamu cicipi punya aku,"

__ADS_1


"Baiklah, Mas Ray juga bisa nyicipin punya aku." Akhirnay mereka pun makan saling icip, hingga akhirnya mereka makan satu piring berdua, menghabiskan makanan milik Rara terlebih dahulu, baru milik Rayyan. Begitupun dengan minuman, mereka juga berbagi. Tak ada kata jijik, mereka seakan menikmati apa yang mereka makan.


Setelah selesai dinner, mereka tak langsung pulang, tapi duduk sebentar di sana karena perut mereka yang sudah kekenyangan, bahkan Rayyan pun merasa ngantuk dan malas menyetir. Akhirnya karena takut kenapa-napa, Raralah yang menyetir sampai rumah. Sedangkan Rayyan, hanya duduk santai di samping Rara yang tengah mengemudi, dan sesekali menguap. TErnyata banyak makan malah membuat ngantuk sekali. Melihat Rayyan terkapar, Rara hanya tersenyum. Yah, semakin hari, ia semakin tau banyak tingkah Rayyan yang cukup menggelikan namun entah kenapa, Rara sangat menikmati setiap apa yang ia lihat dari kakak angkatnya itu. Seakan-akan apa yang di lakukan oleh Rayyan membuat hatinya senang dan terpesona.


__ADS_2