Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Akankah Mereka Bersama?


__ADS_3

Jam setengah tiga, Rara bangun dari tidurnya, ia segera sikat gigi, cuci muka, lalu ia menyisir rambutnya dan memakai pelembab, bedak dan lipstik. Setelah selesai ia pun keluar dan ia melihat Rayyan yang tengah mengobrol berdua dengan Ibu Sarrah.


"Sudah bangun, Ra?"


"Sudah, Ma."


"Iya sudah, kalau gitu ayo berangkat," ajak Ibu Sarrah.


"Mama kan mau belanja buat menyambut kedatangan Papa nanti malam, Ra. Seharusnya berangkat dari tadi, tapi karena kamu masih bangun, jadi nunggu kamu dulu," ujar Rayyan mengingatkan sambil tersenyum.


"Oh ya aku lupa, aku ganti baju dulu ya, bentar kok." Tanpa menunggu jawaban, Rara segera pergi menuju kamarnya, ia segera mengganti bajunya lalu setelah itu, ia mengambil Hpnya. Tak lama kemudian ia pun segera keluar dari kamarnya.


"Oh ya ini tas buat kamu," Rayyan memberikan tas buat Rara.


"Buat aku?" ulang Rara.


"Iya, buat kamu. Tadi aku lewat aksesoris wanita, terus aku ingat kamu. Jadi aku belikan tas sekalias dompetnya. Di dalam tas itu ada dompet, tapi gak tau sih, sesuai selera kamu apa enggak," ujar Rayyan. Memang tadi setelah bertemu pengacara, Rayyan melewati toko aksesoris khusus wanita, lalu tiba-tiba ia ingat Rara. Ia pun akhirnya berhenti di toko itu dan membeli dompet, terus karena ia melihat ada tas yang cukup bagus, ia pun membelikannya juga sekalian.


"Makasih ya, Mas. Langsung aku pakai ya," ujar Rara. Rayyan pun menganggukkan kepala, ia senang pemberiannya di hargai oleh Rara, bahkan langsung di pakai.


"Kok ada ATM sama uang cash?" tanya Rara. Saat ia melihat isi tasnya, ada dompet yang sangat bagus, dan ketika ia membuka dompet itu sudah ada KTP miliknya, ATM dan juga uang cash sebanyak satu juta.

__ADS_1


"Iya, itu buat kamu. Kalau kamu mau beli sesuatu, bisa pakai itu. Oh ya pin ATM nya, aku pakai tanggal lahir kamu," jawab Rayyan. Ia emang punya empat kartu ATM, jadi ia akan memberikan satu itu untuk Rara dan ia juga sudah mengganti pinnya juga dengan tanggal lahir Rara.


"Tapi Mas ...." Rara belum selesai bicara, Ibu Sarrah langsung memotongnya.


"Enggak boleh nolak rezeki, Ra. Lagian Rayyan ikhlas ngasih itu buat kamu, jadi terima ya," ujar Ibu Sarrah. Melihat wajah Ibu Sarrah membuat Rara akhirnya menganggukkan kepala.


"Makasih ya, Mas. Makasih ya, Ma,"


"Sama-sama, Ra. Iya sudah, yuk berangkat," ajak Rayyan.


"Ayo."


"Kita ke supermarket dulu ya, Ma?" tanya Rayyan memastikan.


"Iya dong," jawab Ibu Sarrah yang duduk di belakang bersama Rara.


"Oh ya Ra, kamu kan sudah bisa pakai Hp dan bermain sosial media, gimana kalau aku ajarin kamu nyetir mobil," ujar Rayyan.


"Nye ... nyetir mobil?" ulang Rara kaget.


"Iya, jadi kalau kamu mau kemana-mana itu enak, bisa nyetir sendiri. Mau gak, kalau mau nanti hari Minggu aku ajak kamu ke lapangan, aku yakin kalau kamu fokus latihan, dua atau tiga kali latihan pasti sudah bisa sih, apalagi kalau latihan seharian, aku jamin, kamu pasti bisa," ucap Rayyan.

__ADS_1


"Mama setuju, Rara emang harus bisa pakai mobil sendiri, jadi kalau mau kemanapun gak perlu naik taxi, soalnya kan di berita, banyak sopir taxi nakal, walaupun gak semuanya gitu sih, tapi kan jauh lebih aman kalau bawa mobil sendiri," Ibu Sarrah mendukung niat putranya untuk mengajari Rara.


"Baiklah, aku mau. Oke, berarti Sabtu kita ke kampus buat lihat kampus, setelah itu, hari Minggunya belajar nyetir mobil," tutur Rayyan.


"Iya," jawab Rara tersenyum.


"Hari jum'atnya, kita ke salon dulu, Ra. Perawatan biar makin cakep terus ke Mall buat beli baju," ajak Ibu Sarrah.


"Baju yang kemarin beli aja, belum di pakek semua, Ma," jawab Rara.


"Ya gak papa, buat cadangan, jadi kalau mau bepergian, gak bingung, karena tinggal milih," balas Ibu Sarrah.


"Baiklah, aku setuju," ucap Rara pasrah yang tak mau berdebat dengan Mama angkatnya. Melihat kepasrahan putrinya membuat Ibu Sarrah tersenyum, ia ingin menyulap putrinya itu menjadi wanita yang anggun dan berkelas. Ia ingin suaminya menyesal sudah membuat dan menyiksa Rara selama ini.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di supermarket. Mereka bertiga pun turun dari mobil, kini Rara terlihat cantik walaupun kemarin baru satu kali perawatan ke salon, rambutnya sudah tertata rapi, apalagi Rara memakai make up dan menggunakan baju baru yang cocok di tubuh Rara, di tambah tas yang membuat penampilan Rara makin memukai. Rara emang pandai dalam memilih outfit untuk keluar rumah bersama keluarganya.


Rayyan menggandeng tangan Rara membuat Rara kikuk, tapi ia juga tak bisa melepaskannya, ia takut jika Rayyan akan tersinggung jika ia melepaskan tangan Rayyan yang saat ini tengah memegang tangannya.


Sedangkan Ibu Sarrah hanya geleng-geleng kepala mellihat tingkah mereka berdua, yang bahkan malah terlihat seperti sepasang kekasih. Ibu Sarrah memilih untk berjalan lebih dulu, sedangkan Rayyan, ia mengambil keranjang dorong dan mengikuti mamanya. Ia pun juga melepaskan tangan Rara, agar Rara juga bisa memilih apa yang ingin ia beli.


Sungguh, Rayyan benar-benar meratukan Mama dan adik angkat yang bisa jadi suatu saat nanti akan berubah menjadi sepasang kekasih yang halal, tapi entahlah, kita tak tau bagaimana masa depan mereka nanti. Semoga aja, mereka di berikan yang terbaik. Siapapun jodohnya, semoga Rayyan dan Rara bisa bahagia karena mereka berhak untuk mendapatkan itu semua.

__ADS_1


__ADS_2