
Mobil putih itu berhenti tak jauh dari rumah Rara. Sekilas Ibu Sarah memperhatikan rumah yang di tunjuk oleh Rara.
"Ini uang buat kamu," Ibu Sarah membuka dompetnya dan mengambil uang warna merah sebesar sepuluh lembar. Lalu menyodorkannya ke Rara.
"Ya Allah, Bu. Ini kebanyakan," Rara emang suka di kasih uang, dia gak akan nolak. Tapi melihat jumlah uang yang di kasih cukup banyak, membuat Rara merasa keberatan dan tak pantas menerima uang sebanyak itu.
"Gak papa, ini rezeki kamu. Jangan di tolak ya," ucap Ibu Sarah tersenyum.
Setelah berfikir beberapa detik, akhirnya Rara pun menerimanya.
"Makasih ya, Bu," Rara pun menerima uang satu juta dari Bu Sarah.
Saat Rara turun dari Mobil. Ibu Sarah pun juga ikut turun, ia mengambil belanjaan tadi dan memberikannya ke Rara.
"Ra ini ada bumbu, ayam, sayur sama minya goreng buat kamu," Ibu Sarah mengambil beberapa kantong plastik buat Rara.
__ADS_1
"Tapi, Bu ...."
"Ambil, jangan nolak. Lagian Ibu tadi kebanyakan belanjaannya," ucapnya sedikit memaksa.
Akhirnya Rara pun menerimanya. "Makasih ya, Bu. Semoga Tuhan membalas kebaikan, Ibu."
"Aamiin. Iya sudah, Ibu pulang dulu ya. Besok jangan lupa ke rumah, Ibu."
"Iya, Bu."
Dan setelah itu, Ibu Sarah masuk ke dalam mobil lagi dan langsung meluncur menuju rumahnya.
Ibu Arsih tadi sempat kaget, saat Rara bilang mau melunasi hutangnya, tak menyangka jika Rara punya banyak uang. Saat di tanya, Rara pun menjawab dengan jujur kalau ia di kasih sama orang baik. Ibu Arsih pun gak tanya panjang lebar, ia malah ikut senang karena ada orang baik yang mau menolong Rara.
Rara pulang membawa beras. Sesampai rumah ia menaruh beras, lalu mulai memasak. Untungnya Rian, suami Rara jam segini masih tidur nyenyak. Jadi Rara bisa segera masak dengan cepat dan tenang tanpa adanya Omelan dari sang suami. Dengan tangan supernya, ia masak sambil menyapu dan bersih-bersih rumah. Ngepel, nyapu, cuci piring, masak dan yang lainnya.
__ADS_1
Hingga tepat jam setengah tujuh, semua hidangan pun tersaji di atas meja. Rara memasak nasi, ayam goreng, lalapan timun, sambal, kerupuk, dan oseng-oseng kangkung. Dan semua itu pemberian Ibu Sarah tadi.
Saat Rara baru aja selesai menata hidangannya, Rian keluar dari kamar. Dan ia duduk di kursi makan, betapa kagetnya dia melihat di atas meja makan, ada banyak lauk pauk.
"Kamu dapat darimana semua ini?" tanyanya sambil menatap ke arah Rara dengan tajam. Sejujurnya sampai saat ini, Rian bahkan belum tau jika selama ini Rafa jadi kuli panggul di pasar karena Rian bangun siang, makan, mandi, lalu siap-siap berangkat kerja. Ia tak pernah tahu, kalau setiap pagi, Rara harus berlari pergi ke pasar untuk mencari uang untuk beli lauk pauk dan kebutuhan lainnya. Bahkan jika ia pulang gak bawa uang, ia harus ngutang di warung. Rian tak mau tau akan semua itu. Yang ia tau, makanan sudah ada di meja saat ia tengah lapar.
"Aku di kasih Ibu Sarah, Mas. Saat tadi pergi ke pasar, aku di kasih itu semua bahkan aku juga di antar sampai depan rumah," jawab Rara berusaha untuk tenang.
"Awas kalau kamu sampai ketahuan minta-minta, jangan menjatuhkan harga diriku. Ngerti!" bentaknya dan Rara pun menganggukkan kepala.
"Iya sudah sana pergi, aku gak mau nafsu makanku hilang karena lihat dirimu," usir Rian tanpa perasaan.
Rara pun pergi kebelakang, tanpa mau menyia-nyiakan waktu, ia langsung cuci baju dan beberes agar terlihat rapi.
Tak lama kemudian, ia pergi ke ruang makan lagi, dimana di sana suaminya sudah tak ada. Rara hanya menghela nafas, ia langsung mencuci piring kotong milik suaminya. Setelah selesai ia menata sisa makanan yang masih ada sedikit untuk ia makan nanti, untuk saat ini ia gak berani makan kalau masih ada suaminya.
__ADS_1
Setelah menata makanan dan menutupnya dengan penutup makanan, ia pergi ke luar untuk menyapu di depan halaman rumah. Kebetulan di depan ada pohon mangga, karena musim panas, daunnya banyak yang berjatuhan.
Saat ia menyapu, ia melihat suaminya sudah bersiap-siap pergi menggunakan mobil kesayangannya. Ya, mobil yang Rian beli secara kredit dan sudah lunas saat baru dua bulan menikah. Tak hanya mobil, Rian juga punya sepeda motor metix, hanya saja Rian tak memperbolehkan Rara memakainya, sehingga sepeda motor itu seringkali menganggur di garasi samping rumah. Garasi sederhana yang hanya cukup untuk satu mobil dan dua sepeda motor.