Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Mengandung Bawang


__ADS_3

Sesampai di kantor polisi, Rian langsung di hadapkan dengan beberapa pertanyaan oleh seorang polisi yang bernama Andra. Dan Rian pun menjawabnya dengan jujur, karena jika ia berbohong, polisi itu seakan mengetahuinya. Bahkan tak jarang, Rian mendapatkan bentakan hingga membuat Rian kaget dengan suaranya yang cukup keras dan tegas itu.


Setelah di kasih beberapa pertanyaan, Rian langsung di giring untuk masuk ke sel tahanan karena memang terbukti bersalah, selain vidio, Rian pun juga sudah mengakui kesalahannya. Sehingga tanpa banyak bicara lagi, Rian langsung menjadi tahanan penjara mulai saat ini. Ia di campur dengan orang-orang yang juga melakukan kekerasan terhadap istrinya.


"Kamu kenapa, Bung. Kok bisa masuk ke sini?" tanya orang yang terlihat seperti seorang preman.


"Gak papa, Bang," jawab Rian kikuk. Takut, juga.


"Gak papa, kok bisa masuk. Jangan-jangan kamu melakukan KDRT ya, Bung?" tebaknya.


"Hehe iya, Bang," jawab Rian jujur.


"Wah, harus di kasih pelajaran ini guys. Kamu tau Bung, kenapa aku bisa masuk ke sel tahanan ini?" tanyanya.


"Enggak tau, Bang," jawabnya. 'Ya kali aku tau, lagian itu bukan urusanku,' gumam Rian dalam hati.


"Aku di sini karena aku juga melakukan KDRT, Bung. Tapi itu karena istriku pengkhianat, Bung," ucapnya memberitahu. Rian yang mendengarnya hanya mengangguk-anggukkan kepala, karena ia pun bingung mau jawab apa.


"Sedangkan aku, masuk ke sini karena istriku tega mukuli putriku. Aku sebagai ayahnya tak terima hingga balik memukul istriku, karena dia juga sudah keterlaluan memukul putriku," ucap seorang yang tubuhnya cukup kurus namun kulitnya putih bersih, padahal dia di tahanan, tapi kulitnya masih tetap cerah.


"Kalau aku karena istriku mencuri uangku, dan menghambur-hamburkannya. Belanja baju banyak dan pergi dengan teman-temannya hingga lupa waktu. Dan aku terpaksa memukulnya agar ia tak lagi pulang malam bahkan kadang pulang pagi, tapi aku malah di laporin dengan kasus KDRT. Tapi emang aku sedikit keterlaluan sih mukulnya, aku mukul dia pakai sabukku. Soalnya dia juga meminjam uang ke rentenir atas nama aku dengan jumlah besar" ujar laki-laki berambut keriting.


"Kalau kamu, kenapa Bung? Pasti istrimu sudah bikin kesalahan kan sampai kamu berani mukul dia. Karena tak mungkin seorang suami mukul istri tanpa alasan yang jelas," ujar laki-laki yang mirip preman itu.


Rian bingung mau jawab apa, tak mungkin ia bilang yang sejujurnya. Akhirnya ia pun memilih diam.

__ADS_1


"Tak apa, Bung. Jika kamu tak cerita kami mengerti. Aku yakin istrimu pasti sudah membuat kamu kesal, hingga kamu melakukan kekerasan. Tapi tak apa, kamu ada temannya di sini, kita bisa saling menguatkan satu sama lain," ujar laki-laki kurus itu, seakan ingin memberikan sedikit perhatian kepada Rian yang merupakan teman baru di sell mereka.


Tak lama kemudian, Rian di panggil. Seorang Polisi menganarkan Rian ke ruang tunggu.


"Ibu," Melihat Ibu dan adeknya datang, Rian merasa bersyukur sekali.


"Ya Allah, Nak. Kenapa hidupmu bisa seperti ini," ucap Ibu Meri, ibu kandung Rian. Ia menangis mellihat putranya yang kini menjadi tahanan.


"Ini semua gara-gara Rara, Bu," ujar Rian dengan wajah datarnya.


"Dia emang istri dan menantu kurang ajar. Kamu harus kasih dia pelajaran setelah keluar dari sini,"


"Iya, Bu. Pasti," jawab Rian menangguk.


"Terus ini gimana, Kak? Kita pasti butuh pengacara buat mengeluarkan Kakak dari sini," ucap Lala, walaupun kadang ia cuek, tapi ia sangat menyayangi kakaknya itu. Terlebih selama ini, kakaknya juga ikut membantu dirinya bayar sekolah, memberikan dirinya uang jajan dan menuruti keinginannya seperti ini beli hp dan laptop, tas baru, sepatu baru, dan yang lainnya.


"Tapi uangnya dari mana?" tanya Lala.


"Kakak ada uang di brankas. Nanti kamu cari pengacara dan pakai uang itu buat bayar pengacara. Tadinya uang itu mau buat buka usaha. Soalnya Kakak sudah di pecat dan jika nanti Kakak gak diteriima bekerja di perusahaan lainnya. Kakak niat buat buka usaha warnet," ucap Rian memberitahu. Yah, ia harus berfikir panjang demi masa depannya dan masa depan Lala serta untuk membantu perekonomian Ibunya.


Lala menganggukkan kepala.


"Kunci rumahnya mana?" tanya Lala.


"Ini." Rian memberikan kunci yang ia taruh di saku bajunya.

__ADS_1


"Kakak harap, besok kamu sudah dapat ya, La. Kakak gak mau lama-lama di sini,"


"Iya, Kak. Nanti habis sini, aku langsung cari pengacara," ujar Lala.


"Iya, nanti juga IBu akan menelfon kenalan Ibu, siapa tau ada pengacara yang mau bantu kita dengan bayaran gak mahal," ucap Ibu Meri.


"Iya, Bu. Terima kasih ya, di saat aku terpuruk seperti ini. Kalian ada di sisi aku," ujar Rian bersyukur karena Ibu dan adiknya tetap selalu ada untuknya.


"Kita ini keluarga, Kak. Dan Kakak adalah pengganti Ayah, bagaimana mungkin aku gak peduli sama Kakak," ucap Lala dengan mata yang berkaca-kaca. Walaupun ia kecewa dengan sikap kakaknya itu, tapi bagaimanapun, ia tetap menyayangi Rian, saudara satu-satunya. Lagian ia juga ikut andil menyiksa Rara. Ya, ia sudah mengambil hak kakak iparya selama ini. Uang yang seharusnya buat kebuturan rumah tangga kakaknya, malah di gunakan untuk biaya sekolahnya dan biaya kehidupannya sehari-hari. Andai ia gak boros dan gak minta ini dan itu, tak mungkin kakaknya memperlakukan kakak iparnya sampai seperti itiu.


Mengingat hal itu membuat Lala sedikit merasa bersalah, apalagi ia seorang perempuan. Kelak ia juga akan menikah, ia juga takut, takut jika suatu saat suaminya pelit karena terlalu sibuk membahagiakan keluarganya. Itu yang membuat Lala takut.


Melihat adiknya berkaca-kaca, Rian memeluk Lala cukup erat. "Maafin Kakak, La, Maaf sudah bikin kamu dan Ibu kecewa. Kamu pasti malu banget ya La, punya kakak seperti Kak Rian." ujar Rian sambil terus memeluk adiknya.


"Jujur, Kak. SElain malu, aku pun merasa bersalah, Kak. Kakak memberikan nafkah yang tidak layak untuk Kak Rara, itu pasti karena aku. Kak, kadang aku takut, takut jika aku menikah, bagaimana jika suami Lala seperti Kak Rian. Bagaimana jika Lala cuma di kasih nafkash seratus ribu setiap bulannya. Bagaimana jika Lala di siksa seperti Kak Rian menyiksa Kak Rara selama ini, aku takut, Kak," ujar Lala menangis dalam pelukan Rian.


"Itu gak akan terjadi, La. Kakak akan selalu jaga kamu, Kakak gak akan membiarkan siapapun menyakiti adik kesayangan Kakak," ucap Rian dengan sungguh-sungguh.


"Aku takut akan karma, Kak. Aku takut, atau aku gak usah menikah selamanya, toh aku sudah punya Ibu dan Kakak yang akan selalu menjaga dan melindungi aku,"


"Kamu gak boleh ngomong gitu, La. Bagaimanapun kamu berhak bahagia dan kamu berhak mendapatkan laki-laki yang baik buat kamu nantinya," ucap Rian menenangkan hati adiknya itu.


"Bagaimana aku mendapatkan yang terbaik, Kak. JIka Kak Rian saja, tak bisa memperlakukan Kak Rara dengan baik. Padahal Kak Rara itu baik, gak pernah nuntut Kak Rian ini dan itu. Dia juga pekerja keras, pintar masak, pintar bersih-bersih rumah. Bahkan Kak Rara tak marah, walaupun Kak Rian hanya memberikan uang serarus ribu dalam sebulan, Kak Rara bahkan dengan ikhlas menjadi kuli panggul di pasar buat bisa masakin Kak Rian makanan yang enak, tapi apa? Kak Rian malah menyiksanya dan mengkhianatinya. Aku bahkan tak mampu jika ada di posisi Kak Rara. Ia bukan hanya di siksa secara mental tapi juga secara fisik, bahkan aku tak tau apa kesalahan Kak Rara, hingga Kak Rian tega menyiksanya seperti itu. Mungkin Kak Rara gak secantik Kak Sinta, itu karena Kak Rara tak melakukan perawatan, ia sibuk memcari uang agar bisa membeli kebutuhan rumah dan bisa membeli lauk pauk yang enak buat Kak Rian. Aku bahkan pernah sekali bertemu, Kak Rara memakai baju yang bahkan warnanya sudah pudar dan bolong sana-sini. Ya Allah, mengingat itu aku merasa berdosa, Kak. Karena aku pun juga pernah terang-terangan menghina Kak Rara yang tak pandai merawat diri, aku berdosa Kak hiks ... hiks ... Aku sudah dzolim selama ini, aku dzolim sama kakak iparku sendiri," Lala menangis dengan sesegukan. Dan itu membuat Ibu Meri dan Rian ikut merasa bersalah.


Ibu Meri pun juga kasihan dengan Rara, tapi ia juga kadang tak rela jika uang putranya di nikmati oleh wanita lain. Ia yang sudah membesarkan Rian, dan ketika Rian sudah pintar mencari uang, malah di nikmati oleh wanita lai. Itu yang membuat Ibu Meri kadang meminta uang terus terusan, walaupun uangnya masih ada. Terlebih ia juga membuka warung sembako di rumahnya.

__ADS_1


"Sudah jangan nangis lagi, La. Kasihan kakak kamu. Jangan menambah beban kakakmu, La," ujar Ibu Meri menasehati.


Setelah bercincang selama lima belas menit, Rian pun masuk ke dalam sell tahanan lagi karena waktunya sudah habis. Sedangkan Lala dan Ibu Meri, tanpa mau buang waktu lagi, mereka pulang ke rumah Rian untuk mengambil uang di brankas agar bisa segera mencari pengacara dan bisa mengeluarkan Rian dari penjara.


__ADS_2