
Hari ini entah kenapa Rara ingin sekali pergi ke rumah Ibu Arsih, Rara pun akhirnya meminta izin ke Rayyan dan Rayyan pun mengizinkan, asal dari rumah Ibu Arsih, Rara langsung pulang dan gak boleh kemana-mana lagi. Mendengar hal itu membuat Rara merasa bahagia. Ia pun segera memakai pakaian terbaiknya, memoles wajahnya dengan sedikit make up, sehingga wajahnya terlihat cantik natural, apalagi kini kulit Rara yang sangat putih dan tampilan yang modis membuat tampilan Rara sangat memukai. Tak lupa Rara menggunakan jam tangan yang di belikan Rayyan dan juga memakai tas kecil yang hanya berisi dompet dan juga hp miliknya. Rara juga menggunakan sepatu yang seharga jutaan pemberian Rayyan.
Setelah itu, Rara pergi menggunakan mobil milik Mama Sarrah, mobil yang akan di pakai oleh Rara kemanapun Rara pergi. Sedangkan Rayyan pergi menggunakan mobil miliknya sendiri. Di tengah jalan, Rara membeli kue untuk Ibu Arsih, ya hanya Ibu Arsih karena hanya orang itu yang selama ini baik padanya dan mau menolongnya di saat ia kesusahan. Jadi, ia tak akan pernah melupakan kebaikan Ibu Arsih yang sudah banyak menolongnya.
Setelah membeli kue, Rara pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah Ibu Arsih, ia mendengarkan musik sehingga ia cukup menikmati perjalanannya.
Sesampai di rumah Ibu Arsih, ternyata banyak orang di sana, mungkin karena ini masih pagi sehingga di warung Ibu Arsih banyak para ibu-ibu yang sedang berbelanja. Melihat ada mobil mewah membuat orang-orang pada melihat ke arah mobil tersebut, dan bahkan ketika Rara turun dari mobil pun mereka masih melihat ke arah Rara, membuat Rara semakin gugup namun ia berusaha terlihat santai.
Ia menutup pintu mobilnya, dan membawa kue di tangan kanannya, sedangkan tasnya ia taruh di bahu sehingga membuat dirinya terlihat berkelas.
"Dia siapa? cantik banget?" tanya ibu A.
"Iya, aku gak pernah lihat wanita itu," jawab si B.
"Dia sangat kaya sekalli, mobilnya mewah, dan aku yakin pakaiannya dari atas sampai bawah, tentu semuanya bermerk. Apalagi jalannya, juga terlihat berkelas," ucap si C.
"Dia berjalan menuju ke sini, apa dia tamunya Ibu Arsih?" tanya si D.
"Aku gak nyangka, kalau Ibu Arsih punya saudara kaya," ujar si E.
Mendenar bisik-bisik para ibu-ibu, Ibu Arsih pun akhirnya menoleh ke arah Rara. Dan betapa kagetnya dia melihat Rara yang kini tampil beda. Walaupun Rara kini sudah berubah, tentu Ibu Arsih masih bisa mengenalinya.
"Ya Allah, Neng Rara." Ibu Arsih langsung berjalan ke arah Rara.
"Rara?" ucap para ibu-ibu itu.
"Apa mungkin Rara, istrinya Rian?" tanya si A.
"Tapi mana mungkin dia Rara istrinya, Rian. Tau sendirilah, istrinya Rian itu kan dekil banget, hitam dan jelek. Sedangkan ini, cantik dan berkelas," gumam si B.
"Rara istrinya Rian itu cantik loh, hanya saja kurang peratawatan," bela si C.
Mereka pun memperhatikan Ibu Arsih dan Rara yang kini tengah berpelukan.
"Ya Allah Neng, lama gak ada kabar, sekarang sudah berubah ya," ucap Ibu Arsih sambil melepas pelukannya.
__ADS_1
"Ya, Bu. Alhamdulillah, oh ya ini ada kue buat Ibu." Rara memberikan kue itu kepada Ibu Arsih.
"Ayo, masuk dulu. Lama gak ke sini, masa ia gak duduk dulu," ujar Ibu Arsih sambil membawa Rara ke rumahnya. Rara pun mengikuti langkah Ibu Arsih, tak lupa ia menyapa para tetangganya dan tersenyum.
"Permisi ya Ibu Toni, Ibu Bella, Ibu Sri, Ibu Jainab, Ibu Endang," ucap Rara ramah, ia menyapa duluan karena Rara harus melewati mereka untuk duduk di ruang tamu Ibu Arsih.
"Ayo duduk dulu, Ibu buatkan minuman bentar." Ibu Arsih langsung masuk ke dalam, lalu ia menaruh kue pemberian Rara di meja makan dan membuatkan Rara teh hangat, untungnya ia selalu menyedikan air panas di termos, sehingga tak perlu memanaskan air dulu.
"Ini minum dulu," ucap Ibu Arsih.
"Iya, Bu. Tapi itu kasihan ibu-ibu, layani aja dulu, gak papa. Saya tunggu," ujar Ramah.
"Beneran ya, tunggu. Ibu mau layani mereka dulu," tutur ibu Arsih.
"Iya, Bu. Pasti." Setelah itu, Ibu Arsih pun kembali ke warungnya buat melayani para ibu-ibu yang tengah belanja di warungnya. Sedangkan Rara, ia mengeluarkan Hpnya dan memainkan Hpnya sambil nunggu Ibu Arsih. Tanpa sepengetahuan Rara, para ibu-ibu itu melihat ke arah Rara karena emang ruang tamu sama warung itu cukup dekat, hanya di sikat dengan kaca putih sehingga para ibu-ibu bisa melihat Rara yang duduk dengan elegant dan memainkan hpnya bak orang kaya.
"Bu Arsih, itu siapa?" tanya si A, yang bernama Ibu Toni, karna anak pertamanya bernama Toni. Sehingga dia di panggil Ibu Toni.
"Loh Ibu Toni masak lupa, itu Rara, istrinya Rian," jawab Ibu Arsih sambil menimbang cabe.
"Ya mungkin sekarang Rara sukses, Ibu BElla. Makanya berubah, semua orang kan tidak tau takdir masing-masing, dulu Rara susah, jadi wajar kalau dia gak secantik sekarang," jawab Ibu Arsih tanpa memberitahu kalau Rara sudah di adopsi dan mempunya keluarga angkat yang cukup kaya raya.
"Iya sih, tapi kok cepet banget suksesnya," tanya si C, yang bernama Ibu Sri.
"Ya namanya rezeki, siapa tau Allah mengangkat derajatnya lalu melancarkan rezekinya," ujar si D yang bernama Ibu Jainab.
"Wah, apa Rian sudah tau kalau Rara sudah cantik sekarang, pasti dia nyesel sudah menyia-nyiakan Rara," tutur Ibu Endang.
"Iya, dulu Rian walaupun kerja kantoran dan gaji besar, tapi pelit terhadap istrinya. Sampai-sampai Rara kerja jadi kuli panggul di pasar dan jadi buruh cuci, sampai kurus dan dekil banget, tapi setelah Rara kabur dari rumah, eh gak taunya nasibnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Rara yang dulu dekil, miskin, norak, dan jelek. Sekarang sudah berubah jadi cantik, kaya dan elegant," ucap Ibu Bella. Ia pernah menggunakan jasa Rara untuk mencuci bajunya.
"Dan sekarang Rian sudah pengangguran, tiap hari melamar kerja, tapi gak di terima sampai sekarang, dan beberapa kali aku denger Rian teriak-teriak seperti orang gila, aku sampai takut," ucap Ibu Sri yang rumahnya cukup dekat. Ia sering mendengar Rian yang berteriak memanggil nama Rara.
"Mungkin sekarang Rian frustasi dan menyesal. Memang orang akan merasa kehilangan kalau orang yang kita cintai sudah pergi dan tak lagi peduli," balas Ibu Toni.
"Ibu, Ibu. Ini mau beli apa aja?" tanya Ibu Arsih yang merasa kesal, karena mereka malah sibuk bergosip, sedangkan dirinya ingin segera selesai melayani mereka dan mengobrol dengan Rara.
__ADS_1
Mendengar ucapan Ibu Arsih membuat mereka malu, mereka pun segera menyebutkan pesanan mereka, dan Ibu ARsih langsung melayani mereka dengan cepat sehingga mereka segera pergi dari sana.
Setelah kepergian mereka, barulah Ibu Arsih bisa kembali ke ruang tamu dan mengobrol dengan Rara.
"Ra, gimana kabar kamu dan orang tua angkat kamu?" tanya Ibu Arsih sambil duduk di dekat Rara.
"Alhamdulillah Rara baik, Bu. Begitupun Mas Ray, Mama dan Papa. Mereka baik, cuma sekarang Mama dan Papa gak ada di sini,"
"Loh kemana?" tanya IBu Arsih.
"Keluar negeri, soalnya Papa ada kerjaan di sana selama enam bulan, jadi Mama ikut ke sana," jawab Rara.
"Oh jadi di rumah cuma berdua sama kakak angkat kamu,"
"Iya," jawab Rara tersenyum.
"Tapi gak papa, Ibu percaya, kakak angkat kamu itu baik, dia pasti menjaga kamu dengan baik."
"Iya, Mas Ray sangat baik. Dia juga yang mengajari aku nyetir mobil dan mendaftarkan aku kuliah,"
"Oh kamu mau kuliah?"
'
"Iya, Bu. Mumpung masih muda, jadi mau lanjut kuliah."
"Ya kamu benar, bahkan umur kamu masih belasan tahun, masih sangat layak untuk mengeyam bangku kuliah, terus hubungan kamu sama Rian gimana?" tanya Ibu ARsih.
"Mas Ray sudah menyewa pengacara, dan kini dalam tahap perceraian, satu sidang lagi, aku sudah resmi jadi janda,"
"Gak papa, yang penting sekarang kamu hidup bahagia dan tak lagi menderita. Apalagi sekarang kamu cukup berisi ya,"
"Hehe iya, Bu. Alhamdulillah. Soalnya Rara suka makan apalagi Mas Ray, suka ngajak Rara makan di luar, ya jadinya berat badanya cepet naik,"
"Ya gak papa, dari pada kurus kan," ucap Ibu Arsih.
__ADS_1
Mereka pun mengobrol hingga setengah jam kemudian, Rara pun pamit untuk pulang. Dan saat Rara mau masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ia mendengar suara Rian yang memanggil namanya. Dan Rara pun langsung menoleh ke arahnya.