
Rayyan pergi ke kamar mandi saat perutnya merasa bergejolak. Di kamar mandi itu ia terus saja memuntahkan isi perutnya di wastafel, Rara yang melihat Ray pergi ke kamar mandi dan mendengarnya yang lagi muntah, langsung segera menyusulnya. Tanpa banyak kata, Rara memijit leher belakang Rayyan. Sedangkn Rayyan terus saja memuntahkan isi perutnya hingga akhirnya hanya cairan bening yang keluar, mungkin karena sudah habis, namun tetap saja perutnya masih bergejolak. Karena takut Rara jijik dengan muntahannya, ia menghidupkan kran air. Karena merasa sedikit pusing, ia menumpukan tangan kanannya ke tembok. Sedangkan tangan kirinya, ia memegang perutnya.
Rara sendiri terus memijit leher belakang Rayyan hingga Rayyan merasa enakan. Baru setelah itu, Rara membantu Rayyan menuju kamarnya. Rayyan berbaring di atas tempat tidur dengan meringkuk. Lalu Rara pun menyelimuti Rayyan sampai lehernya. Saat Rara akan pergi, Rayyan reflek memegang tangan Rara.
"Jangan pergi," pinta Rayyan dengan suara lemahnya.
"Aku cuma pergi bentar, mau ambil minyak kayu putih. Bentar, gak sampai lima menit kok," ucap Rara memberitahu. Mendengar hal itu, Rayyan menganggukkan kepala, ia melepaskan tangan Rara. Dan setelah itu, Rara pun pergi ke kamarnya dan mengambil minyak kayu putih.
Sesampai di kamar Rayyan, Rara duduk di samping Rayyan yang tengah memejamkan mata.
"Tidur terlentang ya," ucap Rara, Rayyan pun menganggukkan kepala. Lalu Rara membuka selimutnya dan membuka baju Rayyan, tapi tak di buka semua. Hanya bagian perutnya aja. Lalu setelah itu, Rara membaluri perut Rayyan dengan minyak kayu putih dan memijitnya secara pelan. Rayyan pun menikmati pijatan itu, selain membuat perutnya merasa nyaman juga karena ia bisa merasakan sentuhan Rara yang lembut.
Rayyan memejamkan mata menikmati pijatan itu, hingga setengah jam lamanya, baru Rara menyudahinya. Setelah itu, Rara merapikan baju Rayyan dan menyelimutinya sampai dada.
"Tidur ya," ucap Rara dan Rayyan menganggukkan kepala.
"Makasih ya," ujar Rayyan tersenyum ke arah Rara.
"Sama-sama."
Dan setelah itu, Rara kembali ke kursi dan melanjutkan yang tertunda. Hingga jam menunjukkan pukul sebelas siang. Rara yang mengantuk pun, memilih mematikan laptpnya. Lalu setelah itu, ia beranjak dari kursi itu dan memilih untuk tidur di sofa panjang yang ada di sana. Ia merebahkan tubuhnya dan melurushkan tubuhnya yang terasa kaku karena kebanyakan duduk di kursi. Dan tak lama kemudian, Rara pun terlelap.
Baru sekitar sepuluh menit Rara tidur, Rayyan bangun. Melihat Rara tidur, Rayyan tak mau mengganggunya, ia tau Rara kecapean jadi ia membiarkan Rara tidur di sana. Rayyan pergi ke kamar mandi, ia membuang air kecil, lalu cuci muka dan sikat gigi. Ia tak mandi karena tubunya masih terasa gak nyaman. Ia takut tambah sakit, jika memaksakan untuk tetap mandi.
Setelah cuci muka, Rayyan mengambil Hpnya dan mengecek email yang masuk. Ia membalas beberapa email yang sudah ia baca, lalu ia membuka Wa. Dan ada tujuh pesan, ia pun membacanya satu persatu dan membalasnya. Setelah selesai, ia menaruh hpnya kembali dan pergi menuju Rara. Ia tersenyum melihat wajah cantik Rara, ia mencium kening Rara. Lalu setelah itu, ia pergi dari kamar itu menuju ruang makan. Perutnya terasa perih, mungkin karena tadi isinya sudah di muntahkan semua, sehingga saat badanya mulai enakan, ia merasa lapar.
Ray membuka tudung saji, dan ia melihat ada lauk pauk yang sudah sangat dingin itu. "INi pasti sisa lauk tadi pagi, gak papa deh, aku makan. Dari pada aku lapar," gumamnya. Lalu Ray mengambil piring dan mengambil nasi dari penanak nasi. Untungnya nasinya masih hangt, sehingga walaupun lauk pauknya dingin, gak masalah. Setidaknya masih ada yang hangat, lalu ia juga mengambil kerupuk agar semakin enak.
Ray duduk di kursi makan sambil menikkmati makan siangnya itu, untungnya nasi itu bisa diterima di perutnya, sehingga ia bisa menghabiskan makanannya tanpa merasa mual sama sekali. Selesai makan, ia minum segelas air. Lalu setelah itu, ia mencuci piring dan gelas kotor itu lalu menaruhnya di rak piring. Tak lupa ia menutup kembali tudung saji.
Setelah selesai, ia kembali ke kamar dan melihat Rara masih tidur dengan nyenyak, melihat itu, membuat Rayyan tersenyum.
Saat ia menatap Rara, tiba-tiba Mamanya menelphon. Rayyan pun segera mengambil Hpnya dan menerima panggilan itu di luar kamar, agar tak mengganggu Rara yang tengah tidur.
"Hallo, Ma."
"Kamu di mana?"
"Di rumah, Ma."
__ADS_1
"Loh gak ngajar,"
"Enggak, Ma. Aku cuti," ucapnya berbohong karena tak mau membuat mamanya khawatir padanya.
"Oh, Rara mana?"
"Tidur, Ma."
"Dia gak ada jadwal kuliah emangnya?"
"Ada, Ma. Tapi dia milih libur, katanya mau nemenin aku hehe,"
"Hmm ... iya sudah gak papa. Tapi kalian baik-baik aja, kan?"
"Baik, Ma."
"Kabar Mama sama Papa, gimana?"
"Baik juga."
"Terus kapan pulang?"
"empat bulan lagi, sabar ya."
"Rasa lebih, maksudnya kamu jatuh cinta sama Rara?"
"Hehe kurang lebih seperti itu."
"Ya gak papa, toh kamu dan Rara gak ada ikatan darah. Malah Mama senang, karena itu artinya kalian akan terus bersama jadi anak Mama. Kalau Rara nikah sama orang lain dan ikut suaminya, Mama pasti akan kesulitan buat nemuin dia, beda jika nikah sama kamu."
"Jadi Mama setuju?"
"Iyalah, Mama setuju banget."
"Tapi gimana dengan Papa?"
"Papa juga pasti setuju. Oh ya Mama dan Papa sudah mengetahui fakta masa Lalu Rara?"
"OH ya, apakah kalian sudah mengetahui orang tua Rara ada di mana?"
__ADS_1
"Mereka sudah meninggal semua, Ray. Dan Rara emang sendirian sekarang. Untuk itu, kita gak boleh membiarkan dia kesepian. Sudah cukup kesedihannya selama ini,"
"Iya, Ma. Aku juga janji akan bahagiain dia."
"Terus jika kamu ada rasa lebih untuk Rara, apakah dia juga punya rasa lebih buat kamu, Ray?"
"Aku kurang tau, Ma. Tapi kayaknya iya."
"Kalau kamu masih ragu, berarti perjuangan kamu masih panjang, Ray. Buatlah dia mencintai kamu juga, jadi nanti setelah Mama dan Papa pulang, Mama bisa lamar Rara untuk kamu,"
"Iya, Ma. Doakan aja ya, semoga Ray bisa membuat Rara jatuh cinta sama aku."
"Pasti, iya sudah ya. Mama masih sibuk nih"
"Iya, Ma."
"Salam buat Rara."
"Iya, Nanti aku sampein."
Dan setelah itu, Rayyan pun menutup Hpnya. Dan saat ia berbalik, ia melihat Rara yang berdiri di belakangnya.
"Ra, kamu sejak kapan di sini?" tanya Rayyan kaget.
"Sejak tadi, Mas menerima telfon dari Mama," jawab Rara tersenyum.
"Itu artinya kamu mendengar semua?"
"Ya, aku mendengarnya."
"Ra, aku ....." Rayyan merasa gugup dan juga malu. Karena Rara harus tau tentang perasaannya dengan cara seperti ini.
"Aku mencintai Mas Ray," ujar Rara membuat Rayyan melotot dengan mulut yang menganga lebar.
"Kamu ngomong apa tadi?"
"Aku mencintai Mas Ray, jadi Mas Ray gak perlu repot membuat aku jatuh cinta, karena sejatinya aku sudah mencintai Mas Ray,"
"Ra, kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan barusan."
__ADS_1
"Iya, aku yakin."
"Ra, makasih. Terima kasih sudah mencintai aku. Aku juga mencintaimu, Ra. Sangat mencintaimu." Rayyan memeluk Rara dan Rara pun membalas perasaan Rayyan. Awalnya, ia bangun karena mendengar suara langkah, melihat RAy tak ada di atas ranjangnya, RAra keluar dan ia melihat Rayyan yang tengah menelphon. Awalnya Rara ingin menghampirinya karena merasa khawatir, namun siapa sangka ia malah mendengar pembicaraan RAyyan ke Mamanya tentang apa yang ia rasakan.. Mendengar hal itu membuat Rara gugup. Namun, ia pun juga bahagia karena Rayyan juga memililki perasaan yang sama dengannya.