Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Calon Suami?


__ADS_3

Jam dua siang, Rara pulang bersama dengan Rayyan. Seperti yang sudah disepakati tadi pagi, mereka akan pergi ke rumah Ibu Arsih. Namun sebelum pergi ke sana, Rayyan mengajak Rara ke resto dulu untuk makan siang bersama. Selesai makan, mereka pergi ke toko untuk membeli buah, roti, susu dan juga makanan sehat khusus orang sakit. Setelah mendapatkan semua itu, barulah mereka pergi ke tempat Ibu Arsih.


Sepanjang jalan, Rayyan fokus menyetir sedangkan Rara, ia sibuk dengan hpnya sambil mendengarkan musik. Hingga tak terasa mereka sudah tiba di pinggir rumah Ibu Arsih. Rayyan dan Rara pun segera turun dari mobil, Rara membawa roti, susu dan makanan sehatnya. Sedangkan Rayyan membawa buahnya karena buahnya yang cukup berat.


Saat mereka berjalan menuju rumah Ibu Arsih, seseorang yang mengenali Rara menyapanya. "Mau ke Ibu Arsih, Ra?" tanyanya.


"Iya, Ibu Nani. Ibu baru dari sana?"


"Iya nih, kamu sama siapa tuh?" tanyanya kepo.


"Ah kenalin dia ...." belum sempat Rara mengatakannya, Rayyan langsung menyambarnya.


"Calon suaminya," ucapnya membuat ibu itu terkejut. Namun tak lama kemudian, ia pun tersenyum.


"Wah kamu dapat mangsa yang bagus sekarang, Ra. Semoga kali ini kamu bahagia ya, kalau gitu Ibu pergi dulu," ujarnya yang langsung pergi dari sana. Setelah ibu itu pergi, Rara menatap ke arah Rayyan.


"Maksud Mas Ray apa?" tanya Rara dengan kening yang berkerut.


"Haha aku cuma bercanda, Ra. Lagian ini lingkungan suamimu, aku gak ingin dia mencari masalah lagi denganmu. Kalau aku ngaku calon suamimu, kan otomatis dia gak akan berani cari masalah lagi, Ra," ucap Rayhan berkata santai seakan tanpa dosa.


"Tolong di perbaiki ya, Mas. Kata-kata Mas Ray barusan, mantan suami. Bukan suami, ingat aku dan Mas Rian itu sudah pisah. Dan lagi, aku gak yakin Mas Rian akan cari masalah, karena aku lihat dia sudah berubah,"


"Yah ... yah ... terserah kamu deh. Ayo masuk," ajak Rayyan dan Rara pun menganggukkan kepala.


Kedatangan mereka di sambut hangat oleh keluarga Ibu Arsih. Sedangkan Ibu Arsih sendiri, ia berada ruang tamu yang emang sudah disulap seperti kamar, sehingga orang yang menjenguk tak perlu masuk kamar.


"Bagaimana kabar Ibu?" tanya Rara. Ia memberikan semua bingkisan itu kepada saudara Ibu Arsih yang ada di sana.


"Baik, Ra. Itu siapa, Ra?" tanya Ibu Arsih.


"Kakak angkat aku, Bu. Namanya Mas Rayyan. Biasa di panggil Mas Ray," jawab Rara. Lalu Rayyan pun menyapa Ibu Arsih dan yang lainnya.


"Kamu sekarang sudah bahagia ya, Ra," ucap Ibu Rita.


"Alhamdulillah," jawab Rara tersenyum. Sejujurnya, ia tak menyangka jika saat ini di rumah Ibu Arsih lumayan rame, tak seperti kemarin.


"Mau minum apa, Ra?" tanya Ibu Rita.


"Gak usah repot-repot, Bu. Aku dan Mas Ray cuma sebentar di sini," ujar Rara tersenyum ramah.

__ADS_1


"Loh mana ada gitu, masa baru datang, sudah mau pulang aja. Aku bikinin teh ya, kakakmu suka kopi gak?" tanya Ibu Rita.


"Saya air putih aja, gak papa, saya kurang suka kopi," ucap Rayyan sopan.


Ibu Rita menganggukkn kepala, lalu ia pun pergi ke dalam untuk membuathkan teh untuk Rara dan RAyyan. WAlaupun Rayyan bilang minta air putih, tetap aja gak enak kalau cuma di kasih air putih beneran, jadi Ibu rita akan sekalian membuatkan teh yang sama seperti punya Rara.


Sedangkan di ruang tamu, mereka di temani oleh suaminya Ibu Arsih dan juga anaknya serta beberapa saudaranya dan juga ada beberapa tetangga juga. Rara dan Rayyan pun hanya menjawab seadanya aja, Rara tak ingin terlalu akrab juga dengan mereka, bukan bermaksud sombong, hanya saja Rara merasa risih dan tak nyaman. Karena bagaimanapun, ia dan Rayyan ke sini karena Ibu Arsih. Bukan untuk bertemu yang laiinnya.


Tak lama kemudian, Ibu Rita datang membawakan teh, Rara dn Rayyan pun mengucapkan terima kasih.


"Kamu kuliah di mana, Ra. Katanya kamu kuliah ya, Ra,"


"Iya, aku kuliah di kampus xx."


"Kalau kakak kamu itu, sudah kerja apa masih kuliah juga?"


"Kuliah, kebetulan Mas Ray ngajar di kampus."


"Oh jadi kakakmu dosen, enak Ra. Kalau ingat dulu, aku kasihan sama hidup kamu, tapi ternyata sekarang kamu bahkan sudah seperti orang kalangan atas. TAmpilan kau, tutur kata kamu, bahkan hidup kamu pun sudah tak seperti dulu. Bener-bener berubah drastis. TApi walaupun begitu, Ibu senang lihat kamu yang sekarang. Bahkan tubuh kamu juga sudah berisi tak lagi seperti dulu, kurus dan dekil. Sekarnag, kamu sudah putih, cantik dan juga punya tubuh yang bagus," ucap Ibu Ratih.


"Iya, Alhamdulillah. Allah mengubah nasib aku menjadi lebih baik," ucap Rara tersenyum ramah.


"Enggak, ada Mama dan Papa juga. Hanya saja saat ini Mama dan Papa, lagi di luar negeri," ucap Rara.


"Itu artinya kamu dan dia berdua, kan. Hati-hati, Ra. Walaupun dia kakak kamu, tapi kalian gak ada hubungan darah." ucap Ibu Rita. Ibu Ratih dan yang lainnya pun mengangukkan kepala menyetujui ucapan Ibu Rita.


"Maaf, Tante. Dari kecil, saya sudah di didik untuk menghormati seorang wanita, sebejat-bejatnya saya, saya tak akan melakukan hal yang merendakan kehormatan seorang wanita. Jika pun saya mau, mungkin saya sudah melakukan itu di awal. Namun sampai detik ini, bahkan saya tak pernah menyentuh Rara secara berlebihan. Dan jika memang saya ingin melakukannya, seperti kata tante, saya dan Rara tak ada hubungan darah. Tentu saya ingin menghalalkan Rara terlebih dahulu sebelulm akhirnya melakukan hubungan layaknya suami istri. Jadi tolong, di jaga ucapannya, karena bisa jadi ucapan Tante itu telah menyinggung perasaan orang lain dan ucapan yang tanpa di filter, kelak bisa jadi bomerang untuk diri Tante sendiri. Ra, lebih baik kita pulang ya. Soalnya aku masih ada kerjaan setelah ini," ujar Rayyan yang merasa tak suka dengan ucapan orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Iya, Mas. Ibu Arsih, Rara pamit pulang dulu ya. Semoga Ibu Arsih cepat sembuh," tanpa pamitan ke yang lainnya, Rara dan Rayyan pun pulang dari sana. Bahkan mereka tak sempat meminum teh yang di buat oleh Ibu Rita.


Setelah kepergian Rara dan Rayyan, Ibu ARsih dan suaminya merasa kesal dan marah bahkan mereka juga memarahi Ibu Ratih dan Ibu Rita yang tak bisa jaga ucapannya. Ibu Ratih dan Ibu Rita pun merasa bersalah terhadap Rara dan kakak angkatnya itu. Namun mereka gengsi untuk meminta maaf.


Sedangkan Rara dan Rayyan, saat mereka ingin masuk ke dala mobil, tiba-tiba, Rian datang menghampiri mereka.


"Ra, kamu di sini?" tanya Rian.


"Iya, Mas. Mas Rian gak kerja?"


"Kerja, tadi aku ada panggilan, jadi gak buka bengkel lagi. Aku juga baru pulang terus tadi ada Ibu-ibu bilang, kamu datang ke rumah Ibu ARsih. Jadi aku ke sini,"

__ADS_1


"Oh," Rara bingung mau jawab apa.


"Kamu sama siapa, Ra?" tanya Rian sambil melihat ke arah Rayyan.


"Saya calon suaminya," ucap Rayyan yang membuat Rara melotot, namun setelah itu, ia pun merasa biasa aja.


"Oh, saya Rian, mantan suami Rara. Oh ya, Ra. Apa kamu gak mau ke rumah dulu, di sana ada Lala juga, katanya Lala kangen sama kamu," ucap Rian.


"Maaf ya, Mas. Aku dan Mas Ray buru-buru. Jadi gak bisa mampir, mungkin lain kali aja ya," tolak Rara.


Mendengar hal itu membuat Rian kecewa.


"Iya sudah, kamu hati-hati ya di jalan,"


"Iya, salam buat Lala."


"Iya, nanti aku sampein."


Dan setelah itu, Rayyan dan Rara pun masuk ke dalam mobil sedangkan Rian menatap ke arah mereka dengan rasa yang sedih, marah, kecewa, cemburu, dan yang lainnya. Bahkan Rian terus menatap ke arah mereka sampai mobil itu pergi dari sana.


"Kamu sudah menemukan penggantiku, Ra. Dan aku melihat laki-laki itu sangat menyayangi dan mencintai kamu, walaupun aku baru bertemu dengannya. Tapi aku merasa, dia laki-laki baik. Semoga kamu bahagia dengannya, Ra." Dan setelah itu, Rian pun pulang dari sana dengan langkah kaki yang terasa berat. Melihat tampilan Rayyan tadi, membuat Rian merasa insecure. Bagaimanapun tampilan mereka sangat jauh berbeda. Rayyan terlihat rapi dengan pakaian mahalnya sedangkan Rian, bahkan memakai kaos yang sudah kusut dan banyak kotoran sana sini karena ia baru pulang dari rumah pelanggannya yang menyewa jasa dirinya untuk memperbaiki mobilnya.


"Mas, maaf ya. Omongan Ibu Rita tadi pasti sudah menyinggung perasaan Mas Ray ya," ucap Rara merasa bersalah.


"Gak papa, Ra. Aku ngerti kok. Kita langsung pulang kan?" tanya Rayyan mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Mas."


"Oh ya, nanti malam jangan lupa tugasnya ya, dan jangan lupa masukkan ke dalam tas, agar kejadian tadi pagi tak terulang lagi. Untungnya tadi pagi aku yang ngajar, aku masih toleransi. Gimana kalau Pak Beni yang ngajar, kamu bisa langsung dapat nilai C bahkan parahnya bisa D. Jadi kamu hati-hati ke depannya," ujar Rayyan mengingatkan.


"Iya, Mas."


Dan setelah itu, mereka pun saling diam, hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah. Rayyan langsung memarkirkan mobilnya di garasi, karena ia sudah tak mau keluar lagi.


"Langsung mandi dan istirahat, Ra," ucap Rayyan setelah turun dari mobil.


"Iya, Mas." Rara tak berani bantah, ia tak ingin membuat Rayyan emosi dan kecewa padanya. Untuk itu, ia lebih baik jadi penurut aja.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan setelah itu, masuk ke kamar masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2