
Petang itu akhirnya Yumi setuju menemui Keva, pria yang menjadi teman kencannya. Hari itu Yumi terlihat sangat anggun dan cantik.
Dengan mengenakan high heels, Yumi melangkah hati-hati. Dompet putih berhiaskan mutiara, ia pegang. Isinya ponsel dan beberapa lembar uang serta kartu kredit.
Rambutnya sengaja digerai ikal. Sedangkan lehernya melingkar kalung berlian sederhana.
Penampilan Yumi kala itu benar-benar menakjubkan, hingga membuat pengunjung pria di restoran itu terpukau padanya.
Yumi benar-benar menyita perhatian semua orang. Tak sedikit yang berdecak kagum karenanya. Meski ada yang mengatakan, bahwa ia terlihat biasa saja.
Sudah dalam restoran hendak menemui Keva, tiba-tiba ponsel Yumi berdering, menandakan ada panggilan masuk.
Dilihatnya layar ponsel itu, rupanya Fabian sedang melakukan panggilan video.
Awalnya Yumi menolak panggilan tersebut. Namun, pria itu terus menghubunginya berulang kali. Sehingga membuat Yumi jera.
"Ada apa?" tanya Yumi dengan nada ketus.
Alih-alih menjawab pertanyaan Yumi, Fabian justru terpaku dalam panggilan itu. Seperti yang lainnya, pria itu juga terpesona akan kecantikan Sang mantan istri.
Debaran jantung Fabian semakin kentara, padahal mereka hanya bercakap lewat panggilan video.
Kini Fabian mulai berfantasi membelai pipi Yumi.
"Halo, apa kau mendengarku?" Tetapi Yumi membuatnya sadar, bahwa ia sedang berkhayal.
"Ah iya. Maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Baiklah, lupakan itu. Kau di mana sekarang?" Pura-pura Fabian tak merasakan apa-apa. Dia pun mengalihkan pembicaraan.
"Aku sedang berada di restoran. Ada apa?" balas Yumi seadanya.
Di satu sisi Yumi tidak berniat sama sekali untuk menemui Keva. Dan di sisi lainnya ada Fabian yang membuatnya kesal.
"Sedang apa kau di restoran? Apa kau sedang kencan?" Terlihat Fabian penasaran pada apa yang dilakukan Yumi kala itu. Dia terus mencerca wanita tersebut dengan segudang pertanyaan.
Lebih tepatnya Fabian terlihat seperti sedang menahan cemburu.
"Ya, aku sedang kencan. Ada apa? cepat katakan padaku!" desak Yumi.
"Mengapa dia terlihat sangat anggun? dasar wanita cupu," gumam Fabian masih dalam panggilan video itu.
__ADS_1
"Apa kau mengatakan sesuatu? Aku tidak begitu mendengarmu," ungkap Yumi.
Nyaris saja Fabian ketahuan, andaikan suaranya sedikit lebih kentara.
"Ah ya, kau harus membantuku sekarang. Ada sesuatu yang sangat mendesak." Sengaja Fabian mendesak Yumi, agar wanita itu tidak menemui Keva. Dengan kata lain, Fabian berencana membatalkan kencan buta Yumi.
"Katakan padaku."
"Kau harus menjemput putraku di sekolah, aku akan mengirimkanmu foto serta nama sekolahnya." Bagai bom waktu yang meledak, hati Yumi terasa sakit. Dia terkejut pada apa yang dikatakan Fabian.
Bagaimana bisa Fabian memiliki anak? Sedangkan statusnya adalah duda. Apakah itu artinya Fabian pernah menikah lagi pasca perceraian delapan tahun lalu?
"Mengapa harus aku? Mengapa bukan Ibunya yang jemput?" jawab Yumi sembari menahan sesuatu yang aneh di dalam sana.
"Karena aku ingin kau yang menjemputnya. Aku tidak percaya orang lain. Kode pintu masih sama seperti dulu. Sampai jumpa." Tanpa memberi aba-aba, Fabian mengakhiri panggilan itu. Sehingga membuat Yumi tak berdaya.
Sejujurnya ia masih ingin mengatakan sesuatu kepada Fabian. Namun, pria itu tak memberinya kesempatan.
Ada begitu banyak pertanyaan dalam otak Yumi saat ini, hingga ia melupakan kencan butanya.
Satu pesan masuk menghiasai layar ponsel Yumi. Pesan itu tentu saja datangnya dari Fabian.
Pria itu mengirim foto serta alamat sekolah Putranya, hingga tanpa sadar Yumi meneteskan air mata.
Jika benar ia telah memiliki Putra, lantas kemana Ibunya? Mengapa bukan dia yang menjemput bocah itu? Mengapa harus Yumi?
Dengan rasa dilema, Yumi meninggalkan restoran tempatnya berkencan. Alhasil hari itu ia tak menemui Keva. Bahkan ia tak mengirim pesan singkat sebagai bentuk permintaan maaf.
Dalam perjalanan menuju sekolah anak Fabian, Yumi kembali teringat peristiwa sembilan tahun silam. Dimana ia sempat mengira telah mengandung anak Fabian.
Hari itu Yumi mengalami sakit perut yang luar biasa. Karena merasa terlambat datang bulan, dia pun memeriksa kalender. Rupanya memang benar, bahwa ia benar-benar telat.
Tanpa memeriksakan diri ke dokter, Yumi memutuskan pergi ke apotek untuk membeli tespek. Namun, masih menunda waktu untuk menggunakannya.
Yumi takut kecewa, dia menyimpan benda kecil itu di dalam nakas. Yumi menunggu sampai seminggu.
Kala itu Yumi memberitahu Fabian, bahwa ia sedang kesakitan. Namun, masih belum membahas bayi.
Fabian yang terlihat sibuk, memutuskan untuk rehat sejenak. Dan entah apa yang mendorong Yumi kala itu hingga ia memberitahu Fabian, bahwa ia menduga sedang mengandung.
__ADS_1
Fabian yang masih belum siap untuk menjadi Ayah, pun diam saja. Namun, tak bermaksud menyakiti hati istrinya itu.
Tiga hari kemudian, Yumi kembali mengalami sakit yang luar biasa. Rupanya kala itu ia sedang menstruasi.
Fabian yang mengira Yumi benar-benar hamil, menyempatkan diri untuk merawatnya. Namun, mendadak Yumi mengaku, bahwa ia sedang tidak hamil, melainkan menstruasi.
Fabian terdiam, tapi tak juga bersorak riang. Antara suka dan tidak suka dengan dugaan Yumi.
"Nona, kita sudah sampai sekolah Wisnutama." Suara sopir taksi menyadarkan Yumi dari lamunannya.
"Ah iya, terimakasih." Yumi membayar ongkos taksi. Lantas keluar guna menemui anak yang dimaksud.
Yumi masih kebingungan, karena tak pernah bertemu anak Fabian sebelumnya.
Beberapa menit menunggu, beberapa anak sekolah pun keluar. Yumi membuka pesan Fabian yang menunjukan foto Putranya.
"Kenzo!" panggil Yumi setelah merasa yakin, bahwa anak yang berdiri di ambang pagar adalah Putra Sang mantan suami.
Bocah itu pun menghampiri Yumi dengan polosnya. Lantas bertanya, "Apa kau Ibuku?"
"Ha?" Yumi ternganga, karena Kenzo mengira dia adalah Ibunya.
"Bukan, aku adalah sekretaris Ayahmu," ungkap Yumi setelah beberapa saat terdiam dalam keterkejutannya.
"Benarkah? Aku pikir kau adalah Ibuku." Entah mengapa Anak itu seperti merasa kecewa terhadap jawaban Yumi.
Seakan berharap, bahwa wanita itu benar-benar Ibunya.
"Memangnya dimana Ibumu? Apa kau tidak pernah melihatnya?" Karena merasa heran sekaligus penasaran, Yumi pun mengajukan pertanyaan. Dia menunduk, guna mensejajarkan diri.
"Aku tidak tahu," lirih anak itu. Seketika hati Yumi tercubit. Dia merasa iba terhadap Kenzo.
"Baiklah, sekarang kita pulang. Aku akan menemanimu, em?" Entah mengapa Kenzo merasa nyaman kepada Yumi. Tanpa harus mencari perhatian, Yumi telah akrab dengannya.
Diperjalanan menuju rumah, mereka bercerita panjang lebar. Kenzo yang seakan menemukan sosok Ibu dalam diri Yumi, pun merasa bahagia. Dia merasa dicintai. Kehadirannya dibutuhkan serta dihargai.
Kenzo bahkan tak segan memeluk janda Fabian tersebut. Seperti tak ada jarak di antara mereka.
"Apa aku boleh memanggilmu, Ibu?" Mendadak Kenzo mengajukan pertanyaan yang tak pernah terpikirkan oleh Yumi.
__ADS_1
Mengapa bocah itu hendak memanggilnya Ibu? Semalang itukah dia? Sebenarnya di mana Ibu Anak itu? Mengapa Fabian menyembunyikannya dari Kenzo?
Ada begitu banyak pertanyaan dalam benak Yumi, sampai akhirnya mereka sampai di rumah Fabian.