Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Wajib Lapor


__ADS_3

Orang bilang cinta itu buta dan tak mengenal logika ketika hati bertaut.


Mereka tak mengenal kata 'tidak' bila suda jatuh cinta.


Rasanya memang sungguh nikmat tiada duanya. Terlebih lagi bila cinta tak bertepuk sebelah tangan atau terbalaskan.


Hati terasa berbunga-bunga, jiwa setiap hari bahagia.


Wajahnya bersemayam di sanubari, hingga tiap kali teringat, maka kedua sudut bibir akan tertarik membentuk senyuman manis.


Pun detak jantung yang tak mau ketinggalan. Tiap hari ritmenya berdenyut kencang. Terlebih lagi bila berada di sisi, rasanya seperti berada di awang-awang.


Jatuh cinta itu memang membuat hati senang, gembira riang sedemikian rupa. Terkadang kotoran ayam pun disangka coklat.


Perut terasa kenyang tiap kali mengingat senyumannya. Rasa lapar pun rela tertunda karena meladeni sosoknya. Oh nikmatnya.


Seperti yang tengah dirasakan oleh Fahri terhadap Rohana.


Ya, akhirnya pria itu benar-benar jatuh cinta pada sosok gadis bar-bar tersebut.


Fahri telah menyadari, bahwa dibalik sikapnya yang kelebihan aktif, Rohana justru menyimpan sejuta pesona di dalam sana yang jarang diketahui oleh orang-orang.


Penampilannya yang seksi dengan gincu merah, justru tersembunyi sikap sederhana.


Bayangkan saja, Rohana berasal dari keluarga berada. Ayahnya kerap berinvestasi di perusahaan besar dalam jumlah fantastis. Salah satunya dalam perusahaan yang dipimpin oleh Fabian.


Kini Fahri telah bertekad untuk memenangkan hatinya.


Ya, pria itu hendak membuat Rohana membalas cintanya.


Di hotel mewah itu, Fahri tampak gelisah memikirkan Rohana tengah makan bersama Aryan.


Sedangkan dia hanya bisa menunggu kepulangan wanita itu di sana.


Sejak tadi posisinya hanya antara kursi dan pintu, memperhatikan Rohana akan segera pulang.


Namun, sudah dua jam menanti, gadis itu masih belum muncul. Entah kemana perginya.


"Pergi kemana wanita itu. Dia membuatku khawatir sejak tadi," gumamnya.

__ADS_1


Sesekali Fahri melirik arlogi di pergelangan tangan. Hendak memastikan sudah berapa lama gadis itu menghilang dari pandangan.


Ceklek.


Tak lama terdengar suara pintu terbuka, dan menunjukan sosok Rohana di sana.


"Pergi kemana saja kau? Mengapa tak menghubungiku? Apa kau tahu sudah berapa lama aku menunggumu? Kau benar-benar membuatku cemas!" Fahri tak dapat mengontrol diri.


Pria dengan rambut jabrik itu kelepasan mengutarakan seluruh isi hatinya yang gundah gulana karenanya.


Rohana yang melihat itu, merasa tercengang. Mendadak Fahri posesif padanya. Sikapnya sungguh aneh bin ajaib.


Semula mereka tak cocok satu sama lain. Akan tetapi, entah mengapa akhir-akhirnya Fahri sangat perhatian padanya. Sebenarnya ada apa dengan pria itu? pikir Rohana.


"Ada apa denganmu? Mengapa kau harus mencemaskanku? Bukankah kau tahu bila aku sedang makan siang bersama Tuan Aryan?" sahut Rohana merasa aneh.


"Iya, aku tahu. Tapi aku tidak tahu apa saja yang sudah kalian lakukan di sana. Dan kalian kemana saja? Mengapa makan siangnya lama sekali?"


Sungguh aneh bin ajaib cinta ini. Dia sanggup mengubah karakter seseorang dalam sekejab.


Yang tadinya tampak biasa, seketika menjadi luar biasa.


Ajaibnya, meski marah karena cemburu, tapi dia tak sanggup meninggalkan, apa lagi berada jauh darinya.


Dan juga bertambah kadar cintanya, alih-alih membenci.


"Mengapa aku harus memberitahumu kemana kami pergi dan apa saja yang kami lakukan? Apakah sekarang aku terkena wajib lapor? Sehingga kau bersikap seperti anggota polisi? Kau benar-benar aneh!" sarkas wanita itu, masih dengan mimik heran.


Memang Fahri sungguh terlihat cemas, dan kecemasannya itu karena ia merasa cemburu pada Aryan. Pria yang sukses memenangkan hati Rohana hari ini.


Padahal dia sudah berencana untuk makan siang bersama setelah semua urusan mereka selesai.


Sontak Fahri tersadar setelah Rohana menyebutnya aneh. Dia menyadari sikapnya telah berlebihan.


"Aku hanya--"


"Ah sudah lah. Kau benar-benar membuatku bingung. Pertama, kau mencemaskanku. Kedua, kau seakan memintaku untuk melaporkan padamu tiap gerak geriku, dan yang ketiga kau bersikap seolah kau peduli padaku."


"Karena aku benar-benar peduli padamu, gadis bodoh!" sarkas pria itu dengan satu kali tarikan napas.

__ADS_1


Sekali lagi Rohana kembali tercengang tatkala pria itu mengakui kepeduliannya. Lalu kemudian ia pun tergelak. "Hahaha, apa aku tidak salah dengar? Kau benar-benar aneh."


Fahri justru terlihat seperti orang bodoh. Dirinya menjadi objek lelucon Rohana.


"Sejak kapan kau peduli padaku? Apakah Tuan Aryan mengubah pola pikirmu tentangku? Bukankah kau selalu kesal tiap kali berada di sisiku? Mengapa mendadak kau peduli?" imbuh wanita itu, menyangsikan sikap Fahri yang satu ini.


Karena percakapan itu, Rohana melupakan peristiwa memalukan tempo lalu saat ia melepas bra di depan Fahri tanpa sadar.


tampaknya perkara mabuk kala itu tak lagi penting untuk dibahas.


Mendadak suara Fahri tercekat di tenggorokan. Tak bernyali untuk mengungkap isi hatinya kepada wanita itu.


Ingin rasanya Fahri berkata, bahwa ia telah jatuh cinta kepada Rohana. Namun, entah mengapa bibir serta lidahnya tiba-tiba keluh.


Hanya suara detak jantung yang semakin berdenyut kencang. Andaikan Rohana tahu, bahwa suara detakan itu karenanya. Akankah ia menerimanya? Akankah wanita itu menerima cinta Fahri? Entahlah.


"Aku mau makan siang!" Fahri benar-benar terlihat bodoh. Tak ada angin tak ada hujan, mendadak ia ingin makan siang. Sedangkan beberapa saat lalu ia telah menghabiskan sepiring pasta lengkap dengan stiknya.


"Ya sudah, makan saja sana. Mengapa kau memberitahu aku? Memangnya aku asistenmu?" sarkas Rohana tanpa ragu.


Wanita itu memang cukup impulsif. Tak akan berpikir dua kali untuk mengungkap isi hati.


Tak peduli orang akan merasa tersinggung atau tidak. Intinya ia harus menyuarakan isi hati.


"Kau--"


"Sudahlah, aku mau istirahat. Kalau kau mau makan, silahkan pesan lewat aplikasi gojek. Atau kalau kau mau, kau bisa keluar dan menikmati makanan di pinggir jalan. Gampang kan?" Rohana tak ingin memperkeruh suasana.


Hari ini dia sudah cukup lelah menyelesaikan tugasnya bersama Aryan.


Ya, sejujurnya tadi bukanlah sekedar makan siang. Melainkan menyelesaikan sebagian proyek restoran yang mereka rancang.


Beruntungnya Aryan bersikukuh mengajak wanita itu makan bersama. Sehingga mereka menemukan solusi tanpa harus mengandalkan dana dari Ayah Rohana.


Akan tetapi, Rohana tak berencana untuk memberitahu Fahri ihwal percakapan mereka beberapa saat lalu. Lagi pula, siapa pria itu? Mengapa ia harus melaporkan segala sesuatunya?


"Dasar wanita tak peka!" gumam pria itu. Namun, masih bisa didengar oleh Rohana.


"Apa? Kau bilang aku tak peka? Memang aku tak peka. Masalah buat lo? Lagian untuk apa aku peka terhadap perutmu yang lapar? Tinggal makan saja kok repot?" sarkasnya tanpa ragu.

__ADS_1


Alhasil Fahri semakin kesal dibuatnya. Wanita itu benar-benar membuat lelaki berlesung pipi tersebut kehilangan akal.


__ADS_2