Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Pemberian Keva


__ADS_3

Akhirnya setelah menunggu beberapa lama, Keva berhasil makan siang bersama Yumi tanpa diganggu oleh Fabian.


Mendadak pria itu meluaskan Sang sekretaris untuk menghabiskan waktu di luar kantor.


Umumnya, Yumi diharuskan menemani Fabian kemanapun pria itu berada. Ibarat prangko yang tak terpisahkan.


Keduanya menikmati makanan kesukaan mereka, serta ditemani dengan sedikit rintik hujan.


Restoran itu bergaya china klasik. Dindingnya terbuat dari bambu kuning. Sedangkan jendelanya bergaya Eropa.


Suasananya begitu indah dipandang mata. Bila melihat ke luar jendela, maka akan disuguhkan dengan air terjun buatan manusia. Entah bagaimana cara pemilik restoran itu membuat air terjun tersebut.


Air terjun itu salah satu ikon yang membuat banyak hati terpikat. Dua intaranya Yumi dan Keva.


"Apa kau suka dengan menunya?" Keva mulai basa-basi setelah beberapa kali suapan daging sapi.


"Suka, apa lagi pemandangannya. Sungguh luar biasa. Aku baru pertama kali makan di tempat ini," papar Yumi bersungguh-sungguh.


Satu irisan daging sapi wagyu dimasukannya ke dalam mulut. Daging itu terasa empuk di lidah.


"Baguslah jika kau suka. Maka kau boleh memilikinya."


"Uhuk-uhuk." Yumi terbatuk ketika Keva hendak memberinya restoran itu.


Mimik pria itu tampak datar, tapi masih ada rona serius.


Masih memotong daging, lantas menyuapi diri. Keva pun kembali berujar, "Mengapa? Apa kau tidak suka?"


"Bukan itu intinya. Maksudku apakah restoran ini milikmu?" tanya Yumi berterus terang.


Keva meletakan garpu dan pisau daging di atas piring. Lantas meminum air putih beberapa teguk. Kemudian ia pun mengaitkan kesepuluh jemarinya sembari menatap Yumi dalam-dalam. "Apa aku terlihat seperti seorang pembohong?" tanyanya.


"Keva, bukan itu maksudku. Aku tahu kau bukan seorang pembohong, tapi tidakah ini berlebihan? Bagaimana bisa kau memberiku restoran ini? Apakah itu masuk akal?" sangsi Yumi, mengutarakan isi hati.


"Kenapa tidak? Apakah menurutmu kau tidak pantas mendapatkan ini semua? Kau sangat pantas, Yumi. Terlepas karena aku mencintaimu, ini semua karena kau benar-benar layak mendapatkan yang kau inginkan. Bukankah sejak dulu impianmu ingin memiliki restoran seperti ini?"


Benar kata Keva, bahwa impian Yumi adalah memiliki restoran seperti yang saat ini mereka tempati. Hanya saja impian itu dipendamnya dalam-dalam.

__ADS_1


Sewaktu bersama Fabian, pria itu tak pernah mempunyai waktu mendengarkan rencana masa depan mereka. Fabian terlalu sibuk dengan dunianya.


Tiap kali Yumi hendak mengajak bicara, pria itu selalu saja mengemukakan alasan klasik.


Sedangkan Keva, entah bagaimana ceritanya sampai ia tahu impian Yumi. Satu-satunya orang yang mengetahui perihal impian tersebut hanyalah Erika. Benarkah dia orang yang telah membocorkan rahasia kecil Yumi?


"Astaga, pasti Erika pelakunya," batin Yumi kesal.


"Dengar, aku tahu niatmu baik. Namun, aku benar-benar tidak bisa menerimanya, Keva. Ini terlalu berlebihan."


Sementara itu di tempat berbeda, tampak Fabian tengah mengintai dua orang tersebut dari ruangan kantornya melalui alat yang sengaja ia letakan pada bagian belakang ponsel Yumi.


Sengaja ia meletakannya demi mengetahui segala aktivitas mantan istrinya tersebut.


Fabian pun marah sekaligus cemburu tatkala Keva hendak mempersembahkan Yumi sebuah restoran.


Sialnya, dia tidak pernah tahu impian mantan istrinya itu. Justru Keva lah yang lebih dulu tahu. Tentu saja pelakunya adalah Erika.


Andaikan dia lebih dulu mengambil hati wanita itu, maka restoran hanyalah bagian kecil dari kemampuan Fabian untuk dipersembahkan kepada Yumi. Dia bahkan bisa membangun mall untuknya.


Rahangnya mulai mengeras. Sedangkan bola mata pria itu pun memerah.


"Yumi, mengapa kau tidak pernah memberitahuku soal impianmu? Mengapa harus Keva? Mengapa bukan aku?" imbuhnya.


"Tidak masalah kau menolak hari ini, tapi aku harup kau mau memikirkannya kembali. Anggap ini sebagai pemberian kecil dariku," ungkap Keva setulus hati.


"Pemberian kecil kau bilang? Tidak bisakah kau melihat restoran ini? Pasti membutuhkan anggaran yang sangat besar. Lagi pula, tidak ada alasan untuk memberiku hadiah sebesar ini. Dan satu lagi, hubungan kita tidak seistimewa itu sehingga mengharuskanmu mempersembahkan hal besar."


Di ujung bangunan tinggi itu, Fabian menyeringai tatkala mendengar ucapan Yumi. Seperti mendapat tiket untuk memenangkan pertarungan. Dia pun bergumam, "Bagus, Sayang. Kau jangan terima pemberian pria itu."


Sementara itu, Keva yang terkejut dengan perkataan Yumi, dibuat tak percaya. Selama ini dia cukup percaya diri terkait hubungan mereka. Namun, ternyata wanita itu justru menganggapnya biasa saja.


Tidak ada yang istimewa dari keduanya. Keva bertindak sejauh ini karena dia benar-benar mengistimewakan wanitanya. Kalau tidak, untuk apa dia capek-capek mengurus administrasi dan lain sebagainya.


Butuh waktu lama untuk menyiapkan hadiah tersebut, dan sekarang Yumi justru menolaknya mentah-mentah. Sungguh sangat disayangkan.


"Maaf jika aku terlalu percaya diri. Tidak masalah jika kau menolak pemberianku. Aku bisa menunggumu," lirih Keva membesarkan hati.

__ADS_1


"Keva, tolong maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Hanya saja restoran ini sungguh tak pantas untuku. Memang ini adalah impianku, tetapi aku ingin membangunnya sendiri, bukan berasal dari orang lain. Kau mengerti maksudku, kan?"


Tampaknya Keva telah salah paham terhadap Yumi. Andainya dia mau membantu mewujudkan impian wanita itu, seharusnya ia memberinya pekerjaan yang menghasilkan uang banyak.


Dengan begitu Yumi bisa membangun restoran impiannya secara pelan-pelan.


"Baiklah, aku paham. Tolong maafkan aku." Kali ini Keva tidak memaksa lagi. Hatinya pasrah menerima keputusan Yumi.


Sedangkan Fabian bersorak gembira di ruangannya. Akhirnya Yumi menolak Keva secara lugas. Artinya dia memiliki peluang besar untuk memenangkan hati Yumi.


Walau bagaimanapun juga, mereka pernah bersama. Sedikit banyak Fabian tahu sifat wanita itu.


"Akhirnya kau menolak pria itu. Kini giliranku beraksi. Tadi pagi mungkin aku terkesan bercanda memintamu kembali, tapi kali ini kau akan tahu isi hatiku. Aku akan mengungkapkan segalanya," gumam Fabian bersungguh-sungguh.


Rencana itu pun disusun secara matang. Berharap kali ini tidak akan gagal.


Yumi adalah wanita yang pantas untuk diperjuangkan.


Kesederhanaan wanita itu tak banyak dimiliki oleh perempuan di luar sana.


Delapan tahun lalu Fabian masih terlalu muda. Tidak cukup baik memahami Yumi.


Anggap saja Fabian terlambat bertindak. Namun, bukankah tidak ada salahnya berusaha?


Bila dulu mereka menikah karena dia merasa iba, maka sekarang nalurinya yang berbicara.


Fabian bersungguh-sungguh ingin memiliki Yumi kembali. Anggap saja dia egois, tetapi cinta tetaplah cinta. Biar Tuhan yang menentukan, agar netizen yang maha benar melihat ketulusan hati pria tersebut.


"Bagaimana? Apakah makan siangnya berjalan lancar?" Setelah Yumi sampai, Fabian pun sengaja mengajukan pertanyaan.


"Hm," sahut Yumi acuh.


"Baiklah, kalau begitu kita bisa melanjutkan pekerjaan. Apakah kau sudah mengcopy file dari Fahri dan Erika? Aku harap kau tidak melakukan kesalahan," kata Fabian, sengaja tak ingin memperkeruh keadaan.


"Aku sudah mengirim lewat email beberapa jam lalu. Silahkan periksa," balas Yumi masih dengan sikap acuhnya.


"Dia kenapa? Mengapa tidak bersemangat?"

__ADS_1


__ADS_2