Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Kecupan Singkat Membuat Jantungan


__ADS_3

Jemari Fabian mulai terangkat, menggenggam kedua lengan Yumi.


Tatapan mereka pun saling beradu, hingga menjadi tatapan damba satu sama lain.


Kemudian Fabian memindahkan beberapa helai rambut Yumi yang menutupi wajahnya ke telinga.


Yumi seperti merasa disetrum listrik. Sehingga aliran darahnya mengalir deras.


Wanita itu sangat meresapi sentuhan ringan Sang mantan. Sembari menutup mata, Yumi merasakan sensasi yang berbeda. Seperti ada manis-manisnya.


Telah lama mereka tidak sedekat ini.


"Ayah."


Sontak Yumi mendorong keras tubuh Fabian hingga jatuh terpental ke lantai.


Kehadiran Kenzo sukses membuatnya terkejut sekaligus malu serta takut.


"Astaga, mengapa kau mendorongku? Bokongku jadi sakit ni."


Ya, saat terjatuh bokong Fabian terkena mainan mobil-mobilan Kenzo yang tergeletak sembarang di ruang tengah.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja," sesal Yumi.


"Ayo, aku bantu." Yumi membantu Fabian untuk beranjak, sementara bokong pria itu masih terasa sakit.


Sedangkan Kenzo hanya bisa diam, tak memahami apa sedang terjadi pada dua orang dewasa di depannya itu.


Kenzo merasa, bahwa masalah orang dewasa cukup rumit. Padahal kalau suka tinggal bilang saja.


Pun sebaliknya, andai benci, maka katakan saja. Bila saling merindukan, ya tinggal bertemu. Apa susahnya?


"Apa yang sedang kalian lakukan? Mengapa Ayah duduk di lantai itu? Bukankah masih ada kursi?" tanya Kenzo dengan polosnya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ayahmu memang suka kehidupan sederhana. Meski ada kursi, dia lebih memilih lantai untuk tempatnya duduk." Yumi semakin canggung. Bahkan jawabannya pun asal-asalan.


"Ha?"


Fabian nyaris kehabisan kata-kata saat mendengar itu semua.


"Sudah, jangan cerewet. Kau diam saja. Apa kau ingin Putramu menyaksikan adegan delapan belas tahun ke atas?" bisik wanita itu.


"Ayah, Nona Yumi. Bisa jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi di sini? Aku bisa melihat kalian berdua, tapi mengapa seolah-olah tidak terjadi apa-apa?"

__ADS_1


Perkataan Kenzo kali ini sukses mempengaruhi Yumi. Wanita itu menelan salivanya dengan susah payah. Dalam hati ia pun berkata, "Apa yang telah dilihat Anak itu?"


"Apa kau melihat sesuatu? Maksudku apa kau melihat Ayahmu dan aku--"


"Iya, aku melihatnya."


Yumi terlihat ragu-ragu mengajukan pertanyaan kepada Kenzo. Dia tak tahu bagaimana caranya menyusun kata yang sekiranya pas dengan usia Bocah itu. Namun, Kenzo justru memberinya tanggapan lugas.


"Apa yang kau lihat?" tanya Yumi semakin waspada.


Andai Kenzo melihat Fabian hendak menciumnya. Maka tamat lah riwayat Yumi. Wanita itu tak akan sanggup memandang mata Anak itu lagi.


Bahkan tak akan kembali mengunjungi rumah mereka. Yumi akan menghilang dari peredaran.


"Aku melihat kalian saling peduli satu sama lain. Namun, mengapa kalian masih saja bersikap acuh? Padahal kalo peduli, ya peduli saja. Tidak perlu malu-malu. Apakah orang dewasa memang selalu seperti ini? Benar-benar rumit."


Fabian terkekeh tatkala ucapan Putranya itu terdengar inspiratif.


Kenzo memang benar, kalau suka ya tinggal bilang saja. Mengapa harus repot-repot menyusun rencana? Sedangkan orangnya ada di depan mata.


"Sebaiknya aku tidur saja. Melihat kalian membuat kepalaku semakin sakit," imbuh Anak itu seraya meninggalkan dua orang dewasa tersebut.


"Dia benar juga." Fabian masih terkekeh karena ucapan Putranya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Yumi setelah menyadari ada sesuatu yang sedang Fabian pikirkan.


"Tidakah kau merasa perkataan Kenzo tadi ada benarnya?" balas Fabian.


"Yang mana?"


"Jika peduli, ya peduli saja. Mengapa kita harus membuatnya rumit? bener gak?"


"Aku tidak memperumit keadaan, tapi aku sedang berusaha untuk menjaga martabat. Mengenai peduli yang Putramu maksud dan peduli yang kau pikirkan adalah dua hal yang berbeda. Terkadang Anak kecil tak memahami cara pandang orang dewasa. Mereka cukup simple dalam berpikir." Namun, tidak bagi Yumi.


Cara pandangnya jauh berbeda dari Fabian. Meski sedikit membenarkan perkataan Kenzo tadi.


"Ayolah, Yumi. Ini memang sangat sederhana. Aku peduli padamu, dan kau peduli padaku. Aku menyukaimu, dan kau menyukaiku. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Artinya kita bisa menyatukan diri seperti dulu lagi," papar Fabian, tetap dalam pola pikirnya yang tak bertele-tele.


"Tidak semudah itu, Fabian. Banyak pihak yang terlibat dalam hubungan kita. Ada kedua orang tua, lingkungan, kerabat, hingga lingkungan kerja." Wanita itu berupaya untuk membuat Fabian paham, bahwa situasi mereka tak sesederhana ucapan Anak kecil seperti Kenzo.


Yumi masih harus mempertimbangkan pendapat Ibunya, teman, bahkan kantor sekalipun.


Betapa tidak, para pegawai kantor itu masih belum tahu tentang hubungan mereka yang sebenarnya.

__ADS_1


Bila orang-orang itu tahu, maka salah satu di antara mereka harus ada yang mengalah. Entah itu Fabian atau Yumi.


Sedangkan keduanya sangat tahu, bahwa bekerja di kantor itu adalah impian masing-masing.


Fabian mempertahankan serta menjaga kestabilan perusahaan mendiang Ibunya. Sedangkan Yumi membantu perekonomian kedua orang tuanya.


Telah lama Gautam pensiun sebagai pegawai negeri sipil.


Pensiunannya memang cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Namun, Yumi tetap harus membantu mereka. Terlebih lagi dia mempunyai impian yang belum terwujud sama sekali.


"Artinya kau mengaku, bahwa kau masih mencintaiku, kan?" Rupanya Fabian justru menangkap makna lain dari perkataan Yumi barusan.


"Kapan aku bilang begitu?"


"Hei, bukankah tadi aku mengatakan, bahwa aku menyukaimu dan kau menyukaiku. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Setelah itu kau berkata, bahwa masih banyak hal yang harus kita pertimbangkan. Bukankah itu artinya kau setuju denganku? Kau telah mengakui perasaanmu kepadaku. Kau memang tidak mengiyakan, tapi kau juga tidak menolak. Aku benar, kan?"


Sontak wajah Yumi memerah. Mengapa dia tidak memikirkan hal itu?


Tampaknya Yumi lupa sedang berbicara dengan siapa. Dia adalah seorang Fabian Abdullah, orang yang tak mengenal lelah dalam berusaha memenangkan sesuatu. Dia akan selalu mencari cela agar orang itu bersedia mengaku.


Lihatlah buktinya hari ini. Secara tidak langsung Yumi telah mengakui perasaannya.


"Aku mau ke kamar dulu." Yumi tak tahu lagi harus berkata apa, dia pun mengalihkan pembicaraan. Alasan yang cukup klasik.


"Hei, kau mau kemana, em?" Fabian hendak mencegah Yumi kembali, tetapi wanita itu berhasil menghindarinya kali ini.


"Jangan dekat-dekat! Siapa bilang aku masih mencintaimu?" Yumi memperingati Fabian ketika pria itu berusaha meraih tangannya.


"Baiklah, kita akan buktikan. Apakah kau masih mencintaiku atau tidak."


Cup!


Dengan sigap Fabian mencuri ciuman Yumi. Menyambar bibirnya tanpa memberi aba-aba.


Sehingga Yumi pun tercengang sembari mendorong keras tubuh pria tersebut. Alhasil Fabian jatuh terpental ke lantai.


"Aakk-- Kepalaku," kata Fabian sembari menahan sakit.


"Fabian, apa yang terjadi? Apakah kepalamu sakit? Maafkan aku." Yumi terlihat sangat panik. Namun, rupanya Fabian justru hanya bersandiwara.


Pria itu tak benar-benar sakit. Akhirnya dia kembali mencium Yumi dengan gemas. Setidaknya Fabian tahu, bahwa mantan istrinya itu masih mencintainya.


Mungkin saat ini Yumi masih belum bersedia mengaku secara lisan. Namun, sikapnya telah menunjukan hal sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2