Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Yumi dan Fabian


__ADS_3

Fabian dan Yumi sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bedanya adalah pikiran wanita itu masih dipengaruhi oleh perkataan Keva beberapa saat lalu.


Yumi tidak pernah mengira bila pria itu akan melangkah sejauh ini. Restoran tadi memang sangat indah, banyak pelanggan yang berdatangan. Entah itu hanya sekedar menikmati pemandangan, atau menikmati menu makanan, atau bisa juga keduanya.


Akan tetapi, bukan hak Yumi untuk menerima restoran tersebut. Masih ada orang lain yang berhak menerimanya, contohnya Nadia, Ibu Keva.


"Apa kau sedang melamun? Dari tadi aku mengajakmu bicara." Fabian menghampiri wanita itu dan membuyarkan lamunannya mengenai Keva.


Andaikan Yumi boleh jujur, Keva adalah lelaki yang baik. Namun, entah mengapa dia tidak tertarik untuk membangun hubungan dengannya.


Pun bersama Fabian. Bedanya adalah Fabian selalu impulsif mengutarakan isi hati, meski tak jarang menyebalkan.


"Ah ya, ada apa?" tanya Yumi.


"Coba lihat lokasi ini, apakah menurutmu strategis untuk membangun cabang di sana?" tanya Fabian, meminta pendapat Yumi.


Yumi mengambil alih gawai Fabian, lalu memperhatikan dengan seksama.


Lokasi itu dipenuhi rerumputan serta pepohonan yang rindang. Ada juga tebing yang cukup tinggi di sana.


Rencananya tebing itu akan diruntuhkan, lalu Fabian akan membangun cabang perusahaan.


Semula Fabian ragu, tetapi saat mendengar percakapan antara Yumi dan Keva tadi, maka muncullah ide brilian. Berhubung ia sudah membeli lokasi tersebut bulan lalu.


Tak lupa pula Fabian hendak membangun restoran di sana untuk Yumi, agar lebih memudahkan para pegawai untuk sekedar makan siang atau bersantai ria bersama rekan kerja.


Bahkan bisa juga menjadi pertemuan antar kolega.


"Cukup strategis. Kapan pembangunannya akan dimulai? Bukankah proyek kita bersama Tuan Aryan belum selesai? Kita bisa dituntut atas tuduhan wanprestasi."


"Kau memang pintar, tapi tak cukup cerdas untuk membaca situasi dalam dunia bisnis. Dengar, proyek bersama Tuan Aryan memang belum selesai, tapi kita mempercepat. Fahri sudah mengurus segalanya. Akhirnya pria itu bisa menunjukan kelebihannya," jelas Fabian.


"Tapi apakah kau tidak akan repot mengurus pembangunan cabang ini?"


"Apa kau sedang mencemaskanku sekarang?" goda Fabian seraya menatap Yumi dalam-dalam.


Untuk sesaat tatapan keduanya pun terkunci. Mereka tenggelam dalam keheningan.


Kemudian Fabian mulai mendekatkan wajah kepada Yumi, seperti hendak mencium wanita itu.


"Ehem!" Namun, lagi-lagi pria itu harus menelan kekecewaan. Sebab, mendadak Fahri dan Ronaha datang.


"Apa kami mengganggu kalian?" tanya Rohana hati-hati.


"Tidak, ayo masuk. Kebetulan kalian datang, ada yang ingin aku tunjukan." Buru-buru Yumi mengalihkan pandangan kepada Fahri serta Rohana.

__ADS_1


"Coba lihat lokasi ini, bagaimana menurutmu?" Hanya ini yg bisa dilakukan oleh Yumi demi mengalihkan pandangan Fabian. Sejak tadi pria itu terus menatapnya penuh damba.


"Bagus, apakah ini lokasi yang kita bahas kemarin?" tanya Fahri kepada Fabian.


"Iya, kau benar. Oleh sebab itu aku meminta kalian untuk mengurus proyek bersama Tuan Aryan. Tolong pastikan semuanya selesai sebelum waktunya. Dengan begitu kita tidak akan dituntut atas tuduhan wanprestasi, atau tidak seseorang akan merasa cemas." Sengaja Fabian menyindir Yumi demi menggodanya.


Lelaki tampan itu suka saat melihat wajah merah Yumi.


"Oh iya, kapan kau akan bertemu Tuan Aryan?" tanya Fabian sekali lagi.


"Rencananya besok. Apa kau mau ikut bersamaku?" Kali ini Fahri bertanya kepada Rohana.


"Tentu saja dia harus menemanimu. Kalau bukan dia, siapa lagi?" seru Fabian.


"Aku, aku bisa menemani Fahri." Betapa senang hati Fahri saat Yumi menawarkan diri untuk bertemu Tuan Aryan.


"Lalu, siapa yang akan menemaniku meninjau lokasi? Lagi pula, kau ini sekretarisku atau sekretaris Fahri?" Fabian terbakar cemburu kepada rekannya itu.


"Tidak bisakah kau bicara pelan-pelan saja? Aku bisa mendengarmu!" seru Yumi mulai tersulut emosi.


Betapa tidak, Fabian marah tanpa alasan.


"Hei, tenanglah. Bukankah semuanya sudah jelas? Aku menemani Fahri menemui Tuan Aryan, dan Yumi menemani Tuan Fabian meninjau lokasi. Beres, kan? Mengapa harus dipersulit?" Rohana menengahi mantan sepasang suami istri itu agar tak kembali berdebat. Mereka telah menemukan solusi.


"Biar aku antar."


"Tidak! Terimakasih. Aku bisa pulang sendiri."


"Aku bilang antar ya antar. Mengapa kau keras kepala sekali? Apakah kepalamu itu terbuat dari batu gunung?"


"Hei, mengapa kalian berdebat? Pulang ya pulang. Lalu apa masalahnya?" Lagi-lagi Rohana tidak mengerti dengan jalan pikiran dua orang itu.


Hal yang mudah sengaja dipersulit. Sedangkan masih ada hal lain yang lebih penting.


Sementara Yumi tidak ingin berada di dekat Fabian setiap waktu, atau segalanya akan berubah. Pasalnya hati darah dua puluh sembilan tahun itu mulai terketuk. Dia tidak ingin mengambil resiko.


"Ada apa dengan mereka? Mengapa tiap kali bertemu, aku pasti melihat keduanya berdebat. Kepalaku pusing," imbuh Rohana pasca kepergian Fabian dan Yumi.


"Kau tidak akan mengerti, Rohana," gumam Fahri berlirih.


Fahri memang tidak mengikuti jejak percintaan dua orang itu, tapi dia sangat tahu bagaimana mereka saling membutuhkan satu sama lain.


Perpisahan delapan tahun silam adalah sebuah kesalahan. Tidak sepatutnya mereka berpisah. Bagaimana bisa ada pasangan yang saling mencintai, tetapi harus memutuskan untuk berpisah.


"Apa maksudmu, Fahri? Aku tidak mengerti," ucap Rohana.

__ADS_1


"Sudahlah, sekarang kita harus siap-siap untuk bertemu Tuan Aryan." Kali ini Fahri yang tak ingin membahas perihal dua orang tadi. Sudah sejak lama dia mengalah serta berhenti berjuang.


"Bukankah nanti besok kita ketemu Tuan Aryan?"


"Kau benar. Gara-gara mereka aku jadi lupa. Ayo kita juga harus pulang sekarang."


**


Di lain kisah, Keva tengah menatap nanar potret Yumi dalam layar gawainya yang berwarna gold.


Pemuda itu bersedih, karena Yumi menolak ketulusan hatinya.


Bukan hanya karena cinta, apa lagi iba. Melainkan dia ingin memenuhi impian Yumi yang sejak salam tersimpan di dalam hati.


Mungkin terlalu cepat, tapi Keva tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


"Ada apa, Nak? Apa kau sedang ada masalah?" Nadia menghampiri Sang Putra, serta duduk di sisinya.


Wanita yang masih terlihat cantik,meski tak lagi muda itu menatap dalam-dalam Keva.


Sudah sejak lama mereka tidak bicara satu sama lain. Pasalnya Nadia kerap berselancar ke luar negeri. Kadang kala menghabiskan waktu bersama teman lama. Itulah sebabnya Keva merasa kesepian.


Sementara Nadia sendiri ingin menghibur diri pasca kehilangan suami tercinta. Tanpa ia sadari telah menyakiti hati Putranya itu.


Di sisi lain, Nadia menginginkan Keva mengakhiri masa lajangnya agar tidak merasa kesepian.


"Bu, apakah aku salah memberi Yumi hadiah?" lirih Keva.


Tatapan pemuda itu benar-benar kosong.


"Apa yang kau berikan kepada wanita itu?"


"Restoran."


"Apa? Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau mau memberikan Yumi restoran? Dengar, Nak. Bila kau bertemu wanita mata duitan, maka mereka akan menerima pemberianmu dengan senang hati. Masalahnya adalah Yumi. Wanita itu sangat berbeda dengan perempuan di luar sana. Harga dirinya bisa terluka jika kau memberinya restoran itu," papar Nadia tak habis pikir.


"Lalu aku harus bagaimana? Restoran itu adalah impiannya. Apa salahnya memenuhi impian seseorang?" lirih Keva.


Ada butiran air mata di pelupuk netra hitam pekatnya.


Entah mengapa Keva sangat sedih ketika Yumi menolak pemberian darinya.


"Tidak ada yang salah, Nak. Caramu lah yang salah. Kau menempatkan wanita itu dalam posisi yang salah. Bila itu dirimu, apakah kau akan menerima begitu saja? Aku rasa dengan harga diri yang kau junjung tinggi, kau pasti akan menolak."


Dalam hati Keva membenarkan ucapan Ibunya. Memang tidak seharusnya dia memberi Yumi restoran. Harga diri wanita itu bisa terluka. Kali ini Keva benar-benar salah.

__ADS_1


__ADS_2