
Di kantor, masih banyak yang harus dilakukan Yumi. Akan tetapi, nalurinya sebagai wanita seakan terpanggil tatkala Kenzo meminta bantuannya dengan keadaan menangis.
Suara tangisan Anak itu memang tidak terlalu kencang. Namun, isakannya sangat kentara di kuping Yumi.
Suara isakan itu benar-benar mengganggu pikiran serta batinnya. Dia tidak tega ada seorang Anak yang dihina. Terlepas Kenzo adalah Putra dari mantan suaminya.
Kenzo adalah Anak yang manis serta patuh. Dia tidak suka mencari ulah. Apa lagi gabung bersama mereka yang gemar menghujat sekaligus merundung sesama.
Di sekolah, Kenzo dikenal sebagai siswa yang baik dan cerdas. Nilainya diatas rata-rata. Dia memang terkesan irit bicara.
Satu-satunya alasan Kenzo irit bicara adalah karena dia tidak ingin menjadi bulan-bulanan para temannya yang kerap mengatakan, bahwa ia adalah Anak tak beribu.
Asal-usulnya tidak jelas. Hal itu disebabkan karena setiap kali ada kegiatan di sekolah, Ibunya tak pernah datang. Hanya Fabian satu-satunya orang tua yang kerap menemani.
Selain dari pada itu, masih ada Nenek serta Kakeknya yang kerap mengganti Fabian bila pria itu tengah sibuk.
Status Kenzo yang tak beribu itulah yang membuat Yumi iba. Dia memang sakit hati kepada Fabian. Namun, hal ini hanya antara dirinya dan Sang mantan suami. Sedangkan Kenzo tidak berdosa sama sekali.
"Kenzo!" panggil Yumi setelah tiba di sekolah Anak itu. Waktu telah menunjukan pukul empat sore. Masih ada sisa waktu satu jam kerja, dan Yumi memanfaatkannya untuk menemui Kenzo.
"Nona Yumi." Kenzo berlari kencang kepada Yumi, lalu berloncat dalam gendongan wanita itu.
Di dalam pelukannya, Kenzo menangis kencang. Ini adalah kali pertama bocah malang itu meneteskan air mata secara terang-terangan. Terlebih lagi terhadap orang asing.
Sisi lain dari Kenzo adalah dia sangat jarang menunjukan kelemahannya. Anak itu benar-benar rapuh.
Entah mengapa bersama Yumi dia leluasa mengeluarkan isi hatinya. Kenzo sanggup mengekspresikan perasaan.
"Tenanglah, kau jangan bersedih. Aku ada di sini, em?" bujuk Yumi sembari mengusap pundak Anak itu.
Yumi melirik kursi di samping, lantas mendaratkan diri di sana.
Kursi bercat coklat tersebut terbuat dari kayu jati. "Duduklah, dan katakan padaku. Apa yang membuatmu menangis, em?" tanya Yumi seraya menyeka air mata Kenzo.
__ADS_1
"Semua murid di sini mengejeku," ungkapnya.
"Apa yang mereka katakan tentangmu?" tanya Yumi sekali lagi.
Kali ini hati Yumi mulai waspada. Seperti bisa menebak apa yang sedang mengganggu perasaan Anak malang itu.
"Mereka mengatakan, bahwa aku adalah Anak haram." Persis dugaan Yumi, Kenzo dirundung tak beribu atau dengan kata lain dia dicap sebagai Anak haram.
Bukankah tidak ada Anak haram di dunia ini? Yang haram adalah perbuatan kedua orang tuanya yang melakukan zina sampai melahirkan seorang Anak.
Tuhan tidak menciptakan hamba-Nya dalam keadaan kotor. Lantas siapa kita sampai menjudge manusia?
Air mata Kenzo semakin mengalir deras ketika mengatakan itu semua. Hatinya benar-benar terluka. Dia memang masih sangat kecil, tetapi sanggup memahami tiap bait kalimat penghinaan.
"Dengar, mereka yang mengatakan kau adalah Anak haram, karena hidup mereka sangat kesepian. Sedangkan kau adalah Anak yang istimewa. Jika kau tidak istimewa, lantas mengapa mereka merundungmu? Itu karena orang-orang tersebut merasa dengki padamu. Kau adalah Anak yang cerdas. Itulah sebabnya mereka tidak menyukaimu. Kau menjadi unggul di kelas, dan kau disayang oleh para guru. Bukankah alasan ini cukup jelas? Mereka hanya tidak sanggup menjadi dirimu. Karena mereka hanyalah kumpulan orang-orang yang malas berusaha. Apa kau paham sekarang?"
Yumi membesarkan hati Kenzo dengan mengatakan banyak hal kebaikan. Hal itu pun sukses membuat bocah tersebut tenang.
"Tentu saja. Karena kau adalah Anak dari seorang Ibu yang cerdas pula."
"Apa kau mengenal Ibuku?" tanya Kenzo ingin tahu.
"Aku memang tidak mengenal Ibumu, tapi aku yakin dia adalah wanita yang baik, karena telah melahirkan Anak yang bijak dan tampan sepertimu." Yumi benar-benar menghibur Kenzo. Kini Anak itu mulai melupakan kesedihannya. Tanpa mereka sadari, Fabian telah mendengar semua percakapan itu sejak tadi.
"Hei, Anak kurang ajar!" Tiba-tiba ada suara seorang wanita dewasa tengah meneriaki Kenzo.
Wajahnya sungguh menyeramkan. Tatapannya pun sangat tajam. Ibarat belati yang hendak menghunus jantung.
Yumi menoleh kepada Ibu itu. "Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun oleh kedua orang tuamu? Ah ya, aku lupa kalau kau adalah Anak tak beribu. Entah di mana Ibumu berada. Pantas saja dia pergi meninggalkanmu, rupanya kau adalah Anak yang nakal!"
Dengan lancangnya Ibu itu menghina Kenzo. Entah apa penyebabnya.
"Cukup!" hardik Yumi seraya menatap tajam Ibu tersebut.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa mengendalikan lidahmu, Nyonya? Paling tidak beritahu kami, apa yang telah terjadi," imbuh wanita itu.
"Kau siapa? Apa kau Ibunya?" Wanita dengan rambut pirang itu mempertanyakan hubungan Yumi dan Kenzo seraya tersenyum mengejek.
Yumi mencengkeram telapak tangannya. Dia menahan emosi yang menggebu-gebu.
"Tapi, bukankah dia Anak haram itu? Semua Anak di sekolah ini membicarakan dirinya. Dia bahkan membuat Putraku terluka. Benar-benar Anak tidak tahu malu!" Lagi-lagi Ibu itu mencela Kenzo. Sedangkan Anak itu hanya bisa menangis ketakutan di belakang Yumi.
Sementara Putra dari Ibu cerewet itu berdiri di sisinya sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Cukup, Nyonya! Kau sudah keterlaluan. Mengapa kau tidak tanyakan kepada Putramu apa yang sebenarnya terjadi? Dan satu lagi, aku adalah Ibunya, dan aku sangat bangga pada Putraku. Apa kau paham?"
Fabian yang masih anteng mendengarkan perdebatan dua wanita beda generasi itu, pun tersenyum bahagia. Dia tidak mengira bila Yumi berani mengakui Kenzo sebagai Putranya. Padahal kesalahan yang ia lakukan di masa lalu sungguh tak dapat termaafkan. Namun, lihatlah yang dilakukan wanita itu saat ini. Dia bahkan mengenyampingkan kesalahannya delapan tahun silam.
"Aku yakin, dalam hal ini Putramu lah yang bersalah. Dari wajahnya saja sudah menunjukkan, bahwa dia adalah Anak yang kurang kasih sayang," imbuh Yumi, menjatuhkan mental Ibu tersebut.
"Apa? Putraku kurang kasih sayang? Apa kau pikir kami berasal dari keluarga tak beradab? Kami mendidiknya dengan sangat baik." Ibu itu masih membela diri. Padahal sejujurnya Putranya lah yang bersalah, karena telah menghina Kenzo.
Kenzo yang merasa sakit hati, tak dapat menahan diri. Alhasil dia pun mendorong Anak itu, lalu menghantam wajahnya. Sehingga meninggalkan jejak memar di sudut bibirnya.
"Dan lihat ini, wajahnya memar karena ulah Putramu," lanjut Ibu bar-bar itu.
"Lalu bagaimana dengan mental Putraku selama ini? Apakah kau bisa menggantikan tiap momen yang dilewatkan? Bukankah kau mengajari Putramu dengan sangat baik? Lalu bagaimana dengan sikap dan perbuatannya yang mencela Putraku? Apakah itu yang dikatakan baik? Dan bagaimana denganmu, apakah ucapanmu tadi bagian dari kebaikan?" balas Yumi, membungkam Ibu tersebut.
Wanita dengan lipstik merah menyala itu merasa tersudutkan. Dia tidak sadar, bahwa sikapnya barusan justru menjatuhkan dirinya.
"Kau mungkin sangat bangga dengan status dan kedudukamu, Nyonya. Namun, kau lupa, bahwa semua itu tidak berarti apa-apa. Kata orang, seorang Anak adalah cerminan dari orang tuanya. Aku jadi ragu, apakah kau benar-benar mengajarinya dengan baik, atau justru sebaliknya."
Selesai sudah percakapan itu. Yumi memenangkan perdebatan tersebut. Lalu meninggalkan Sang Ibu dengan membawa pergi Kenzo. Sedangkan Ibu itu sendiri semakin kesal sekaligus malu. Betapa tidak, mereka telah menjadi perhatian semua orang yang ada di sana.
Tadinya Ibu itu berencana mempermalukan Yumi dengan mencela Kenzo di depan semua orang. Namun, rupanya dia lah yang justru dipermalukan.
Notes : Yang bisa menebak siapa Ibu kandung Kenzo, akan mendapat hadiah berupa pulsa lima puluh ribu untuk dua orang pemenang. Selamat membaca dan jangan lupa komen, ya. Terimakasih.
__ADS_1