
Orang tua mendeskripsikan anak sebagai harta yang paling berharga. Kadangkala juga menyebut mereka sebagai investasi dunia akhirat.
Orang tua mencintai semua anaknya tanpa syarat.
Ketulusan cinta itu tak akan bisa terbayarkan walau bumi menggulung air laut, walau jantung terhunus pedang, meski jarak yang membentang, kendati tak mengalir darah yang sama.
Sejatinya cinta itu tetap berpadu pada satu arah, yakni anak semata.
Kebanyakan orang tua, ketika diberi pilihan antara anak dan pasangan, mereka akan lebih memilih anak. Padahal yang akan menemani kita di akhir hayat bukanlah mereka, melainkan pasangan.
Sedangkan anak itu memiliki kehidupan sendiri pasca menemukan belahan jiwa.
Ketahuilah, bahwa meski demikian cinta orang tua terhadap anak-anaknya tak pernah lekang oleh waktu.
Ibarat gajah yang dideskripsikan sebagai hewan penyayang terhadap keturunan.
Pun demikian Fabian, kendati Kenzo bukanlah garis keturunannya, tetapi cinta pria tersebut seolah nyata tanpa syarat.
Menyadari Ibu kandungnya telah hadir, tetapi Fabian mati-matian tak akan menyerahkan Anak itu kepadanya.
Terlebih lagi mengetahui fakta, bahwa Ibu Anak itu adalah seorang tunawisma.
Siapa yang rela melepas Anak kesayangannya pada seorang gelandangan? Hanya manusia tak berhati nurani yang tega melakukannya.
"Apa kau sudah tidak waras? Jika kau seorang gelandangan, maka gelutilah profesi itu seorang diri. Jangan ajak Putraku turut bersamamu! Dan satu lagi, aku tidak mau tes DNA walau kau menangis darah ingin membuktikan, apakah dia Putra kandungmu atau bukan. Bukankah delapan tahun lalu kau telah membuangnya dengan sengaja? Artinya kau tak membutuhkan lagi dia. Jadi, pergilah secara diam-diam dari sini, sebelum Putraku menganggap aku buruk karena telah mengusirmu!" Fabian murka ketika wanita itu datang lagi padanya.
Sudah hampir sebulan, tetapi ia masih belum mengetahui nama wanita yang telah melahirkan Putranya itu.
"Tuan, aku mohon. Sekali saja, tolong pertemukan aku dengannya," pinta wanita itu dengan nada lirih.
Ia pun menangis tersedu-sedu di bawa kaki Fabian. Memohon untuk segera dipertemukan dengan Putranya.
Sebulan telah berlalu pasca kemunculannya yang secara tiba-tiba, tetapi ia masih belum berhasil menemui Putranya.
Akses itu sangat mustahil untuk dilerai. Pasalnya setiap hari pria itu terus menerus mengawasi Kenzo.
__ADS_1
Jika bersama Yumi, mungkin saja hati wanita itu akan luluh. Namun, lain halnya dengan Fabian. Pendiriannya terlalu kokoh.
"Apa kau ingin masuk ke dalam penjara atas tuduhan penculikan anak?!" ancam Fabian bersungguh-sungguh.
Tatapan mata pria itu bagai belati yang hendak menghunus jantung.
"Tolong jangan lakukan itu padaku, Tuan. Aku hanyalah seorang Ibu yang merindukan Putranya," lirih wanita itu, masih terus memohon kepada Fabian.
Sudah hampir satu jam ia bersujud di kaki pria tersebut. Namun, Fabian tak juga luluh.
Tak peduli kakinya pegal dan terluka. Asal ia dapat bertemu Putranya.
"Putra kau bilang? Atas dasar apa kau menyebutnya sebagai Putramu? Di mana hati nuranimu saat kau memutuskan untuk membuangnya? Kau kemanakan statusmu sebagai seorang Ibu saat itu? Selama delapan tahun kau menghilang seperti makhluk semu, kini mendadak kau hadir seperti manusia yang tak tahu malu!" hardik Fabian lebih tajam.
Kata-katanya sungguh melukai hati wanita yang masih belum diketahui namanya itu.
Dia memang bersalah, karena telah menelantarkan bayi merahnya. Namun, apalah daya dia yang tak punya siapa-siapa.
Hidup sebatangkara di tengah kota Jakarta. Ditipu mentah-mentah oleh seorang pria, hingga menyebabkan benih bersemai dalam rahimnya tanpa ikatan pernikahan.
Saat itu ia masih sangat polos, hingga rela menyerahkan mahkotanya tanpa berpikir akibat apa yang kelak akan dipikulnya.
Beberapa kali ia berencana menjatuhkan janin tak berdosa itu, tetapi selalu gagal. Semesta seolah tak mengizinkan.
Telah banyak usaha yang dilakukan, mulai dari mengkonsumsi obat-obatan, hingga sampai akhirnya mengunjungi klinik untuk melakukan aborsi.
Ajaibnya, saat dokter hendak menjatuhkan janin malang itu, wanita dengan baju compang-camping tersebut seolah mendapat wahyu dari semesta, bahwa tak boleh membunuh anaknya.
Yang ia lakukan bersama kekasihnya adalah dosa besar, dan sekarang ia hendak melengkapi dosanya dengan menggugurkan kandungan.
Saat itulah hatinya terketuk. Alhasil ia melarikan diri dari klinik ilegal tersebut tanpa sepengetahuan kekasihnya dan hidup seorang diri di tengah kota Jakarta.
Seperti mendapat petunjuk, wanita itu pun memutuskan untuk bekerja di warung makan dengan kondisi perut buncit.
Namun, setelah tiga bulan bekerja, ia harus menerima kenyataan, bahwa warung makan yang menjadi tempatnya menopang hidup itu justru hangus dilahap si jago merah.
__ADS_1
Alhasil ia pun mencari pekerjaan baru sebagai tukang sapu keliling.
Apakah penat? Tentu saja ia merasa penat. Bekerja dengan membawa perut besar sungguh merupakan tantangan yang sungguh dahsyat.
Pernah terlintas kembali untuk bunuh diri, tetapi sekali lagi anak dalam kandungannya seolah berteriak minta untuk dipertahankan. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk melahirkan bayinya.
Sejujurnya wanita itu ingin merawat Putranya seorang diri, tetapi kondisinya sangat tidak memungkinkan. Ia hanya akan menyengsarakan anak tersebut. Bahkan dia tak mempunyai tempat tinggal sama sekali.
Setiap hari wanita itu tidur di bawah kolong jembatan serta bermodalkan atap karung usang.
Untuk makanan sehari-hari, terpaksa ia harus mengemis.
Tak jarang orang menyebutnya orang gila. Apakah dalam kondisi demikian, pantaskah dia mempertahankan Putranya di sisinya? Dan dosakah ia bila memilih untuk menitipkan Putranya itu kepada orang yang hidupnya lebih layak?
Mungkin ini sudah jalan Tuhan agar Anaknya dipertemukan dengan Fabian serta hidup lebih baik darinya.
Andaikan saat itu ia menentang hati nuraninya, maka sampai saat ini tak akan ada Bocah manis yang bernama Kenzo Fabian Abdullah. Serta Fabian tak akan mendapat gelar Ayah pasca berpisah dari mantan istrinya.
"Saya memang bersalah, Tuan. Namun, saya mempunyai alasan mengapa harus membuang anak itu." Dada wanita itu terasa sesak saat mengingat momen menyakitkan delapan tahun lalu.
Sekuat tenaga ia berusaha melupakan peristiwa yang sukses memporak-porandakan hidupnya. Namun, tak pernah berhasil. Takdir seolah membawa wanita tersebut ke dalam masa lalunya. Ia telah dihukum.
"Apapun alasanmu, aku tidak peduli. Bagiku kau tetaplah bersalah. Kau adalah wanita hina, sampah, serta tak bermartabat!" Fabian benar-benar tak berperikemanusiaan. Dimana ia telah menghina seorang wanita sekaligus seorang Ibu.
"Cukup, Fabian!" Lalu tiba-tiba Yumi datang menghentikan pria tersebut.
Menurut Yumi, pria itu sudah keterlaluan. Dia telah melewati batas.
"Berdirilah." Kemudian wanita itu memapah tubuh Ibu kandung Kenzo dari kaki Fabian.
"Ikutlah bersamaku," imbuhnya dengan nada pelan.
"Tunggu!" Akan tetapi, Fabian menghentikan gerak langkah mereka.
"Jika kau turut bersama wanita itu, maka hubungan kita akan selesai!"
__ADS_1