Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Bibirmu Terlalu Merah


__ADS_3

Author Pov.


Pagi itu Yumi ke kantor dengan mengenakan dres putih tulang, berpadu dengan sepatu high heels coklat untuk menutupi kaki jenjangnya.


Rambut dibiarkan tergerai ikal. Kuping berhiaskan anting emas murni. Sedangkan pergelangan tangannya melingkar gelang berlian pemberian Keva sebagai hadiah ulang tahun.


Tas selempang coklat muda Yumi kenakan sebagai penunjang penampilan. Sehingga membuat para pegawai pria berdecak kagum karenanya.


Tak ingin ketinggalan, Fabian juga terpesona akan kecantikan mantan istrinya itu.


Detak jantung Fabian berdegup lebih kencang. Ritmenya tidak seperti biasa. Penampilan Yumi hari ini sukses mengubah rona di wajah pria tersebut.


"Apakah itu Nona Yumi? Dia benar-benar sangat cantik." Farhan, pria yang sejak lama menaruh hati pada Yumi dibuat ternganga tatkala wanita itu lewat di depannya.


Sedikit tersenyum pada mereka. Setelah itu Yumi terus berjalan memasuki lobi kantor.


"Selamat pagi." Fabian yang baru saja keluar dari mobil, menyapa Yumi.


"Pagi juga," sahutnya acuh tak acuh.


"Apa kau sedang ada acara hari ini? Mengapa berpenampilan jelek?" Sialnya, Fabian mengutarakan hal berbeda alih-alih memuji mantannya itu.


Yumi pun berhenti, lantas berkata, "Apa kau tidak mempunyai topik lain untuk dibahas? misalnya rencana kerja hari ini?"


Fabian terkekeh pelan seolah hendak mengejek. Namun, tak membuat Yumi tersinggung. Yumi sangat mengenal sifat mantannya itu. Dia memang terkekeh, tetapi tidak bermaksud menyudutkan.


"Kau mengenakan lipstik tebal, apa kau ingin merayu semua pria di kantor ini?" imbuh pria itu.


"Jika tidak ada hal lain yang ingin kau bahas, maka silahkan menjauh dariku. Aku tidak ingin orang-orang bergosip tentang kita." Dengan tegas Yumi membalas pernyataan Fabian, hingga nyaris kehabisan kata. Lantas berlalu pergi.


"Tuan Fabian," panggil Fahri.


"Ada apa? Apa kau belum sarapan pagi ini? Ngomong-ngomong tentang sarapan, aku juga belum mendapat jatah sarapan," balas Fabian dengan santainya.


"Kau masih memiliki utang padaku!" Sontak Fabian terdiam. Sejak kapan dia berutang kepada Fahri? Sedangkan ia tak pernah menjanjikan apapun padanya.


"Utang? Apa kau salah makan pagi ini? Sejak kapan aku berutang padamu?" Mata Fabian menyelidik. Seakan hendak mengintimidasi Fahri.

__ADS_1


"Dua belas tahun lalu, bukankah kau berjanji padaku untuk menjodohkanku bersama Yumi? nyatanya kau menikahi wanita itu. Tapi, bukankah kalian telah berpisah? Artinya aku masih memiliki kesempatan untuk memenangkan hati Yumi. Aku harap kali ini kau bersedia membantuku. Cukup diam dan jangan ganggu kami. Maka aku anggap sebagai bantuan yang sangat berarti," papar Fahri bersungguh-sungguh.


Fabian tidak mengira bila semboyan dua belas tahun silam masih tersimpan rapi dalam benak Fahri. Pria itu mengingatnya dengan sangat baik.


Fabian ingin berpura-pura mati, tapi apalah daya, dia telah tertangkap basah.


Di sisi lain, Fabian masih berharap dapat kesempatan serupa untuk memenangkan hati Yumi. Sepertinya kali ini Fabian mempunyai beberapa saingan. Bukan hanya Keva, melainkan ada Fahri juga.


"Aku saja masih berusaha, bagaimana bisa aku mengupayakan dirimu. Dasar bodoh," gumam Fabian setelah Fahri meninggalkan dirinya.


"Selamat pagi Nona cantik," sapa Erika yang baru bergabung bersama Yumi.


"Pagi juga, Nona manis," sahut Yumi.


"Selamat pagi, Yumi. Ngomong-ngomong hari ini kau terlihat berbeda. Kau lebih cantik dari biasa." Entah angin apa yang membuat Rohana berubah. Tutur katanya lebih lembut. Tidak lagi mencela sesama pegawai kantor.


Anehnya, Rohana tidak lagi menginginkan posisi sekretaris. Dia telah merelakan posisi itu untuk Yumi.


"Terimakasih, tapi kau lebih cantik," balas Yumi setulus hati.


"Pagi juga. Aku ingin kalian segera bersiap-siap untuk rapat. Dan kau Yumi, nanti siang temani aku menemui klien dari Singapura. Dan satu lagi, aku tidak suka penampilanmu hari ini. Kau terlihat seperti seorang wanita penghibur. Bibirmu terlalu merah seolah hendak menggoda semua pria." Entah otak Fabian tersimpan di mana sampai ia berani mengatakan hal aneh.


Dia menghina Yumi di depan orang-orang. Namun, tidak membuat wanita itu merasa malu. Sebab, ia tahu bahwa mantan suaminya itu tengah memendam cemburu. Hanya saja dia masih belum menyadarinya.


Tidak ada yang lebih mengenal Fabian dari Yumi. Wanita itu cukup tahu perangai mantan suaminya. Ada kalanya lidahnya tajam seperti belati. Namun, tak jarang bersikap manis.


Fabian memelihara sifat itu untuk menutupi kelemahan. Kelak, ketika ia harus kehilangan seseorang yang disayang, maka dia tidak akan menangis. Seperti saat Yumi pergi. Fabian tidak pernah meneteskan air mata.


Dia memang bersedih, tetapi air matanya seakan pantang untuk mengalir.


Tanpa memperdulikan pandangan orang, Fabian melangkah memasuki ruangan dengan perasaan kesal.


Kata-kata Yumi tadi membuatnya tersudut. Alhasil dia membalas wanita itu dengan cara yang sama.


bedanya adalah Yumi tidak mempermalukan dirinya di depan orang-orang. Sedangkan dia justru melakukan sebaliknya.


Beruntung Yumi cukup baik memahami perangai Fabian. Andai itu terjadi pada orang lain, mungkin dia akan mengundurkan diri saat itu juga.

__ADS_1


"Mana sarapanku?" Kali ini Fabian terlihat aneh. Hanya karena Yumi menolak untuk masuk kantor bersama, lantas dia menjatuhkan harga dirinya.


"Maaf, pagi ini aku tidak sempat membuat sarapan untukmu," balas Yumi acuh.


"Sejak kapan kau mempunyai kesempatan untuku? Kau bahkan berkencan setiap malam bersama kekasih pengacaramu itu." Intonasi Fabian sangat ketus. Persis seperti orang yang sedang menahan cemburu.


"Apa kau sedang cemburu? Apa kau mulai mencintaiku?" ledek Yumi dengan seringai tipis.


"Kau terlalu percaya diri. Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka kau berdandan seperti badut. Apa kau tahu? Kau terlihat sangat aneh hari ini!" balas Fabian tak mau kalah.


Lagi-lagi Fabian mengutarakan hal berbeda dengan hatinya.


Bibirnya menghina Yumi, sedangkan hatinya justru mengagumi sosok wanita tersebut.


"Baiklah, anggap saja kau benar. Lagi pula aku berdandan bukan untukmu. Melainkan untuk Keva. Hari ini kami membuat temu janji untuk makan siang."


"Apa? Makan siang? Bukankah sudah ku katakan padamu, bahwa kau akan menemaniku untuk menemui klien siang ini?" Intonasi Fabian semakin tinggi tujuh oktaf. Hingga nyaris saja terdengar sampai di luar.


"Apa kau tahu siapa klien kita hari ini?"


Fabian mengerutkan kening setelah Yumi memberi pernyataan itu. Lantas ia membuka dokumen semalam, ada nama Keva Aprianza di sana.


"Keva Aprianza?" gumam Fabian.


"Benar, hari ini Keva menjadi salah satu klien kita." Rupanya benar, Keva adalah salah satu klien Fabian hari ini. Lebih tepatnya pengacara klien Fabian. Hanya saja nama pria itu disamarkan.


"Dengar, aku tidak mau menemui pria itu. Mengapa kau tidak memberi tahu siapa klien kita selanjutnya?" tanya Fabian seraya menahan gejolak di dalam sana.


"Bukankah kau bisa membaca? Lalu mengapa kau malah menyalahkanku?" jawab Yumi tak mau kalah.


"Ingat, jangan terlalu dekat dengan pria itu. Aku sudah menyelidiki latar belakangnya. Dia bukan pria yang baik untukmu. Dia memiliki banyak mantan pacar. Apa kau tidak takut patah hati?" Fabian seolah lupa diri. Padahal dia lah orang pertama yang mematahkan hati Yumi sampai wanita itu menutup diri.


Setelah sekian lama, akhirnya Yumi bersedia membuka hati. Namun, Fabian justru meragukan pilihannya.


"Aku mungkin tidak menarik di matamu, Fabian. Namun, bisa saja ada pria lain yang menganggapku berharga di luar sana. Dan ya, terimakasih atas perhatiannya. Akan tetapi, sebaiknya kau gunakan untuk seseorang yang lebih membutuhkan."


Kali ini Fabian tidak memiliki keberanian untuk menjawab pernyataan Yumi. Faktanya dialah yang telah melulu lantakan hidup wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2