
Fabian melewati malam harinya dalam kondisi kecewa.
Bukan terhadap Yumi, melainkan pada diri sendiri. Sebab, sejak pagi dia tak dapat mengendalikan diri untuk tidak menggoda mantan istrinya itu.
Betapa tidak, hari ini Yumi terlihat sangat cantik dengan balutan kaos putih serta celana jins.
Penampilannya casual, meski sederhana. Namun, sukses mencuri perhatian Fabian.
Sejujurnya tampilan Yumi kali ini sudah sering Fabian saksikan sejak dulu. Hanya saja lagi-lagi dia tak menyadari kecantikan istrinya itu.
Sejatinya bukan karena fisik, melainkan hati, akhlak, serta sikap yang membuat Fabian jatuh cinta lagi dan lagi kepada Yumi.
Dulu dia hanya setengah hati mencintainya, tetapi lain cerita saat ini. Fabian bersungguh-sungguh mencintai Yumi.
Andaikan Yumi memiliki ilmu telepati, mungkin dia akan merasakan betapa besar kasih sayang pria berwajah manis tersebut.
"Aku benar-benar merindukan wanita itu," gumam Fabian, berbaring di atas ranjang seorang diri.
Perasaannya terasa hampa, pun hatinya terasa kosong. Seperti ada ruang tanpa isi di dalam sana.
Fabian hendak mencari solusi, tetapi terlanjur tak berani. Yumi pasti tak akan membiarkan dirinya masuk.
"Kau sedang apa?" Alhasil dia pun hanya bisa mengirim pesan kepada wanita itu untuk mengobati kerinduannya.
Sementara Yumi yang membaca pesan itu merasa acuh, masih marah pada pria tersebut.
Yumi tidak membalas, hanya membaca saja. Lalu meletakan gawai putih miliknya ke atas nakas.
"Apa kau sudah tidur?" Namun, sekali lagi Fabian mengiriminya sebuah pesan singkat.
Dan untuk yang kedua kali pula Yumi hanya membaca.
"Aku ingin bertemu denganmu." Fabian hendak menulis pesan, bahwa ia sangat merindukan wanita itu, tetapi diurungkan. Takut dia akan marah.
"Apa dia tidak bosan? Bukankah seharian tadi kami bersama? Dasar pria aneh," gumam Yumi, masih tak berencana membalas pesan mantannya itu.
Tok! Tok! Tok!
Tiga ketukan pintu terdengar di kuping Yumi.
__ADS_1
"Apakah itu dia?" gumamnya.
"Aku sedang berdiri di depan pintu kamarmu." Untuk yang kesekian kalinya Fabian kembali mengirim pesan. Padahal sudah tahu, bahwa Yumi tak akan membalasnya.
"Dia benar-benar sudah gila. Untuk apa berdiri di depan pintu kamarku? Apakah kakinya terbuat dari kayu jati? Tidak ada capek-capeknya ni orang!" Yumi pun mulai tersulut emosi untuk sesaat.
"Aku sakit perut." Untuk pesan yang satu ini sukses menggugah hati Yumi, tetapi masih gengsi untuk membuka pintu, apa lagi menemui pria itu.
"Apa kau tidak kasihan padaku? Aku sedang kesakitan. Sejak tadi aku belum makan." Isi pesan kali ini Yumi merasa setengah kasihan. Sebab, ada dua kemungkinan.
Fabian benar-benar belum makan malam, atau dia hanya mengerjainya saja.
Lelaki itu hanya ingin mencari perhatian Yumi. Seperti biasa, dia tidak akan menyerah sebelum wanita itu benar-benar menemuinya.
Lima belas menit kemudian, Fabian tak lagi mengiriminya pesan. "Apakah dia benar-benar sakit?" Tak pelak wanita itu merasa cemas.
Ini bukan Fabian yang sebenarnya. Dia tidak akan berhenti sebelum rencananya berhasil. Namun, lihatlah sekarang. Pria itu bahkan menyerah sebelum berjuang. Artinya ada yang tidak beres dengannya.
"Aku harus memastikan, apakah dia benar-benar sakit atau hanya sekedar mengerjaiku saja." Akhirnya Yumi memaksakan diri membuka pintu.
Dan benar saja, dia mendapati Fabian tengah berbaring tak berdaya di depan pintu kamarnya.
"Fabian? Apa yang terjadi? Mengapa kau berbaring di sini?"
"Berbaringlah di sini. Aku akan segera kembali."
"Kau mau kemana?" Fabian mencegah wanita itu dengan menarik tangannya.
"Bukankah tadi kau bilang belum makan?" sahut Yumi.
"Aku memang belum makan, tapi kau tidak perlu pergi mencari makanan untuku. Kau telpon saja petugas hotel ini. Biar mereka yang membawanya."
Yumi mengembuskan napas lega, setelah tahu Fabian baik-baik saja, meski masih terlihat lemas.
"Mengapa tidak makan? Apa kau ingin bunuh diri? Atau sengaja mencari perhatianku? Atau kau ingin menggodaku lagi?" sarkas Yumi emosional.
"Aku bersumpah, kali ini aku benar-benar sakit. Apa kau tidak bisa membaca mimiku?" Fabian memasang wajah memelas, yang menunjukan, bahwa ia benar-benar sakit.
Memang benar, pria itu sungguh kesakitan.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku percaya? Cepat keluar!" Yumi berdiri, lantas mengusir Fabian dari kamarnya.
"Yumi..."
"Dengar, aku tidak ingin terjebak dalam permainanmu lagi," ucap Yumi tanpa melihat wajah pria itu.
"Lagi?" Fabian menatap tak percaya pada wanita itu. Betapa tidak, rupanya selama ini Yumi menyangsikan ketulusan hatinya. Dia merasa dipermainkan terus menerus.
"Ya, lagi," jawab Yumi tanpa ragu. Lantas ia kembali berujar, "Dengar Fabian, aku tidak tahu apa tujuanmu datang ke tempat ini, dan aku tidak pernah tahu apa keinginanmu, dan aku juga tidak ingin tahu. Jadi, tolong."
Yumi sejenak menarik napas, lalu kembali berkata, "Tolong jauhi aku dan jangan pernah berusaha untuk memintaku kembali, karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Never!"
Dengan nada tinggi Yumi memperingati Sang mantan suami, meski sejujurnya perkataan itu bertentangan dengan hati kecilnya.
Fabian hendak memberi tanggapan atas tuduhan Yumi, tetapi dia tak memiliki cukup tenaga untuk sekedar berujar. Sebab, perutnya benar-benar sakit.
Fabian pun hendak beranjak pergi, tetapi tiba-tiba saja tubuhnya ambruk ke lantai. Pria itu jatuh pingsan.
"Fabian!" Yumi masih tampak biasa saja, tetapi hatinya mulai waspada.
Yumi menyentuh pria itu. "Fabian! Bangunlah, jangan becanda. Tidak lucu!" serunya mulai panik.
"Fabian! Fabian! Fabian!" Dan akhirnya Yumi benar-benar menyadari, bahwa pria itu tidak sedang mengerjainya. Fabian jatuh sakit.
"Halo, tolong antar makanan dan obat sakit perut ke kamar dua kosong satu." Yumi pun memutuskan untuk membaringkan Fabian kembali ke ranjangnya, lantas meminta petugas hotel untuk mengantarkan makanan serta obat-obatan.
Sepuluh menit kemudian, pesanannya pun datang.
"Biar aku suap." Karena merasa iba pada kondisi Fabian yang begitu kesakitan, maka Yumi pun memutuskan untuk menyuapi pria itu, walau terasa berat.
"Terimakasih." Pada suapan kedua, Fabian berterimakasih setulus hati pada mantannya itu.
"Cepat habiskan makananmu, lalu minum obat. Setelah itu kembali lah ke kamarmu. Aku tak ingin orang-orang bergosip tentang kita."
Sikap Yumi sungguh dingin memperlakukan Fabian. Ibarat es dari kutub utara.
Sejujurnya hati Yumi terluka saat memperlakukan Fabian dengan kasar. Dia yang berujar, tetapi dia pula yang merasa kesakitan.
Yumi masih sangat mencintai mantan suaminya itu. Namun, entah mengapa dia enggan untuk kembali. Hatinya masih sakit bila mengingat perbuatan pria itu.
__ADS_1
Terkadang Yumi merasa ingin lari dari kenyataan. Menghindari segala langkah yang sekiranya memungkinkan mereka berjumpa.
Namun, semakin sering ia mencoba, takdir justru kembali mempertemukan mereka lagi dan lagi.