
Malam itu hujan menjadi saksi menyatunya antara dua bibir. Meski dalam keadaan terpaksa, tetapi tak akan mengubah rasanya.
Sangat singkat memang, hanya sepersekian detik. Lalu pria itu pun menarik diri.
Sedangkan wanitanya sontak diam dalam keterkejutan. Namun, sedetik kemudian.
Plak!
Dia pun menampar bibir lancang itu karena telah mengecupnya.
Jujur saja, ada debaran aneh di dalam sana menggangu hati serta benak Yumi. Sehingga mengakibatkan ritme yang tidak karuan.
Andaikan ada monitor pendetikesi rongga jantung, maka dia akan menghasilkan suara yang teramat sangat besar.
Sejenak mereka salah tingkah. Tidak sanggup memandang mata satu sama lain.
Terlihat Yumi menyeka peluh di dahi, sedangkan Fabian tersenyum tipis. Ada harapan penuh dalam benak pria itu.
Hatinya berkata, bahwa Yumi masih mencintainya seperti dahulu.
Kemudian Fabian mendekatkan wajah kepada Yumi, hendak mengulang kembali momen sepersekian detik tadi. Namun, Yumi menolak mentah-mentah dengan berkata, "Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tidak waras?
Ya, Fabian sudah tidak waras. Yumi telah membuatnya gila setengah mati. Ditambah lagi derasnya hujan saat itu, seakan melengkapi malam yang sudah-sudah.
Fabian bahagia, dia suka suasana saat ini. Sepertinya Tuhan masih berpihak padanya.
"Aku memang tidak waras karenamu," bisik Fabian dengan nada sensual. Upayanya adalah untuk menggoda Yumi, agar kembali terjadi penyatuan dua benda kenyal tadi.
"Berhenti mengatakan yang tidak-tidak! Atau aku akan--"
"Akan apa, em? Apa kau akan menamparku dengan bibirmu?"
Astaga, Fabian pasti salah makan tadi siang. Suaranya sangat aneh, mendayu-dayu manja. Sehingga menyebabkan Yumi merinding.
Mulut Fabian sangat dekat dengan kuping Yumi, hati wanita itu pun berdesir hebat.
"Tutup mulutmu, Fabian! Apa kau pikir aku sedang bercanda? Kau benar-benar keterlaluan! Jika kau tidak bisa menjaga sikapmu, maka aku--"
"Aku apa?" Lagi-lagi Fabian menyela ucapan Yumi. Kali ini nadanya cukup dingin, dan diiringi dengan tatapan tak terbaca.
Pria itu benar-benar membuat degup jantung Yumi tidak karuan. Berada dalam jarak yang sangat dekat seperti itu tak pelak membuat Yumi hendak menghilang saat itu juga. Sepertinya kali ini Yumi terjebak dalam kungkungan Fabian.
__ADS_1
Kini wajah Fabian semakin dekat, hanya tersisa tujuh senti. Lantas terus maju, maju, dan maju, hingga tersisa dua senti. Lalu kemudian,
Plak!
Yumi kembali menampar pria itu. Alhasil Fabian mendengus sebal. Dikiranya Yumi akan bersedia menerima sentuhannya. Namun, ternyata hal itu hanya sebatas angan-angan belaka.
Yumi tidak mengatakan apa-apa. Hanya memfokuskan pandangan ke jalan yang cukup gelap. Lampu listrik padam karena derasnya hujan.
Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, Fabian pun menarik pedal gas, lalu melajukan mobil cukup kencang.
Antara malu dan marah telah memenuhi hati serta pikiran Fabian.
Pria itu benar-benar salah kaprah. Rupanya Yumi pandai menyembunyikan perasaan.
Sikapnya berkata lain, tapi tidak dengan perkataan.
"Pelan-pelan! Apa kau ingin membunuhku?" Yumi mulai kesal sekaligus cemas. Sebab, Fabian mengendarai mobil sangat kencang.
Pria itu tidak menjawab, "Fabian, apa yang kau lakukan? pelankan mobilnya!" Sehingga Yumi mengulang kembali ucapannya.
"Bukankah kau ingin cepat sampai di rumah? Maka sebaiknya kau diamlah, atau aku akan mencium bibirmu lagi. Apa kau ingin mencobanya?"
Kali ini Yumi diam. Tidak berani membantah, atau dia tidak akan selamat malam itu. Mereka akan menghabiskan gelapnya malam berdua di dalam mobil.
"Pria ini benar-benar berbahaya. Berani-beraninya dia menciumku." Yumi pun hanya bisa membatin mengutuk Fabian.
Sementara itu, di rumah Yumi. Zara dan Gautam tengah menunggu Putri mereka. Sudah pukul sebelas malam, tapi dia belum juga pulang.
Sudah lima jam mereka menunggu, tapi selama itu juga mereka hampa.
Beberapa kali Zara berupaya menghubungi Yumi, tapi nomornya sedang tidak aktif. Mungkin efek cuaca ekstrim.
"Duduklah, kau jangan mondar-mandir seperti setrika. Kepalaku jadi sakit," kata Gautam.
"Kalau begitu pergilah ke kamar, biar aku sendiri yang menunggu Yumi," balas Zara.
Lima menit kemudian, terdengar suara mobil memasuki area parkiran depan rumah. Mobil itu cukup Familiar di mata keduanya. Namun, mereka tidak ingin nenerka-nerka.
"Bukankah itu Fabian dan Yumi?" Sayangnya dugaan itu benar. Fabian membuka pintu mobil Yumi, lantas memayungi wanita tersebut agar tak terkena hujan.
"Selamat malam, Ma, Pa. Apa kabar?" Fabian menyapa mantan mertuanya itu setelah sampai di teras rumah.
__ADS_1
Baik Zara maupun Gautam, mereka sama-sama terkejut saat melihat mantan menantunya itu berdiri di depan mata.
Sialnya, dia mengantar Yumi saat hujan deras. Sebenarnya ada hubungan apa antara Yumi dan Fabian? Mengapa mereka bisa pulang bersama? Dan mengapa Yumi tidak mengatakan apa-apa selama ini?
Begitu banyak pertanyaan dalam benak sepasang suami istri tersebut.
"Ah, jangan hanya berdiri saja. Ayo masuk, di luar sangat dingin." Untuk mencairkan suasana, Gautam pun mempersilahkan Fabian masuk ke dalam rumah mereka.
"Papa, Tuan Fabian sudah mau pulang. Lagi pula ini sudah menjelang tengah malam. Dia pas--"
"Tidak masalah. Terimakasih, aku akan masuk." Sengaja Fabian menyela ucapan Yumi dengan menyetujui perkataan mantan mertuanya itu.
Sedangkan Zara masih belum mengatakan apa-apa. Dia masih setia dengan keterkejutannya. Kehadiran Fabian malam itu sungguh sangat mendadak.
"Rumah Papa tidak pernah berubah rupanya. Masih sama seperti dulu." Fabian masuk ke dalam rumah. Lantas memperhatikan setiap sudut ruang tamu bangun sederhana tersebut.
"Ah ya, sudah sangat lama. Oh iya, Ma, tolong buatkan teh china untuk Fabian." Rupanya Gautam masih ingat minuman kesukaan Sang mantan menantu. Alhasil Fabian pun merasa terharu.
"Baiklah," kata Zara.
Sementara itu Yumi masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju.
"Pakailah ini, kau pasti kedinginan dengan baju lembab. Kau bisa sakit." Pun Gautam, pria paruh baya itu juga masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju kaos dan diberikan kepada Fabian.
"Terimakasih, tapi aku pakai baju ini saja. Tidak apa-apa," tolak Fabian secara halus.
"Tidak masalah, pakailah. Kau bisa sakit. Oh iya, sebaiknya kau menginap lah di sini malam ini. Hujan semakin deras. Banyak pohon yang tumbang di jalanan. Sangat tidak baik jika kau memaksakan diri," ujar Gautam.
"Papa, Fabian tidak bisa menginap di sini, ada--"
"Halo, Sayang? Ada apa? Apa Kakek tidak bersamamu sekarang?" Mendadak Fabian menerima panggilan telepon, dan itu tak lain dari Putranya yang sedang menanti di rumah.
Inilah yang dimaksud Yumi, dia tidak bisa mengizinkan Fabian menginap di rumah mereka, karena ada Kenzo yang menanti pria tersebut.
"Kakek bersamaku, tapi Ayah sedang berada di mana? Apakah masih di kantor?" tanya Kenzo.
"Mengapa kau belum tidur? Sekarang Ayah sedang berada di rumah Nona Yumi." Zara dan Gautam yang mendengar ucapan Fabian sontak dibuat terkejut.
Apakah pria itu telah memiliki Putra? Kapan? Dan siapa Ibunya? Apakah itu Anak hasil pernikahannya bersama Yumi? Ataukah Fabian telah menikah lagi setelah terjadinya perceraian itu?
Gautam dan Zara bertanya-tanya dalam hati. Sementara Yumi tak enak hati. Sebab, Fabian terlalu berterus terang.
__ADS_1
jujur saja, Yumi masih belum siap menghadapi situasi ini. Dia tidak mengira waktunya sangat cepat. Apa yang akan dia katakan kepada Gautam dan Zara?
Dan apa yang akan dipikirkan oleh mereka tentangnya?