Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Kenzo


__ADS_3

Dua malam setelah perayaan ulang tahun Yumi di kantor, wanita itu dan Keva berjanji untuk makan malam di restoran.


Sengaja Keva mencari waktu berdua agar lebih dekat dengannya. Pukul tujuh malam Yumi bersiap-siap. Malam itu dia mengenakan gaun biru navi lengkap dengan perhiasan mutiara sederhana pemberian Keva.


Tidak lupa rambutnya digulung agar terlihat lebih elegan. Penampilan Yumi malam itu benar-benar menakjubkan. Sehingga membuat setiap pasang mata yang melihatnya terpesona tak berdaya.


"Kau sudah datang?" ucap keva, mempersilahkan Yumi duduk di kursinya.


"Sudah lama?" balas Yumi.


"Tidak juga. Oh iya, aku ingin memperkenalkanmu seseorang. Aku harap kau tidak terkejut," ungkap Keva.


Sejujurnya makan malam kali ini bukan hanya antara mereka berdua, melainkan ada keluarga di sana.


Ya, Keva memboyong Ibunya untuk menemui Yumi. Wanita paruh baya itu penasaran, seperti apa rupa wanita yang diidamkan oleh Putranya itu.


Setiap hari Keva hanya membahas Yumi di rumah. Sedangkan mereka baru bertemu. Segitu istimewanyakah Yumi di mata Keva?


"Apakah dia seseorang yang ku kenal?" tanya Yumi.


"Tentu saja. Kalian telah mengenal satu sama lain sebelumnya. Bahkan sewaktu kecil kau pernah bermain di pangkuannya," ujar Keva bersungguh-sungguh.


"Siapa?" Yumi pesanaran siapa orang yang dimaksud pemuda tersebut.


"Yumi."


"Tante Nadia?"


Nadia adalah Ibu Keva. Sejak kecil dia berteman dengan Zara. Dahulu Nadia kerap mengunjungi rumah Yumi hanya untuk bertemu dengannya.


Hanya saja Yumi tidak ingat wajah Keva yang dulu pernah bertemu beberapa kali sewaktu kecil.


Samar-samar Yumi mengingat wajah Keva yang bulat. Ada tahi lala di pipi sebelah kanan. Tak lupa pula kacamata ia sering kenakan.


Ternyata benar kata Zara, bahwa Keva bukanlah pria asing. Mereka sangat dekat sejak kecil. Hanya saja Yumi melupakan kisah itu.


Kekerabatan antara Zara dan Nadia telah terjalin sejak dulu. Kini Keva berencana ingin mempererat hubungan di antara mereka melalui pernikahan.


"Rupanya benar kata Keva, kau semakin cantik dengan balutan gaun biru navi. Sudah sejak lama aku ingin kau menjadi menantuku." Tak tanggung-tanggung, Nadia mengungkap isi hatinya mendahului Keva.

__ADS_1


Namun, Keva sendiri terkejut tatkala Sang Ibu mengungkap keinginannya. Persis sepertinya yang menginginkan Yumi, wanita empat puluh tujuh tahun tersebut berencana melamar Yumi secara resmi.


"Terimakasih, Tante. Tante juga semakin cantik. Aku yakin, Paman Hasan akan terkesima bila melihat Tante malam ini." Tanpa Yumi sadari, bahwa Ayah Keva telah meninggal dunia lima tahun lalu dalam kecelakaan maut.


Yumi masih mengingat rupa Ayah Keva. Dia terkenal sebagai priabadi yang baik serta bijak.


"Apa kau belum tahu soal Paman Hasan?" tanya Nadia. Yumi yang pada dasarnya tidak tahu apa-apa, hanya bisa mengangguk tak tahu. Namun, dalam hati mulai waspada. Pasti kabar yang tidak mengenakan.


Tanpa bertanya lebih lanjut, Yumi memahami isi hati Nadia sebelum wanita itu tenggelam dalam luka hatinya.


"Oh iya, bagaimana kabar Ibumu? Apakah dia masih suka menyulam benang menjadi sebuket bunga?" Sengaja Nadia mengalihkan pembicaraan agar tidak tegang.


Situasi saat ini benar-benar romantis. Nadia tidak ingin mengubahnya dengan mengenang kisah pilu antara dirinya dan mendiang suami.


"Begitulah, Tante. Oh iya, ngomong-ngomong selama ini Tante dan Keva kemana saja? Mengapa aku tidak pernah melihat kalian selama sepuluh tahun belakangan?" tanya Yumi penasaran.


"Saat itu Keva melanjutkan studynya di luar negeri. Sedangkan Tante kembali ke Korea. Tante baru tiba kemarin siang," papar Nadia.


"Oh iya, lusa malam kau main lah ke rumah. Keva akan menjemputmu. Sekalian ajak kedua orang tuamu. Sudah lama kami tidak bertemu. Mungkin kami akan canggung setelah sekian lama tak berjumpa," ungkap Nadia sebelum akhirnya meninggalkan mereka.


"Tante mau pergi?" tanya Yumi.


"Iya, Sayang. Tante sudah menyita waktu makan malam kalian. Selamat menikmati." Kemudian Nadia meninggalkan dua orang tersebut.


"Entahlah. Semenjak kepergian Ayah, Ibu selalu mencari kesibukan di luar," lirih Keva.


"Soal Ayahmu, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak pernah tahu soal itu," Sesal Yumi bersungguh-sungguh.


"Bagaimana kau bisa tahu, kau menghilang saat kita berusia enam belas tahun," lirih Keva.


Malam itu Yumi dan Keva mengenang masa-masa muda mereka dulu.


Sementara itu, di ujung sana. Ada Fabian dan Kenzo yang sedang menghadiri lomba melukis di restoran mall itu. Hingga tanpa sengaja mereka pun bertemu.


"Ayah, bukankah dia adalah Nona Yumi?" Fabian yang tidak menyadari keberadaan Yumi di tempat itu seketika terkejut. Dia tidak mengira bila mantan istrinya itu akan memilih tempat yang sama dengannya untuk berkencan.


"Dengar, kau tidak boleh memanggil Nona Yumi dengan sebutan Ibu." Fabian mensejajarkan tubuh dengan Putranya, agar percakapan mereka tidak didengar oleh siapapun.


"Tapi bukankah Ayah menginginkan Nona Yumi untuk menjadi Ibuku, bukan?" sahut Kenzo dengan polosnya.

__ADS_1


"Jangan keras-keras, nanti mereka dengar," bisik Fabian semakin waspada.


"Lihatlah, mereka mulai mendekat," balas Kenzo di kuping Fabian.


Yumi dan Keva yang baru saja makan malam, bergegas keliling mall. Namun, mata wanita itu tertuju kepada Kenzo.


"Kenzo." Dan dia pun menyapanya dengan penuh kelembutan.


Kenzo yang cerdas, tak ingin mempermalukan Ayahnya. Dia memang menginginkan Yumi agar menjadi pendamping Ayahnya, tetapi dengan cara yang benar. Tidak harus menjatuhkan siapapun.


"Nona Yumi."


Dalam hati Fabian khawatir, bila Putranya itu akan menyebut Yumi sebagai Ibunya. Bukannya tidak ingin, hanya saja situasinya terlalu mendadak. Fabian tidak menyiapkan kalimat untuk meyakinkan Keva, bahwa ia memiliki seorang Putra.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yumi kepada Kenzo.


"Kami sedang mengikuti lomba melukis. Apa kau mau ikut bersama kami?" Kenzo sengaja mengajak Yumi ikut bersamanya untuk memisahkan ia dari Keva.


"Sayang, Nona Yumi sedang bersama temannya. Ayo, sebaiknya kita jangan ganggu mereka. Sebentar lagi lomba akan segera dimulai. Ikutlah bersama Ayah." Meski tidak menyukai Keva saat bersama Yumi. Namun, Fabia masih berupaya untuk bertindak normal.


Hal itu demi menjaga mental Putranya.


"Ayah, lombanya bukan di sana, melainkan di sana. Apakah Ayah sudah lupa?" Fabian tidak menyadari, bahwa ia telah memilih jalan yang salah menuju lomba.


Keberadaan Yumi di sisinya membuat ia tegang sekaligus canggung.


"Kau benar, ayo kita pergi. Mereka pasti sudah menunggu kita." Fabian yang salah tingkah sontak menggendong kenzo dan membawanya pergi dari Yumi.


"Apakah Anak itu Putranya?" tanya Keva saat Fabian telah menjauh.


"Iya, dia adalah Putranya," sahut Yumi.


"Apakah itu artinya kau adalah Ibu Anak itu?" Pertanyaan Keva sontak membuat Yumi terkejut. Dia belum mempunya Putra, tetapi seseorang telah menjadikannya seorang Ibu.


"Tidak, kami tidak memiliki Anak sewaktu menikah," jelas Yumi.


"Benarkah, Apakah Fabian menikah lagi setelah bercerai darimu?" Tampaknya Keva penasaran terhadap kisah asmara Fabian.


Selayaknya pengacara, pria itu terus menggali masa lalu saingannya.

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak ingin membahas itu. Sebaiknya antar aku pulang, aku masih ada urusan yang belum kelar di rumah."


Malam itu bukan hanya menjadai ajang reuni antara Nadia dan Yumi, melainkan pertemuan Kenzo dengan dirinya yang tanpa sengaja.


__ADS_2