Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Gagal Merebut Kecupan Karena Karyawan


__ADS_3

"Malam ini menginap lah di rumahku. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Seharian kau sibuk dan melupakanku." Satu pesan masuk untuk Yumi dari Fabian.


"Bukankah kau yang memberiku pekerjaan ini?" Diam-diam Yumi dan Fabian saling mengirim pesan. Sedangkan mereka tengah berada dalam ruang rapat.


Baru saja seluruh pimpinan bagian mendiskusikan ihwal pembangunan kantor cabang.


Jarak antara Yumi dan Fabian hanya satu meter saja. Dua orang yang menengahi mereka.


"Tapi aku merindukanmu," tulis pria itu, melampirkan emoticon hati serta ciuman.


"Tapi aku sedang sibuk," balas wanita itu.


"Please..." Kembali Fabian mengirim pesan singkat untuk Yumi. Kali ini ia menerapkan emoticon wajah memelas dengan mata berkaca-kaca.


Sepuluh tahun lalu sikapnya nyaris tak pernah manis terhadap Yumi. Nantilah setelah berpisah hampir satu dekade, dia pun mengubah caranya memperlakukan wanita.


Dia telah menyadari sikapnya yang sungguh egois.


Ponsel dua Anak manusia yang tengah dilanda cinta itu pun sejak tadi berbunyi secara bergantian. Alhasil seluruh karyawan merasa heran. Bagaimana bisa ponsel mereka berdering secara bergantian? Seolah saling mengirimi pesan. Seluruh karyawan pun berpikir demikian secara diam-diam.


"St, apa kau tidak curiga pada Tuan Fabian dan Nona Yumi? Ponsel mereka sejak tadi berbunyi terus secara bergantian." Alhasil David membisik kepada Rohana. Dia merasa curiga pada pimpinan dan sekretarisnya itu.


"Ada apa dengan Tuan Fabian dan Nona Yumi? Apakah mereka saling mengirim pesan?" Pun Wahyu kepada Fahri, mereka saling berbisik curiga.


brak.


"Ehem!"


Menyadari seluruh karyawannya berbisik menggosipkan mereka, Fabian pun menggebrak meja, lantas berdehem setelah meletakan ponsel ke meja.


Pun Yumi yang mulai menyadari, bahwa para pegawai itu tengah membicarakan dirinya.


"Apakah kalian paham dengan yang saya sampaikan barusan? Jika tidak, maka silahkan bertanya," ucap Fabian.


"Tidak, Pak. Kami sepakat dengan ide Bapak," sahut David.


"Bagus. Kalau begitu rapat selesai. Silahkan kembali ke ruangan masing-masing." Kemudian Fabian membubarkan pegawainya.


"Yumi, apakah kau sudah menyiapkan laporan hari ini? kalau belum, maka kau tidak boleh meninggalkan ruangan ini!" Sedangkan Yumi sengaja ditahannya, meski menggunakan nada meninggi tegas.


"Baik," sahut wanita itu, paham maksud Sang kekasih.

__ADS_1


Fabian menunggu momen yang tepat untuk menarik Yumi dalam pelukannya.


Dan setelah memastikan seluruh karyawan menghilang dari pandangan, dia pun menutup pintu. Lantas menarik Yumi dan membawanya dalam pelukan.


"Hei, apa yang kau lakukan? Nanti ada yang lihat," bisik Yumi penuh hati-hati.


"Tenang saja, pintunya sudah tertutup." Sedangkan Fabian seolah tak peduli. Dia terus memeluk gemas Sang kekasih.


Ceklek.


Hingga akhirnya mereka nyaris ketahuan, karena ada seseorang yang kembali ke ruang rapat tersebut. Buru-buru Fabian melepas Yumi.


"Erika?"


Rupanya Erika lah yang datang. Sehingga Yumi dan Fabian bernapas lega.


Erika telah mengetahui hubungan mereka setelah sehari lalu Yumi mengakuinya.


"Ini aku yang datang," kata Erika. Lantas mengambil ponsel yang dilupakannya di atas meja rapat.


Sementara itu Fabian terlihat salah tingkah, karena nyaris ketahuan memeluk Yumi.


"Sebaiknya kalian berhati-hati. Jangan pacaran di kantor, atau semua orang akan tahu hubungan ini. Untung aku yang datang, coba kalau orang lain. Apa lagi Rohana Si gadis bar-bar super kepo. Tamat lah riwayat kalian." Sebelum meninggalkan Yumi dan Fabian, wanita bergincu ungu itu memperingati sepasang kekasih tersebut agar lebih berhati-hati.


"Kamu sih, hampir saja. Untung Erika yang datang, bagaimana kalau orang lain?" Yumi mulai waspada, takut hubungannya ketahuan.


"Iya, maafkan aku. Habis kamunya sih gak mau mengiyakan permintaanku. Padahal kan aku hanya merindukamu." Lagi-lagi Fabian merajuk manja seperti anak kecil yang merengek pada Ibunya.


Sikap ini dulu tak pernah ia tunjukan kepada Yumi sewaktu menjadi sepasang suami istri.


"Iya, tapi gak kaya gini juga kali. Udah ah, aku mau kerja dulu. Atau kita berdua akan menjadi tontonan orang-orang." Yumi hendak pergi.


"Eits, kau mau kemana, em?" Namun, Fabian berhasil mencegahnya dengan menarik lengan wanita itu. Alhasil Yumi pun jatuh dalam pelukannya.


Fabian mulai menatap damba Yumi, seperti hendak meminta jatah ciuman mesra.


Kini pria itu pun semakin mendekatkan wajah, hendak mengecup bibir Yumi. Namun, mendadak David datang.


Alhasil Fabian mendorong tubuh Yumi sekuat tenaga dan nyaris terjatuh andai pertahanan diri wanita itu runtuh.


Mereka pun salah tingkah setelah nyaris ketahuan David.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya lupa berkas ini." David menunjukkan berkas yang ia lupa diambilnya setelah rapat usai.


Namun, mata pria itu seolah menatap curiga pada CEO dan sekretarisnya itu.


Dalam hati David berkata, "Ada apa dengan mereka? Apakah diam-diam Tuan Fabian menyiksa Nona Yumi?"


Beruntungnya pria cupu itu mengira Yumi dan Fabian tak memiliki hubungan yang baik. Disangkanya Sang CEO menyiksa Yumi.


Pasalnya selama ini Fabian menunjukan sikap sebaliknya bila berada di depan para pegawai, seolah tak ada apa-apa antara dirinya dan Yumi.


Sehingga tak satu pun dari mereka yang curiga. Satu-satunya orang yang tahu hanyalah Erika.


Sedangkan Fahri yang merupakan teman Fabian, tidak tahu apa-apa ihwal kembalinya tali asmara mantan sepasang suami istri tersebut.


Hubungannya saja bersama Rohana masih digantung.


Ya, setelah drama ciuman hari itu, hubungan Rohana dan Fahri menjadi canggung.


Tiap kali bertemu, mereka kerap salah tingkah. Rohana tak berani melihat wajah Fahri, apa lagi menatap matanya.


sedangkan Fahri sendiri ingin menjelaskan perasaan yang sesungguhnya kepada wanita tersebut. Akan tetapi, tak pernah kesampaian.


"Oh iya, Nona Yumi. Saya ingin menunjukan hasil rancanganku padamu. Kebetulan komputer di ruanganku sedang bermasalah. Ponsel pun mati." David berinisiatif untuk melindungi Yumi dari amukan Fabian dengan sengaja menunjukan hasil rancangan yang baru enam puluh persen rampung.


"Ah ya, boleh. Ayo kita pergi ke ruanganmu. Aku ingin memastikan rancangan yang tadi kau revisi," sahut Yumi, bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Sementara itu Fabian merasa kesal. Belum sempat ia merebut ciuman Yumi, datang lah David serta membawa wanita tersebut. Alhasil dia pun hanya bisa gigit jari.


"Nona Yumi, apakah Nona baik-baik saja? Apakah Tuan Fabian menyakitimu?" Setelah berada di luar ruangan rapat, David pun membawa Yumi ke sudut ruangan, lantas membisik wanita tersebut.


David khawatir bila Fabian menyakiti Yumi. Pasalnya selama ini pria dengan julukan lelaki pemarah itu kerap bersikap dingin serta angkuh bila berada di depan para pegawainya.


Pun bila sedang bersama Yumi, David kerap menyaksikan keduanya terlibat perdebatan.


Sementara Yumi tidak menyangka bila David justru mengira Fabian menyakitinya.


Sejak tadi Yumi berpikir, apakah David mengetahui sesuatu di antara mereka.


"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Yumi.


"Tidak kenapa-kenapa sih. Hanya saja gelagat Tuan Fabian sangat aneh. Dia terlihat seperti drakula penghisap darah," ungkap David.

__ADS_1


"Ha?"


__ADS_2