
Cemas adalah perasaan yang timbul ketika kita khawatir atau takut akan sesuatu. Rasa takut dan panik adalah hal yang manusiawi. Setelah beberapa waktu, kita biasanya merasa lebih tenang dan nyaman.
Rasa khawatir dan takut, dalam batasan tertentu, dapat membantu menjaga kita, bahkan melindungi dari marabahaya. Akan tetapi, ada kalanya, rasa cemas membuat keadaan terasa lebih buruk dari yang sebenarnya dan membuat kita kewalahan. Kekhawatiran yang berlangsung berkepanjangan dapat menyebabkan kecemasan yang berjangka panjang.
Semua orang pasti pernah merasa cemas. Rasa cemas adalah cara tubuh untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi suatu tantangan. Jantung akan lebih banyak memompa darah dan oksigen supaya tubuh siap. Dengan begitu, seorang individu bisa lebih waspada dan mampu mengatasi tantangan itu dengan lebih efisien.
Seperti inilah yang tengah dirasakan oleh Fabian. Dirinya nyaris tak dapat mengontrol diri yang cemas.
Ya, semenjak kehadiran wanita itu asing itu, pikirannya dihantui rasa takut. Sehingga menimbulkan kecemasan yang berlebihan.
Kecemasan itu telah menjuru ke arah ketakutan. Takut akan kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.
Fabian duduk tak tenang di kursi. Beberapa kali ia duduk, lantas berdiri kembali. Terkadang menggigit kuku, seolah hendak mencari cara untuk memecahkan masalah.
"Nona Yumi, Ayah kenapa?" Alhasil hal tersebut sukses mempengaruhi Kenzo. Anak itu mencemaskan Fabian yang masih gelisah.
"Sayang, masuk lah ke kamar. Nanti kita bermain lagi, oke?" Karena memahami kondisi Fabian, Yumi berinisiatif untuk mengajaknya bicara. Barangkali upayanya itu dapat mengobati perasaan Fabian.
Kenzo adalah Anak yang cerdas. Ia mampu memahami masalah orang dewasa sekali diberitahu.
Bocah itu menuju kamar setelah melempar senyum kepada Yumi.
"Apa yang kau pikirkan?" Wanita dengan gaun tidur itu menghampiri Fabian, lantas duduk di sisinya.
"Aku takut." Sangat pelan Fabian menyahut pertanyaan Yumi.
Nadanya persis menyiratkan seseorang yang ketakutan.
__ADS_1
Pandangannya pun kosong. Sedangkan pikirannya dipenuhi wajah wanita beberapa saat lalu.
"Apa kau mencemaskan Kenzo?" Akhirnya Yumi menebak isi hati Fabian.
"Kau benar, aku mencemaskan Kenzo. Aku takut orang lain akan datang mengambilnya, lalu membawanya pergi." Mata Fabian mulai berkaca-kaca.
Perasaannya sungguh kalut. Tidak ada yang bisa menenangkan pria tersebut selain Kenzo. Bahkan Yumi pun tidak.
"Apakah yang kau maksud wanita tadi?" Dengan hati-hati Yumi menyinggung ihwal perempuan asing dengan penampilan lusuh tadi, agar tak membuat Fabian jatuh bangun.
Yumi tahu, bahwa yang dibutuh Fabian saat ini adalah pengertian sekaligus ketenangan. Dia harus membahas masalah ini bersama Yumi agar lebih memudahkan menemukan solusi.
Fabian tidak menyahut, dia mengepal kedua telapak tangannya sekuat tenaga.
"Dengar Fabian, bila yang kau takutkan adalah kehadiran wanita itu, maka kau harus berani menemuinya dan membahas perkara ini secara bersama-sama dengan kepala dingin," lanjut Yumi.
"Mengapa aku harus menemui wanita itu? Apakah dia begitu penting? Apakah aku berutang padanya? Ataukah dia memang tidak tahu diri? Benar-benar keterlaluan!" Amarah Fabian tak terkontrol lagi. Mendadak menghardik Yumi secara bertubi-tubi.
Sementara Yumi mengembuskan napas, sangat paham perasaan mantan suaminya itu.
"Sayang, tenanglah. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu, em? Kau jangan khawatir." Yumi berkata dengan nada rendah, agar tak membuat Fabian emosional.
Ia memegang pundak pria tersebut, seakan memberinya kekuatan. Fabian pun menarik Yumi, lantas berbaring di atas pangkuan wanita cantik tersebut.
"Aku sangat takut kehilangan Kenzo. Aku benar-benar tidak siap bila suatu saat akan ada orang yang datang mengambilnya. Hatiku akan hancur, Yumi. Benar-benar hancur." Fabian tak bernyali menyebut orang tua kandung Kenzo. Baginya, dialah orang tua sesungguhnya bocah delapan tahun tersebut.
"Apa kau tahu? Sewaktu aku menemukan Kenzo di depan pintu, aku berharap tidak akan ada yang mencarinya. Dengan kata lain, bahwa kedua orang tuanya telah tiada. Aku sungguh mengharapkan hal itu terjadi. Namun, siapa sangka bila wanita asing itu datang ke sini setelah delapan tahun."
__ADS_1
Kini Fabian mulai melunak membahas identitas Kenzo sembari meneteskan air mata dalam pangkuan kekasihnya.
Benar kata orang tua zaman dulu, bahwa bila menyangkut Anak, maka mereka rela melakukan apa saja. Termasuk melawan dunia.
"Sewaktu kecil, aku mempunyai saudara perempuan yang cantik lagi penyayang. Dan aku sangat menghormati serta mencintainya." Kini Yumi yang mulai bercerita.
"Dulu kami kerap menghabiskan waktu bersama untuk bermain boneka. Bila aku sakit, maka dia pun turut merasakan. Bila dia yang sakit, maka aku pun sama. Kami terikat satu sama lain, seolah tak terpisahkan. Sampai akhirnya kami berada dalam titik terendah. Dimana Tuhan mengambil kepunyaan-Nya. Dia memanggil Kakak sebelum kami tumbuh dewasa dan menikah. Saat itu aku sangat terpukul. Kehilangan salah satu orang tercinta tentu saja rasanya sungguh menyakitkan. Namun, seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari, bahwa bila kita mencintai ciptaan Tuhan secara berlebihan, maka rasanya sungguh menyiksa hingga menyesakan dada. Makan dan minum terasa menelan duri. Tidur pun terganggu. Aku benar-benar tersiksa kala itu. Namun, seiring berjalannya waktu aku mulai bangkit. Sebab, aku menyadari, bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Anak, saudara, orang tua, harta, semuanya hanyalah titipan dari Tuhan. Akan ada masanya semua diambil kembali oleh Sang pemilik."
Sembari mengelus pelan kepala Fabian, Yumi menceritakan kisah masa kecilnya yang tak diketahui oleh orang lain, termasuk Fabian dan Erika.
Tak lama kemudian, terdengar suara isakan Fabian. Pria itu pun menangis di atas pangkuan Yumi.
Bukannya tak bisa menerima takdir. Hanya saja Fabian masih belum siap melepas Kenzo bersama orang tua kandungnya.
Hatinya benar-benar tak rela. Kenzo adalah buah hatinya.
Terlebih lagi jika memang benar perempuan lusuh tadi adalah Ibu kandungnya. Maka semakin lengkap ketakutan Fabian.
Betapa tidak, dari penampilannya saja sudah bisa dipastikan hidup wanita tadi ada di jalanan. Lantas haruskah ia melepas Kenzo bersamanya? Mengemis seperti Anak-anak yang berdiri di lampu merah sembari menadah kedua tangan.
Sungguh Fabian tak rela. Masa depan Putranya menjadi suram.
Dengan begitu sia-sia suda perjuangannya selama ini dalam membesarkan Kenzo.
"Fabian, aku paham ketakutanmu. Namun, kau harus bisa membuka hati, bahwa jika tak ada Ibu Kenzo, maka kau tak akan pernah menyandang status sebagai Ayah Anak itu. Kau hanya akan disebut sebagai duda kaya raya tanpa Anak. Tidak akan ada suara teriakan Anak kecil di dalam rumah ini. Hidupmu akan terasa hampa," ujar Yumi.
Kembali Fabian terisak, tetapi kali ini diikuti dengan tangisan keras.
__ADS_1
Pria itu benar-benar rapuh. Tidak disangka, seorang Fabian yang dikenal arogan, justru lemah bila menyangkut Putranya.
"Dia Putraku, Yumi. Dia Putraku!"