
"Hentikan!" Suara Fabian menggelegar di ujung ruangan. Matanya memerah karena marah.
Tatapan pria itu pun semakin menajam kala Keva justru menantangnya.
Tatapan pria itu tak kalah tajamnya, seolah hendak berperang.
Sementara Yumi semakin ketakutan. Dia pun merasakan aura dingin di antara kedua pria tersebut.
Mereka saling membenci satu sama lain. Keva marah karena cintanya ditolak yang disebabkan oleh Fabian.
Sedangkan Fabian marah karena Keva masih menemui wanitanya.
Ya, setelah hari itu, Yumi dan Fabian memutuskan untuk kembali bersama.
Belum ada yang tahu, baik karyawan kantor, ataupun kedua orang tua dari janda muda nan cantik tersebut.
Fabian dan Yumi sengaja menyembunyikan hubungan mereka dari orang-orang. Mereka masih menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkan hubungan tersebut.
Namun, sepertinya hari ini Fabian tak bisa menahan diri karena Keva.
Terlebih lagi Yumi menemuinya dengan waktu yang cukup lama. Sekitar dua jam.
Janjinya hanya setengah jam. Namun, maju satu jam setengah.
Hal itu semakin membuat Fabian tak tenang sekaligus marah. Takutnya Yumi berubah pikiran pasca bertemu Keva.
Pasalnya mereka pernah memutuskan untuk bersama.
"Fabian," gumam Yumi dengan perasaan takut.
"Ikut aku!" Tiba-tiba saja Fabian menarik tangan Yumi, mengajaknya pergi dari tempat itu.
"Lepaskan dia!" seru Keva tujuh oktav lebih tinggi. Alhasil mereka menjadi bahan tontonan orang-orang yang ada di tempat itu.
Fabian dan Keva pun melempar tatapan sengit. Seolah hendak membunuh satu sama lain.
"Apa hakmu melarangku? Apakah kau suaminya? Atau kekasihnya? Kau bukanlah siapa-siapa, melainkan pria bodoh yang berharap terlalu banyak!" Kali ini Fabian telah melampaui batasan.
Seharusnya pria itu bisa mengontrol diri agar tak terjadi pertikaian. Namun, sepertinya ia enggan. Yumi adalah wanitanya, tak ada satu pun yang boleh memiliki wanita itu selain dia.
"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau suaminya? Atau kekasihnya? Bukankah kalian hanya mantan sepasang suami istri?" Sengaja Keva membesarkan suara, agar semua orang mendengarnya. Dengan begitu Fabian akan merasa malu.
__ADS_1
Ya, tujuannya adalah mempermalukan Fabian. Tanpa Keva sadar, bahwa caranya itu justru melukai Yumi.
"Aku ke--"
"Cukup!" seru Yumi, menyela pembicaraan mereka.
"Apa kalian tidak bisa diam? Setidaknya pikirkan apa kata orang tentang kita. Apa kalian tidak bisa melihat? Semua mata tertuju pada kita," imbuh wanita itu.
Nyaris saja Fabian mengatakan yang sebenarnya, bahwa sekarang mereka kembali merajut kasih.
"Yumi, aku masih belum selesai bicara denganmu. Tolong suruh pria itu pergi dari sini!" Secara tegas Keva meminta Yumi untuk mengusir Fabian.
"Apa kau pikir aku akan pergi? Jangan mimpi!" Sayangnya pria itu justru tidak bersedia sebelum Yumi memintanya. Alhasil Keva semakin murka.
Bug!
Dia pun menghantam wajahnya sekuat tenaga. Sehingga menyebabkan luka memar di sudut bibir.
"Fabian, kau tidak apa-apa?" Yumi menghampiri Fabian setelah Keva berhasil melayangkan pukulan.
Wanita itu sangat cemas. Sedangkan orang-orang semakin riuh. Dua pria itu telah membuat kegaduhan di restoran.
"Aku tidak apa-apa." Entah mengapa Fabian tak berencana membalas pukulan Keva. Mungkin karena ada Yumi. Khawatir wanita itu ketakutan bila melihatnya terlibat baku hantam.
Melihat itu, Keva semakin murka. Dia hendak menarik tangan Yumi, tetapi Fabian berhasil mencegahnya.
Bila menyangkut Yumi, Fabian tak akan tinggal diam. Dia pasti akan melawan dunia walau bagaimanapun caranya.
"Fabian, tolong tinggalkan kami, em?" Sayangnya Yumi justru memintanya pergi, alih-alih ikut bersamanya. Alhasil Keva pun tersenyum mengejek pria itu.
"Tapi, Yum--"
"Aku mohon, em? Biarkan aku menyelesaikan masalah ini seorang diri. Kau tidak perlu ikut campur," ujarnya.
"Tapi kau--"
"Please, aku mohon percayalah padaku. Semua pasti akan baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas," pinta Yumi.
"Baiklah, kau boleh bicara dengannya, tapi jangan terlalu lalu. Aku tunggu kau di luar. Lima belas menit." Tak ada pilihan lain, Fabian harus rela meninggalkan Yumi dan Keva berdua saja, meski hati merasa cemas. Takut Keva akan mempengaruhi wanita itu, sehingga ia berubah pikiran.
Kini hanya tersisa Yumi dan Keva. Sedangkan Fabian harus keluar, menunggunya di depan restoran. Namun, mata pria itu tetap mengawasi keduanya.
__ADS_1
terutama Keva, bila pria itu nekat, maka Fabian tak akan tinggal diam. Dia pasti hancur di tangannya.
"Bicaralah, aku mendengarkan," titah Yumi. Namun, kali ini dengan nada serta sikap yang dingin.
Berbeda pada beberapa saat lalu. Sikap wanita itu terlihat hangat dan lembut. Mungkin pengaruh Keva memukul Fabian. Entahlah.
Sementara itu, Keva sendiri merasakan ada perubahan dalam diri Yumi. Dia tak lagi sama seperti yang dulu ia kenal.
Wanita itu penuh dengan kehangatan, meski orang-orang menyakitinya.
Namun, kali ini auranya sungguh dingin. Seperti es kutub utara.
"Jadi, benar karena dia?" tanya Keva akhirnya setelah beberapa saat diam.
Yumi menoleh pada Keva, masih dengan sikap dinginnya seraya berseru, "Tidak! Ini karena sikapmu yang terlalu kekanak-kanakan!"
"Aku? Kekanak-kanakan? Jadi, kau membelanya?" Keva tak habis pikir pada cara pandang Yumi. Dikiranya wanita itu akan berpihak padanya.
"Ini bukan tentang dia, Keva, tapi tentang kita! Harus berapa kali aku katakan padamu, kalau kita tidak mungkin bersama. Mengapa kau tak bisa memahami hal semudah itu?" Yumi nyaris kehabisan kata untuk menjelaskan pada pria yang saat ini sulit mengontrol diri.
Perasaannya dilanda kecemasan sekaligus amarah serta cemburu.
"Hm, kau pikir ini mudah bagiku? Beberapa hari ini aku mengejarmu seperti orang gila. Aku pikir ini hanya tentang kita, tapi ternyata aku salah. Ada dia di antara kita," lirih pria itu.
"Keva, sejak awal tidak ada kata 'kita', hanya kau," sahut wanita itu.
Jiwa Keva pun semakin terpukul. Hatinya remuk dan hancur. Berulang kali dia patah hati.
Lagi-lagi Keva terkekeh, seolah tengah mengejek dirinya.
"Akhirnya kau mengakuinya. Tadinya aku berharap, bahwa aku yang salah mengira. Aku hanya menerka-nerka sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan dia. Namun, sekarang telah ku tahu jawabannya. Kau telah memberitahu di mana posisiku. Sejak dulu sampai sekarang, aku tak pernah ada di dalam hati serta pikiranmu. Hanya aku yang berjuang, tapi tidak denganmu."
Hancur sudah hati Keva. Wanita yang selama ini ia perjuangkan, justru lepas diambil orang.
Kini tak ada gunanya lagi bicara, semua sudah jelas. Wanita itu menolaknya karena lebih memilih kembali pada Fabian ketimbang membangun hubungan baru dengannya.
"Pergilah, aku melepasmu," kata Keva, bernada sangat lirih.
"Keva, aku--"
"Pergi! Sebelum aku berubah pikiran dan membawa lari dari sini!" Hati Keva hancur berkeping-keping. Hari ini Yumi telah melulu lantakan seluruh jiwa raganya.
__ADS_1
Sementara itu, Yumi merasa bersalah yang luar biasa. Kendati demikian, ia harus terlihat tega di mata Keva, agar pria tersebut berhenti berharap.