
Di bar itu Rohana dan Fahri menikmati minuman beralkohol. Wanita itu sudah menghabiskan dua botol anggur. Sedangkan Fahri hanya lima gelas wisky.
Awalnya pemuda itu ingin menghabiskan sebotol, tapi mendadak ia berubah pikiran. Pasalnya Rohana telah mabuk berat. Siapa yang akan mengantar wanita itu pulang ke rumah andai dia juga turut mabuk.
"Ayo kita pulang, kau sudah terlalu banyak minum," kata Fahri setelah menghabiskan wisky terakhirnya.
"Tidak apa-apa, aku masih bisa menghabiskan sebotol lagi. Bukankah kau ingin aku traktir minum? Maka nikmatilah." Mata gadis itu sudah memerah, hingga mempengaruhi penglihatannya.
Caranya berbicara pun sudah terdengar mabuk. Sungguh tak terkontrol lagi.
"Diamlah! Aku memintamu mentraktirku minum, tapi lihatlah, siapa yang lebih banyak minum? Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menghabiskan wisky pesananku." Fahri sedikit kesal, karena Rohana tak memberinya kesempatan untuk minum-minum.
"Ayo pulang, biar aku antar. Kau tidak bisa pulang seorang diri dengan kondisi seperti ini. Kau bisa celaka nanti." Akhirnya Fahri memapah Rohana setelah membayar tagihan.
Jumlahnya enam puluh dua juta tiga ratus sepuluh ribu rupiah. Biaya yang sungguh mahal untuk sekedar minum-minum.
Kini Fahri mengantar Rohana dengan mengendarai mobilnya. Sedangkan dia masih belum tahu alamat pasti wanita itu.
Kabarnya dia tidak tinggal bersama orang tuanya, melainkan mengontrak rumah di bilangan Jakarta Selatan.
Sungguh wanita aneh. Dia memiliki segalanya, tapi memilih untuk hidup sederhana.
Sikap Rohana itu berbanding terbalik dengan yang ia pertontonkan di kantor, bar-bar serta suka mengusik hidup rekan kerjanya, terutama Erika.
"Tolong kirimi aku alamat Rohana, aku tidak tahu dia tinggal di mana." Karena masih belum tahu, akhirnya Fahri memutuskan untuk bertanya kepada Fabian melalui panggilan telpon.
"Apa kau sedang bersama wanita itu?" Alih-alih memberitahu, Fabian justru mempertanyakan posisi temannya itu.
"Iya, tadi kami minum-minum, dan sekarang dia sedang mabuk berat. Aku ingin mengantarnya pulang, tapi tidak tahu alamat pastinya. Kata Erika dia tidak tinggal bersama orang tuanya," papar Fahri.
"Apa kalian baru saja memenangkan undian milyaran rupiah? Bagaimana bisa kalian minum bersama? Atau jangan-jangan kau dan dia--"
"Diamlah! Nanti aku jelaskan padamu. Sebaiknya kau kirimkan aku alamat Rohana. Sejak tadi kami hanya berputar-putar." Fahri mulai kesal, karena sejak tadi Fabian hanya bertanya dan terus bertanya tanpa memberitahu alamat wanita itu.
"Baiklah, kau berutang penjelasan padaku." Setelah itu Fabian mengirimi Fahri alamat Rohana lewat data pegawai yang ada dalam file ponselnya.
Kini Fahri telah sampai di rumah kontrakan Rohana. Terlihat cukup sederhana. Bangunan itu hanya terdiri dari satu lantai. Halamannya pun sangat kecil, hanya bisa parkir dua mobil.
__ADS_1
"Rohana, bangunlah. Kita sudah sampai di rumahmu." Fahri menepuk pipi Rohana beberapa kali, hingga wanita itu tersadar.
"Emm, kita sudah sampai?" Rohana masih dipengaruhi alkohol. Sehingga Fahri perlu mengantarnya hingga ke dalam rumah.
Sangat mustahil jika wanita itu bisa mengurus dirinya. Bahkan dia berjalan dengan kelimpungan.
"Kau sungguh berat, apakah kau tidak pernah berolah raga?" Fahri menggendong wanita itu, lalu membaringkan ke atas tempat tidur.
"Jangan pergi." Tadinya setelah membaringkan Rohana, Fahri hendak pulang, tetapi siapa sangka bila wanita itu justru menahannya.
Rohana sedang tidak sadar, dia menarik tangan Fahri dengan keras, hingga pria itu terjatuh dalam pelukannya.
Rohana melingkarkan tangan ke panggul Fahri kuat-kuat, hingga ia sulit bergerak.
Terdengar beberapa kali Rohana mengigau. Tingkahnya terlihat sungguh lucu.
Parahnya, tanpa sadar wanita itu melepas bra yang ia kenakan di depan Fahri. Namun, masih tetap mengenakan gaun.
"Rasanya sungguh sesak." Bra tersebut berwarna hitam, persis gaun yang ia kenakan.
Melepas bra di depan pria adalah salah satu sikap yang tak pantas. Namun, karena tak sadar, maka Fahri pun bisa memahaminya.
Meski demikian, Fahri tetap lah hanya manusia biasa. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak berbuat hal yang tak wajar kepada wanita mabuk itu.
Fahri tercengang sembari terkekeh. Sepertinya dia telah menemukan cara untuk menggoda Rohana.
"Rasanya benar-benar sesak dan panas." Rohana hendak membuka gaunnya setelah tadi berhasil melepas bra.
"Eh, apa yang kau lakukan?" Akan tetapi, Fahri mencegah wanita itu. Andai tidak, dia tidak bisa menahan diri lagi.
Bodi Rohana terlihat sangat indah dipandang mata. Bentuknya sungguh sempurnah. Fahri bisa saja merusak masa depan wanita itu bila Rohana tetap membuka gaunnya.
"Panas," desah Rohana masih tak sadar.
Tampaknya alkohol benar-benar mempengaruhi kesadaran wanita tersebut. Dia tidak tahu sedang bersama siapa.
"Baiklah-baiklah, kau berbaringlah. Aku akan mengurusmu." Tak ada pilihan lain, terpaksa Fahri harus mengurus Rohana.
__ADS_1
Malam itu ia menginap di rumah gadis itu. Mereka berada dalam satu kamar, tapi tak melakukan apa-apa.
Rohana memeluk Fahri sekuat tenaga seolah tak ingin lepas. Lalu apa daya pria itu? Anggap saja dia sedang bernasib mujur malam ini. Tidur bersama wanita cantik yang secara terang-terangan melepas bra di depan mata adalah hal terindah yang pernah singgah di dalam hidupnya.
**
Pagi harinya, kesadaran Rohana akhirnya kembali normal. Dia pun dikejutkan dengan sosok Fahri yang tengah memeluk dirinya di atas ranjang.
"Aakk--"
Bug!
"Sedang apa kau di sini?" Rohana menendang Fahri hingga jatuh terpental di atas lantai. Padahal pria itu masih menikmati mimpi indahnya.
"Astaga wanita ini benar-benar membuatku gila. Semalam dia tidak memberiku kesempatan untuk minum-minum. Setelah itu dia membuatku bekerja keras untuk menahan hasrat agar tidak menyentuhnya, dan sekarang dia menendangku dari ranjangnya, sial!" gumam Fahri menahan kesal.
"Cepat katakan, bagaimana bisa kau ada di sini bersamaku? Bukankah semalam supir yang mengantarku pulang?" tanya Rohana penuh selidik.
Terlihat wanita itu berusaha untuk mengingat kembali peristiwa semalam. Namun, masih belum menemukan sesuatu yang aneh.
Sepertinya alkohol masih mempengaruhi otaknya.
"Supir gigimu?! Aku lah supir itu. Kau membuatku repot. Berat badanmu pun di atas rata-rata sampai pinggangku terasa mau patah!" sarkas Fahri seraya berdiri.
Sekali lagi Rohana mencoba mengingat-ngingat momen semalam, dan akhirnya ia ingat segalanya.
"Apakah aku melakukan hal buruk di depanmu?" Rohana takut bila saat tak sadarkan diri, ia justru melakukan hal bodoh di depan Fahri.
"Tidak ada, hanya melepas bra." Tanpa ragu Fahri membeberkan peristiwa memalukan semalam.
"Apa?" Tak pelak wanita itu tercengang luar biasa.
Kemudian dilihatnya bra berwarna hitam yang ia kenakan semalam di ujung ranjang tengah terpampang sempurnah.
Alhasil rasa malu Rohana pun berlipat ganda. Diambilnya bra berenda itu, lantas disembunyikan pada belakang tubuhnya.
Fahri pun dibuat terkekeh, walau menyembunyikan benda pelindung gunung berapi itu, dia sudah terlanjur lihat.
__ADS_1