Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Mengapa Kau Menghukumku?


__ADS_3

Tak ada yang abadi di dunia ini. Entah itu ikatan pernikahan, hubungan antar manusia, asmara, maupun sebuah perasaan.


Pun yang bernyawa pasti akan kembali pada pangkuan Illahi. Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan tiada.


Sebuah ikatan kekasih pun sama, tak ada yang benar-benar kekal.


Bila tidak diindahkan, maka jangan dipaksa. Bila tak cinta, maka relakan. Masih banyak wanita di dunia ini yang lebih baik bila kita bersedia untuk berusaha.


Namun, berbeda dengan Keva. Pilihannya tetap sama. Sejak dulu tak pernah berpaling ke lain hati. Terlebih lagi saat melihat Yumi kembali, maka hatinya pun kembali terpaut.


Tidak ada salahnya bila jatuh cinta, asal orang itu bersedia membalas cinta kita. Lantas bagaimana bila bertepuk sebelah tangan? Haruskah memaksa juga?


"Aku pikir kita bisa bersama setelah melewati beberapa bulan ini. Mungkin aku yang terlalu percaya diri." Setelah sekian lama, akhirnya Keva dan Yumi berjumpa.


Kali ini bukan di restoran china yang dulu hendak ia persembahkan untuk wanita tersebut. Melainkan depan kantor Fabian.


Sengaja Yumi memilih tempat tersebut, agar lebih memudahkan mengontrol mantan suaminya itu.


Bila ia tahu bertemu secara diam-diam di tempat jauh, maka bukan hal mustahil bila Fabian murka.


Sepulang dari rumah Yumi, Keva memberanikan diri untuk meminta wanita itu bertemu. Dia sudah tidak bisa menahan diri lebih lama.


Kesalahannya cuma satu, yakni hendak memberinya hadiah berupa restoran sebagai lambang cintanya terhadap Yumi. Lantas mengapa dia harus dihukum seperti ini? Keva merasa tak adil.


"Apakah kau tidak bisa melupakan ihwal restoran itu? Sungguh, aku tidak bermaksud menyakitimu, apa lagi menyinggung harga dirimu. Aku membelinya memang tulus untukmu, demi mewujudkan impianmu. Jika kau menolaknya, maka aku tidak masalah. Aku bisa terima. Namun, tolong jangan hukum aku seperti ini. Jangan jauhi aku, jangan diamkan aku, dan jangan marah padaku. Aku sungguh minta maaf padamu."


Lagi-lagi Keva mengira kediaman Yumi masih karena perkara restoran itu. Padahal ada hal lain yang memang tak bisa membuat mereka bersama.


Selain karena tak cinta, Yumi merasa dia tak pantas untuknya. Keva terlalu baik, dan masa depannya pun sangat cerah. Dia berhak mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya, dan itu bukanlah bersama Yumi, melainkan wanita lain. Inilah yang menjadi alasan Yumi menolak pria manis tersebut.


"Keva, ini bukan tentang restoran itu," kata Yumi.


"Lalu karena apa? Mengapa kau tidak mau bicara denganku? Bahkan kau seperti enggan untuk bertemu denganku. Apakah aku melakukan kesalahan fatal sampai kau memutuskan menjauh? Atau ada faktor lain yang tidak ku ketahui?" Sungguh Keva penasaran pada sikap Yumi kali ini.

__ADS_1


Beberapa bulan lalu mereka tampak baik-baik saja. Mereka selalu makan siang bersama. Bahkan nyaris menghabiskan waktu setiap hari. Maka tak jarang membuat Fabian cemburu.


Namun, setelah hari itu, hubungan keduanya pun renggang. Yumi menjauh, hingga Keva merasa bingung.


"Keva, dengarkan aku dulu. Ini bukan karenamu, melainkan karena diriku sendiri. Aku lah yang bermasalah. Seharusnya aku tidak memberimu harapan. Tolong maafkan aku," lirih wanita itu.


Yumi sungguh menyesali semua yang terjadi. Sejak awal Keva bukanlah pilihannya. Dia pun tak bermaksud mempermainkan perasaan lelaki baik tersebut. Apa lagi memberinya harapan yang berujung kepulsuan.


Yumi hanya ingin menjadikannya sebagai teman, tidak lebih. Namun, entah mengapa semua terjadi seperti ini. Yumi sungguh tak paham.


Mungkin karena adanya Fabian, sehingga Yumi berubah haluan. Entahlah, yang pasti wanita itu tak pernah berhasil melupakan Sang mantan suami, meski sudah delapan tahun berlalu.


Cintanya terhadap Fabian teramat besar sampai detik ini.


Sialnya, Yumi menyeret Keva dalam urusan asmaranya.


Keva seperti menjadi korban perasaan dalam hal ini.


Seharusnya sejak awal Yumi menolak tegas lelaki itu. Sehingga tak membuatnya kecewa.


Yumi menyalahkan dirinya sendiri, sedangkan semula mereka baik-baik saja.


Keva hanya mengetahui perkara restoran tempo lalu. Selebihnya itu dia benar-benar tak paham.


"Keva, kau berhak bahagia, dan kau berhak mendapatkan yang lebih baik dariku. Aku tahu kau bisa melakukan itu." Sembari menggenggam kedua tangan Keva, Yumi menyampaikan separuh isi hatinya.


"Apakah ini karena mantan suamimu?" Yumi terdiam, lalu menundukan kepala.


Ada rasa sesal serta sedih menyatu dalam sanubari.


Ini memang tentang Fabian. Ya, karena Fabian. Sebab, dia masih sangat mencintai lelaki tampan tersebut.


Lantas secara perlahan Yumi melepas tangan Keva.

__ADS_1


Melihat ekspresi itu, sontak Keva mulai paham, bahwa apa yang ia pikirkan adalah benar. Semua karena Fabian. Ya, alasannya adalah Fabian, mantan suaminya.


Lalu Keva pun mendengus sembari berkata, "Aku tidak mengira kau masih mencintainya. Aku pikir kau bisa melihat cintaku, tapi sepertinya tidak. Kau lebih memilih menyaksikan cintanya secara dalam-dalam ketimbang diriku. Tidak bisakah kau memberiku kesempatan untuk membuktikan diri, bahwa aku sungguh layak untukmu?"


Sangat lirih suara pria itu. Terdengar Keva seperti memohon kepada Yumi.


"Keva, sekali lagi ini bukan tentangmu, tapi tentangku. Akulah yang tak dapat membuka hati untukmu," sarkas Yumi, mencoba membuat Keva paham, bahwa mereka tak mungkin bersama.


"Kalau begitu buka lah hatimu untuku. Buatlah tempat di dalam sana untuku. Apakah kau tidak bisa melakukannya? Memang terdengar mudah, dan sulit melakukannya. Namun, berusahalah. Aku yakin kau akan sanggup." Tidak bermaksud mendesak, hanya saja Keva benar-benar tak ingin kehilangan wanita itu untuk yang kedua kali.


Dahulu ia mengalah demi wanita itu. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan itu datang juga. Namun, ternyata lagi-lagi takdir mempermainkan dirinya.


Yumi tak bersedia membuat ikatan baru dengannya.


"Keva, aku mohon. Lupakanlah aku, em? Kau adalah pria yang baik. Kau pasti bisa mendapatkan wanita yang melebihi diriku," jelas wanita itu, masih terus membuat Keva mengerti akan dirinya.


"Apakah kau masih mencintai mantan suamimu?" tanya Keva akhirnya, setelah lama menahan diri.


Yumi kembali terdiam sembari menunduk. Tak berani menatap mata pria itu, karena ia merasa bersalah padanya.


"Tatap mataku dan katakan, bahwa yang aku pikirkan ini tidak lah benar adanya. Aku hanya berhalusinasi." Saat ini Keva berupaya untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa Yumi tak sungguh-sungguh mencintai mantan suaminya itu.


Keva hanya sekedar berhalusinasi. Namun, sayangnya ini adalah kenyataan yang harus ia terima, suka tidak sukanya dia.


"Keva, aku mohon," lirih Yumi, memberanikan diri menatap wajah Keva.


"Cepat katakan!" seru pria itu, mulai meninggikan suara.


"Hentikan!"


Suara bas seorang pria terdengar dari ujung ruangan.


Baik Yumi maupun Keva, mereka sama terkejut. Bedanya adalah pria itu mentapnya marah. Sedangkan Yumi ketakutan.

__ADS_1


Ya, wanita itu takut akan terjadi keributan setelah melihat Fabian datang.


Ya, Fabian datang menemui wanitanya setelah menunggu lama.


__ADS_2