
"Apa kau menyukai pria itu?"
Fabian merenggangkan pelukan setelah Yumi meminta izinnya. Wajahnya pun berubah sendu.
Pertanyaan ini lah yang paling dihindari Yumi. Namun, pada akhirnya Fabian mengajukan juga.
"Fabian, bukan itu maksudku," jelas Yumi.
"Lalu mengapa kau ingin menemui pria itu?" sangsinya.
"Keva, Fabian Keva. Bukan pria itu. Apa kau tidak bisa berdamai dengannya? Bukankah kau menyukai kedamaian?" Hanya satu keinginan Yumi, yakni Fabian bisa menerima Keva sebagai temannya, qtau setidaknya berdamai dengannya.
Tidak masalah jika ia tak mau berteman, atau bertegur sapa bila berjumpa, asal tak ada dendam di antara mereka.
Sungguh, Yumi tak tenang bila harus menyaksikan dua orang tua bermusuhan.
Walau bagaimanapun juga, semua permasalahan yang terjadi karena dirinya.
Namun, sejujurnya ia tak menginginkan ini semua. Yumi hanya mengharapkan kedamaian.
"Aku memang menyukai kedamaian, tapi bukan berarti aku harus menerima pria itu untuk menjadi temanku," tegas Fabian tanpa tendensi.
"Aku tidak memintamu untuk berteman dengannya. Aku hanya ingin kau berdamai dengan hatimu sendiri. Bukankah sekarang kita telah bersama? Lalu apa masalahnya?"
Masih belum memahami jalan pikiran Fabian, lelaki dengan kemeja putih ketat itu terlihat kesal tak suka.
"Masalahnya kau ingin bertemu dengan laki-laki itu! Dan aku tidak suka bila kau bertemu dengannya. Mana tahu dia akan membawamu lari atau membujukmu untuk menjauhiku." Lihatlah, betapa kekanak-kanakannya Fabian. Pikirannya terlampau berlebihan.
Bagaimana bisa dia berpikir sampai sejauh itu? Seolah ia tak mengenal karakter wanitanya sendiri.
"Astaga, Fabian. Mengapa kau berpikir sejauh itu? Apa kau pikir dia orang jahat? Apa kau pikir Keva tak bermoral? Apa kau pikir dia tak memikirkan reputasinya bila melakukan hal tercela? Dia masih punya hati nurani, Fabian." Yumi mulai kesal karena sifat Fabian yang terlalu posesif.
Dia cemburu tanpa alasan. Padahal Yumi hanya ingin memperjelas hubungan mereka kepada Keva. Lantas, apa salahnya?
"Jadi kamu membela laki-laki itu ketimbang berpihak padaku?" Kali ini Fabian meninggikan suara, tersulut emosi pada perkataan kekasihnya.
"Fabian, ini bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Dan aku tidak berpihak padanya, atau pun padamu. Aku hanya ingin bersikap netral. Aku tidak ingin kalian bermusuhan karenaku," jelas Yumi.
"Sejak dulu kita tidak pernah berteman," gumam Fabian seraya memalingkan wajah. Namun, masih bisa didengar oleh Yumi.
__ADS_1
"Kau memang tidak pernah berteman dengannya, tapi bukankah sikapmu ini menunjukan, bahwa kau juga membencinya? Sebenarnya ada apa denganmu, Fabian? Apakah sebegitu buruknya Keva sampai kau tak ingin aku bertemu dengannya? Aku hanya ingin menjelaskan padanya, bahwa aku tidak bisa menerima cintanya, dan hanya bisa menjadi teman. Itu saja, mengapa kau tidak mengerti juga?"
Entah harus dengan cara apa lagi agar Fabian memahami maksud dan tujuan Yumi. Pria itu seolah menutup hati untuk menerima alasannya.
Sedangkan Yumi tak menginginkan permusuhan. Sejak awal dia mengaku salah, karena telah menyeret Keva dalam hidupnya.
sekali lagi, seharusnya sejak awal pula ia tetap pada pendiriannya untuk menjauhi pemuda tersebut. Setidaknya tak akan ada yang terluka. Entah itu Fabian, ataupun Keva, serta dirinya sendiri.
"Karena aku cemburu," gumam Fabian sembari menundukan kepala, merasa malu untuk mengakui perasaan yang sebenarnya.
Sejak tadi Fabian menggambarkan kecemburuannya terhadap Keva. Hanya saja Yumi terus memaksa. Alhasil Fabian tak bisa lagi menahan diri, bahwa ia merasa cemburu.
Samar-samar Yumi mendengar pengakuan Fabian. Sehingga membuatnya tersenyum tipis.
"Dengar, aku tahu perasaanmu seperti apa padaku. Dan aku sangat paham ketakutanmu. Namun, bisakah kau percaya padaku kali ini?" Yumi menggengam kedua tangan Fabian, lantas menatap penuh cinta pada pria tersebut.
Tatapan itu tak pernah berubah sejak melihat Fabian pertama kali.
Sungguh, cinta Yumi patut diacungi jempol. Bayangkan saja, sudah lebih dari satu dekade, hanya ada satu pria dalam hatinya, yakni Fabian Abdullah.
Entah apa kelebihan pria tersebut, sampai ia sulit melupakannya. Padahal Keva tak kalah gagahnya dari Fabian.
Namun, cinta tetaplah cinta. Meski dicuci dengan air garam sekalipun, rada serta warnanya tetap akan sama.
Seperti itulah sejatinya cinta Yumi terhadap mantan suami. Meski banyak pemuda yang berupaya mendekatinya, tetapi pendiriannya tak pernah goyah.
Dua orang yang dilanda cinta itu masih berada di ruang belakang, nyaris ketahuan setelah David, salah satu pegawai Fabian datang.
Samar-samar Yumi mendengar suara pemuda tersebut, hingga secepat kilat ia melepas tangan Fabian serta menjaga jarak darinya.
Keduanya terlihat canggung. "Tuan Fabian, Nona Yumi," sapa David.
"Hm, ya. Apa yang sedang kau lakukan di sini? Apakah kau tidak mempunyai pekerjaan?!" Alih-alih menjaga sikap, Fabian justru melampiasnkan amarah kepada David. Alhasil pemuda dengan dasi kupu-kupu itu merasa bingung.
Apa salah dan dosanya? Sehingga harus mendengar omelan Sang CEO.
Sedangkan dia baru saja datang, sejak tadi masih belum bertemu Fabian.
"Saya baru saja datang, Pak. Saya hendak mengambil minuman. Haus, Pak." Dengan penuh hati-hati, David menjawab pertanyaan Fabian.
__ADS_1
Betapa tidak, mimik lelaki itu seolah hendak menerkamnya. Wajar saja bila ia merasa takut.
"Apa di mejamu tidak ada air minum? Mengapa harus datang ke tempat ini?" Lihatlah cara Fabian yang kembali menunjukan sikap kekanak-kanakannya. Dia sungguh tidak profesional.
"Ini patry, Pak." Masih kebingungan, David memberi tanggapan terhadap Fabian.
Sedangkan Fabian semakin salah tingkah. Caranya memperlakukan pegawai teladan itu sungguh aneh.
Tidak biasanya ia marah-marah tak jelas. Padahal David kerap memberi yang terbaik untuk kepentingan perusahaan.
Namun, lihatlah sikap Fabian kali ini. Dia seperti manusia kehilangan akal sehat karena cinta.
Ya, cinta itu memang benar-benar buta. Tak dapat membedakan mana yang fasik dan yang tak fasik.
Seharusnya, sebagai pimpinan yang berpengalaman, Fabian sanggup membuktikan diri sebagai subjek yang menerapkan profesionalisme.
Fabian Abdullah seharusnya menjadi suri tauladan di kantor. Namun, lihatlah yang terjadi saat ini. Fabian sungguh kekanak-kanakan.
"Oh iya, David. Bagaimana rancangan pembangunan kantor cabang? Apakah sudah siap?" Sengaja Yumi membuka kata setelah sejak tadi menyaksikan keduanya.
Dia pun memanfaatkan pembangunan kantor cabang untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sementara saya kerjakan, Nona. Kebetulan saya merasa haus. Makanya kemari. Setelah itu baru lanjut lagi," papar pria bertubuh pendek itu.
"Baiklah, kalau begitu saya tunggu di ruangan, ya? Atau kirim lewat email saja. Saya akan memeriksanya. Supaya pembangunan kantor cabang dipercepat." Lihatlah Yumi yang profesional.
Seharusnya Fabian belajar dari jandanya itu. Meski sedang berjibaku dengan urusan pribadi, tetapi ia masih sanggup menunjukan sikap objektif.
"Baik, Nona."
"Ayo kita pergi, kebetulan aku sudah selesai."
Yumi dan David keluar dari ruangan itu secara bersama-sama.
"Oh iya, Nona. Apakah Tuan Fabian salah makan, ya? Kok mukanya mirip singa? menyeramkan," bisik David setelah menjauh dari Fabian.
"Hus, jangan kenceng-kenceng. Nanti dia dengar, apa kau mau dipecat dari kantor ini?" balas Yumi, berbisik balik.
"Tidak, Nona."
__ADS_1
"Tapi kau benar juga sih. Wajah Tuan Fabian mirip singa. Haha." Yumi dan David tertawa bersama setelah mencela CEO mereka itu.