
Waktu telah menunjukan pukul sepuluh, saatnya bertemu klien.
Di ruangannya, Yumi menunggu panggilan Fabian. Namun, setengah jam menunggu, pria itu tak kunjung datang.
Yumi melirik ke ruangan Fabian, tetapi ia tak menemukan pria itu di sana. Sejenak Yumi mengabaikan keberadaan mantan suaminya itu. Namun, makin kesana, perasaan Yumi kian tak tenang.
Betapa tidak, sudah satu jam lebih Yumi menanti guna menemui klien. Namun, Fabian tak juga memberi kabar.
Entah apa yang terjadi pada pria tersebut. "Kemana perginya Fabian? Apakah dia pergi menemui klien sendirian? Tapi tidak mungkin," gumam Yumi.
"Erika, apakah kau melihat Fabian?" Karena merasa khawatir, Yumi pun menghubungi Erika. Namun, rupanya wanita itu tidak melihat Fabian usai mengantar makanan beberapa waktu lalu.
"Kemana perginya pria itu? Apakah dia--" Kali ini Yumi memiliki firasat yang kurang baik. Dia pun mencari mantan suaminya itu ke dalam ruangan.
"Pak Fabian?" panggilnya.
Yumi mencari Fabian ke seluruh ruangan. Namun, ia tak menemukannya. Di ruangan itu ada terbagi tiga, dan ketiganya Fabian tidak ada di sana.
"Dimana dia?" Yumi semakin cemas. Dia pun mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Fabian, tetapi suara dering ponsel tersebut sangat kentara. Namun, anehnya Yumi tidak melihat siapapun di sana.
"Fabian, apa kau di sana?" Langkah demi langkah Yumi menghampiri ke sumber suara.
Seperti mengendap-endap, Yumi melirik kiri dan kanan.
Anehnya, suara itu terdengar dari balik tembok ruangan Fabian. Namun, Yumi tak menemukan pintu di sana.
"Fabian, jawab aku! Apa kau di dalam?" Sekali lagi Yumi memanggil mantan suaminya itu. Namun, untuk yang kesekian kalinya pula Fabian tidak menjawab.
Hal itu semakin membuat Yumi ketakutan. "Fabian, tolong jawab aku!" Suara Yumi mulai meninggi. Satu tetes air mata jatuh di pipinya. Dia semakin takut.
Tak lama lemari pada belakang kursi sofa terbuka, hingga menunjukkan Fabian yang setengah berdiri.
Yumi tidak pernah tahu, bahwa masih ada ruangan lain di balik lemari. Ruangan itu terlihat sangat privasi. Seperti sengaja dirahasiakan.
Di dalam ruangan itu ada satu tempat tidur, nakas, meja, dua kursi sofa minimalis, serta lemari. Ada juga kamar mandi di sana.
Namun, bukan itu yang menjadi poin pentingnya, melainkan kondisi Fabian yang memprihatinkan.
Wajah Fabian memerah. Seperti tengah menahan sakit, pria itu memegang perut. Ada juga keringat di dahi.
"Fabian, apa yang terjadi? Apa kau sakit?" Yumi memapah tubuh Fabian yang nyaris jatuh ke lantai.
Tubuhnya semakin melemah. "Kau demam?" Yumi menyentuh dahi pria itu, rupanya dia benar-benar sedang sakit.
__ADS_1
Kemudian Yumi membawa Fabian di atas ranjang, lantas mencari kotak obat di dalam nakas.
Meski tak pernah masuk ke dalam ruangan itu sebelumnya, tetapi Yumi yakin, bahwa Fabian menyediakan obat-obatan di sana.
"Minumlah obat ini, kau akan baik-baik saja." Dengan penuh perhatian, Yumi memberi Fabian obat demam.
Rasa perikemanusiaan telah memenuhi hati Yumi, sehingga ia melupakan sakit hatinya.
Dia merawat Fabian seperti sepuluh tahun lalu. Sampai akhirnya Yumi tertidur di sisi Fabian.
Setelah lama tertidur, Fabian pun sadar dan membuka mata. Dia merasa jauh lebih baik.
Dia tidak terkejut saat melihat Yumi berada di sisinya. Pria itu pun tersenyum tipis, lantas memindahkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Yumi.
Memori Fabian kembali ke masa lalu, saat ia melihat Yumi yang masih sangat polos dan manis.
Kala itu diam-diam Yumi memandang Fabian saat memberi materi.
Sepuluh tahun lalu penampilan Yumi terlihat cupu. Dia mengenakan kacamata rabun, serta rambut yang dikuncir kuda.
Kini penampilannya telah berubah. Yumi terlihat lebih cantik dan segar. Entah sejak kapan ia memutuskan untuk mengubah penampilannya.
Dahulu Yumi nyaris tak menggunakan riasan, bahkan bibirnya terlihat lebih natural.
Ba' bidadari yang baru lahir, Yumi berubah drastis. Bahkan Fabian nyaris tak mengenali mantan istrinya itu saat pertama kali bertemu.
Yumi membuka mata setelah beberapa jam tertidur pulas.
Menyadari Yumi bangun, Fabian pun berpura-pura tidur.
"Apakah dia masih demam?" gumam Yumi sembari menyentuh dahi Fabian.
"Syukurlah demamnya sudah turun," imbuh wanita itu.
Mata Yumi tertuju pada bibir Fabian yang merona, hingga tanpa sadar ia menelan salivanya. Seperti ada sedikit sengatan di dalam sana, Yumi merasa kepanasan.
Tanpa sadar tangan Yumi menyentuh pipi Fabian. Namun, sedetik kemudian kesadarannya mulai kembali, bahwa pria itu bukan lagi suaminya.
Yumi hendak beranjak pergi, tetapi tiba-tiba Fabian menarik tangan wanita itu, hingga terjatuh di atas tubuhnya.
Sontak Yumi terkejut, sedangkan tangan Fabian melingkar sempurnah di pinggangnya.
Mereka saling menatap satu sama lain. Tatapan itu sangat dalam, hingga tanpa sadar Fabian memajukan wajahnya, seperti hendak mencium Yumi.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Namun, kesadaran Yumi telah kembali. Ia melepas tangan mantan suaminya itu dari pinggang, lantas berdiri dan membenahi pakaiannya.
Yumi salah tingkah, sedangkan Fabian mendengus sebal, tetapi berpura-pura kesakitan.
"Aakk..." Sengaja Fabian menunjukan ekspresi kesakitan demi menarik perhatian Yumi. Fabian hendak memastikan perasaan Sang mantan istri. Apakah dia masih peduli padanya, atau justru membencinya.
"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Dan benar saja, Yumi masih peduli padanya.
Menyadari ada sesuatu yang salah, dimana Fabian sengaja menarik perhatiannya, Yumi pun berdiri dengan perasaan kesal.
"Apa kau sengaja melakukan ini?" ucap Yumi sembari memalingkan wajah.
"Mengapa aku harus sengaja? Bukankah kau lihat sendiri tadi aku kesakitan?" sahut Fabian.
"Tadi kau memang kesakitan, tapi tidak dengan sekarang. Kau hanya pura-pura sakit, kan?" tandas Yumi tak mau kalah.
"Memangnya mengapa kalau aku hanya bersandiwara? Bukankah kau masih peduli padaku? Buktinya kau ada di sini bersamaku. Kau merawatku dengan sangat baik."
Dengan penuh percaya diri, Fabian menerka isi hati Yumi.
"Sayangnya kau salah besar Tuan Fabian Abdullah. Aku di sini bukan karena peduli padamu, tapi karena aku masih memiliki hati nurani. Aku tidak seperti seseorang yang tega menelantarkan sesama. Apa lagi dalam keadaan sakit. Jadi, kau jangan terlalu percaya diri!"
Seakan hendak mematahkan paradigma Sang mantan, Yumi memberi penekanan mutlak. Mimiknya pun menunjukan kesungguhan.
Seketika hati Fabian tercubit. Seperti terjadi sesuatu yang aneh di dalam sana. Rasanya sungguh tak nyaman.
"Dan satu lagi, kita telah melewatkan pertemuan bersama klien karena sandiwara ini, Tuan Fabian Abdullah," imbuh Yumi penuh penekanan.
Sengaja Yumi menekan kata 'sandiwara' untuk menyindiri Fabian.
"Dia benar-benar membuatku tak berkutik." Dan benar saja, Yumi berhasil menjatuhkan mental pria itu.
"Ehem." Kata-kata Yumi itu sukses Membuat Fabian tak berkata-kata lagi. Dia hanya bisa berdehem, guna menetralkan perasaan.
"Minumlah air di atas nakas itu. Jika merasa lebih baik, silahkan bergegas. Kita akan menemui klien setengah jam lagi." Kali ini sikap Yumi sangat dingin.
"Bertemu klien? bukankah kau baru saja mengatakan, bahwa kita telah melewatkan pertemuan itu?" tanya Fabian dengan kening berkerut.
"Tadinya begitu, tapi aku pikir klien ini sangat penting bagi perusahaan kita, jadi aku menghubunginya dan meminta waktu," jelas Yumi.
"Baiklah, jika kau sudah merasa lebih baik. Maka aku permisi." Tanpa menunggu jawaban Fabian, Yumi keluar dari ruangan itu.
"Kau telah banyak berubah," gumam Fabian sembari tersenyum kagum.
__ADS_1