
Kondisi kesehatan Kenzo semakin membaik pasca pulang ke rumah. Ditambah lagi ada Yumi bersama mereka, seolah meningkatkan sistem imun Anak tersebut.
"Aku ingin bicara denganmu." Usai mengurus Putra Sang mantan, Yumi meminta Fabian untuk bicara empat mata.
Sedangkan Abdullah belum lama ini harus pulang ke rumah pribadinya.
"Katakan," titah Fabian setelah mereka berada di balkon ruang tengah.
Balkon itu jaraknya cukup jauh dari kamar Kenzo, hingga mustahil untuk Anak itu menguping percakapan mereka.
"Apa kau sudah memberitahu Ibu kandung Kenzo soal kondisinya?" Fabian pikir Yumi ingin membahas masalah di antara mereka. Terlebih lagi lelaki dengan kemeja putih itu telah mengungkap perasaan yang sebenarnya terhadap dirinya.
Sayangnya, Yumi seolah tidak tertarik untuk mengungkit ihwal hubungan itu. Dia lebih tertarik untuk membahas Ibu kandung Kenzo.
"Aku tidak mau memberitahu dia," jawab Fabian tegas, setelah beberapa saat diam.
"Apa kau punya alasan untuk ini? Bukankah dia berhak tahu tentang kondisi Putranya?"
Fabian mulai gugup sekaligus cemas. Yumi mempertanyakan keberadaan Ibu kandung Anak itu. Sedangkan selama ini mereka tak pernah membahasnya secara spesifik.
"Mengapa? Apa memang kau tidak berencana untuk memberitahu dia?" Lagi-lagi Yumi mendesak Fabian, agar Ibu kandung Kenzo datang menemui Putranya.
"Aku bilang tidak ya tidak! Mengapa kau memaksa?" Fabian mulai meninggikan suara.
"Fabian, kau tidak boleh egois. Apa kau tidak bisa melihat kondisi Kenzo yang sangat merindukan Ibunya? Tidakah kau lihat dia sangat membutuhkan kasih sayangnya?" balas Yumi, meninggikan suara juga.
"Lihat aku!" Fabian memalingkan wajah, tak ingin menatap mata Yumi, seolah tengah menyembunyikan sesuatu yang penting.
"Fabian, apa kau tetap dengan pendirianmu? Tidak bisakah kau menurunkan sedikit egomu demi Putramu sendiri? Setidaknya pikirkan perasaan Anak itu," imbuh wanita itu.
"Bukankah masih ada kamu? Kau bisa menjadi Ibunya." Entah datang dari mana pemikiran sempit itu. Sehingga Fabian mengutarakan dengan gampang, seolah tanpa beban.
"Tapi aku bukan Ibu kandungnya, Fabian. Aku hanya seorang wanita asing yang berusaha untuk berperan sebagai Ibunya. Tapi apakah itu akan mengubah fakta, bahwa aku bukanlah siapa-siapa?"
__ADS_1
"Dengar Fabian, jika kau tidak ingin bertemu mantan istrimu yang lain, setidaknya lakukan untuk Putramu. Jangan persulit keadaan!" sambungnya.
"Aku tidak tahu keberadaannya di mana," ujar Fabian.
"Tapi kau masih mempunyai nomor ponselnya, kan?"
"Tidak!"
"Fabian..."
"Yumi, tidak bisakah kita lupakan tentang Ibu kandung Kenzo, em? Aku tidak ingin membahasnya." Kini suara Fabian mulai bergetar, seolah tengah menahan tangis.
Entah apa yang sedang dipendam oleh pria berwajah tampan tersebut. Hatinya seperti terasa ngilu.
"Mungkin kau bisa melupakan mantan istrimu, tapi tidak dengan Kenzo. Seorang Anak tidak akan melupakan Ibu kandungnya."
"Karena Kenzo bukan Putra kandungku!" Akhirnya Fabian mengungkap rahasia yang selama delapan tahun ditutup rapat-rapat.
Selama delapan tahun terakhir tak pernah sekalipun Fabian menyinggung ihwal latar belakang Putranya itu.
Kenzo ibarat rembulan di malam hari yang menemani tiap titik langkah kehidupan Fabian, serta bagai mentari di siang hari.
Kenzo adalah segalanya bagi pria itu. Dia rela melawan dunia demi mempertahankan bocah berambut jabrik tersebut.
"Apa?" Yumi tercengang kala itu. Masih belum mampu mencerna ucapan mantan suaminya.
"Tunggu, Kenzo bukan Putramu? Lalu Putra siapa? Bukankah kau telah menikah setelah kita bercerai?" Fabian dicerca berbagai macam pertanyaan oleh Janda itu.
"Aku juga tidak tahu siapa Ibu kandungnya. Saat itu aku sedang bekerja. Mendadak aku mendengar tangisan bayi di depan pintu ruang tamu. Ironisnya saat itu sedang hujan lebat. Entah siapa yang begitu tega meletakan bayi tak berdosa itu tengah malam. Bahkan masih ada bercak darah di kulit Anak malang itu," ungkap Fabian panjang lebar.
"Apakah dia tidak meninggalkan sesuatu saat itu? Misalnya sepucuk surat atau perhiasan?"
"Sayangnya tidak. Bayi merah itu hanya terbungkus kain putih usang. Bisa bayangkan betapa menyedihkan kondisi Kenzo saat itu? Dan karena kejadian itu lah dia terkena penyakit hepatitis B. Beruntung aku cepat membawanya ke rumah sakit. Aku sudah berusaha untuk mencari tahu siapa wanita hamil di sekitar sini, tapi hasilnya nihil. Aku tidak menemukan jejak apapun. Setelah itu aku memutuskan untuk mengadopsi Kenzo dan memberinya namaku. Mulai saat itu aku berjanji tak akan pernah mencari Ibunya atau menyinggung ihwal asal usulnya. Biarkan kami hidup berdua. Tidak masalah bila orang menyebutku duda beranak, asal Kenzo tetap aman.
__ADS_1
Namun, siapa sangka. Melalui dirimu dia menemukan sosok Ibu. Mungkin selama ini Kenzo memendam perasaan terkait siapa Ibu kandungnya."
Dari cerita pria itu, hati Yumi luluh. Rupanya selama ini Fabian telah menanggung beban yang cukup besar.
Dia bahkan rela menjadi orang tua tunggal bagi Anak yang tidak diketahui asal usulnya.
Susah senang pun mereka tetap bersama. Fabian tidak membutuhkan siapapun lagi. Sampai akhirnya dia bertemu Yumi kembali.
Memang masuknya ia ke perusahaan Ibunya adalah karena Yumi. Dia ingin menikahi wanita itu kembali. Akan tetapi, Fabian tidak pernah berpikir untuk menjadikan Yumi sebagai Ibu pengganti bagi Kenzo.
Baginya Kenzo adalah anugerah yang dikirim Tuhan secara langsung untuknya. Sedangkan Yumi adalah tambatan hati yang dipilih Tuhan untuk menjadi pendampingnya.
"Jadi, selama ini kau tidak pernah menikah?" tanya Yumi akhirnya, setelah mendengar pengakuan Fabian.
"Apa kau pikir menikahi wanita sangat mudah? Mungkin selama ini kau merasa, bahwa aku telah mempermainkanmu, tapi tak pernah sedikitpun terlintas dalam benaku akan hal itu," jelas Fabian.
"Maafkan aku, Fabian. Aku mengira kau telah mengkhianatiku selama kita menikah, hingga menghasilkan seorang Putra. Rupanya Kenzo adalah Anak yang kau selamatkan. Aku benar-benar salah menilaimu." Yumi hanya bisa membatin dalam mengungkap penyesalannya.
"Sekarang kau sudah tahu yang sebenarnya tentang Kenzo. Jadi, apakah kau masih menganggapku sebagai pria brengsek? Dan bersediakah kau menikah denganku lagi?" Sepertinya Fabian tidak ingin ketinggalan momen, dimana dia berkesempatan untuk meminta Yumi kembali.
"Apaan sih? Mulai lagi deh." Sayangnya Yumi menganggap ungkapan Fabian barusan hanyalah sekedar gurauan semata. padahal sejujurnya ia bersungguh-sungguh.
"Yumi--"
"Aku ke kamar dulu, Kenzo pasti sedang membutuhkan sesuatu."
Sepertinya Yumi sengaja menghindari Fabian. Tak ingin membahas topik yang sukses membuatnya malu.
"Yumi, aku belum selesai bicara. Kau mau kemana, em?" Akan tetapi, pria itu mencegahnya.
Fabian menarik tangan Yumi hingga mengunci tubuhnya. Alhasil wanita itu tak bisa kemana-mana.
"Fabian, apa yang kau lakukan? Bagaimana jika Kenzo melihat kita?" bisik Yumi mulai merasa malu sekaligus takut.
__ADS_1
"Mengapa? Apa kau takut, em?" Fabian semakin mendekatkan wajah, guna menggoda wanita tersebut.
"Ayah!" Kenzo.