Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Sandiwara Fabian


__ADS_3

Dua anak manusia beda generasi itu kini telah sampai tujuan.


Ada perasaan aneh begitu kaki Yumi melangkah ke apartemen Fabian.


Apartemen itu dulu ia tempati bersamanya. Di tempat itu dulu ia menghabiskan waktu seorang diri ketika Fabian mengajar.


Kaki Yumi terasa kaku untuk melangkah ke dalam lift.


"Apa yang sedang kau pikirkan? ayo masuk." Kenzo memecah lamunan Yumi yang terpaku pada masa lalunya.


"Iya," sahut Yumi seadanya.


Mereka telah berada di dalam lift. Samar-samar Yumi mengingat momen ketika ia membuang sampah, dan menemukan beberapa lembar kertas putih berisi gambar seorang wanita.


Wanita itu terlihat familiar, seperti berasal dari masa lalu Fabian.


"Jadi, aku harus memanggilmu, apa?" Lagi-lagi suara Kenzo membuyar lamunan wanita itu.


"Ha?"


"Kita sudah sampai," ucap Kenzo.


Tanpa sadar Yumi menekan kode pintu apartemen Fabian. Sehingga membuat Kenzo bertanya-tanya. "Jika kau bukan Ibuku, lantas mengapa kau tahu kode pintu rumah kami?"


Kali ini Yumi tak dapat berkata-kata, bocah itu mencercanya dengan pertanyaan yang sangat sulit.


Sejujurnya saat ini Fabian seolah membawanya pada peristiwa silam yang begitu menyakitkan. Terlebih lagi ada Anak yang tiba-tiba muncul.


Yumi tidak menjawab pertanyaan Kenzo, matanya mengitari apartemen Fabian. Seluruhnya masih tetap sama. Lemari, meja, kursi, dan lainnya, tak ada yang berubah.


Anehnya, potret pernikahan mereka sepuluh tahun lalu masih terpampang nyata di ruang tengah.


Yumi dapat melihat dengan jelas potret tersebut lewat partisi ruang tamu.


"Dan potret wanita itu, bukankah persis dirimu?" Untuk kesekian kalinya, Kenzo membuat Yumi tercengang. Dia terlalu cerewet, tetapi mengungkap beberapa fakta mengenai Fabian.


Yumi berpikir, apakah ia harus menjelaskan kepada Kenzo, bahwa ia adalah mantan istri dari Ayahnya. Namun, Yumi merasa ragu.


"Cepat mandi dan ganti baju. Aku akan membuat makanan untukmu." Sengaja Yumi mengalihkan pembicaraan, demi menghindari bocah tersebut.


Masih banyak yang ingin ia pertanyakan kepada Fabian. Terutama perihal Kenzo.


Kenzo adalah Anak yang patuh. Begitu Yumi berkata, dia pun seketika menurutinya.

__ADS_1


Lama tak berada di dapur Fabian, tangan Yumi mendadak kaku. Dia seperti enggan menyentuh tiap benda dalam rumah tersebut. Jika bukan karena Kenzo, dia tak akan kembali menginjakan kaki di sana.


Yumi membuka kulkas, dia tidak menemukan bahan makanan di dalamnya. Hanya mie instan dan beberapa butir telur.


"Aku harus masak apa? Yang ada hanya telur dan mie instan," gumam Yumi.


"Lalu selama ini dia memberi makan Putranya dengan mie instan?" imbuhnya.


Merasa kesal, Yumi pun membuka lemari dan menemukan roti. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk membuat roti serta telur goreng untuk Kenzo.


"Kau sudah datang? Ayo makan dulu. Aku tak menemukan apapun di dalam kulkas. Hanya ini yang bisa dimakan," ucap Yumi begitu Kenzo menghampirinya.


"Tidak masalah. Bahkan Ayah sering memberiku mie instan."


Bersamaan dengan itu, Fabian pun datang. Wajahnya terlihat letih. Dia meletakan tas di atas kursi. Lantas membuka jas serta melemparnya ke sembarang tempat.


Kebiasaan lama Fabian rupanya masih belum hilang.


"Haha." Suara tawa Kenzo membawa Fabian ke dapur.


"Kalian sedang apa?" Pura-pura Fabian mengajukan pertanyaan kepada Yumi dan Kenzo. Padahal dalam hati ia mengagumi penampilan mantan istrinya tersebut.


Untuk pertama kalinya Fabian menyaksikan Yumi bagai Bidadari. Dahulu wanita itu benar-benar cupu. Akan tetapi, Fabian tak pernah malu memilikinya. Mereka menikah karena cinta, bukan karena terpaksa. Meski Fabian menganggap pelampiasan semata.


"Apa kau sudah makan?" tanya Fabian sembari mengusap pipi Putranya.


"Iya, aku sudah makan."


"Baiklah, kalau begitu waktunya tidur."


Kemudian Kenzo berlari menuju kamarnya. Bocah itu cukup patuh, tanpa berkata-kata lagi, dia pun berlalu pergi.


"Karena kau sudah datang, sepertinya aku harus segera pulang," ucap Yumi dengan nada dingin.


"Aakk!"


"Apa yang terjadi? Apa kepalamu sakit?" Wanita itu bergerak cepat tatkala menyaksikan Fabian kesakitan. Namun, sejujurnya Pria itu hanya bersandiwara.


Ya, Fabian tidak benar-benar sakit. Dia hanya ingin menahan mantan istrinya itu agar tetap berada di sisinya untuk beberapa waktu.


"Sepertinya magh-ku kambuh." Kali ini akting Fabian sungguh terlihat nyata. Dia memegang perut dan kepalanya dalam waktu bersamaan.


Raut wajahnya pun tidak mencurigakan sama sekali, hingga sukses membuat Yumi tertipu.

__ADS_1


"Apa kau melewatkan makan siang?" tanya Yumi seraya memapah Fabian ke kursi makan.


"Aku mana ada waktu."


"Lalu mengapa kau tidak menyediakan bahan makanan di rumah ini? Apa setiap hari kau hanya makan mie instan bersama Putramu? Apakah kau memenuhi nutrisi Anak itu? Kau benar-benar Ayah yang payah," omel Yumi.


Alih-alih tersinggung, Fabian justru terpukau oleh kata-kata Yumi. Dia memang marah, tetapi kemarahan itu tidak lain adalah karena ia menyayanginya.


"Apa kau mau masak untuku?" Sepertinya inilah tujuan Fabian, yakni menikmati masakan Yumi yang telah lama ia rindukan.


"Bukankah hanya ada mie instan di rumah ini? Apa kau ingin memakan itu lagi? Bagaimana mau sembuh, jika kau mengkonsumsi makanan cepat saji setiap hari." Lagi-lagi Yumi tidak menyadari sikapnya itu. Sehingga Fabian semakin mendalami perannya.


"Kalau begitu aku akan memesan sesuatu yang bisa kau masak. Aku benar-benar lapar," ucap Fabian, masih dengan aktingnya.


"Pesan makanan saja, aku sedang tidak ingin masak," sahut Yumi.


"Apa kau ingin aku semakin sakit? Kita tidak pernah tahu apa yang dimasukan ke dalam makanan itu. Sebaiknya aku pesan makanan mentah saja, kau yang akan mengolahnya."


Inilah tujuan Fabian sebenarnya, menyaksikan Yumi masak di dapur seperti dulu, lantas menikmatinya.


Hati kecil Fabian tidak bisa berbohong, bahwa ia sangat merindukan momen itu. Namun, apalah daya, dia telah melepas Yumi delapan tahun lalu.


Tanpa menunggu jawaban Yumi, Fabian memesan bahan makanan untuk dimasak oleh mantan istrinya itu.


Sepuluh menit kemudian, pesanan Fabian pun datang. "Aku ingin makan semur daging." Seperti biasa, Fabian menyukai menu tersebut.


"Tapi itu proses masaknya cukup lama. Apa kau tidak keberatan? Bukankah penyakitmu sedang kambuh?" protes Yumi.


Nyaris ketahuan, Fabian kembali bersandiwara.


"Apa kau tidak suka aku baik-baik saja? Kau lebih senang jika aku kesakitan?" Akal bulus Fabian memang sukses membungkam Yumi.


Wanita itu tak berkutik. Lantas ia pun hanya bisa pasrah. "Baiklah."


Mendengar itu, dalam hati Fabian tersenyum puas. Akhirnya malam itu ia berhasil menikmati masakan Yumi untuk pertama kali setelah sekian lama berpisah.


Sepertinya Fabian menemukan alasan baru untuk membuat Yumi tetap berada di sisinya, yaitu Kenzo.


Fabian akan memanfaatkan Anak itu demi menarik perhatian Sang mantan istri. Buktinya ide hari ini cukup berhasil.


Pertama, ia berhasil membatalkan kencan buta Yumi. Lalu menikmati masakan wanita tersebut. Belum lagi Yumi terlihat sangat cantik dan manis malam itu.


Gaun yang ia kenakan sungguh mempesona. Dalam hati Fabian membulatkan tekad, bahwa ia akan membuat Yumi kembali padanya, meski tak akan mudah.

__ADS_1


__ADS_2