Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Siapa yang Pantas Untuku?


__ADS_3

"Kau sengaja memilih hari ini untuk meninjau lokasi, bukan?" Kini Yumi dan Fabian tengah berada dalam perjalanan menuju lokasi pembangunan cabang perusahaan.


Waktunya tidak sesuai dengan perjanjian. Sedangkan menurut Fabian hari minggu adalah waktu yang tepat. Dia bisa melampaui dua pulau dengan satu perahu.


"Bukankah menikmati pemandangan di hari minggu sangat menakjubkan? Aku tahu kau juga butuh hiburan," jawab Fabian dengan entengnya.


"Aku memang butuh hiburan, tapi bukan dengan kau, Tuan Fabian yang terhormat." Yumi memelototi mantan suaminya itu, seakan hendak menelan mentah-mentah.


Betapa tidak, Fabian selalu saja menemukan cara untuk menggodanya.


pertama, pria itu mengubah jadwal sesuka hati tanpa meminta persetujuan Yumi.


Kedua, dia selalu menggunakan kata-kata impulsif ketika bersama.


Dan yang terbaru lelaki dengan kaos hitam itu mengerlingkan sebelah matanya.


Namun, alih-alih tersanjung, Yumi justru berdecak sebal.


"Dasar pria aneh!" seru Yumi.


"Aneh, tapi kau suka kan?" Lihatlah, betapa jahilnya Fabian. Meski tahu Yumi sedang kesal, dia tetap menggodanya.


Tidak peduli bagaimana suasana hati jandanya itu.


"Sebaiknya kau fokus menyetir. Jangan banyak bicara. Aku mau tidur!" Yumi tak ingin berdebat lagi. Sudah cukup kepalanya sakit dengan segala perbuatan Sang mantan.


Ditambah lagi drama Emak-emak di pagi hari saat menyaksikan mereka pergi bersama. Sungguh nasib yang sial.


"Bukankah tadi kau yang mengajaku bicara?"


Ya, semula Fabian tidak mengatakan apa-apa. Namun, karena penasaran sekaligus kesal, akhirnya Yumi mengajukan pertanyaan, tapi siapa sangka bila pertanyaan itu justru menimbulkan pertikaian di antara mereka.


Yumi sengaja menyandarkan kepala pada bantal kursi, sedikit membelakangi Fabian.


Pandangannya fokus ke luar perjalanan. Mereka telah melewati area persawahan yang dipenuhi dengan anak padi.


Warnanya masih hijau muda, hingga Yumi berdecak kagum karenanya.

__ADS_1


Mata Yumi terus fokus pada pemandangan langkah itu, hingga membuatnya tertarik untuk menurunkan kaca mobil.


Tampaknya wanita itu ingin menghirup udara segar yang belum terkontaminasi dengan polusi.


Di tepi jalan tumbuh pepohonan yang rindang, sedangkan di kedua sisi jalan itu terdapat pegunungan.


"Apa kau suka dengan pemandangannya?" tanya Fabian setelah beberapa saat diam.


"Em," sahut Yumi seadanya sembari menutup mata karena menikmati udara.


"Kita bisa datang setiap minggu jika kau mau." Keinginan Fabian kali ini adalah mempersembahkan yang terbaik untuk Yumi.


Delapan tahun lalu ia terlambat menyadari segala yang diinginkan oleh wanita itu.


Kini pikirannya telah terbuka. Fabian tidak akan merasa ragu lagi.


"Tidak, terimakasih." Sayangnya Yumi masih berkeras hati.


Sesungguhnya wanita itu tengah menahan sesuatu yang bergejolak di dalam sana agar tak lepas kendali.


"Yumi, aku ingin bicara denganmu." Kali ini nada suara Fabian terdengar serius. Tidak seperti beberapa saat lalu.


"Bukan itu, maksudnya aku ingin bicara hal lain padamu," katanya.


"Aku tidak ingin mendengarkan apapun darimu. Sebaiknya tetap fokus pada perjalanan kita. Dengan begitu kita akan cepat sampai dan pekerjaan pun selesai. Aku ingin rehat sejenak. Aku benar-benar lelah." Wanita itu kembali menghadap luar jendela. Tak ingin meladeni Fabian.


Sedang lelaki itu sendiri hanya bisa pasrah. Mungkin memang belum saatnya mereka bicara dari hati ke hati.


"Delapan tahun lalu--"


"Aku bilang diam, Fabian. Diam!" Entah apa yang membuat Fabian mengungkit peristiwa delapan tahun lalu. Sehingga membuat Yumi marah.


Perempuan berambut lebat itu menaikan jari telunjuk ke arah mantan suaminya yang diiringi dengan tatapan tajam.


"Jangan pernah ungkit masalah delapan tahun lalu, atau kau tidak akan pernah melihatku lagi. Apa kau pikir mudah bertemu denganmu setiap hari? Menjadi seorang sekretaris mantan suami, bukanlah impianku, apa lagi menghadapi sikap kekanak-kanakanmu. Aku benar-benar tidak suka!" sarkas Yumi semakin tersulut emosi.


Fabian menepikan mobil. "Lalu, siapa yang kau suka? Apakah Keva? Pria mata keranjang itu?" tandas Fabian tak kalah emosional.

__ADS_1


"Jangan pernah samakan kau dan dia! Karena kalian berdua sangat jauh berbeda. Keva tidak sebanding denganmu, Tuan Fabian yang terhormat!"


Kemarahan Yumi kali ini sungguh tak terelakan. Fabian telah melampaui batas.


"Yumi, dengarkan aku. Pria itu tidak baik. Dia tidak pantas untukmu." Fabian mencoba untuk membuat Yumi mengerti, bahwa ada hal lain yang belum lama ini diketahui olehnya. Entah sumbernya dari mana. Namun, Fabian sungguh yakin.


"Lalu siapa yang pantas untuku? Apakah pria delapan tahun lalu yang menyia-nyiakan diriku? Apakah pria delapan tahun lalu yang menganggap pernikahan sebagai ajang pelampiasan? Apakah pria delapan tahun lalu yang bahkan tak pernah berusaha menahanku, apa lagi mencariku? Apakah dia orangnya?" lirih Yumi sembari meneteskan air mata.


Sayangnya cairan bening itu tak dapat dibendung lagi.


"Yumi, aku--" Fabian nyaris kehabisan kata. Dalam hati dia mengakui kesalahannya. Namun, bibir itu seakan kaku berucap.


"Sudahlah, Fabian. Jangan merusak suasana. Bukankah kita sedang bekerja? Maka perlakukan aku sebagaimana mestinya. Dengan begitu kita tetap profesional. Aku tidak ingin merusak segalanya." Yumi kembali pada mode emosional.


Hatinya teramat sakit karena Fabian. Tadinya dia hanya ingin menikmati perjalanan, tapi karena kesalahan kecil, maka segala yang dipandang menjadi buruk.


Ingin rasanya Yumi kembali pulang, tapi apalah daya. Perjalanan masih lumayan jauh. Mau berhenti di jalan itu pun percuma. Tidak akan ada kendaraan yang berlalu lalang. Bisa jadi Yumi akan menjadi santapan hewan buas.


"Maafkan aku." Fabian pun hanya bisa mengucap kata maaf, menyesali sikapnya hari itu.


Setelah perdebatan tadi, baik Fabian maupun Yumi, tak ada yang membuka kata. Hanya suara alunan musik yang menemani mereka.


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya sore hari mereka tiba di lokasi. Sudah mustahil untuk meninjau, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di hotel.


Rencananya besok pagi mereka akan melanjutkan peninjauan.


"Istirahat lah, setengah jam lagi kita makan malam," ucap Fabian setelah menemukan kamar masing-masing di hotel itu.


Kamar mereka bersebelahan. Sengaja Fabian memilih berdekatan, agar lebih mudah untuk mengetahui satu sama lain bila terjadi sesuatu.


"Kau makan lah sendiri, aku akan makan di kamar." Yumi masih marah, terbukti dari sikap dinginnya.


Dia bahkan enggan menatap mata mantan suaminya itu.


"Yumi--"


"Sampai ketemu besok pagi. Selamat malam." Yumi membuka pintu kamar, lantas menutupnya.

__ADS_1


Fabian hendak mencegah, tapi terlambat. Wanita itu sudah terlanjur mengunci pintu. Mau memanggil pun percuma, dia pasti tak akan membuka, apa lagi melayaninya.


"Yumi, sejujurnya perjalanan hari ini, selain untuk urusan pekerjaan, aku ingin mengutarakan isi hatiku padamu. Aku ingin meminta maaf padamu atas segala dosa sepuluh tahun lalu. Tapi mungkin kau masih butuh waktu untuk mendengarku," lirih Fabian masih berdiri di depan pintu.


__ADS_2