
Keberadaan Kenzo dalam hidup Fabian membuat Yumi sedikit terganggu sekaligus bertanya-tanya. Sebenarnya Anak siapa dia.
Selama hidup bersama pria itu, tak pernah sekalipun Yumi menaruh curiga. Fabian bukan tipe lelaki yang mudah berkhianat.
Putusnya jalinan asmara bersama Aprilia, karena wanita itu memilih untuk mengejar karir. Namun, belakangan diketahui, bahwa wanita itu justru pergi bersama lelaki lain.
Fabian adalah pria yang konsisten terhadap hubungan. Perceraian kala itu bukanlah keinginannya. Terlepas dari apa yang ia lakukan kepada Yumi.
"Apa yang kau pikirkan?" Erika datang dengan secangkir kopi di tangan.
Mereka sedang berada di belakang kantor. Di sana ada taman kecil yang biasa dijadikan tempat menenangkan diri.
"Apa kau tahu, Fabian memiliki seorang putra."
Nyaris saja Erika menyemburkan kopi ke wajah Yumi. Perkataan wanita itu sukses membuatnya terkejut.
"Apa? Putra? Apa dia sudah menikah lagi? Tapi bukankah statusnya di perusahaan ini adalah duda? Berapa usia Putranya? Dan siapa wanita itu?" Erika mencerca Yumi dengan segudang pertanyaan. Tanpa ia ketahui, bahwa Yumi juga masih bertanya-tanya.
"Entahlah, aku tidak tahu siapa wanita itu." Tatapan Yumi terlihat kosong. Seperti sedang menyimpan banyak pertanyaan di dalam kepala.
"Lalu, berapa usia Anak itu?"
"Delapan tahun."
Kali ini Erika berhasil menyembur kopi ke wajah Yumi.
Sialnya, kopi itu masih cukup panas. Alhasil wajah Yumi sedikit memerah bercampur coklat.
"Apa kau sudah gila? Kira-kira dong kalau mau terkejut. Kau jadi menyemburku dengan kopi!" omel Yumi seraya menyeka wajah cantiknya yang malang.
"Maafkan aku. Ini semua karena aku sangat terkejut. Lagi pula, kita tidak bisa mengatur ekspresi keterkejutan orang. Terkejut ya terkejut," Erika membela diri, meski ada sesal di hati.
"Masalahnya kopimu masih panas." Yumi masih menyeka wajahnya yang mulai mendingin.
"Lupakan perihal kopi, mari bahas soal mantan suamimu." Sengaja Erika mengalihkan pembicaraan, agar Yumi tak mempersoalkan kopi panas miliknya.
"Apakah dulu dia selingkuh di belakangmu? Atau dia pernah menikahi Aprilia? Mengapa usia Putranya seusia perceraian kalian? Aku jadi curiga, saat itu Fabian pasti selingkuh."
Praduga itu sukses menyita perhatian Yumi. Seolah kembali ke masa lalu yang menyakitkan.
Sejujurnya masalah Yumi dan Fabian telah berakhir delapan tahun silam. Namun, belakangan pria itu telah melibatkan dirinya bersama seorang bocah yang katanya adalah Putranya.
__ADS_1
Masalah ini bukan hanya terkait Kenzo, melainkan harga diri Yumi delapan tahun lalu.
Andai benar Fabian selingkuh, artinya Yumi benar-benar tak berarti apa-apa. Wanita itu bukanlah bagian dari hidup Fabian. Hanya tempat kembalinya tidur. Namun, untuk masuk ke dalam mimpi, Yumi bukanlah orangnya.
"Aku tidak yakin, karena setahuku mereka tidak pernah bertemu atau berkomunikasi. Setiap hari Fabian berada di kampus, dan aku tahu itu." Anehnya, meski kecewa Yumi masih tetap pada keyakinannya, bahwa Fabian tak pernah berkhianat.
"Apa kau pernah memeriksa ponselnya? Apa kau mengikuti pria itu selama dua puluh empat jam? Apa kau tahu siapa saja yang dia temui? Kau tidak tahu, kan? Lantas apa yang membuatmu begitu yakin, bahwa dia tidak berselingkuh? Atau jangan-jangan kau masih mencintai pria itu?"
Ketika Erika menebak perasaannya, Yumi memalingkan wajah. Seolah tak berani menunjukkan netranya kepada wanita tersebut.
"Sepertinya aku tidak salah tebak nih," goda Erika setelah menyadari sesuatu.
"Aku tidak mencintai Fabian. Aku hanya memikirkan Kenzo," sahut Yumi.
"Kenzo?"
"Putra Fabian."
Erika mengangguk paham. "Baiklah, lupakan masalah Fabian. Sekarang kau harus menemui Keva. Dia sudah menunggumu di restoran depan." Erika mengalihkan pembicaraan yang justru membuat Yumi kembali ke masa lalu.
Keva adalah satu-satunya cara mengalihkan perhatian wanita tersebut.
"Kau benar, sebaiknya aku menemui Keva. Aku ingin meminta maaf padanya soal kemarin. Lagi pula Kenzo bukanlah urusanku." Kali ini Yumi berubah pikiran.
Kemudian Yumi menemui Keva setelah waktu istirahat. Sempat mengajak Erika, tetapi wanita itu menolak dengan alasan tak ingin menjadi obat nyamuk.
"Hai." Yumi menghubungi Keva serta memberitahu, bahwa ia sedang berada di restoran tempatnya berada.
"Sudah lama?" tanya Yumi setelah mendaratkan tubuh ke kursi.
"Tidak juga, aku baru tiba sepuluh menit yang lalu."
Keva Aprianza adalah pria manis yang berprofesikan pengacara. Lelaki itu bertubuh tinggi, matanya sipit serta mengenakan kacamata.
Ada tahilala di pipinya. Sedangkan rambutnya sedikit kemerahan. Keva adalah pria turunan Jerman dan Korea. Ibunya berasal dari Korea Selatan, sedangkan Ayahnya berasal dari Jerman.
Keberadaannya di Indonesia adalah Keva mengikuti Sang Nenek yang merupakan Ibu dari Ayahnya.
"Apa kau sudah memesan makanan?" tanya Yumi.
"Aku menunggumu." Tutur kata Keva sangat lembut dan santun. Perangainya terlihat baik dan sopan.
__ADS_1
Terlebih lagi ia memiliki senyuman manis. Seolah menambah poin ketampanan pria tersebut.
Setelah beberapa menit bertukar kata, Keva dan Yumi pun memesan makanan.
Shabu-shabu menjadi pilihan menu makan siang mereka saat itu. Makanan khas negara Korea tersebut adalah salah satu menu andalan di restoran tersebut.
Sembari menunggu pesanan, Yumi dan Keva saling bertukar pikiran. Seolah ingin mengenal satu sama lain.
Dalam pertemuan itu, Keva telah jatuh hati. Bahkan saat pertama kali melihat potret Yumi melalui Ibunya.
Sementara menunggu pesanan, tiba-tiba Fabian datang menghampiri mereka.
Tadinya pria itu sedang berada di kantor. Namun, mendengar percakapan Erika dan Yumi beberapa waktu lalu, membuatnya penasaran akan sosok Keva.
Ia pun mengikuti mantan istrinya itu. Dan benar saja, Keva benar-benar ada. Bahkan Fabian menilai pria itu jauh lebih tampan darinya.
Merasa cemburu, akhirnya Fabian menghampiri keduanya. Tujuannya adalah untuk menggagalkan kencan mereka lagi dan lagi.
"Ehem!" Fabian berdehem seraya memasang wajah tak bersahabat.
"Fabian?" gumam Yumi.
"Hai." Tanpa menunggu perintah, Fabian duduk di sisi Yumi. Sehingga membuat wanita tersebut terkejut.
Fabian sangat percaya diri. Namun, masih dengan gaya arogannya.
Sedangkan Keva sedikit bingung pada situasi saat ini. Betapa tidak, mendadak Fabian hadir di antara mereka. Terlebih lagi wajah pria itu seolah tengah menantang dirinya.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Yumi kepada Fabian.
"Makan siang," sahut Fabian seolah tanpa beban.
Kemudian pesanan Yumi dan Keva telah datang setelah beberapa saat menunggu.
"Wah, menunya cukup lezat. Aku jadi semakin lapar. Ayo makan, tidak perlu malu-malu." Kali ini Fabian sungguh tidak tahu malu.
Seakan mengenyampingkan ego serta harga diri, pria itu mengejar Yumi seperti seseorang yang tengah dimabuk kepayang.
Yumi dan Keva pun dibuat terkejut pada sikap aneh Fabian. Dalam hati Yumi merasa sangat malu sekaligus marah. Sikap Fabian sungguh keterlaluan.
"Ayo, makan." Keva yang cukup pendiam, tidak mempersoalkan Fabian. Lagi pula mereka masih belum mengenal satu sama lain. Di sisi lain, masih ada Yumi di sana. Keva yakin, bahwa Fabian adalah teman kerjanya.
__ADS_1
"Fabian benar-benar keterlaluan. Dia pikir aku memesan makanan untuknya. Dasar pria rakus!" Kini Yumi hanya bisa membatin memaki Fabian.