Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Maukah Kau Kembali Padaku?


__ADS_3

Kali ini bukan kecupan singkat, melainkan ciuman mesra.


Tampaknya Yumi benar-benar goyah. Cinta yang dulu dikubur dalam-dalam, akhirnya lahir kembali.


Kini mereka tak dapat menahan diri. Masing-masing saling mengakui perasaan.


Delapan tahun sudah mereka terpisahkan, dan delapan tahun sudah Fabian merindukan mangan istrinya itu.


Selama itu pula Fabian melewati hari-harinya dengan hampa. Seperti ada ruang kosong dalam dirinya.


Meski dalam suasana ramai, tetapi hati Fabian terasa sunyi. Pandangannya kerap kosong. Di ujung mata hanya ada wajah Yumi seorang.


Ironisnya, pria itu tak berani menghubungi Yumi pasca berpisah. Dia hanya mampu menatap nanar layar ponselnya.


Kini Tuhan telah menakdirkan mereka untuk kembali berjumpa.


"Aku mencintaimu, maukah kau kembali padaku?" tanya Fabian pasca ciuman itu.


Yumi diam, nyaris menitikan air mata. Ini lah yang selama ini ditunggunya, pengakuan cinta Fabian.


Sepuluh tahun lalu, pria itu tak pernah sekalipun menyatakan cinta padanya. Kendati telah berumah tangga.


Hanya Yumi lah yang kerap mengungkap perasaan. Sedangkan Fabian teguh dalam kediaman.


Setelah mereka berpisah, barulah cinta itu ada.


"Hei, mengapa kau menangis? Apa aku menyakitimu? Bagian mana yang sakit?" tanya Fabian mulai panik.


"Tidak, kau tidak menyakitiku," lirih Yumi sembari menahan tangis.


"Lalu mengapa kau menangis? beritahu aku."


"Aku hanya bahagia. Akhirnya kau mencintaiku." Setelah mendengar itu, sontak hati Fabian merasa tercubit.


Dia menyesal telah menyakiti Yumi. Dahulu Fabian tidak pernah bisa membaca perasaannya terhadap Yumi. Dia tidak membenci wanita itu, tapi tidak juga mencintainya.


Entah apa mau pria itu. Ketika berada di sisi Yumi, Fabian merasa tertekan. Seperti ada tekanan batin yang menindih dadanya.


Namun, saat ia tidak ada, Fabian merindukannya.


"Maafkan aku, dulu aku terlalu banyak menyakitimu. Sikapku terlalu kekanak-kanakan sampai akhirnya membuatmu terluka. Sepatutnya perbuatanku di masa lalu tidak termaafkan. Namun, aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain. Aku benar-benar tak anggup, Yumi. Rasanya dada ini hendak meledak. Itulah sebabnya aku menggunakan segala macam cara agar kau kembali padaku. Tolong maafkan aku."


Masih belum terlambat. Fabian mengungkap penyesalannya itu setulus hati sembari menunduk.


Air matanya nyaris tumpah. "Aku tahu, dan aku sudah tidak marah lagi padamu," sahut Yumi bersungguh-sungguh.


"Benarkah? Jadi, apakah kau bersedia menikah denganku lagi?" Mata Fabian berbinar penuh harap.

__ADS_1


"Hm, aku bersedia kembali padamu. Tapi..."


Untuk sepersekian detik kedua sudut bibir Fabian tertarik, membentuk senyuman bahagia. Namun, dalam sekejab sirna. Sebab, Yumi seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Dia masih belum bersedia untuk menikahinya.


"Tapi?"


"Tapi aku masih belum bisa menikahimu. Maksudku adalah kita baru saja kembali bersama. Ada banyak hal yang harus kita benahi, terutama kedua orang tuaku. Apa kata mereka jika tiba-tiba saja kita memutuskan untuk menikah. Pasti Mama akan berkata, bahwa kita terlalu terburu-buru seperti sepuluh tahun lalu.


Pun orang-orang di kantor. Apa kata mereka jika tahu hubungan kita. Mereka pasti akan bergosip yang tidak-tidak. Dan Keva..."


Sejenak Yumi terdiam saat menyebut nama pria itu.


"Dan Keva?" tanya Fabian penasaran.


"Dan Keva, dia juga harus tahu tentang kita. Aku tidak ingin membuatnya menunggu sesuatu yang mustahil. Keva sangat baik, aku tidak ingin menyakitinya," ungkap Yumi akhirnya.


"Lalu kapan kau akan memberitahu pria itu?"


"Aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengannya. Walau bagaimanapun juga dia cukup dekat dengan Mama. Hubungan mereka cukup baik, dan aku tidak ingin merusaknya. Aku harap kau mau mengerti," jelasnya.


Fabian memeluk hangat wanita itu seraya berkata, "Tidak masalah. Dengan kau kembali padaku sudah sangat membuatku bahagia. Terimakasih."


"Dan orang-orang kantor..." Yumi menunduk, suaranya bergetar, seolah merasa tertekan begitu mengingat rekan kerjanya.


"Kau tenang saja. Aku pasti akan memberitahu mereka besok." Fabian telah memutuskan untuk mengumumkan hubungan mereka.


"Mengapa?"


"Tidak ada alasan khusus untuk ini. Hanya saja aku masih belum siap untuk memberitahu mereka tentang kita. Tidak apa-apa, kan?" papar wanita berbulu mata lentik itu.


"Baiklah, tidak masalah. Aku akan menunggu sampai kau siap."


Hari itu menjadi momen yang paling membahagiakan bagi Yumi dan Fabian.


Dua insan yang saling mencintai itu akhirnya kembali bersama setelah sekian lama memendam rasa.


Terutama Yumi, wanita itu tak kalah bahagianya. Telah lama ia menanti pengakuan cinta Fabian.


Dan untuk mendengar tiga kata itu, Yumi harus menunggu selama bertahun-tahun. Entah terbuat dari apa hati wanita itu sampai rela menunggunya.


Padahal masih banyak pria lain di luar sana yang menginginkan dirinya. Salah satunya Keva.


Berbicara tentang Keva, saat ini pria itu tengah mengunjungi rumah Yumi. Dia telah merindukannya setelah berhari-hari tak bersua.


"Om Gautam," sapa pria itu.


Gautam tengah duduk di teras rumah sembari membaca koran seperti biasa.

__ADS_1


Media sosial jaman dulu itu telah menjadi teman sehari-hari pria berkacamata tersebut.


"Eh, Keva. Ayo duduk." Sembari menutup lembaran koran, dengan ramah Gautam mempersilahkan Keva duduk di sisinya.


"Terimakasih, Om."


"Bagaimana kabarmu dan Ibumu?"


"Alhamdulillah kami baik, Om. Dan Mama sedang berada di Jepang. Seperti biasa, dia menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan. Aku saja sampai lupa kapan terakhir kali kami bertemu."


Entah mengapa Gautam merasa, bahwa pria bertubuh tegap itu tengah ada masalah.


"Apakah semuanya baik-baik saja, Nak?" tanya Gautam.


"Baik kok, Om. Kami baik-baik saja. Mungkin aku nya saja yang cengeng." Dengan bernada gurau, Keva membalas Ayah dari wanita yang ia cinta itu.


"Oh iya, Om. Apakah Yumi ada?" Setelah beberapa saat bercakap-cakap, Keva pun menanyakan keberadaan wanitanya.


"Eh, Keva. Kau datang, Nak? Apakah sudah lama?" Tiba-tiba Zara keluar dari rumah, melihat ada Keva tengah duduk bersama suaminya, wanita sederhana itu menyapanya dengan penuh suka cita.


Sejujurnya Zara menginginkan pria itu menjadi menantunya. Namun, entah mengapa ia merasa Yumi tak bisa menerimanya.


"Iya, Tante. Saya baru saja datang kok."


"Kalau begitu aku buat kan teh, ya?" tawar Zara.


"Tidak perlu repot-repot, Tante. Saya kesini ingin bertemu Yumi. Apakah dia ada?" Tampaknya Keva sudah tak sabar lagi untuk bersua dengan wanita yang telah dirindukan selama berhari-hari itu.


Dia bahkan menolak untuk minum teh bersama Gautam.


"Yumi masih belum pulang, Nak. Masih di kantor. Akhir-akhir ini dia sibuk. Sepertinya mereka sedang banyak pekerjaan. Minggu lalu dia pergi keluar kota untuk menyelesaikan tugasnya," jelas Gautam.


"Begitu, ya?" Keva tampak memendam kekecewaan.


Setelah mengumpulkan keberanian untuk menemui Yumi di rumahnya, ternyata wanita itu justru tak ada. Mereka gagal bertemu.


"Kalau begitu aku pamit, Tante, Om. Assalamualaikum." Sembari memendam kekecewaan itu, Keva pamit pulang.


"Kok buru-buru? Apa kau tidak ingin minum teh dulu?" tanya Zara.


Dalam hati wanita paruh baya itu merasa bersalah pada Keva.


"Lain kali aku mampir lagi, Tante. Sekarang saya sedang terburu-buru." Meski kecewa, Keva tetap menghargai sepasang suami istri tersebut.


"Kalau begitu saya pamit, assalamualaikum."


Hari ini Keva kembali menelan pil kekecewaan, karena lagi dan lagi gagal bertemu Yumi.

__ADS_1


__ADS_2