
"Dia mengatakan aku bukan wanita peka. Memangnya siapa dia? Apa haknya berkata begitu?" Sembari merapikan pakaian ke dalam tas, Rohana mengomel seorang diri.
Sedangkan Fahri masih setia di sisinya. Pria itu tak berencana untuk pergi, meski berulang kali diusir.
"Rohana, aku--" Pelan-pelan Fahri hendak mengajak gadis itu bicara dari hati ke hati.
Suaranya pun mulai melunak. Ia hendak meraih tangan gadis berambut pirang tersebut.
"Ada apa Tuan Fahri yang terhormat? Apa kau butuh laporan dariku? Baiklah, aku akan melaporkannya padamu. Tadi aku makan siang bersama Tuan Aryan di cafe sirogen. Kami membahas tentang perencanaan pembangunan restoran. Hasilnya adalah Tuan Aryan sepakat untuk menggunakan dananya bersamaku. Kami berdua berinvestasi di restoran itu. Sekian dan terimakasih. Apa kau sudah puas sekarang?"
Alih-alih kesal, Fahri justru tersenyum kala melihat ekspresi Rohana yang sedang menjelaskan.
Pria itu semakin gemas padanya. Namun, Fahri hanya bisa menahan diri agar tak mencium gadis berbaju kuning tersebut.
"Mengapa kau tersenyum? Apa kau sangat senang sekarang? Atau kau baru saja kerasukan hantu Nenek gayung?" Rohana kembali mengomeli Fahri. Padahal pria itu tengah merasa kagum padanya.
"Tidak, aku kerasukan oleh suara cemprengmu," kata Pria itu.
"Cempreng? Apa kau pikir aku mikrofon rusak?" omelnya.
"Bukan, tapi kaset rusak. Kau tahu suara kaset rusak seperti apa? Seperti yang kau ekspresikan tadi. Sungguh lucu." Rohana semakin kesal karena sejak tadi Fahri mengejeknya.
"Apa? Kaset rusak? Makan ini kaset rusak. Rasakan ini! Dasar pria menyebalkan!" Rohana melempari Fahri dengan bantal. Lantas ia memukul lengan Pria tersebut.
"Rasakan ini! Rasakan! Kau benar-benar pria menyebalkan! Kau bahkan melihatku melepas bra, dan sekarang kau mengataiku dengan sebutan kaset rusak. Kau benar lelaki payah! Kodok, rusa, tokek, cicak, ikan hiu."
Rohana semakin menjadi-jadi. Gadis itu tak dapat mengontrol diri. Dia terus memukul lengan Fahri sekuat tenaga sembari mengatainya dengan beberapa nama hewan.
Kemudian Fahri melingkarkan tangan ke panggul wanita tersebut, lalu menguncinya.
Sontak Rohana terkejut bukan kepalang. Sialnya, detak jantungnya justru berkedut tidak karuan. Seperti seseorang yang tengah kasmaran.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau memeluku? Lepaskan!" kata gadis berbaju kuning tersebut.
"Mengapa? Apa kau takut padaku? Atau kau waspada aku akan melihatmu melepas bra seperti tempo lalu?" Sengaja Fahri mengingatkan momen memalukan itu, agar ia bisa melihat rona merah di wajah Rohana.
Warna itu sangat dinantikannya. Bagi Fahri, rona wajah Rohana terlihat cerah serta berseri-seri.
"Mengapa kau menyinggung soal bra lagi?!" omelnya.
"Bukankah tadi kau yang lebih dulu menyinggungnya? Aku hanya melengkapi kalimatmu," balas Fahri, menggoda Rohana.
__ADS_1
"Lepaskan aku! Aku mau pulang sekarang." Rohana berupaya untuk melepas diri dari Fahri.
Akan tetapi, pemuda dengan lesung pipi di kedua sisi itu justru mempererat pelukannya. Sehingga Rohana menahan napas.
Jarak keduanya pun semakin dekat. Fahri menatapnya penuh damba. Alhasil Rohana pun menjadi canggung.
Wanita itu salah tingkah karena sikap Fahri yang tak seperti biasanya.
Pemuda itu semakin mendekatkan diri, seperti hendak menciumnya.
"Fahri, apa yang kau lakukan?" Suara Rohana terdengar berbisik. Sehingga membuat Fahri semakin tak dapat menahan diri.
Akhirnya pemuda itu menyambar bibir Rohana.
Masih berupa kecupan singkat. Namun, lama kelamaan berubah ciuman hangat setelah Rohana justru tak memberontak. Gadis itu seperti menikmati tiap sentuhan Fahri.
Akhirnya hari itu terjadilah transaksi air liur.
"Lepaskan aku, brengsek!"
Plak!
Akan tetapi, semenit kemudian kesadaran Rohana kembali normal. Ia berhasil melepas diri begitu Fahri lengah, serta menamparnya.
"Apa kau tahu? Dengan kau marah seperti ini, kau terlihat semakin cantik. Aku jadi ingin mengulang momen semenit lalu," goda Fahri.
Lagi-lagi rona pipi Rohana semakin memerah. Sepertinya Fahri sukses membuat wanita itu merasa malu.
"Pria ini benar-benar membuatku malu. Lagi pula, mengapa tadi aku justru membalas ciumannya? Aku pasti sudah tidak waras," gumam Rohana, memaki diri sendiri.
Namun, masih bisa didengar oleh Fahri. Akan tetapi, ia hanya terkekeh gemas.
Sikap Rohana sukses menarik perhatiannya. Sehingga ia semakin jatuh hati.
"Jangan lihat aku seperti itu! Matamu sungguh jelek." Kali ini entah apa salahnya Fahri. Dia hanya melihatnya, bukan menerkamnya.
Tampaknya Rohana sudah salah tingkah, hingga ia bingung harus berkata apa. Gadis itu tak pandai mengontrol diri.
Apa yang ia sampaikan, tidak sesuai dengan yang dirasakan.
"Mataku jelek? Kalau begitu silahkan tutup mataku." Fahri kembali mendekatinya dengan sengaja, agar ia mendapat kesempatan lagi dan lagi.
__ADS_1
"Jangan dekat-dekat. Kau sungguh pria berbahaya!" seru Rohana mulai waspada.
"Bahaya? Benarkah? Mari kita lihat, seberapa berbahayanya aku." Kemudian Fahri kembali menarik panggul Rohana, lalu menatapnya penuh damba.
Gadis itu pun menelan salivanya dengan susah payah. Sesak rasanya berada di dekat pria aneh seperti Fahri.
Sejujurnya Rohana masih merasa aneh dengan cara pria itu memperlakukan dirinya.
Dahulu mereka tak begitu akrab. Bahkan keduanya kerap terlibat perdebatan, hingga Rohana mengutuk lelaki tersebut.
Pernah sekali Rohana terjatuh dari anak tangga, Fahri justru tertawa alih-alih menolongnya. Alhasil Rohana semakin membenci pria tersebut.
Namun, lihatlah sekarang. Sikapnya justru berbanding terbalik. Fahri memperlakukan Rohana dengan manis.
Satu hal yang sukses membuat gadis bar-bar itu terkejut luar biasa, yakni Fahri merebut ciuman pertamanya tanpa memberi aba-aba.
Seolah sedang jatuh cinta, lelaki itu memperlakukan Rohana dengan hangat.
Sempat Rohana memberontak minta dilepas. Akan tetapi, lagi-lagi Fahri mengunci tubuhnya.
Sehingga tatapan keduanya pun terkunci. Seperti ada angin sepoi-sepoi meniup hati Rohana. Rasanya sungguh sejuk.
Seperti inikah rasanya jatuh cinta yang sesungguhnya?
"Apa jatuh cinta? Sama pria ini? Aku pasti sudah gila," batin Rohana, berusaha melawan kata hatinya yang terasa aneh.
Kemudian Rohana kembali berniat melepas diri, tetapi untuk kesekian kalinya Fahri mengunci seluruh tubuh pria itu.
Dan akhirnya terjadilah sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Fahri memberanikan diri mengecup hangat kening gadis itu cukup lama. Sehingga Rohana merasa dicintai sekaligus dihargai.
Kali ini cara Fahri memperlakukan dirinya cukup lembut. Tak ada kekerasan sama sekali, pun paksaan.
Tanpa sadar Rohana menutup matanya, seolah menikmati kecupan tersebut.
Lalu Fahri melepas bibirnya, lantas menatap tulus gadis berambut pirang tersebut.
Lewat sorot mata hitam pekat itu, Rohana dapat melihat cinta yang begitu besar untuknya. Benar-benar tulus.
Sialnya, jantung Rohana tak bisa diajak bekerjasama. Sedangkan dia bersusah payah agar perasaannya tidak diketahui oleh pemuda tersebut.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Fahri.