
Tiga orang beda usia itu masih makan bersama, walau Yumi tidak menikmatinya.
Ada Fabian yang membuatnya tak nyaman. Pria itu menghabiskan makanan seperti orang yang setahun tidak makan. Benar-benar lahap.
"Terimakasih traktirannya, ayo." Dan tanpa tahu malu lagi dan lagi, Fabian mengajak Yumi pergi dari restoran tersebut. Sedangkan masih ada Keva.
Yumi menghela napas sebelum akhirnya berkata, "Tuan Fabian, Anda silahkan pergi. Saya masih ada sedikt urusan."
"Bukankah waktu makan siang sudah berakhir?Sekarang waktunya bekerja." Fabian melirik arlogi yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Tuan Fabian," bisik Yumi seraya menekan intonasinya agar tak terjadi kegaduhan. Lagi pula masih ada Keva di antara mereka.
"Apa? Apa kau ingin gajimu dipotong?" tukas Fabian.
"Kalau begitu izinkan saya bicara, apakah boleh?" Kali ini Keva yang berbicara. Sejak tadi pria itu hanya diam menyaksikan Yumi dan Fabian berdebat.
"Baiklah, silahkan bicara. Aku mendengarkan." Fabian kembali duduk seraya melipat kedua tangan di dada.
"Ayo, bicaralah," titahnya.
Yumi pun dibuat ternganga tak percaya pada sikap mantan suaminya tersebut. Sedangkan Keva terkekeh pelan.
Keva merasa, bahwa Fabian terlalu kekanak-kanakan sebagai lelaki. Keva dapat menebak bila Fabian menyukai Yumi.
"Tidak masalah, aku akan bicara," ujar Keva.
"Sebelumnya perkenalkan, nama saya adalah Keva Aprianza, calon tunangan Yumi. Mungkin terlalu mendadak. Namun, aku menyukainya sejak pertama kali bertemu," ungkap Keva akhirnya.
Rupanya Keva bukan tipe pria yang suka basa-basi. Terbukti dari pengakuannya barusan. Sehingga membuat Fabian semakin kesal. Namun, terpaksa harus memendam.
Salah sendiri, tadinya Keva tidak ingin mengungkapkan perasaan di depan orang lain, tetapi Fabian tidak memberinya pilihan. Sekarang siapa yang salah?
"Keva, ini--" Yumi nyaris kehabisan kata saat Keva melamarnya terlalu cepat.
Lamaran itu memang belum resmi. Namun, sukses membungkam Fabian sekaligus membuat jantung Yumi deg-degan.
__ADS_1
"Maafkan aku, mungkin ini terlalu cepat, mengingat kita baru saja bertemu. Namun, perlu kau ketahui, bahwa aku adalah tipe pria terbuka. Aku tidak pandai berbasa-basi. Tadinya aku ingin memberitahumu setelah mengantarmu pulang. Namun, seseorang tak memberiku kesempatan. Jadi, ku pikir inilah waktunya."
Seketika Fabian merasa tersindir tatkala Keva sengaja menyamarkan namanya. Akan tetapi, siapapun tahu, bahwa yang dimaksud itu adalah dia.
"Waktunya ke kantor. Kita harus menemui Klien sekarang!" Fabian terbakar cemburu. Seraya menahan diri, pria itu mengajak Yumi pergi.
"Aku akan membayar hari ini. Bisakah aku meminjam karyawan Anda, Tuan?" Kali ini Keva dan Fabian mulai berseteru.
Keva yang tampak santai, sedangkan Fabian yang mulai kepanasan.
"Bisakah Anda mengganti rugi semua proyek hari ini hanya karena pengakuan cinta?" tukas Fabian semakin tersulut emosi.
"Tuan, sepertinya--"
"Cukup! Masih ada aku di sini. Bisakah kalian tidak berdebat? Apa kalian tidak merasa malu pada orang-orang itu? Sejak tadi mereka memperhatikan kita," seru Yumi.
Menyadari itu, Fabian memilih untuk kembali ke kantor. Sedangkan Yumi dan Keva masih berada di restoran.
"Tolong maafkan aku. Aku membuatmu terkejut," ungkap Keva setulus hati.
"Tidak masalah. Aku paham perasaanmu. Namun, kita tidak bisa menjalani hubungan secepat itu. Tolong beri aku waktu."
Kemudian Yumi meninggalkan Keva.
Sementara itu di kantor, terlihat Fabian tengah gelisah. Dia menggigit bibir bawahnya. Sesekali pria itu memainkan pena.
Sebisa mungkin Fabian mengendalikan perasaan, tetapi kata-kata Keva beberapa saat lalu menghantui kepalanya.
Seakan kehilangan kesempatan itu, Fabian pun frustasi.
"Apa menemaninya makan siang lebih penting dari pada menemui klien kita?" Setelah Yumi datang, Fabian mengajukan pertanyaan ketus.
"Bukankah kau juga ada di sana? Kau bahkan ikut makan siang bersama kami. Lalu apa masalahnya?" balas Yumi tak mau kalah.
"Apa kau pikir aku memiliki waktu untuk menemani kalian makan siang? Aku di sana untuk mengajakmu menemui klien. Tadi dia sedang menunggu kita. Dan karena kencan butamu yang payah itu, kita jadi kehilangan tiga klien sekaligus. Apa calon tunanganmu itu akan mengganti rugi seperti yang dia katakan?"
__ADS_1
Arah pembicaraan Fabian sudah tidak terarah. Tiga klien yang dia maksud sejujurnya tidak pernah ada. Dia hanya mencari-cari kesalahan Yumi.
Entah kali ini apa rencana lelaki tersebut. Hati serta lidahnya sangat tajam.
"Kau terlalu membesar-besarkan masalah. Apa benar hari ini kita akan menemui tiga klien? Bukankah aku sekretarismu? Aku sangat tahu dirimu, Tuan Fabian. Dengan siapa kau bertemu, proyek apa yang sedang kita kerjakan, di mana tempat menemui klien, dan semua yang berhubungan dengan kantor ini. Jangan lupa, bahwa kau yang menjadikanku sekretarismu."
Sejenak Fabian lupa, bahwa ia sedang berhadapan dengan sekretarisnya.
"Bilang saja kalau kau sedang cemburu pada pria tadi," ledek Yumi.
"Apa kau pikir aku pria pengangguran yang tak memiliki pekerjaan? Aku ini seorang CEO. Aku tidak mempunyai waktu untuk cemburu. Apa lagi terhadap pria yang tidak selevel denganku," balas Fabian tak mau kalah.
"Baiklah, anggap saja aku sedang mengarang bebas. Lantas sedang apa kau di sana? Bukankah kita tidak mempunyai temu janji bersama klien yang kau maksud?" Kali ini Fabian kehabisan kata. Dia diam seribu bahasa.
"Apa sekarang kau jatuh cinta padaku?" goda Yumi seraya menghampiri mantan suaminya itu.
Tatapan Yumi benar-benar membuat Fabian salah tingkah. Akan tetapi, pria itu sungguh pandai mengelaknya. Dia sungguh pria pengecut.
"Kau terlalu percaya diri, Nona Yumi Zahra Gautam. Kau jangan sok cantik. Apa kau pikir wanita di dunia ini hanya dirimu saja?" sangkal Fabian.
"Baiklah, aku percaya ucapanmu. Lalu mengapa kau berkeringat?" Kali ini Fabian bungkam. Yumi berhasil mengerjai dirinya.
"Tuan Fabian, ada yang ingin menemui Anda." Beruntungnya Rohani datang, hingga Fabian merasa terselamatkan.
"Baiklah, aku akan menemuinya. Ada di mana dia sekarang?" Pura-pura Fabian antusias, padahal sejujurnya Yumi tahu perangai pria itu.
"Ikut lah bersamaku." Rohani dan Fabian menemui orang tersebut. Sementara Yumi tengah menahan tawa.
"Dasar pria aneh. Bila kau bersikap seperti itu, maka semua orang akan mengira mau benar-benar cemburu. Dasar bodoh." Yumi bermonolog seorang diri.
Sementara itu, di sekolah Kenzo. Anak itu sedang mendapat perundungan. Beberapa Anak mengejeknya. Mereka menyebut bocah malang tersebut sebagai Anak tanpa Ibu.
Kenzo merasa terluka. Dia memang tidak pernah melihat wajah Ibunya. Namun, dia tahu bahwa dia terlahir dari seorang Ibu yang hebat.
"Halo, Nona. Apa kau bisa membantuku?" Malam itu Kenzo sempat meminta nomor ponsel Yumi agar memperlancar komunikasi di antara mereka.
__ADS_1
Kenzo percaya, bahwa wanita itu akan melindunginya.
"Baiklah, aku akan segera datang. Kau jangan menangis, em?" Walau bagaimanapun juga, Yumi masih memiliki hati nurani. Dia memang kecewa terhadap Fabian, tetapi Kenzo tidak bersalah dalam hal ini.