Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Antara Cemburu dan Cinta


__ADS_3

Dilain kisah, Fahri dan Rohana tengah bekerjasama dalam menyelesaikan tugas yang diamanahkan kepada mereka oleh Fabian.


Beruntungnya Tuan Aryan tidak banyak protes dalam proses pengerjaan proyek tersebut. Semua dana telah terurus dengan baik. Hingga akhirnya Fahri bernapas lega.


Semua telah dipercayakan kepada pria berusia tiga puluh delapan tahun tersebut.


"Jadi bagaimana? Apakah kau telah membahas masalah pembangunan restoran di tempat wisata itu bersama Fabian?" tanya Fahri sembari meminum minuman dinginnya.


Saat ini mereka tengah berada di kota Bandung, yang tak jauh dari lokasi pembangunan.


"Kemarin aku sudah membahasnya. Fabian setuju dengan ideku. Hanya saja Ayah masih mempertimbangkan biaya investasi. Ayah meminta waktu sekitar dua atau tiga hari. Setelah itu barulah Ayah akan memberi kabar. Kita tunggu saja keputusan darinya," papar Rohana.


Gadis yang dikenal bar-bar itu sedang menikmati es krim capucino kesukaannya.


Hari ini cuaca cukup terik, sehingga menyebabkan dua orang itu merasa dehidrasi.


"Apa menurutmu dia akan setuju?" Entah mengapa Fahri merasa ragu pada keputusan Ayah Rohana.


"Aku yakin pasti Ayah setuju. Hanya saja aku tidak ingin terlalu percaya diri. Cukup optimis lah. Semoga saja Ayah tertarik untuk berinvestasi pada proyek ini." Berbeda dengan Fahri, Rohana justru merasa yakin, bahwa Ayahnya itu akan turut andil dalam pengerjaan proyek tersebut.


Walau bagaimanapun juga, dia adalah Ayahnya. Rohana sangat mengenal pria paruh baya itu.


"Semoga saja, aku harap sesuai dengan rencana kita." Kendati ragu, Fahri tetap optimis, memantapkan hati, bahwa kali ini proyek yang dikerjakan berjalan lancar.


"Oh iya, apa kau yakin malam itu tidak terjadi apa-apa di antara kita? Atau ada sesuatu yang aku lakukan padamu?" Sangat sulit bagi Rohana untuk melupakan peristiwa beberapa hari lalu.


Betapa tidak, pagi setelah mereka minum bersama, wanita itu mendapati Fahri tengah berbaring di atas tempat tidurnya.


Irosnisnya, mereka saling berpelukan seolah tak ingin lepas.


Selain dari itu, Fahri menjelaskan, bahwa tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Hanya drama pelepasan bra saja.


Namun, drama itulah yang sukses membuat Rohana malu luar biasa.


Bahkan dua hari pasca kejadian memalukan itu, mereka tak saling bertegur sapa. Rohana sengaja menghindarinya.


Terlalu malu rasanya untuk berjumpa seseorang yang telah mengetahui rahasia kecil kita. Terlebih lagi itu bagian hal yang sensitif.


"Tidak ada, hanya pelepasan itu saja." Lagi-lagi Fahri menunjuk dada Rohana dengan dagunya. Sedangkan matanya melirik dua bongkahan padat nan besar tersebut.


"Cukup!" bentak Rohana penuh kekesalan.

__ADS_1


Wajah Rohana seketika merah padam karena Fahri lagi-lagi membuatnya malu.


"Dasar pria mesum," gumamnya.


"Siapa yang mesum? Aku hanya berkata apa adanya. Kau memang melepas bramu di depanmu." Namun, masih bisa didengar oleh Fahri.


"Hentikan! Kau benar-benar pria tidak tahu malu. Bagaimana bisa dia menyebut bra dengan entengnya?" Rohana ragu-ragu menyebut kata 'bra', karena merasa malu yang luar biasa.


Betapa tidak, alih-alih menyembunyikan yang terjadi, pria itu justru menceritakan semua peristiwa memalukan itu dengan entengnya. Seolah Rohana tidak akan merasa malu karenanya.


"Aku kan hanya bicara apa adanya, mengapa dia marah?" gumam Fahri. Akan tetapi, Rohana mendengarnya.


Wanita itu kesal sembari berkata, "Itu karena kamu telah membuatku malu!"


Kemudian Rohana berlalu pergi sebelum menghabiskan es krimnya. Bahkan es krim tersebut telah mencair karena mereka terus berdebat.


"Hei, kau mau kemana? Tunggu aku!" kata Fahri.


"Pergi sana! Jangan dekati aku. Kau benar-benar pria mesum," omel Rohana mempercepat langkahnya. Seolah tak sudi berada di sisi Fahri.


"Rohana!" Tiba-tiba saja Tuan Aryan memanggil wanita itu dari ambang pintu masuk.


Setidaknya, kehadiran pria berusia tiga puluh delapan tahun itu dapat mengalihkan perhatian Fahri dan Rohana, agar tidak lagi membahas perihal bra.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan? Atau mungkin Anda butuh sesuatu?" Sengaja Rohana menawarkan bantuan kepada Aryan demi menghindari Fahri.


"Temani saya makan siang, apakah boleh?" tanya Aryan.


"Boleh, kenapa tidak? Tapi berdua saja ya? Saya lagi pengen makan berdua sama Tuan." Mendengar itu, Fahri pun mulai kesal. Sikap Rohana seolah hendak menghindarinya.


"Lalu bagaimana dengan rekanmu? Bukankah dia bersamamu?" tanya Aryan.


"Tidak apa-apa kok, Tuan. Dia bisa urus diri sendiri. Dia kan bukan anak kecil lagi. Ayo, kita pergi." Tanpa merasa malu, apa lagi bersalah, Rohana merangkul lengan Aryan dan membawa pria itu pergi entah kemana.


"Wanita ini benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia meninggalkanku begitu saja?" Tak pelak membuat Fahri semakin jengkel. Seperti ada hal aneh yang mulai tumbuh di dalam hatinya.


Semenjak kejadian malam itu, Fahri merasa tertarik pada Rohana.


Di balik sikap bar-barnya yang ekstrim, rupanya wanita itu menyimpan sejuta pesona, dan sekarang Fahri telah mengetahuinya.


"Sekarang aku makan siang bersama siapa?" Rohana dan Aryan nyaris hilang dari pandangan.

__ADS_1


"Hei, tunggu aku." Fahri pun mengejar keduanya.


"Dia adalah miliku. Kami akan makan bersama, Tuan boleh mencari orang lain yang bersedia menemani Anda." Kemudian Fahri menarik lengan Rohana, hingga terlepas dari Aryan.


Tadinya Fahri tidak ingin menunjukan sikap tak hormat terhadap Aryan, tetapi Rohana tak memberinya pilihan. Alhasil kedua pria itu seperti tengah bermusuhan.


"Apa yang kau lakukan? Aku tidak mau makan denganmu!" Sialnya, Rohana justru menolak pria tersebut.


"Bukankah dia tidak bersedia makan siang denganmu? Artinya dia adalah miliku." Tampaknya Aryan mulai jatuh hati pada gadis berambut pirang tersebut.


Terbukti dari caranya mempertahankan Rohana di sisinya.


Sementara Fahri mulai tersulut emosi. Antara cemburu dan cinta pada wanita itu.


Ya, Fahri telah memutuskan, bahwa ia jatuh cinta pada Rohana.


Awalnya dia hanya penasaran. Namun, lambat laun perasaan itu berubah menjadi cinta. Fahri tak ingin kehilangan gadis itu seperti ia kehilangan Yumi dahulu.


"Tidak! Dia hanya boleh makan siang denganku," sarkas Fahri seraya menarik kembali lengan Rohana, hingga wanita itu merasa kesakitan.


"Dia miliku!" kata Aryan.


"Miliku!"


Alhasil dua pria itu saling memperebutkan Rohana dengan menarik lengannya.


Fahri pada bagian kanan, sedangkan Aryan di sisi kirinya. Alhasil Rohana semakin kesakitan.


"Lepaskan aku!" seru wanita itu.


Baik Fahri maupun Aryan, keduanya melepas lengan Rohana.


"Lenganku sakit, apa kalian tahu?!" Gadis itu mengeluh pada akhirnya. Sejak tadi dia menahan diri.


"Maaf," kata Fahri dan Aryan secara bersamaan.


Rohana menghadap Fahri sembari berkata, "Bukankah tadi aku mengatakan, bahwa aku tidak ingin bersamamu? Silahkan cari orang lain untuk menemanimu makan!"


"Ayo kita pergi dari sini." Kemudian gadis itu mengajak Aryan pergi.


Alhasil Fahri semakin terbakar cemburu. Sementara Aryan melirik Fahri sembari tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2