Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Apa Kau Menyukai Pria Itu?


__ADS_3

Mungkin dalam cerita Fahri dan Rohana, kisahnya sungguh romantis san penuh lelucon.


Mereka kerap bertengkar seperti kucing dan tikus. Namun, tak jarang saling merindukan satu sama lain.


Terkadang mereka saling menghujat, tetapi dibalik hujatan tersebut tersimpan rasa kagum si antara mereka.


Keduanya saling menyukai, tetapi masih belum menyadari.


mereka saling mengasihi, tetapi masih malu-malu kucing.


Ibarat kata, berdebatnya dua insan itu biasanya karena cinta serta tingginya rasa peduli. Hanya saja mereka tak paham hal sekecil itu.


Mereka menyebutnya sebagai bentuk persahabatan atau rekan kerja. Namun, siapa sangka dibalik kepedulian tersebut justru tersimpan perhatian tersembunyi.


Akan tetapi, lain halnya dalam kisah Fabian dan Yumi. Sepasang anak manusia itu kerap bersih tegang pabila menyangkut perasaan. Padahal masalah mereka tak serumit mengurus tugas negara.


Fabian yang kelewat posesif, membuat Yumi harus menjelaskan secara rinci, agar pria itu tak salah paham.


Hubungannya bersama Keva telah berakhir. Mereka telah memutuskan untuk berpisah.


Sejujurnya hubungan itu tak pernah dimulai. Hanya saja Yumi merasa bersalah terhadap pemuda gagah tersebut.


Sikap dan perbuatannya selama ini telah memberinya harapan palsu. Sehingga Keva merasa dipermainkan.


Dia merasa Yumi tak adil padanya. Wanita dengan alis lebat tersebut tak pernah memberinya kesempatan untuk membuktikan diri, bahwa ia sungguh layak menjadi pendampingnya.


Sejak awal tak ada tempat untuk Keva dalam hati Yumi. Namun, entah mengapa wanita itu tak mengatakan sejak awal, bahwa ia tak ingin memulai hubungan baru dengannya. Bukankah dia tahu perasaan Keva terhadapnya?


Inilah yang membuat Erika sedikit kecewa terhadap sahabatnya itu.


"Lalu mengapa kau tak mengatakan pada Keva sejak awal, bahwa hubungan kalian hanya sebatas teman. Kalian tak bisa bersama, karena mau mencintai mantan suamimu!" seru Erika, menyalahkan Yumi.


Sementara itu, Yumi tercengang tatkala Erika mengetahui hubungannya bersama Fabian.

__ADS_1


"Kau tahu dari mana kalau aku dan Fabian..." Yumi tak berani melanjutkan kalimatnya. Ia ragu bila salah berucap.


"Kau pikir aku anak kecil? Mungkin selama ini aku diam dan tak pernah turut campur dalam urusan kalian. Namun, aku paham betul perasaan kalian berdua seperti apa. Terutama kau, dalam hatimu hanya ada Fabian dan Fabian sejak dulu. Kau tak pernah bisa move on dari pria itu. Bahkan di ujung matamu hanya ada wajahnya. Kau hanya bisa tersenyum bahagia saat sedang bersamanya. Mungkin bibirmu berkata tidak, tapi aku bisa merasakannya," tukas gadis bar-bar tersebut.


Panjang lebar Erika mengungkap isi hatinya yang selama ini terpendam ihwal kisah asmara sahabatnya itu.


Seperti memiliki ilmu telepati, Erika menebak dengan benar semua perasaan Yumi.


Yumi pun menunduk, merasa bersalah terhadap Erika. Sebab, ia tak jujur padanya terkait Fabian.


"Yumi, kau tidak boleh egois. Kasihan keva, minta maaflah padanya," imbuh Erika.


"Aku sudah minta maaf, Erika. Bahkan aku telah menjelaskan padanya, bahwa kami tak dapat bersama. Namun, dia tidak paham juga. Dia terus mendesaku," lirih Yumi.


"Itu karena sejak awal kau tak jujur padanya. Andai kau memberitahu pada pria itu terkait Fabian, mungkin dia tidak akan melangkah maju. Bukankah kau tahu, bahwa Keva menyukaimu sejak dulu?" sarkas Erika, menyalahkan cara Yumi.


"Kau benar, seharusnya aku jujur sejak awal. Namun, aku tak pernah memberinya harapan." Meski demikian, Yumi tetap merasa tak memberi harapan kepada Keva sejak pertama kali bertemu dalam kencan buta.


"Mungkin bibirmu tidak mengatakan demikian, tapi sikapmu justru melakukan hal sebaliknya." Mungkin Erika jarang bersuara terkait Keva. Dia hanya melihatnya, lalu pergi.


Wajar bila pemuda itu menyukai Yumi sampai akhirnya menaruh harapan. Sebab, status Yumi yang masih singel.


Ditambah lagi hubungan mereka terjalin dengan baik. Yumi pun tak pernah mengatakan, bahwa ia akan kembali pada mantan suaminya.


Itu lah alasan mengapa Keva berani melangkah. Pemuda itu mengira, bahwa Yumi bukanlah milik siapa-siapa. Statusnya adalah singel.


"Apakah, iya?" sangsi Yumi.


"Tentu saja. Semua orang yang melihat kalian pasti akan mengatakan hal serupa. Apa kau tidak melihat cara Fabian memperlakukanmu selama ini? Dia sering marah-marah tak jelas padamu. Itu karena dia merasa cemburu terhadap Keva. Bukankah semuanya sangat jelas? Atau kamunya yang lemot?" jelas Erika mulai kesal.


Ya, Erika kesal karena Yumi tak menyadari sikapnya yang kelewatan terhadap dua pria yang menaruh hati padanya.


Yumi tak tak pernah menegaskan perasaannya sendiri. Dia mencintai Fabian, tapi menerima permintaan Keva tiap kali ingin berjumpa.

__ADS_1


Sebaliknya, Yumi menolak Fabian saat pria itu memintanya kembali, padahal ia masih cinta. Lalu Yumi jalan bersama Keva.


Inilah alasan Erika marah. Sebab, Yumi seperti mempermainkan dua lelaki yang sama-sama memiliki pengaruh itu.


"Lalu aku harus bagaimana sekarang? Apakah kau ingin aku bertemu Keva dan menjelaskan padanya, bahwa sejak awal aku tak pernah mencintainya dan lebih memilih Fabian? Apa kau ingin aku menyakiti pria itu lagi? Dan bagaimana bila Fabian tahu, bahwa aku menemui Keva?"


Dengan segala pertimbangan, Yumi menolak menemui kembali Keva.


"Itu adalah resiko yang harus Keva terima. Apa kau ingin dia sakit hati lebih lama sampai menaruh dendam terhadapmu? atau kau ingin hidup damai? Tidak masalah bila Fabian marah, lagi pula kau bisa menjelaskan padanya, bahwa kau menemui Keva hanya untuk menegaskan hubungan kalian. Dia pasti mengerti." Sejak tadi Erika sangat yakin, bahwa masalah Yumi kali ini bisa teratasi.


Inilah solusi yang diberikan oleh gadis dengan senyuman manis tersebut.


"Apa kau yakin semuanya akan baik-baik saja?" tanya Yumi masih meragukan saran Sang sahabat.


"Yakin seratus persen," tegas Erika dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, nanti aku akan bicara pada Fabian. Aku tidak ingin menemui Keva tanpa sepengetahuannya." Akhirnya Yumi memutuskan untuk menemui Keva kembali. Dia hendak menyampaikan permintaan maafnya yang tulus.


Terakhir bertemu, Keva sangat marah padanya. Pemuda itu kecewa karena merasa diperlakukan tak adil oleh Yumi.


"Nah, gitu dong. Ini baru Yumi yang ku kenal." Kemudian Erika memeluk sahabatnya itu.


"Apa kalian sedang membahasku?" Mendadak Fabian hadir. Lelaki dengan kemeja abu-abu itu membawa dua gelas kopi untuk Yumi dan Erika.


"Sebaiknya aku pergi. Kalian bicara lah. Kopi ini untuku, kan? Thanks ya." Lantas Erika membiarkan Yumi dan Fabian untuk menyelesaikan masalah mereka.


Tugasnya telah selesai, yakni memberinya saran agar wanita itu hidup tenang. Tak lagi merasa bersalah terhadap Keva, pun Fabian.


"Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" Fabian merangkul panggul Yumi seraya menatapnya penuh damba.


Fabian seperti hendak mencium wanita itu.


"Aku ingin menemui Keva, apakah boleh?" Dengan nada hati-hati, Yumi akhirnya meminta izin kepada Fabian untuk menemui Keva setelah beberapa saat mengumpulkan keberanian.

__ADS_1


"Apa kau menyukai pria itu?"


__ADS_2