
Samar-samar suara langkah seseorang di depan kompleks Fabian.
Dia tidak mengenakan sepatu high hels atau wedges. Melainkan sendal jepit usang.
Kakinya tampak pecah-pecah dan kotor, seperti jarang tersentuh air. Bahkan ada sedikit kotoran dalam tiap ujung kukunya.
Warna kulit orang itu sangat putih bila ia membersihkan diri.
Sedangkan rambutnya sangat lepek. Sementara pakaiannya cukup usang.
Orang itu lebih tepat bila disebut sebagai pemulung.
Langkah kakinya terus berlanjut, hingga sampai lah ia di depan pintu flat Fabian.
Hendak mengetuk pintu, tetapi ada keraguan di dalam hati. Takut ia disangka pengemis atau orang gila, mengingat penampilannya.
Jantung orang itu mulai berkedut tidak karuan. Antara ingin melanjutkan hasrat sejak dari rumah, atau justru mengurungkan niat. Sedangkan hatinya telah lama merindu.
Sungguh dia tidak tahan lagi, sampai akhirnya orang itu memutuskan untuk mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Pada ketukan pertama tak ada jawaban, dan di ketukan kedua ia pun mulai ragu untuk kembali melanjutkan rencana.
Sampai akhirnya datanglah tetangga Fabian menghampirinya. "Apa kau seorang pencuri?" tanyanya sembari menatap penuh selidik.
Orang itu pun ketakutan. Seperti dugaannya, selain disangka pengemis, dia pasti akan dituduh sebagai pencuri. Dan lihat lah yang terjadi saat ini, tetangga berjenis kelamin laki-laki itu menyebutnya sebagai pengambil hak orang.
"Tidak, saya bukan pencuri." Dengan suara terbata-bata, orang itu menjawab.
"Lalu sedang apa kau di depan pintu rumah Pak Fabian? Pasti tidak salah lagi, kau ingin mencuri, bukan?" sarkas tetangga itu.
"Jadi namanya Tuan Fabian," batin orang lusuh itu.
"Maaf, Tuan. Saya bukan pencuri, saya hanya--" Orang itu tidak berani menyebut identitasnya. Sebab, ragu tak akan dipercaya.
"Hanya apa? Hanya mau mengambil hak orang lain? Dasar pencuri! Pergi dari sini sebelum aku melaporkanmu pada polisi dan memasukanmu ke dalam penjara." Sungguh malang nasib orang itu, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Dahulu ia percaya pada mulut manis seorang pria, hingga rela mempersembahkan kehormatannya karena iming-iming cinta.
Namun, nyatanya ia ditinggal menikah bersama seorang wanita kaya raya. Sedangkan dirinya hanyalah wanita miskin tanpa orang tua.
Ia tumbuh besar di pantai asuhan. Sedangkan keluarga sungguhnya tak pernah datang mencari dirinya setelah dibuang begitu saja di tong sampah panti asuhan tersebut.
__ADS_1
Seolah mengulang kisah serupa, ia pun membuang anaknya satu jam setelah melahirkan.
Bedanya, ia sengaja meletakan bayi merahnya di depan rumah Fabian setelah beberapa hari membuntutinya.
Ya, sebelum memutuskan meninggalkan bayinya di depan flat Fabian, orang itu mencari tahu pria tersebut, untuk memastikan masa depan Anaknya.
Siapa sangka, bila Fabian benar-benar orang yang tepat. Lelaki tampan tersebut merawat anaknya dengan penuh kasih sayang.
Kini ia tumbuh besar serta sehat walafiat. Ajaibnya, Fabian justru memberi namanya kepada anak itu sebagai bentuk kasih sayang.
Setelah beberapa hari meninggalkan bayinya, orang itu memantau Fabian dari kejauhan untuk memastikan, bahwa ia benar-benar tak salah mempercayai orang.
Sebagai orang yang melahirkan bayi itu, tentu saja hatinya teriris, tulang belulang terasa remuk. Belum lagi bila mengingat sakitnya saat melahirkan.
Namun, semua seolah tergantikan dengan kebaikan serta cinta kasih Fabian terhadap bayinya yang kini berusia delapan tahun.
"Ada apa ini? Mengapa ribut-ribut?" Dan akhirnya yang ditunggu pun datang. Fabian bersama Yumi, juga Kenzo.
Wanita lusuh itu pun menoleh kepada mereka dengan rasa haru.
Ia melihat Putranya telah tumbuh sehat dan tampan. Tanpa sadar air matanya jatuh menetes membasahi pipi tirusnya.
"Apakah itu dia?" gumamnya sangat lirih.
Anehnya, Bocah delapan tahun itu tak merasa risih atau mendorong tubuhnya. Ia seolah menikmati pelukan orang asing tersebut.
Perlahan Kenzo seperti merasa ada ikatan batin di antara mereka. Ia pun membalas pelukannya.
"Putraku," lirih wanita itu, masih memeluk rindu tubuh Kenzo.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Lepaskan Putraku dari tubuh kantormu!" Tiba-tiba Fabian memisahkan mereka secara paksa.
Terdengar kasar ucapan Fabian. Namun, bukan itu intinya. Melainkan ia merasa takut bila yang ia takutkan selama ini akan terjadi, dimana Ibu kandung Kenzo tiba-tiba muncul.
Denyut jantung Fabian semakin bergerak cepat. Ia sungguh ketakutan. Takut kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya selain Yumi.
Selama delapan tahun ia hidup bersama Kenzo. Suka duka dilalui bersama tanpa banyak yang tahu.
Fabian membesarkan Anak itu dengan penuh cinta kasih, meski tahu, bahwa dia bukanlah darah dagingnya.
Bahkan Fabian rela disebut sebagai duda beranak satu oleh orang-orang demi menjaga anak itu.
__ADS_1
"Tuan, apakah dia adalah Putra Anda?" tanya wanita itu dengan suara bergetar.
"Tentu saja dia Putraku!" seru Fabian penuh ketegasan. Padahal dalam hati sejak tadi mulai waspada. Sebab, yang ditakutkan benar-benar akan datang.
"Apakah aku boleh melihat belakangnya?" Kali ini Fabian membawa Kenzo ke belakang tubuhnya. Tidak mengizinkan wanita itu untuk menyentuh Putra tercintanya.
Sedangkan kesepuluh jemari kekar itu mengepal. Fabian sungguh sangat marah sekaligus ketakutan.
"Kau tidak boleh menyentuh Putraku! Dasar pengemis!" Kata-kata Fabian semakin kasar. Ia telah melampaui batasan dirinya.
ini bukanlah Fabian yang sebenarnya. Meski terlihat arogan di mata orang-orang, tetapi ia tak pernah memperlakukan orang lain secara kasar seperti saat ini.
Terlebih lagi terhadap wanita, tentu saja Fabian sangat menghormatinya.
Sikap itu ia tunjukan agar wanita tersebut tak lagi mengusik hidup mereka.
"Fabian, apa yang kau lakukan? Mengapa kau sangat kasar?" Kali ini Yumi yang berbicara.
Sejak semalam wanita itu berada di rumah Fabian, menemani Kenzo yang baru saja merayakan kemenangannya setelah mengikuti lomba cerdas cermat.
Namun, siapa sangka bila di pagi buta harus menyaksikan drama tak terduga.
Ada orang asing berpenampilan lusuh tengah berdiri di depan flat mereka.
"Security! Security!" Fabian pun memanggil anggota pengaman.
"Ada apa, Tuan? apakah terjadi sesuatu?" tanya security laki-laki itu.
"Bawa orang ini dari sini! Dia mau mencuri di rumahku!" Untuk mengusir wanita itu.
Sungguh malang nasib wanita itu, kehadirannya justru dianggap sebagai pencuri.
Memang caranya salah, tetapi tidak bisakah dia diberi kesempatan?
Sudah delapan tahun ia menahan rindu yang teramat besar terhadap Sang Putra. Sekalinya berjumpa ia dianggap tak pernah ada.
Memang bukan salah Fabian bila ia harus diusir dari tempat itu. Selain penampilannya yang persis seperti gelandangan, kedatangannya pun mendadak.
Namun, apalah daya. Sekali lagi dia hanya merindukan Putra tercintanya.
"Tolong jangan usir saya dari sini. Saya bukan pencuri." Wanita itu menolak untuk pergi. Apa lagi dikatakan sebagai pencuri.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak boleh pergi dari sini sebelum berhasil memastikan sesuatu," batin wanita itu.
"Ikut saya! Kau benar-benar wanita bau!" Akan tetapi, akhirnya security itu membawanya pergi.