Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Aku Tidak Tahu


__ADS_3

Antara filsafat dan cinta adalah dua konsep yang dianggap berseberangan menurut masyarakat umum.


Jika seseorang membicarakan filsafat, pikiran awam akan langsung tertuju kepada sesuatu yang berat, yakni merusak iman, dan identik dengan para pemikir atau biasa dikenal dengan sebutan Filsuf.


Sebaliknya, jika membicarakan mengenai cinta, pikiran seseorang akan tertuju kepada hubungan dua kekasih, rasa kasih sayang antara orang tua dan anak, serta relasi antara Tuhan dan hamba-Nya.


Namun, yang paling dominan adalah cinta antara dua insan.


Cinta adalah kehidupan itu sendiri, bahkan Tuhan menciptakan alam semesta ini tidak lain karena cinta.


Kehidupan manusia sepanjang hayatnya juga selalu bersinggungan dengan cinta. Sejak Adam bersama Hawa di surga hingga zaman yang identik dengan modern, cinta selalu mengitari kehidupan manusia.


Seperti hari ini misalnya, meski telah menjadi mantan setelah sekian lama, pria itu masih tetap menginginkan wanita yang sama.


Faktanya adalah dia baru menyadari cintanya setelah dulu memilih berfilsafat.


"Tidak, aku tidak pernah tahu kau mencintaiku. Baik dulu ataupun sekarang," lirih Yumi.


Wanita itu tertunduk lemas, alih-alih bahagia setelah mendengar pengakuan mantan suaminya. Entah apa yang membuatnya seolah tak bertenaga.


"Yang benar saja kau tak tahu? Bukankah aku telah banyak memberimu signal?" sangsi Fabian.


"Aku tahu, tapi aku tidak berani menyimpulkan," lirih Yumi, masih tertunduk.


"Bukankah saat itu aku telah memintamu kembali? Apa hari itu kau menganggapku hanya bergurau?" Lagi-lagi Fabian tidak mengira bila usahanya selama ini justru dianggap semu oleh wanita itu.


Sedangkan telah banyak ia memberi petunjuk.


"Sungguh kau tidak tahu bila aku mencintaimu?" Setelah menelisik lebih dalam, akhirnya Fabian paham, bahwa ternyata wanita itu benar-benar tidak berbohong. Yumi tidak pernah tahu bila ia mencintainya.


Atau mungkin takut menyimpulkan seperti yang baru saja ia katakan.


"Um, aku tidak tahu." Kali ini Yumi mengangkat kepala, menatap Fabian mantap.


Pria itu pun berdecak tak percaya. Senaif itukah dia?


"Fabian, Kenzo mencarimu." Fabian dan Yumi masih saling menatap satu sama lain. Menyelami perasaan lebih dalam.


Namun, mendadak Abdullah memanggil Putranya itu.


Tanpa mengucap sepata kata, Fabian masuk ke dalam ruangan menemui Kenzo, serta hendak memastikan Putranya itu baik-baik saja.


"Sayang, apa kau baik-baik saja, em? Mengapa mencari Ayah?" Fabian mengusap kepala Putranya penuh kasih.

__ADS_1


"Apakah kita akan menginap di sini? aku tidak suka bau obat. Rasanya sungguh aneh." Kenzo hendak memuntahkan isi perutnya saat indera penciumannya berfungsi dengan baik.


Anak itu mencium bau ruangan dipenuhi obat-obatan.


"Sayang, rumah sakit memang seperti ini. Baunya unik," jelas Fabian bernada lembut.


"Tapi aku tidak suka. Tidak bisakah kita pulang saja?" Hari ini Kenzo sedikit rewel. Permintaannya membuat Fabian bingung untuk memberi tanggapan.


"Kemarilah." Kali ini Yumi mengambil alih Kenzo. Wanita itu merangkulnya.


"Apakah kau merasa sudah baikan? atau justru semakin buruk setelah mencium aroma obat?" imbuhnya.


"Sejujurnya perutku sudah membaik. Aku tidak merasa kesakitan lagi," ungkap Anak itu.


"Apa kau yakin?" sangsi Yumi.


"Seratus persen yakin." Kenzo menaikan kedua jarinya hingga membentuk huruf "V" yang berarti dia sedang berkata jujur.


"Baiklah, kalau begitu kita pulang saja." Tanpa meminta pendapat Fabian dan Abdullah, Yumi memutuskan untuk membawa Kenzo pulang.


Meski demikian, dua pria beda generasi itu tak memprotes caranya. Mereka tahu apa yang dilakukan oleh wanita itu adalah untuk kebaikan Kenzo.


Yumi pasti sudah memikirkan segala konsekuensinya.


"Ye... asik. Tapi kau juga ikut bersama kami di rumah, kan?" Untuk permintaan Kenzo yang satu ini, Yumi tidak bisa memastikan.


"Kami tidak akan memaksamu untuk ikut. Kau bisa menolak permintaan Kenzo." Abdullah memahami perasaan Yumi.


Berada dalam lingkungan mantan, sungguh membuat hati tak tenang.


Ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Salah satunya mata semua orang yang menyaksikan mereka.


Mungkin di lingkungan Fabian tidak akan bergosip ria. Namun, tidak dengan lingkungan Yumi.


Para tetangga pasti akan bergunjing tentang mereka yang tidak-tidak, hingga menimbulkan fitnah.


Yumi menoleh kepada Kenzo, dia pun menyaksikan tatapan penuh harap dari Anak malang itu.


"Baiklah, aku akan ikut bersamamu. Tapi kau harus janji satu hal padaku. Kau tidak boleh makan sembarangan lagi, oke?" Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Yumi mengambil keputusan yang cukup berat.


Ya, Yumi menganggap keputusannya ini cukup berat. Sebab, dia harus mengenyampingkan moral serta pandangan orang-orang terhadap dirinya.


Tidak mudah menjadi wanita itu. Butuh keberanian besar untuk melawan dunia yang bertentangan dengan dirinya.

__ADS_1


Yumi sadar, bahwa kualifikasi dirinya sangat rendah. Namun, dia hanyalah manusia biasa.


Hanya dengan memikirkannya saja sudah sangat menyiksa.


"Siap." Kenzo pun tersenyum girang, tak pelak Fabian merasa senang.


Baru kali ini ia melihat Putra kesayangannya itu tersenyum bahagia. Dia memeluk Yumi penuh kasih.


Sepertinya kehadiran wanita itu mampu mengubah keadaan. Kenzo yang dulunya introverd, kini open minded seiring kehadirannya.


Maka tidak ada salahnya bila Fabian menginginkan kembali wanitanya itu.


Kebodohan terdahulu tak ingin terulang kembali, atau dia tak akan mendapat kesempatan lagi dan lagi.


Pasalnya masih ada Keva yang bersedia menanti serta menerima Yumi apa adanya.


Seperti saat ini misalnya. Pria itu tengah menunggu panggilan wanita tersebut.


Sudah sejak satu minggu mereka tak bicara. Baik itu sekedar lewat panggilan telpon, ataupun bertatap muka secara langsung.


Keva hanya bisa menatap dua belas angka di layar ponselnya yang bertuliskan, "Yumiku."


Terlihat hendak menekan nomor itu, tetapi mendadak diurungkan, karena teringat percakapan kala itu.


Yumi meminta waktu untuk memikirkan hubungan mereka.


Ihwal restoran, Keva sudah merelakan. Tak ingin mendesak, apa lagi memaksa.


"Yumi, aku merindukanmu," gumamnya.


Tak ada yang bisa dilakukan pria itu.


Secara teknik, dia telah melakukan segala cara untuk memenangkan hati Yumi. Namun, kualifikasinya masih kurang.


Bukan salah Yumi bila cinta pria itu ditolak lagi dan lagi. Melainkan takdir yang memang tak pernah berpihak pada hubungan mereka.


Sebagai manusia normal, wajar bila Keva berupaya yang terbaik.


"Kau sedang apa?" Sekian lama memendam rasa, inilah titik akhir upaya Keva untuk membangun komunikasi dengannya. Pria itu mengirim pesan singkat kepada Yumi.


Sayangnya perempuan berbaju abu-abu itu tidak sedang memegang ponsel. Gawai putih itu tersimpan rapi di dalam tas.


Tak ada balasan setelah lima belas menit menunggu. Alhasil Keva pun semakin gundah.

__ADS_1


"Apa kau masih marah padaku ihwal restoran itu? Aku sungguh minta maaf. Aku janji padamu, kelak aku tidak akan menyinggung harga dirimu lagi." Pesan kedua pun terkirim.


Akan tetapi, Yumi masih tak memegang ponsel. Wanita itu tengah berada dalam perjalanan menuju rumah Fabian.


__ADS_2