
Malam itu Yumi berjalan seorang diri, di temani gemercik hujan.
Kulitnya sedikit basah, tetapi Yumi tidak juga berencana memesan taksi ataupun bus. Dia butuh udara segar untuk mendinginkan otak.
Wanita itu terlalu baik dalam menyelamatkan Anak dari pria masa lalunya. Sedangkan dulu ia sendiri menginginkan Anak dalam pernikahan.
Sejujurnya Yumi sangat kecewa terhadap sikap Fabian, tetapi apa yang hendak ia lakukan. Yumi sendiri lah yang maju untuk menikahi pria itu.
Dahulu cintanya terhadap Fabian sangat besar, hingga mengenyampingkan logika. Faktanya pernikahan itu telah gagal.
Kini setelah delapan tahun berlalu, pria itu kembali dalam hidupnya seperti angin yang berhembus kencang.
"Kau di mana?" Suara dering ponsel Yumi membuyarkan lamunan. Sembari mengusap air mata, Yumi menerima panggilan tersebut.
Rupanya adalah Keva, pria itu tengah menghubunginya. "Aku sedang berada di jalan," sahut Yumi seraya menyeka air mata.
"Di jalan mana? Apakah kau bersama seseorang?" Terdengar nada suara Keva yang mencemaskan wanita tersebut.
"Tidak, aku seorang diri," sahut Yumi sebelum akhirnya memilih untuk berkata jujur.
"Tuggulah, aku akan menjemputmu." Keva mengakhiri panggilan itu. Dia bergegas menemui Yumi.
Setengah jam kemudian, Keva menemukan Yumi dalam keadaan basah. Beruntung pria itu membawa sepasang baju wanita untuk dipakainya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Keva.
"Tidak, aku tidak baik-baik saja," sahut Yumi dengan wajah ditekuk.
"Pakailah ini untuk mengeringkan tubuh. Kau bisa sakit bila memakai baju itu." Keva memberi sepasang baju tadi kepada Yumi.
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu." Beberapa saat Yumi berpikir, bahwa ia herus berkata jujur kepada Keva.
__ADS_1
Pria itu terlalu baik untuk dibohongi. Masa lalunya bersama Fabian haruslah ia ketahui. Andaikan pria itu menolak masa lalunya, maka ia tidak akan mempersoalkan.
"Katakanlah, aku siap mendengarkan," sahut Keva.
"Aku adalah seorang janda." Pertama-tama Yumi memberitahu Keva terkait statusnya. Meski pria itu telah mendengar dari kedua orang tuanya. Namun, antara mereka berdua, belum pernah membahas masalah ini.
"Lalu?" sahut Keva dengan santainya.
"Mantan suamiku adalah Fabian, pria yang kau temui tempo lalu di restoran. Kami berpisah delapan tahun lalu," terang Yumi.
Keva terkejut, sontak menginjak pedal rem. "Pantas saja dia terlihat marah padaku. Apa kau tidak keberatan bekerja dengannya?"
"Semula aku tidak tahu, bahwa dia adalah atasan kami. Selama tiga tahun bekerja, Pak Jarwo lah yang menjadi CEO. Namun, setelah tiga tahun di sana, kami baru tahu, bahwa dialah CEO yang sebenarnya," ungkap Yumi.
"Apa kau tidak berencana untuk mengganti pekerjaan? Aku bisa membantumu. Namun, kembali lagi padamu, apakah kau setuju atau tidak. Aku tidak akan memaksa." Meski terkejut, tetapi Keva bisa memahami situasi Yumi.
Keva dapat melihat kejujuran di mata wanita tersebut. Setidaknya Yumi tidak berbohong sebelum memulai hubungan dengannya.
Keva membesarkan hati pasca Yumi mengambil keputusan. Fabian hanyalah bagian dari masa lalu wanita itu. Kini masa depan ada bersamanya.
"Apakah itu artinya dia masih mempunyai kesempatan yang sama denganku?" tanya Keva.
Yumi terdiam, tidak ingin berpikir terlalu jauh. Keva adalah pria lajang yang baik. Meraka belum mengenal satu sama lain. Sedangkan Fabian adalah lelaki egois. Mereka pernah menikah, meski akhirnya harus berpisah.
Ada banyak hal yang telah berubah. Meski sikap Fabian terlihat kekanak-kanakan.
Terkadang dia marah tanpa alasan, kadang pula memperkakukannya seperti istri.
Sikap Fabian menunjukan seseoraang yang tengah cemburu terhadap pasangannya.
Meski demikian, Yumi tidak ingin besar kepala, bahwa pria itu mulai mencintainya.
__ADS_1
"Tolong antar aku pulang." Yumi tidak ingin menjawab pertanyaan Keva. Saat ini menghindar adalah solusi bagi mereka.
Kehadiran Kenzo membuat Yumi dilema. Bocah itu telah berhasil mencuri perhatiannya.
"Baiklah," sahut Keva.
"Aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Itulah sebabnya aku memberitahu soal status serta mantan suamiku," sesal Yumi.
"Bibi Zara telah memberitahuku soal statusmu, tetapi aku tidak pernah tahu, bahwa mantan suamimu adalah Fabian."
"Aku harap kau tidak memberitahu siapapun terkait masa laluku. Para pegawai kantor tidak mengetahui hubungan kami. Aku harap kau juga begitu," pinta Yumi setulus hati.
"Aku jamin, kau bisa percaya padaku," ujar Keva bersungguh-sungguh.
**
Sementara itu di apartmen, Fabian tengah memikirkan Yumi. Kebaikan wanita itu sukses mengubah hidupnya. Yumi mencintai Putranya tanpa syarat. Dia pula yang berada di baris paling depan saat Anak itu mendapat perundungan.
Yumi adalah wanita yang dulu pernah ia sia-siakan. Kini menjelma menjadi sosok mengagumkan di matanya.
Andaikan dulu ia bisa mencegah wanita itu untuk tetap tinggal, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini.
"Ayah." Kenzo terbangun dari tidurnya. Dia datang ke kamar Fabian dengan manja.
"Kau belum tidur?" tanya Fabian.
"Aku ingin tidur bersama Ayah."
"Kemarilah, kita akan tidur bersama malam ini."
Kenzo naik di atas tempat tidur Fabian. Anak itu memeluk Sang Ayah dengan erat, seakan tak ingin lepas.
__ADS_1