Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Balikan, Yuk?


__ADS_3

Malam yang semakin larut. Angin berhembus meniup tirai jendela lewat sela-sela kecil.


Hembusan itu mengenai mata. Sayup-sayup terdengar suara gemuruh petir, yang menandakan hujan masih setia bertamu pada perut bumi.


Sedangkan ada seseorang yang beradu napas bersama bulu hidung.


Bulu itu tidak terlalu panjang, tetapi sukses melindunginya dari bakteri dan kuman.


Lagi-lagi mereka masih beradu, hingga membawanya ke alam mimpi.


Di dalam mimpi itu ia melihat seorang wanita tengah mengenakan lingeri merah menyala. Ukurannya sedang-sedang, dan tak mempunyai lengan.


Tidak lupa wanita itu mengenakan lipstik merah darah, seolah hendak menyamakan warna.


Rambut sedikit basah, dibiarkan tergerai saja.


Wanita itu pun mulai menghampiri lelaki tersebut, lantas mengusap pipi berbulu halus.


Kumis tipis diciumnya seraya melingkarkan tangan ke panggul.


Lama-lama mereka terbuai dalam alunan hujan, hingga keduanya tenggelam di dalam kolam asmara.


Dua insan itu saling beradu lidah, sementara tangannya sibuk bermain-main di tempat yang paling istimewa.


Lelaki itu membawa wanitanya duduk di atas ranjang, lalu membaringkan dengan sedikit kecupan.


Sementara itu, di ujung dinding terdapat sepasang hewan cicak yang turut beradu, seolah tengah mencontoh dua ciptaan Tuhan yang satu ini.


Sesekali mereka saling memandang, kemudian melanjutkan aksinya.


Dua orang itu tidak sadar, bahwa ada makhluk lain di sana tengah melihatnya.


Tangan Sang lelaki semakin bergerilya ke sembarang arah. Mengungkung tubuh wanitanya. Lantas mengubah posisi menjadi di atas.


Tadinya dia suka berada di bawa, tapi lama kelamaan dia berubah pikiran. Sepertinya kali ini pria itu ingin mencoba hal baru.


"Ayolah," kata wanita itu.


Tangannya meraih dagu Sang pria, lantas merebut tempat kumis tumbuh lebat.


Kemudian mereka pun mulai bergumul panas, hingga napasnya tersengal-sengal.


Oh... nikmatnya berfantasi liar.


"Yumi!"


Fabian terbangun dari mimpi indah itu. Ada peluh di dahi, seolah benar-benar nyata bercinta.


"Astaga, ternyata cuma mimpi," gumamnya.


Sementara itu, di rumah Yumi. Dia juga mimpi serupa, seolah telah membuat janji untuk bertemu di alam bawah sadar.

__ADS_1


Bedanya adalah Yumi menolak untuk mengecup bibir Fabian. Wanita itu justru mencukur habis kumis pria tersebut.


"Aakk-- kumisku!" Fabian berteriak histeris di dalam mimpi Yumi sembari menangisi kumis kesayangannya.


"Sialan! Aku memimpikan pria brengsek itu," gumam Yumi.


Lalu ia melirik jam dinding yang terpampang di atas pintu.


"Astaga sudah pukul sembilan. Aku telat lagi." Karena hujan, Yumi pun terlambat.


Hujan semalam sukses membuainya sampai lupa waktu. Terlebih lagi ditemani mimpi liar. Hae... romantisnya.


"Mama, aku berangkat." Yumi tidak sempat sarapan. Hanya pamit kepada Ibunya.


"Selamat pagi." Sontak Yumi terkejut tatkala Fabian menyapanya di ruang tamu.


Pria itu tengah duduk anteng di kursi sofa bersama Gautam.


"Fabian, kau?"


"Iya, ini aku."


"Sedang apa kau di sini?"


"Menjemput Istriku. Eh maaf, calon istri," goda Fabian seraya mengerlingkan sebelah mata.


Sementara Gautam tersipu malu melihat tingkah keduanya.


"Kalian bicara lah, Papa masuk dulu." Entah terbuat dari apa hati pria bertubuh kekar itu. Sampai merelakan Putrinya bersama mantan menantu yang pernah membuat kecewa.


"Hei, bukankah aku ada di sini? Jangan lupa, aku adalah Bosnya." Dengan penuh percaya diri Fabian menyebut jabatannya kepada Yumi. Sedangkan wanita itu tidak begitu peduli.


Mau Fabian Bos atau karyawan, kerja tetap lah kerja. Dia tidak ingin memakan gaji buta.


"Mungkin kau adalah Bosnya, tapi bukankah kau juga digaji oleh Bos besar? Dasar tukang pamer!" ledek Yumi.


"Astaga, kumis pria ini. Bagaimana bisa tidak ada lagi? Apakah dia telah mencukurnya?" Yumi baru menyadari, bahwa Fabian telah mencukur habis kumis tipisnya.


Kumis itu dulu merupakan kebanggaan bagi pria tersebut. Seolah benda pusaka yang wajib dipelihara.


Namun, entah mengapa dia mencukurnya. Mungkin karena merasa bosan, ataukah karena mimpi liar semalam. Entahlah.


"Ada apa? Apa kau terpesona dengan penampilanku? Bukankah aku terlihat keren?" Fabian sangat percaya diri memuji dirinya. Tak pelak Yumi merasa hendak muntah.


"Keren dengkulmu? Kau justru terlihat sangat aneh. Dasar angsa!" ledek Yumi.


"Tapi kau suka, kan?" Fabian menaik turunkan kedua keningnya, hingga sukses membuat kedua sudut bibir Yumi tertarik tipis. Nyaris tidak kentara, tapi Fabian dapat melihatnya.


"Heiya, kau benar-benar suka. Yes! Aku berhasil. Sepertinya kumis ini membawa keberuntungan." Lagi-lagi Fabian memuji kelebihan yang dimiliki sembari mengusap atas bibirnya.


"Aku mau berangkat kerja," tukas Yumi terburu-buru.

__ADS_1


"Hei, tunggu aku!"


"Menjauh dariku! Kau benar-benar terlihat aneh."


"Balikan, yuk?"


Hari ini Fabian sungguh tidak seperti biasa. Dia lebih bersemangat dari biasanya.


Tampaknya mimpi panas semalam ampuh mengubah gaya hidup pria tersebut. Buktinya, dia rela menghabisi kumis kebanggaannya itu.


"Sana pergi!" tolak Yumi seraya menahan senyum.


"Balikan, yuk!" Fabian mulai bermanja-manja. Rengekannya semakin kentara, hingga tetangga yang menyaksikan keduanya bergosip ria.


"Lihatlah mantan sepasang suami istri itu, mereka balikan lagi setelah saling mencampakan satu sama lain!" seru Ibu-ibu dengan kantong sayur di tangan.


Sedangkan temannya bergosip tengah membersihkan kotoran bayinya. Ada pula yang sementara menyeka ingus Anaknya.


"Hei Fatima binti mukmin tator buton! Apa kau iri melihat kami? Jika iya, maka coba saja pisah dari suamimu. Setelah itu kau memintanya kembali. Pasti kau akan merasakan hidup yang paling sedap. Coba saja."


Fabian tidak mempersoalkan cemoohan wanita dengan status janda kembang itu. Dia justru menantangnya.


"Hei tunggu, bukankah kau adalah janda kembang itu? Wah, berarti pas dong," imbuh Fabian


"Bagaimana dia bisa tahu aku seorang janda?" gumamnya.


Ya, wanita itu adalah seorang janda yang baru ditinggal suaminya.


Entah karena apa mereka berpisah. Wanita itu memilih kembali kepada orang tuanya.


Wajah janda itu pun menjadi pias. Kata-kata Fabian teramat tajam.


Memang sikapnya tidak dibenarkan. Bedanya Fabian tidak mencela status seseorang.


Pun Yumi, wanita itu hanya diam.


"Ayo kita pergi, Sayang." Fabian menggandeng lengan Yumi tanpa dosa. Seolah sengaja memanas-manasi janda tadi.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tidak waras?" bisik Yumi menahan kesal sekaligus malu.


"Jangan khawatir, Ibu itu pasti akan berdecak sebal. Lihat saja," balas Fabian dengan bisikan pula.


Sejenak Yumi menoleh pada janda tadi. Dan benar saja, wanita itu berdecak sebal seperti yang Fabian katakan.


"Kau benar-benar gila!"


"Tidak masalah, asal aku gilanya sama kamu. Balikan, yuk?" Lagi-lagi Fabian menggoda Yumi tanpa henti, hingga wanita itu tak dapat menahan diri. Dia pun terkekeh lepas.


"Apaan sih? Dasar aneh," katanya.


"Hei, apa kau tertawa? Artinya kau juga suka, iya kan?"

__ADS_1


"Apaan sih? Jangan mengada-ngada deh. Cepat jalan, kita sudah terlambat."


"Siap Bos!"


__ADS_2