Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Fahri dan Rohana


__ADS_3

Pagi-pagi Fahri dan Rohana sudah bersiap untuk menemui Tuan Aryan. Mereka membuat temu janji di restoran tempat Keva dan Yumi berjumpa kala itu.


"Selamat pagi, Tuan Aryan. Maaf, kami terlambat." Setelah berhasil melewati kemacetan kota Jakarta, akhirnya Fahri dan Rohana berhasil bertemu pria berkepala plontos tersebut.


"Tidak masalah, kota Jakarta memang selalu macet di pagi hari." Tidak disangka, Tuan Aryan begitu bijaksana memahami situasi dan kondisi dua orang tersebut.


"Terimakasih, Tuan."


"Jadi, apakah kita bisa mulai?"


Fahri dan Rohana akhirnya membahas rencana kerja mereka bersama Tuan Aryan.


Mereka membutuhkan waktu hampir dua jam lamanya.


Proyek itu terkait pengembangan sumber daya alam di kota Bandung. Di sana mereka membangun sebuah tempat wisata. Dimana secara alami dapat memikat hati setiap orang yang datang.


Anggaran yang dibutuhkan cukup besar, sekitar satu milyar lebih.


Perusahaan Fabian rela menggelontorkan dana dengan jumlah fantastis hanya demi sebuah wisata alam, karena ia ingin mempercepat proses pengembangannya.


Dengan begitu dia bisa lebih fokus pada pembangunan cabang perusahaan.


Dari dana itu rencananya akan dibagi untuk beberapa hal. Selain untuk biaya anggaran pembangunan, akan diberikan kepada Tuan Aryan sekitar dua puluh persen, melebihi perjanjian sebelumnya.


Tuan Aryan hanya perlu menjalankan tugas sebagai kepala kontraktor, sedangkan Fabian tinggal menunggu hasil.


Di tempat wisata itu terdapat puluhan gazebo sebagai tempat para pengunjung bertedu, atau sekedar menikmati pemandangan bersama kawan-kawan.


Ada juga kolam renang Anak dan dewasa yang sengaja dipisah. Kemudian nantinya akan ada beberapa pohon kelapa yang sengaja ditanam agar tidak meninggalkan kesan alam.


Ada air terjun buatan, dimana di bawahnya akan terdapat hiasan ikan terbang.


"Apakah gambaran ini sudah cukup?" tanya Tuan Aryan.


"Aku rasa semuanya sesuai rencana Tuan Fabian. Bukankah dena dan seluruh anggaran telah diberikan kepada, Tuan? Sisanya, Tuan Aryan yang urus. Kami sangat percaya kepada Anda," papar Fahri secara detil.

__ADS_1


"Oh iya, Tuan. Ngomong-ngomong, apakah tidak seharusnya kita membangun restoran di sana? Seperti tempat ini misalnya. Aku rasa akan lebih menarik minat pelanggan." Kali ini Rohana yang mulai berbicara mengemukakan pendapatnya.


Ide itu baru saja muncul beberapa menit saat melihat air terjun di luar jendela.


"Tapi, ini di luar dari rencana kita, Nona. Kita pasti akan membutuhkan anggaran besar jika Anda memaksa," papar Tuan Aryan.


"Tidak masalah, mengenai dana aku bisa diskusikan bersama Ayahku. Anggap saja aku berinvestasi sebagai pemegang saham. Aku rasa kita tidak akan menemukan kendala kedepannya." Dengan percaya diri sekali lagi Rohana mengemukakan stiga itu, tak pelak membuat Fahri berdecak kagum di dalam hati.


Tidak disangka, wanita sebar-bar seperti Rohana mampu mengembangkan sebuah ide menarik. Terlebih lagi dia ingin menjadi salah satu Investor dalam bisnis itu.


Artinya secara otomatis Rohana telah menjadi klien Fabian andai rencana itu telah disepakati oleh semua pihak.


"Baik, aku setuju. Mengenai jumlah dana, aku bisa mengirimnya lewat email secara detil begitu aku selesai mengkalkulasi."


Dan akhirnya pertemuan itu pun berakhir. Mereka telah sepakat untuk membangun wisata alam disertai dengan restoran china.


Tentu saja setelah ini Rohana akan mendiskusikan kembali bersama Fabian. Sebab, pria itu masih belum tahu rencana Rohana yang satu ini.


Meski demikian, Rohana yakin, bahwa Fabian pasti akan setuju dengan idenya kali ini.


Pun Sang Ayah, pasti akan mendukung tiap rencana yang ia usung.


"Tidak, aku masih belum mendiskusikan dengannya. Tapi aku yakin, dia pasti setuju," sahut Rohana penuh percaya diri.


"Terserah kau saja, aku bisa apa jika kalian para orang kaya sudah mengambil keputusan?" Sedang Fahri hanya bisa pasrah menerima ide rekannya itu.


Lagi pula dia tidak mempunyai wewenang untuk membuat sebuah keputusan. Fabian adalah Bosnya, sedangkan Ayah Rohana adalah salah satu pemegang saham dari perusahaan tempatnya bekerja.


"Setidaknya kemukakan pendapatmu. Apa salahnya berpendapat? bukankah gratis?" balas Rohana dengan santainya.


"Baiklah, kalau begitu traktir aku minum. Aku ingin menikmati bir malam ini." Bukan hal baru lagi bagi Fahri dalam menikmati minuman beralkohol tersebut. Pemuda berambut lebat itu sudah terbiasa meneguknya sejak dahulu.


"Baiklah, siapa takut." Pun Rohana, wanita dengan rok di atas lutut itu tak kalah lihainya dalam menghabiskan minuman mahal nan beralkohol. Bisa dikata minuman itu adalah temannya.


"Baiklah, nanti malam pukul delapan aku tunggu kau di bar Paradise. Aku harap kau tidak datang terlambat," kata Fahri penuh harap.

__ADS_1


"Aku bukan tipe wanita yang tidak menghargai waktu, Tuan Fahri yang terhormat."


"Baiklah, sampai ketemu nanti malam."


**


Malam harinya, Fahri dan Rohana benar-benar berjumpa di bar Paradise sesuai kesepakatan mereka.


Pria itu masih mengenakan pakaian kantor, sedangkan Rohana menyempatkan diri untuk mengganti baju. Sangat tidak etis bila mengenakan pakaian kantor di dalam bar.


Malam itu Rohana terlihat sangat cantik. Dia mengenakan gaun hitam mengkilat. Dadanya sedikit terbuka. Namun, masih memiliki lengan untuk menutupi pundaknya.


"Akhirnya kau datang juga, aku pikir kau ingkar janji." Fahri menyambut Rohana dengan beberapa teguk minuman wisky.


Awalnya hanya bir, tapi mendadak Fahri berubah pikiran. Dia ingin menikmati wisky.


"Anggur merah seperti biasa." Sementara Rohana memesan anggur merah yang usianya sekitar enam puluh tahun.


Harganya cukup mahal, tapi uang bukanlah masalah bagi orang kaya seperti Rohana.


"Aku rasa kau sering menikmati minuman itu. Sangat jelas dari caramu memesan." Sedikit terkejut, tapi pelan-pelan Fahri sadar dengan siapa ia minum.


"Tempat ini adalah milik Kakak tertuaku. Jadi, sudah bisa dipastikan, bukan?" Kali ini Fahri dibuat tercengan oleh wanita itu. Rupanya tempat itu adalah milik saudara Rohana.


Sudah bisa dipastikan, bahwa Rohana berasal dari keluarga kaya raya.


Anehnya, mengapa dia memilih untuk bekerja di perusahaan orang lain? Memang Ayahnya adalah salah satu Investor di sana. Namun, bukankah dia bisa menjadi CEO di perusahaan Ayahnya sendiri? Atau jabatan lainnya yang bisa digeluti oleh darah dua puluh tujuh tahun tersebut.


"Begitu rupanya," gumam Fahri merasa kecil.


Pria itu menunduk. Dia tidak sekaya Rohana yang memiliki segalanya.


"Mengapa ekspresimu seperti itu? Santai saja. Meskipun bar ini adalah milik Kakak, aku masih harus tetap bayar. Aneh, bukan? Padahal aku bisa saja menjual namanya. Dengan begitu aku akan mendapat minuman gratis. Namun, aku sadar, bahwa itu tidak baik. Ayah selalu mengajariku untuk bertanggung jawab pada diri sendiri. Jangan gunakan nama keluarga demi mendapatkan sesuatu."


Siapa sangka, wanita bar-bar seperti Rohana cukup bijaksana dalam menyikapi ajaran orang tuanya.

__ADS_1


Selama ini Fahri menyimpulkan, bahwa Rohana adalah Anak Mama yang sungguh manja. Namun, lihatlah yang terjadi saat ini. Wanita itu justru sangat dewasa.


"Rupanya kau sangat berbeda jika aku melihatmu lebih dekat. Kau sungguh membuatku takjub, Rohana," batin Fahri, memuji wanita itu.


__ADS_2