Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Aku Cemburu


__ADS_3

Seminggu pasca kejadian itu, Yumi masih tetap bersikap dingin kepada Fabian. Seakan enggan untuk membangun komunikasi dengannya.


Terkadang rasa iba hadir di dalam hati, tetapi Yumi telah membulatkan tekad, bahwa ia tidak ingin kembali.


Yumi masih tetap ingin menutup semua kemungkinan untuk bersama seperti dulu.


Sedangkan Fabian tak mengenal lelah dalam mengejar cintanya. Tentu saja dengan cara klasik.


Namun, sepertinya kali ini Yumi tak dapat mengelak. Kenzo membutuhkan dirinya. Kondisi Anak itu semakin memburuk pasca memakan bakso.


Kini Bocah berambut jabrik itu sedang mendapat perawatan di rumah sakit.


"Kenzo masuk rumah sakit, dia mencarimu." Meski kondisi Kenzo menjadi kesempatan Fabian untuk bersama Yumi, tetapi dia tak ingin egois. Kesehatan Putranya lah yang paling utama.


Andaikan Yumi menolak untuk menemui Anak itu, maka dia tak akan memaksa.


"Rumah sakit? Bagaimana bisa?" Yumi sadar, bahwa tak semudah membalikan telapak tangan menghindari mantan suaminya itu. Sebab, masih ada Kenzo yang menjadi perantara mereka.


Lihatlah sekarang, betapa paniknya wanita bertubuh semampai itu setelah mengetahui kondisi Kenzo.


"Semalam dia makan bakso bersama Ayah. Entah bagaimana ceritanya sampai ia memuntahkan bakso itu. Kata Ayah bakso itu belum matang," papar Fabian.


"Baiklah, aku akan ke rumah sakit sekarang."


"Kita pergi bersama, aku kesini untuk menjemputmu."


Yumi terpaksa harus mengenyampingkan ego demi Kenzo. Kasihan Anak itu, dia sangat membutuhkan dirinya.


Di sisi lain Kenzo menganggap Yumi seperti Ibu kandung. Anak itu merasa terlindungi saat bersamanya.


Betapa tidak, Yumi memberinya kasih sayang, cinta, serta perhatian yang selama ini tak pernah Kenzo rasakan.


Selama delapan tahun ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Wajar bila saat bertemu Yumi, hatinya seketika terpikat.


Yumi memang tipe wanita berkarisma, walau tampak sederhana. Tak banyak yang tahu bila wanita itu menginginkan keturunan dari pernikahannya terdahulu. Semua itu dipendamnya dalam hati secara rapat-rapat.


Begitu berjumpa Kenzo, naluri keibuannya seketika meronta.


"Kenzo, Sayang. Bagaimana keadaanmu, Nak? Apakah kau sudah merasa lebih baik?" Yumi tiba di rumah sakit dan langsung menemui Kenzo.


Di ruangan itu masih ada Abdullah, tengah duduk di sofa menjaga Sang cucu tercinta.


"Nona Yumi? Kau datang?" Mata Kenzo berbinar saat menyaksikan kedatangan wanita itu.

__ADS_1


"Em, aku datang untuk memarahimu! Bagaimana bisa kau makan makanan yang belum matang?" Yumi seakan memarahi Putranya sendiri, tanpa tahu ada mantan mertua di antara mereka.


"Maafkan aku, aku lah yang membawa Anak itu makan bakso di pinggir jalan." Yumi menoleh pada Abdullah yang berdiri di belakangnya.


Ketika masuk ruangan, Yumi tidak memperhatikan di sekelilingnya. Seluruh perhatiannya berpusat pada Kenzo. Alhasil dia pun merasa canggung pada pria paruh baya tersebut.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaan Anda," sesal Yumi setulus hati.


"Tidak masalah. Memang sudah semestinya aku kena marah. Seharusnya aku lebih waspada terhadap makanan di pinggir jalan, meski tidak semua kuliner di sana sama. Sebagai Kakek, aku telah gagal."


Suara Abdullah bergetar saat mengungkap penyesalannya. Mereka nyaris kehilangan Kenzo andai tak membawa ke rumah sakit tepat waktu.


"Apa yang Paman bicarakan? Ini bukan salah Paman. Terkadang orang tua juga melakukan kesalahan. Sama halnya Anak-anak." Yumi menghampiri mantan mertuanya itu sembari mengusap lengan.


Yumi tidak bermaksud menyalahkan siapapun dalam hal ini.


"Kadang-kadang manusia melakukan kelalaian. Sebab, kita tidak mampu mengendalikan musibah. Ya, anggap ini sebagai musibah yang patut dijadikan pelajaran," imbuh wanita cantik itu.


"Nona Yumi, aku mau makan apel. Tolong suapi aku." Dengan manjanya Kenzo meminta Yumi memberinya buah. Sehingga Fabian mengukir senyuman haru di kedua sudut bibirnya.


Tidak bisa dipungkiri lagi, bila pria itu sungguh terharu pada sikap serta cara Yumi memperlakukan keluarganya. Sedangkan dia telah melakukan dosa besar dengan meninggalkan wanita tersebut.


Memang bukan Fabian yang menginginkan perceraian. Namun, dia juga tak berusaha mencegahnya, apa lagi mencarinya.


"Maafkan aku, Yumi." Dan hanya kalimat ini yang bisa Fabian katakan di dalam hati.


Sejujurnya Fabian merasa malu pada wanita itu. Saat memintanya kembali, dia berpikir ribuan kali. Dia harus mengumpulkan keberanian untuk bertemu mantan istrinya itu.


Dan sejujurnya pula Fabian tidak bermaksud menyusahkan Yumi, apa lagi membebaninya dengan ikatan mereka di masa lalu.


Fabian hanya ingin membangun sebuah hubungan baru dengannya. Mungkin caranya salah, tetapi itu lah upaya Fabian dalam merebut kembali kepercayaan Yumi.


Sebelum memutuskan memegang kendali perusahaan mendiang Ibunya, Fabian berpikir ribuan kali. Sebab, ia tahu ada Yumi dalam perusahaan itu.


Antara dua kemungkinan bila semua orang tahu mereka adalah mantan sepasang suami istri.


Yumi keluar dari perusahaan itu, atau Fabian melupakan harapannya untuk memiliki Yumi kembali melalui jalur pekerjaan. Dia harus mengubur dalam-dalam impiannya tersebut.


"Apakah kita bisa bicara?" Fabian meminta Yumi ketika wanita itu sedang menyuapi Kenzo.


"Kemarilah, berikan padaku. Biar aku yang menyuapi Kenzo." Abdullah sengaja mengambil alih, agar dua insan yang masih saling mencintai itu leluasa berbicara.


Sedangkan Kenzo yang pemikirannya seperti orang dewasa, meluaskan kedua orang tuanya untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.

__ADS_1


Entah mengapa, Kenzo merasa Fabian dan Yumi memiliki sesuatu yang belum tuntas.


"Bicaralah, aku mendengarkan." Setelah berada di luar ruangan, Yumi kembali bersikap dingin.


"Yumi, tidak bisakah kau memperlakukan aku seperti orang lain? Kau tidak perlu bersikap dingin seperti ini. Itu benar-benar membuatku tersiksa," ujar Fabian.


"Benarkah? Mantan sepasang suami istri, setiap hari bertemu di kantor, bekerjasama, menghabiskan waktu hampir dua puluh empat jam, menyiapkan sarapan, memastikan segala hal yang berkaitan dengannya, entah itu urusan pribadi ataupun pekerjaan. Bila diketahui oleh semua orang, apakah menurutmu tak akan berpengaruh pada karir serta hidupku? Apakah menurutmu aku suka bertemu denganmu dengan cara yang kaku? Aku juga tidak suka, Fabian!" seru Yumi menggebu-gebu.


"Dengar, aku tidak suka setiap hari berinteraksi denganmu. Aku bahkan memintamu untuk mencari sekretaris baru, tapi apa kau mendengarku? Kau justru menekanku, Fabian. Kau menekanku!"


Yumi semakin emosional, seolah mengeluarkan isi hati yang selama ini terpendam.


"Sebenarnya apa maumu, em? Apakah aku harus terlihat baik-baik saja dan menerima semua perlakuanmu padaku? Apakah aku harus kem--"


"Jauhi Keva!" Dua kata itu sukses membuat Yumi tercengang tak percaya.


Ini adalah masalah mereka berdua, lantas mengapa membawa pria tak berdosa itu dalam urusan mereka?


"Apa maksudmu? Mengapa kau mengaitkan masalah ini dengannya?" tanya Yumi masih dengan raut tak percaya.


"Jelas saja ini ada kaitannya dengan pria itu!"


"Pria itu memiliki nama, Fabian."


"Aku tahu! Tapi tiap kali kau menyebut nama pria itu, kepalaku menjadi sakit. Aku benci saat kalian menghabiskan waktu bersama, makan siang bersama, dan semua yang menyangkut dengannya!" papar Fabian semakin emosional.


Mereka berdebat di depan pintu ruangan Kenzo, seolah mengabaikan semua orang yang ada di sana.


"Benarkah? Apa kau memiliki alasan untuk ini?" tanya Yumi, menyangsikan Fabian.


"Kau jelas tahu aku sangat cemburu bila kau pergi bersama Keva. Aku marah, dan aku benci pada diriku sendiri yang tidak tahu harus berbuat apa!" seru Fabian, akhirnya mengungkap setengah isi hatinya kepada Yumi.


Sedangkan wanita itu menjadi tercengang dibuatnya.


"Aku mencintaimu, dan kau sangat tahu itu. Namun, kau masih sengaja mengabaikanku. Apakah menurutmu aku tidak sakit hati? Apakah kau pikir aku baik-baik saja?" imbuh pria itu semakin masuk ke rana pribadinya.


Kali ini pembahasan mereka cukup dalam. Menyangkut hati dan cinta.


"Tidak, aku tidak pernah tahu kau mencintaiku. Baik dulu ataupun sekarang." Mata Yumi mulai berkaca-kaca. Antara terharu dan marah.


Selama ini Fabian tak pernah menyebut kata cinta untuknya.


Setelah sepuluh tahun berlalu, dia baru mengungkapkan kata sederhana itu.

__ADS_1


__ADS_2