
Fabian Pov.
Tak pernah ku sadari, bahwa keberadaan Yumi dalam hidupku selama dua tahun sangat berpengaruh. Dia mengubah segalanya menjadi lebih indah.
Dia menyentuh setiap sudut rumah menjadi lebih nyaman. Sayangnya semua itu tidak pernah ku hargai.
Yumi adalah wanita yang baik. Dia rela menyerahkan segenap jiwa dan raganya demi hidup bersamaku. Dia bahkan meninggalkan keluarganya demi diriku. Lantas aku menyia-nyiakan hidup wanita itu.
Aku yang mulai bosan dengan pernikahan, berpura-pura baik-baik saja di depannya. Nyatanya aku sangat tertekan dengan kebaikan Yumi.
Setiap hari dia melayaniku dengan baik. Entah itu di ranjang maupun di dapur. Yumi benar-benar bersamangat.
Pernah sekali kami berada di dapur guna memasak bersama, saat itu tanpa sengaja aku melukai jarinya. Dengan lemah lembut Yumi berkata dia baik-baik saja.
Kami menatap satu sama lain, hingga malam itu kami melakukannya untuk pertama kali.
Aku bisa merasakan sensasi yang berbeda di atas ranjang saat bersamanya. Dia benar-benar membawaku dalam kehangatan. Sayangnya saat itu aku masih terlalu munafik untuk mengakui perasaan ini.
Kebersamaan kami begitu berarti, sampai Yumi terbuai. Aku sangat menghargai pengabdian wanita itu. Dia benar-benar mengagumkan.
Tanggung jawab serta kewajiban dijalankan dengan baik dalam waktu bersamaan.
Jujur saja aku sangat salut padanya. Mungkin tidak akan ada wanita seperti Yumi di dunia ini.
Pasca perpisahan itu, aku baru menyadari, bahwa segalanya telah berubah. Yumi pergi tanpa meninggalkan jejak di sini.
Bahkan semua yang kami miliki dia telah bawa pergi. Hanya potret pernikahan kami yang menjadi satu-satunya kenangan di antara kami berdua.
Setiap hari ku pandang potret itu agar hati ini merasa tidak sendiri. Di dalam potret itu pula tampak senyuman tulus Yumi. Sedangkan aku hanya diam tanpa ekspresi apapun. Aku sangat datar. Mungkin karena terpaksa melakukan pernikahan.
Jujur saja, pernikahan itu bukan aku yang siapkan, melainkan Yumi bersama beberapa temannya salah satunya adalah Erika.
Sedangkan aku tengah menjalankan kewajiban di kampus. Saat pulang, aku melihat isi rumahku telah berbeda. Yumi meletakan beberapa benda asing di sana. Sedangkan rumah itu tampak biasa saja sebelum kedatanganya.
Ada balon berwarna merah dan putih di ruang tamu. Sedangkan di kamar terdapat bunga mawar merah sebagai simbol cinta.
Bunga mawar itu sengaja di bentuk love oleh Yumi. Katanya agar kami melewatkan malam pertama dengan suasana romantis. Nyatanya malam itu kami sama-sama kelelahan, terutama aku.
Yumi masih memiliki sedikit tenaga untuk bercinta, tapi tidak denganku.
__ADS_1
Mata ini seolah enggan untuk berkompromi. Apa lagi otot yang semakin melemah. Lantas bagaimana kami bercinta dengan kondisi seperti ini?
Beberapa malam kami lewati tanpa bercinta, sampai akahirnya peristiwa jari terluka itu telah tiba, dan saat itulah kami mulai melakukannya.
Tidak ku sangka, bila aku lah pria pertama yang merenggut kewanitaan Yumi di tengah bebasnya pergaulan.
Sepertinya Yumi menjaga dirinya dengan baik. Dia sanggup menjaga kehormatannya sampai hari pernikahan.
Area itu sungguh sempit sampai beberapa kali gagal. Namun, berkat bantuan Yumi kami berhasil melakukannya.
Malam itu aku benar-benar merasa dihormati, Yumi mempersembahkan hal berharga yang tidak semua wanita miliki kepadaku.
Andaikan bisa ku ulang kembali momen itu, ingin rasanya aku memperbaiki setiap hari yang kami lewati.
Aku suka sentuhan Yumi, dia membawaku dalam kehangatan serta kelembutan. Namun, semua itu tiada lagi. Yumi telah pergi setelah aku melakukan kesalahan.
Bodohnya, aku terlalu pengecut untuk menahannya agar tetap tinggal.
Jauh-jauh Yumi menemuiku dari rumah kedua orang tuanya. Nyatanya aku mengabaikan wanita tersebut.
Sialnya, meski tahu dia telah kembali aku tidak berencana untuk mencarinya. Andaikan Mama mertua tidak menghubungiku, mungkin aku tidak akan pernah menyadari kesalahanku.
Adalah Kenzo Putra Fabian, Anak yang tanpa sengaja ku temukan di depan rumah delapan tahun silam.
Pasca perceraianku, Tuhan seolah mendatangkan Kenzo sebagai pelipur lara. Anak ini berhasil menutupi kesepian. Dia benar-benar Anak yang baik.
"Ayah menangis?" Saking terharunya, tanpa sadar air mata menetes begitu saja. Beruntung aku masih memiliki bocah ini. Andaikan tidak, entah apa yang akan terjadi pada hidupku.
Yumi telah pergi, dan aku tidak ingin kehilangan Kenzo. Anak ini sangat berharga dalam hidupku sekarang.
Jika suatu saat nanti orang tua kandungnya datang, aku sungguh tidak siap untuk melepasnya.
"Kau terlalu banyak bertanya. Kau sendiri, mengapa belum tidur? Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" Sengaja aku mengajukan pertanyaan serupa kepada Kenzo, agar dia tidak semakin bingung.
"Itu kan dialogku, mengapa Ayah mencurinya? Aku tahu, Ayah pasti sedang memikirkan Nona Yumi, bukan?"
Sialnya, aku lupa menyingkirkan potret pernikahan kami. Sehingga Kenzo melihatnya.
"Sok tahu kamu," jawabku seraya mencubit gemas pipi Kenzo.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, siapa pria di mall tadi, Ayah? Apakah dia tunangan Nona Yumi?" Sejenak aku terdiam begitu mendengar pertanyaan Putraku. Rupanya kehadiran Yumi dalam hidup Kenzo sangatlah berarti.
"Kalau iya, kenapa? Apa kau tidak menyukainya?" tanyaku ingin tahu.
"Apakah aku boleh jujur?" Sepertinya percakapan kali ini akan semakin menarik.
Aku ingin mendengar pendapat Kenzo mengenai Keva dan Yumi. Anak ini pasti memiliki stigmanya sendiri.
"Tentu saja, kenapa tidak?" sahutku.
"Pria tadi sangat baik, hanya saja Nona Yumi lebih cocok bersama Ayah. Kalian memiliki aura positif yang sangat baik. Seperti membawa keberuntungan."
Sontak aku terdiam. Kenzo menyebut Yumi adalah keberuntunganku, tapi sayangnya keberuntungan itu telah aku abaikan delapan tahun lalu.
"Lalu?" tanyaku lebih lanjut.
"Tadi saat melihat mereka, entah mengapa aku merasa Nona Yumi seperti tertekan. Dia tidak bahagia saat bersamanya. Tapi ketika berada di ruma ini, Nona Yumi selalu tersenyum."
"Kau benar, Yumi selalu tersenyum. Namun, aku telah menghancurkan senyuman itu," gumamku dengan nada lirih.
"Kalau begitu cobalah untuk memenangkan kembali hati Nona Yumi. Ayah pasti bisa melakukannya," imbuh Kenzo.
Entah Kenzo mewarisi sifat siapa, Anak ini benar-benar cerdas. Dia mampu menjadi teman curhat. Dia sanggup memberiku solusi sekaligus semangat.
"Kau ini ada-ada saja. Sekarang waktunya istirahat. Kau terlalu banyak bicara." Kali ini aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan, agar Kenzo tidak berharap banyak, atau aku akan mematahkan hatinya lagi dan lagi.
Sudah cukup aku melukai hati Yumi, kini aku tidak ingin mengulangnya kembali. Kenzo terlalu kecil untuk merasakan patah hati.
"Selamat malam."
"Aku ingin tidur bersama Ayah malam ini."
"Baiklah, kita akan tidur bersama."
"Sebelum Nona Yumi yang menemani Ayah tidur, bukan?"
Astaga aku lupa sedang berbicara dengan Anak kecil. Kenzo seakan menjelma seperti orang dewasa. Buktinya aku sampai lupa usia sebenarnya.
Note : Untuk pemenang kuis kali ini atas nama Jane Batalipu. Silahkan follow IG Author atas nama Suharni Adhe atau add facebook atas nama Suharni Adhe. Terimakasih.
__ADS_1