Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Menyesal


__ADS_3

Masih seputar Keva, Rafi, serta Rido. Tiga sahabat itu masih belum beranjak dari tempat hiburan malam.


Masing-masing di dalam kamar yang berdekatan. Yang satunya sementara mendapat siraman rohani dari salah satu temannya. Sedangkan yang satunya lagi masih bermanja ria bersama gundiknya.


Dua situasi yang sungguh bertolak belakang. Satunya merasa bahagia, karena terpuaskan. Sementara yang satunya lagi justru menelan kepedihan.


Kini ia pun menyesal, karena memilih jalan yang salah untuk mengobati luka hati.


Beruntung masih asa salah satu sahabatnya yang bersedia mengingatkan tanpa mengenal lelah.


Adalah Keva Aprianza, pria berparas tampan rupawan. Hatinya patah karena ditinggal seorang wanita.


Batinnya menjerit kesakitan, sedangkan fisiknya hendak membalas dendam. Sungguh kompilasi perasaan yang saling membutuhkan.


Kini Keva merasa dilema, antara ingin merelakan segalanya dan mencari pengganti Yumi, atau justru kembali mengejar wanita tersebut serta membuktikan diri, bahwa ia benar-benar pantas untuknya.


Keva ingin memperjuangkan cintanya, tetapi wanita itu secara terang-terangan menolak.


Di sisi lain, masih ada Fabian yang menjadi penghalang di antara mereka. Haruskah Keva menyingkirkannya? Tapi bagaimana jika Yumi akan membenci pria itu? Pikirnya.


"Ayo kita tinggalkan tempat ini sebelum terlambat." Masih tak mengenal lelah, sejak tadi Rafi terus membujuk Keva untuk meninggalkan tempat maksiat tersebut.


"Aku memang sudah terlambat," lirih Keva.


Tatapan pria itu benar-benar kosong. Tubuhnya mendadak melemah tak bertenaga. Padahal beberapa waktu lalu hasratnya menggebu-gebu. Begitu Rafi menyebut nama Yumi, lantas ia pun berubah dalam sekejab mata. Hatinya tercubit perih.


"Tidak ada yang terlambat selama kau ada niat untuk berubah. Lagi pula kau tidak menyakiti siapapun," sahut Rafi.


Sementara itu, di wilayah berbeda, yakni Yumi dan Fabian. Keduanya tengah menikmati kebersamaan di restoran.


Malam ini mereka diner romantis. Sengaja Yumi mengajak kekasihnya itu, agar sejenak melupakan persoalan Ibu kandung Kenzo.


Pasalnya, Fabian semakin ketakutan setiap malam. Beruntung masih ada Yumi dan Abdullah yang bersedia menemaninya. Andaikan Fabian hanya menghadapi seorang diri permasalahan ini, maka bisa dipastikan ia akan terpukul sekaligus frustasi.


Fabian memang membutuhkan sosok wanita yang mampu menenangkan dirinya, dan itu ada dalam diri Yumi.


"Apa kau suka menunya?" tanya Yumi sembari memotong daging sapi.


"Hm, aku suka. Apa lagi kentang dan asparagusnya, rasanya sungguh luar biasa. Dari mana kau tahu restoran ini? Sepertinya masih baru." Pun Fabian, lelaki penyuka warna hitam itu memotong daging sapi seperti Yumi.

__ADS_1


Mereka memesan menu yang sama. Sedangkan menu penutup yang dipesan adalah wafel serta ice krim rasa coklat dan vanila.


"Erika yang merekomendasikan tempat ini. Katanya baru buka dua minggu lalu," papar Yumi.


"Oh iya, kapan-kapan kita ajak Kenzo dan Ayah ke tempat ini. Sepertinya seru." Mendadak Fabian menghentikan gerakan memotong daging setelah Yumi menyebut nama Putranya.


Tadinya ia telah melupakan masalah yang tengah dihadapi.


Mungkin Yumi tidak sadar dengan apa yang baru saja ia katakan. Niatnya adalah ingin menghibur Sang kekasih dengan memboyong Kenzo serta Abdullah untuk menghabiskan malam bersama selayaknya keluarga bahagia.


Namun, siapa sangka bila niatnya itu justru berujung kesedihan. Dimana hati Fabian tercubit.


Ingatannya kembali lagi pada sosok wanita asing beberapa hari lalu.


"Ada apa? Mengapa diam saja?" Menyadari kekasihnya mulai berubah, Yumi pun bertanya. Firasat wanita itu mulai tak baik.


"Tidak apa-apa, makanlah. Aku mau ke toilet dulu." Fabian tidak ingin berkata jujur terkait perasaannya. Sengaja ia menghindar dengan memilih kamar mandi.


Tempat itu akan ia jadikan sebagai tempat untuk merenung sekaligus menangis.


Ia tak ingin terlihat lemah di mata Yumi. Meski sejujurnya wanita itu hafal betul perangainya.


Yumi tahu, bahwa saat ini yang dibutuhkan Fabian adalah pengertian, agar jiwanya tak berteriak.


"Aku tidak boleh lemah. Kenzo adalah Putraku sampai kapanpun juga. Tidak akan ada yang bisa merebutnya dariku." Dan di sinilah ia sekarang, di kamar mandi restoran.


Setelah membasuh wajah, Fabian bermonolog sembari menatap wajahnya ke cermin.


Netra tajam itu menteskan aira mata. Hanya beginilah yang bisa dilakukan Fabian. Menyembunyikan ketakutan serta kesedihan.


Di depan Yumi dan Abdullah ia berlagak kuat, tetapi di belakang mentalnya seolah dihajar habis-habisan.


Rasa takut kehilangan Anak benar-benar dialami oleh pria berusia tiga puluh delapan tahun tersebut.


Memang benar bila belum pernah menjadi Ayah sesungguhnya, tetapi cintanya terhadap Kenzo telah membuktikan, bahwa ia memang pantas menyandang gelar sebagai Ayah yang bertanggung jawab.


Lihatlah caranya membesarkan Kenzo. Ia memberikan pendidikan yang layak. Menyekolahkannya di sekolah Internasional. Memberi makanan sehat, serta mencintainya sepenuh hati. Bukankah semua itu sudah cukup?


"Aku tidak akan membiarkan wanita itu merebut Putraku. Dia hanyalah orang asing bagi kami," lanjutnya.

__ADS_1


Lantas Fabian kembali membasuh wajah. Setelah itu pergi menemui Yumi. Namun, Fabian mendapati wanita itu tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telpon.


"Siapa?" tanya Fabian seraya mendaratkan tubuh ke kursinya.


"Bukan siapa-siapa." Gelagat Yumi sedikit berbeda. Seperti tengah menutupi sesuatu dari Fabian pasca menerima panggilan telepon.


Fabian yang terlihat tak bersemangat, pun enggan bertanya. Hati serta jiwanya masih berpusat kepada Kenzo.


"Kita pulang, aku sudah kenyang," katanya tanpa gairah.


"Loh, kita kan baru makan. Bahkan menu penutupnya belum dicicipi sama sekali," kata Yumi dengan raut heran.


Tadinya Yumi berencana memberi Fabian kejutan dengan mendatang aktor favoritnya. Namun, sayangnya pria itu mendadak tak bersemangat. Fabian persis seseorang yang tak memiliki tanda-tanda kehidupan.


Segalanya terasa hampa. Bahkan ia tak lagi fokus pada rencana pembangunan restoran untuk Yumi. Semua karena munculnya wanita asing tempo lalu.


"Bungkus saja lah, aku benar-benar lelah. Aku ingin pulang." Fabian semakin bosan, ia pun berdiri hendak meninggalkan Yumi.


"Tapi--"


"Aku bilang pulang ya pulang. Mengapa kau tidak mengerti juga?!" Fabian mulai meninggikan suara begitu Yumi hendak menandasnya.


Alhasil pria itu menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di tempat tersebut.


Yumi melirik kiri dan kanan, hendak memastikan semua pandangan orang-orang.


Orang-orang itu ada yang saling berbisik, ada pula yang mencibir mereka. Sehingga Yumi merasa malu.


"Fabian, tenanglah. Orang-orang melihat kita," bisik Yumi hati-hati.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Fabian meninggalkan restoran itu. Alhasil Yumi hanya bisa mengikuti keinginan kekasihnya tersebut.


Di mobil, Fabian mendengus sebal. Hatinya kepanasan. Entah apa yang membuat ia begitu marah terhadap Yumi. Padahal wanita itu tidak melakukan kesalahan.


"Sebenarnya ada apa denganmu? Mengapa kau marah-marah di depan orang? Jika kau memiliki masalah, ayo kita bicarakan. Jangan pendam sendiri," ucap Yumi setelah masuk ke dalam mobil Fabian.


"Dengar, aku tahu kau sedang sedih, tapi apakah kau harus berteriak di depan orang? Apa kau tidak bisa melihat pandangan orang-orang tadi kepada kita? Setidaknya pikirkan aku," imbuh wanita itu.


"Maaf." Hanya satu kata ini yang bisa diucapkan oleh Fabian. Selebihnya itu ia terdiam.

__ADS_1


__ADS_2