Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Fabian Memarahi Yumi


__ADS_3

Hari demi hari dilalui Fabian dengan rasa takut yang luar biasa. Sebab, ia tak ingin kehilangan Kenzo.


Semua ditinggalkan demi memastikan Putranya itu baik-baik saja serta tetap aman.


Bila selama ini Fabian menugaskan Yumi yang menjemput Bocah itu, kali ini dia sendiri yang turun tangan.


Fabian tak ingin lagi berada di belakang layar. Maunya menjadi aktor utama yang kerap menjalankan peran dalam memantau Sang Putra.


Semenjak kehadiran wanita itu, hati Fabian semakin waspada. Setiap hari dalam pikirannya hanya dipenuhi Kenzo seorang.


Bahkan ketika Yumi menghiburnya, semua kata-kata itu seolah dianggap angin lalu. Tak berpengaruh sama sekali.


Padahal sebagai Ayah angkat, seharusnya Fabian dapat memahami perasaan orang tua kandung Ank itu.


Setidaknya Fabian harus mencari tahu siapa dan apa alasan Anaknya dibuang begitu saja.


Namun, tidak. Fabian tidak berencana mencari tahu alasan itu. Bahkan Fabian berharap agar tak ada satu orang pun yang mencari Kenzo pasca hari pertama kali ia temukan.


Kini setelah delapan tahun berlalu, ketakutan pria itu akhirnya terjadi juga. Dimana Ibu kandung Kenzo mendadak hadir di tengah terbentuknya ikatan baru bersama Yumi.


Rencananya pria itu hendak membangun rumah tangga bersama mantan istrinya itu, serta dilengkapi Kenzo sebagai Putra pertama mereka.


Namun, sepertinya rencana itu hanya tinggal angan-angan semata. Ibu kandungnya telah datang.


"Ini laporan mingguan yang harus ditanda tangan." Yumi datang bersama beberapa dokumen di tangan.


Ia menyerahkan kepada Fabian, tetapi pria itu masih melamun.


"Tuan Fabian," kata Yumi, menegur Fabian. Namun, masih belum juga ada tanggapan.


"Tuan Fabian." Sekali lagi Yumi menyapa, dan lagi-lagi pria itu masih tetap pada posisinya.


"Fabian!" Sampai akhirnya Yumi meninggikan suara.


"Iya." Dan berhasil. Pria itu akhirnya tersadar dari lamunan.


"Dokumen ini harus segera ditandatangani. Para pemegang saham dan beberapa klien kita sudah menunggu sejak beberapa hari lalu," jelas Yumi penuh penekanan.


"Baiklah." Satu kata singkat mewakili perasaan Fabian. Entah sampai kapan ia akan menjalani hidup seperti itu.


Hari-harinya dipenuhi kewaspadaan. Sementara masih ada solusi untuk memecahkan masalah yang tengah dihadapinya.

__ADS_1


"Ini." Kemudian Fabian menyerahkan kembali seluruh laporan itu setelah berhasil menandatangani.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Yumi sembari menerima dokumen tersebut.


"Hm, aku baik-baik saja." Singkat, padat, dan jelas.


Selama beberapa hari ini Fabian terkesan menghindari Yumi. Padahal wanita itu berusaha melakukan yang terbaik agar ia tak merasa kesepian apa lagi sendirian.


Sayangnya, Fabian lebih memilih menghadapi seorang diri persoalan yang tengah dihadapi.


"Baiklah. Oh iya, apakah siang ini kau ada waktu? Aku ingin makan siang denganmu," ucap Yumi penuh harap.


"Kau makanlah sendiri. Aku masih ada urusan." Lihatlah sikap Fabian yang terus mengacuhkan Yumi.


Sementara beberapa hari ini wanita itu sangat merindukannya.


Semenjak hadirnya Ibu kandung Kenzo hari itu, Yumi dan Fabian seolah berjarak.


"Apa kau masih memirkan masalah Ibu kandung Kenzo?" tanya Yumi akhirnya.


Tampaknya wanita itu mulai kesal terhadap sikap Fabian yang terkesan kekanak-kanakan.


"Mengapa kau menyebut wanita itu? Bukankah aku sudah melarangmu untuk membahas masalah ini? Mengapa kau tidak mengerti juga?!" hardik pria itu semakin bernada tinggi.


Yumi hanya mengajukan satu pertanyaan sederhana. Akan tetapi, pria itu justru memberi tanggapan tak terduga.


"Aku hanya--"


"Hanya apa?! Hanya sengaja ingin membuatku marah? Jika kau lapar, maka silahkan makan. Jangan membuatku pusing dengan menambah beban!" Kata-kata Fabian sungguh tajam, hingga sukses melukai perasaan Yumi.


Tak banyak yang diinginkan oleh wanita itu, hanya yang terbaik bagi kekasihnya. Namun, tampaknya Fabian masih belum bisa mengubah sifat keras kepalanya.


Seharusnya, kejadian delapan tahun silam ia jadikan sebagai pelajaran paling berharga.


Fabian telah kehilangan Yumi sekali. Apakah dia ingin kehilangannya lagi?


"Tuan Fab--" Tiba-tiba Erika datang. Buru-buru Yumi menyeka air matanya yang sempat jatuh ke pipi agar terlihat baik-baik saja.


Sayangnya, Erika bukan anak kecil yang mudah dibohongi. Wanita itu tahu apa yang terjadi. Fabian dan Yumi sedang tak baik-baik saja. Hubungannya masih diterpa masalah.


"Permisi." Akhirnya Yumi pergi begitu saja, meninggalkan Fabian dan Erika.

__ADS_1


Melihat itu, hati Erika pun semakin curiga, bila Fabian dan Yumi kembali menjalin hubungan yang tak sehat. Pria itu melukai perasaan Yumi lagi dan lagi.


"Ada apa?" tanya Fabian bersikap dingin.


"Aku hanya ingin memberitahu, bahwa Tuan Iskandar sejak tadi menunggu Anda di ruang rapat," ungkap Erika.


"Baiklah, kau boleh pergi." Lihatlah sikap Fabian yang terkesan tak merasa bersalah sama sekali. Padahal dia telah menyakiti Yumi.


Kini wanita itu sedang berada di ruang belakang. Di tempat itulah ia menangis sejadi-jadinya.


"Yumi."


"Erika."


Wanita itu pun menangis di dalam pelukan Sang sahabat. Hanya bersamanya ia merasa sedikit lebih baik.


"Tenanglah, minum ini. Setelah itu beritahu aku apa masalahmu." Erika memberi sebotol air mineral berukuran enam ratum mili liter kepada Yumi.


"Apa kau sudah merasa lebih baik dan siap untuk cerita? Jika belum, maka sebaiknya kau tenangkan dulu pikiranmu," imbuh wanita itu.


Yumi hanya tersenyum. Setelah itu mereka diam membisu. Hanya keheningan yang menemani keduanya.


Sampai akhirnya Yumi mulai bercerita, "Aku tidak baik-baik saja, Erika. Hatiku sungguh sakit."


"Apakah mau dan Fabian sedang bertengkar? Jika memang iya, maka sebaiknya kalian bicarakan masalah itu secara baik-baik dan dengan kepala dingin," ujarnya.


"Aku sudah berusaha, tapi dia malah menghindar. Aku ingin melakukan yang terbaik untuknya. Setidaknya aku bisa menjadi teman cerita. Namun, sepertinya dia lebih memilih berdiam diri," lirih Yumi semakin sedih mengingat cara Fabian memperlakukan dirinya.


"Mungkin dia masih tidak ingin diganggu. Ada kalanya pria ingin menyelesaikan masalah tanpa menarik orang lain ke dalamnya. Sekalipun itu kekasihnya. Bukankah kau sangat mengenal sifat Fabian? Dia tidak suka didekati saat ada masalah. Biarkan dia yang memulai bercerita padamu. Dengan begitu hubungan kalian tak akan terganggu."


Inilah yang disukai Yumi dari Erika. Sikapnya yang bijaksana serta dewasa, mampu membuatnya nyaman. Maka tak salah jika ia sangat mempercayai wanita tersebut.


Meskipun bar-bar, Erika mampu menyeimbangi diri dalam setiap momen.


"Entahlah, aku hanya tidak tahan melihat sikapnya yang sungguh dingin. Bahkan dia selalu menyakiti dirinya sendiri. Itu membuatku terluka, Erika. Aku tidak bisa melihatnya bersedih." Kini Yumi mulai menangis.


"Aku tahu kau sangat mencintainya, tapi kau harus ingat satu hal dariku, bahwa Fabian tidak menyukai orang yang turut campur dalam urusannya. Biarkan dia yang mengajakmu dalam menghadapi masalahnya. Jika kau yang memulai, itu artinya kau menabuh genderang perang dengannya." Yumi membenarkan ucapan sahabatnya itu.


"Jadi, aku harus bagaimana? Haruskah aku diam saja ketika tahu dia terluka? Aku ingin menjadi tempatnya bersandar. Aku ingin menjadi tempatnya kembali pulang," kata Yumi.


"Maka lakukan seperti apa yang ku katakan barusan."

__ADS_1


Kemudian Yumi merenungkan perkataan Erika. Ada baiknya memang bila ia tak turut campur dalam masalah Fabian.


Jika pria itu meminta pendapatnya, maka saat itu lah waktu yang tepat untuk melakukan yang terbaik sebagai pasangan.


__ADS_2