Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Aku Terpikat Dirimu


__ADS_3

Kenzo menanti Fabian di rumah bersama Abdullah, Kakeknya. Namun, Fabian masih berada di rumah Yumi, bersama Gautam dan Zara.


Kenzo belum pernah melihat mereka, meski jarak rumah cukup dekat.


Gautam hendak bertanya, benarkah Fabian telah memiliki seorang Putra. Namun, diurungkan karena tak ingin mencampuri urusan pria tersebut.


Terlebih lagi hubungan mereka hanyalah sebatas mantan menantu dan mertua. Tak etis rasanya untuk memasuki kehidupan masing-masing.


"Maaf, tadi Putraku yang menelepon." Entah apa yang dipikirkan oleh Fabian hari ini, tanpa ragu menyebut Kenzo di depan Gautam. Tidakah seharusnya dia menyembunyikan Anak itu?


Andai situasinya benar-benar tepat, maka keberadaan Anak itu memang harus diketahui.


Anehnya, Fabian tidak berencana bercerita secara gamblang mengenai Kenzo.


"Ah ya, tidak masalah. Duduklah, dan pakai baju ini. Nanti kau masuk angin." Gautam sangat lembut memperlakukan Fabian. Sedangkan Yumi ingin segera pria itu pulang.


Tidak akan baik jika dia berada di sana sampai esok hari. Pun Zara, wanita setengah baya itu juga sependapat dengan Putrinya. Hanya saja dia memendam perasaan itu.


"Sudah malam, apa kau tidak akan pulang?" Yumi berupaya menahan diri agar tidak mengusir Fabian. Sebab, tak ingin memancing keributan.


"Di luar sedang hujan deras, biarkan dia menginap di sini malam ini," ungkap Gautam.


"Bukankah sejak tadi telah turun hujan? Lalu apa masalahnya? Lagi pula dia membawa mobil, bukan berjalan kaki," sarkas Yumi.


Memang benar kata Yumi, bahwa Fabian harus pulang. Sebab, tak akan baik bila tetangga melihat pria tersebut di pagi hari. Apa yang akan mereka katakan. Yumi pasti akan mendapat penghinaan lagi dan lagi.


Yumi pun tak mengerti dengan pola pikir Sang Ayah yang meluaskan Fabian untuk menginap di rumah mereka.


Delapan tahun lalu, sudah cukup dia mengecewakan mereka, dan dengan lapangnya Gautam membuka pintu hati.


"Yang dikatakan Yumi memang benar," cetus Zara setelah beberapa saat diam. Lalu ia pun beralih kepada Fabian, "Maafkan kami, Nak. Bukan maksud kami mengusirmu dari rumah ini. Hanya saja tidak etis bila kau menginap di sini. Besok pagi tetangga akan bergunjing."


Fabian mengerti maksud dan tujuan mantan mertuanya itu. Mereka berusaha untuk melindungi nama baik Yumi.


"Tidak masalah, saya tidak akan lama di sini. Lagi pula saya memang harus pulang, karena Kenzo sedang menungguku di rumah," kata Fabian bijaksana.


"Kenzo?"


Gautam dan Zara saling memandang satu sama lain, seakan saling bertanya dalam diam.


"Putraku," ucap Fabian.


"Berapa usia Putramu?" Ragu-ragu Zara bertanya, meski dalam hati ia berharap, bahwa Anak itu adalah cucunya. Namun, jika Anak itu adalah Putra Yumi, bagaimana bisa mereka tidak tahu?


"Delapan tahun," jawab Fabian tanpa ragu.

__ADS_1


Mendengar itu, mata Zara pun membeliak. Rupanya Fabian telah menikah setelah menceraikan Putrinya, tapi di mana Ibu Anak itu? Mengapa Fabian seakan leluasa bersama Yumi?


"Ap--"


Zara masih ingin mengajukan pertanyaan selanjutnya, tetapi Gautam mencegah wanita tersebut dengan menggenggam jemarinya sembari mengedipkan kedua mata, sebagai tanda, bahwa dia tidak perlu mempertanyakan status Fabian atau sebagainya.


"Sudah malam, pulang lah. Sebelum hujan semakin deras. Lagi pula lampu jalan sudah menyala." Yumi tidak ingin membuat suasana semakin canggung, ia pun mempersilahkan Fabian untuk segera pulang.


"Baiklah, terimakasih."


"Diminum dulu tehnya."


"Terimakasih."


Fabian menyeduh teh yang asapnya masih mengepul di atas bibir cangkir itu hingga tandas.


Sudah lama ia tidak menikmati teh buatan mantan Mama mertuanya.


"Saya pamit." Setelah itu Fabian pun pamit pulang.


"Kapan-kapan main lah ke sini. Kita bisa bermain catur bersama." Namun, sebelum itu Gautam memintanya untuk kembali mengunjungi rumah mereka. Tak pelak membuat Yumi tersinggung kesal.


Pun Zara yang tak paham terhadap jalan pikiran suaminya.


Sebagai seorang Ayah sekaligus suami, seharusnya Gautam mempersoalkan keberadaan Fabian yang tiba-tiba muncul kembali dalam kehidupan Putrinya.


"Tentu saja," sahut Fabian bersemangat.


Dalam hati Fabian bergembira, karena rupanya Gautam masih welcome terhadap dirinya.


Sementara itu di tempat berbeda, Kenzo masih setia menanti Ayahnya pulang, ditemani Abdullah.


"Kakek, apakah Kakek yakin Nona Yumi bersedia menjadi Ibuku?" Sungguh malang bocah itu, diusianya yang masih kanak-kanak, dia belum mengetahui siapa Ibu kandungnya.


Anehnya, Fabian tidak pernah menyinggung wanita yang telah melahirkannya itu.


Pun Abdullah, pria beruban itu belum pernah melihatnya juga.


Fabian seolah sengaja menyembunyikan siapa Ibu Putranya.


"Aku pulang." Kini Fabian telah sampai rumah setelah menembus gelapnya malam yang diiringi derasnya hujan.


Beruntung lampu jalanan tidak padam seperti beberapa jam lalu.


"Ayah." Seperti biasa, Kenzo meloncat di gendongan Fabian dengan manjanya.

__ADS_1


"Menginap lah di sini. Ini sudah larut malam." Abdullah hendak pulang, tetapi Fabian mencegahnya.


Meski bersikap dingin, tetapi Fabian masih memperhatikan Ayahnya itu.


"Baiklah." Dalam hati Abdullah bersorak gembira tatkala mendapat kesempatan untuk menghabiskan malam di rumah Putranya.


Pun Kenzo, Anak itu tak kalah bahagianya. Setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa berkumpul bersama.


"Apakah kita bisa bicara?" Setelah menidurkan Kenzo di kamarnya, Abdullah mengajak Fabian bicara.


"Lima menit," kata lelaki itu dingin.


"Begini, mengapa kau tidak pernah memberitahu Kenzo perihal Ibunya? Kasihan dia. Sudah lama dia merindukan Ibu kandungnya." Kendati sungkan, tetapi Abdullah tak ingin memendam pertanyaan itu lebih lama lagi.


Kali ini dia mendapat kesempatan, maka dia pun tak akan menyia-nyiakan.


"Biarkan ini menjadi urusanku. Kau tidak perlu ikut campur!" seru Fabian masih dengan sikap yang dingin.


Intonasinya pun penuh penekanan.


"Tetap saja, Nak. Apa kau tidak memikirkan perasaan Putramu? Setidaknya sekali saja kau jujur lah padanya."


"Sudah ku katakan, ini adalah urusanku! Lagi pula, apakah menurutmu aku tidak cukup baik untuk menjadi Ayah sekaligus Ibu Kenzo? Lagi pula, dia akan segera mendapatkan seorang Ibu." Fabian memelankan suara di ujung kalimatnya. Namun, masih bisa didengar oleh Abdullah.


"Apakah kau ingin menikahi Yumi kembali?" tanya Abdullah akhirnya.


"Jika memang benar, Ayah setuju. Aku sangat menyukai wanita itu. Dia sangat sederhana meski kami belum sempat mengenal lebih dalam. Kami baru bicara beberapa kali. Namun, sebagai seorang Ayah, aku tahu mana yang terbaik untukmu, Nak," lirih Abdullah penuh rasa haru.


"Baiklah, Ayah masuk dulu ke kamar. Selamat malam," imbuhnya.


"Ayah saja sangat menyukai Yumi, apa lagi aku," gumam Fabian bersungguh-sungguh.


Tekad Fabian telah bulat untuk memenangkan hati Yumi kembali. Memang jalannya terjal dan tak akan mudah, tetapi itulah resiko yang harus dilalui oleh Fabian.


Di rumah Yumi, tidak bisa tidur. Sebab, mengingat ucapan Ayahnya beberapa saat lalu.


Entah besok atau lusa, Fabian akan sering bermain di rumahnya. Sedangkan tetangga pasti akan bergosip kesana kemari tentang mereka.


Status Yumi yang sebagai janda sungguh dianggap aib oleh orang-orang awam. Hanya segelintir orang yang menghormati status tersebut.


"Apa yang dipikirkan Papa sampai harus mengajak Fabian main ke rumah ini? Bukankah seharusnya dia melarangnya?" gumam Yumi.


Ting.


Tiba-tiba satu pesan masuk, menghiasai layar ponsel Yumi.

__ADS_1


"Tunggu aku besok pagi. Aku akan menjemputmu. Aku terpikat dirimu." Fabian.


__ADS_2