Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Club Gundik


__ADS_3

Dunia Malam Sebagai Gaya Hidup. Tidak bisa dipungkuri lagi di zaman yang modern ini, Nightlife atau kehidupan malam sudah menjadi gaya hidup bagi banyak orang.


Sekarang tidak aneh jika banyak orang yang beraktivitas atau bekerja di malam hari, atau keluar di malam hari. Malam hari adalah milik mereka yang mencari kesenangan dan hiburan, waktunya untuk bersantai menikmati hidup.


Jika bicara tentang dunia malam, maka identik dengan nightclub, karaoke, kafe dan lain-lain.


Salah satu dampak yang menyebabkan naiknya industri malam adalah globalisasi. Banyak turis–turis wisatawan yang datang ke berbagai negara, menyebabkan tempat wisata atau kota tersebut berbenah meningkatkan kualitas wisata kotanya.


Jika dulu para turis hanya ingin sekedar mencari tempat wisata, kalau sekarang malah banyak turis yang penasaran dengan kehidupan malam di kota–kota besar wisata. Dari survey, hampir lima puluh enam persen turis penasaran dengan kehidupan malam kota yang ia datangi. Mulai dari clubnya, karaoke, night market, kuliner malam sampai prostitusi di kota tersebut.


Itilah orang–orang di atas biasanya disebut penikmat dunia malam. Dari istilah tersebut baru muncul yang namanya dugem atau dunia gemerlap.


Istilah dugem sangat terkenal sekali di Indonesia. Istilah ini banyak dibicarakan oleh para eksmud atau eksekutif muda yang ingin menyeimbangkan diri dari tumpukkan emosi dan rutinitas dari pekerjaan kantor atau bisnis.


Dugem merurut mereka adalah menikmati suasana club, cafe, bar atau lounge yang menghadirkan musik dengan bit yang kuat, cepat serta volume yang keras.


Konon kegiatan dugem tersebut membuat para penikmatinya merasakan sensasi rileks dan menghilangkan kepenatan di otak.  Karena efek positif tersebut, banyak yang menjadikan dugem sebagai gaya hidup atau pelarian dari masalah.


Tidak heran jika untuk dugem saja, para penikmati dunia malam rela mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah untuk satu malam. Untuk club–club di Jakarta, memang mempunyai biaya masuk yang cukup mahal.


Gaya hidup malam adalah sesuatu yang dibentuk oleh pola dan minat. Jadi, bisa disimpulkan seorang penikmat dunia malam, senang menggunakan uang, waktu dan minatnya untuk menghabiskan pola yang dihadirkan oleh club yang ada.


Itu Berarti dunia malam juga bisa bersifat conform atau nyaman bagi orang yang ada dan beraktivitas di dalamnya.


Sudah bukan rahasia umum lagi, kalau pendapatan dari club-club dan bar bisa mendapatkan penghasilan miliaran per bulan. Hal itu sebanding dengan hiburan dan kepuasan yang diberikan oleh bar dan club tersebut.


Kenyamanan ini yang membuat orang ingin datang lagi dan lagi, karena ketika seorang merasa nyaman, maka dia enggang untuk berpindah ke lain hal.


Selayaknya Rido, ia pun enggan untuk berpaling. Hobinya dengan dunia malam telah mendarah daging.


Tak ayal ia mengajak dua sahabatnya, meski salah satu dari mereka menginjakan kaki di tempat maksiat itu dengan berat hati.

__ADS_1


Adalah Rafi, pria dengan sejuta pesona, enggan untuk menapakan kaki di sana.


Sedangkan Keva, sakit hati yang ia rasa sungguh menggetarkan jiwa. Alhasil pria itu pun memilih jalur yang sama seperti mereka penikmat dunia malam.


Dan di sinilah mereka sekarang, di club tempatnya para gundik menari erotis.


"Wow, yeah." Rido mulai menggerakan tubuh, sedangkan tangannya menari-nari ke udara. Menikmati musik yang sungguh meriah.


"Come on, Bro. Les't dance together," ajak Rido sembari bergoyang riang.


"Aku ingin gundik," kata Keva tak sabar.


Sementara Rafi memutar bola matanya, bosan terhadap dua sahabatnya itu.


Sejujurnya pemuda berkaos hitam tersebut hendak pulang ke vila. Namun, ia harus menemani Keva yang sedang galau.


Sangat disayangkan bila pria itu melakukan hal tak seronok demi melampiaskan hasrat.


Ingin rasanya Rafi membawa pergi Keva dari tempat laknat tersebut. Namun, tekad Keva telah bulat. Ia enggan pulang sebelum mencicipi tubuh gundik di club tersebut.


"Keva, ayo kita pergi dari sini. Tempat ini tidak cocok untukmu. Bagaimana kalau ada yang melihat kita? Bisa hancur reputasi yang kau bangun dengan susah payah." Sementara itu, Rafi tak putus asa. Ia terus merayu Keva untuk segera pergi dari tempat tersebut.


"Kalau kau ingin pulang, maka silahkan saja. Aku tidak melarangmu. Dan satu lagi, jangan ganggu kesenanganku. Malam ini aku ingin menghabiskan waktu bersama para pelacur itu." Sayangnya, Keva menutup pintu hati. Ia pun beranjak ke tempat duduk VVIP.


Tempat itu telah dipesannya sebelum berkunjung. Rido telah mengatur segalanya dengan sempurnah.


"Astaga, pria ini benar-benar sudah hilang akal. Bagaimana bisa dia terpengaruh oleh Rido? Aku harus menghentikan pria itu," gumam Rafi, menyusun rencana.


"Hai, Tampan. Apa kau sendirian?" Kemudian datang lah salah satu ladis di club tersebut, menyapa Rafi sembari mengelus pipi mulusnya.


"Minggirlah! Aku tidak butuh hiburan." Keteguhan Rafi patut diacungi jempol. Meski pelacur itu mengenakan gaun di atas paha, serta dadanya terbuka lebar. Namun, akal sehatnya masih berjalan normal. Rafi tak berniat menyentuh wanita itu.

__ADS_1


"Lalu, apa yang kau butuhkan, Sayang? Apakah area ini?" Gundik itu kembali merayu Rafi dengan nada sangat sensual.


Kali ini ia membuka area pribadinya secara transparan untuk ditunjukkan kepada pria tersebut.


"Pelacur ini benar-benar tak punya akhlak. Apakah uang segalanya bagi mereka? Tidakah keluarganya sedang menunggu di rumah untuk makan bersama? Sungguh sangat disayangkan," gumam Rafi, menyayangkan perbuatan wanita malam tersebut.


Padahal perempuan dengan gaun merah menyala itu cukup cantik. Entah apa alasannya sampai ia rela menukar tubuhnya dengan rupiah.


Tanpa memperdulikan ***** itu, Rafi pun beralih ke tempat Keva. Dimana sahabatnya itu tengah duduk menikmati khamar bersama empat wanita sekaligus.


Keva sungguh terlihat putus asa. Caranya melampiaskan amarah sukses membuat Rafi iba. Ia pun tak berniat meninggalkan sahabatnya itu walau apapun yang terjadi.


Rafi tak berharap banyak terhadap Rido. Pria itu jauh lebih parah.


"Halo, baby. Apa kau ingin gabung bersama kami?" Setelah duduk bersama Keva, salah satu gundik itu merayu Rafi.


Tangan ***** tersebut mulai bergerilya mengelilingi alat vital Rafi. Sehingga mengakibatkan burungnya bergoyang untuk sepersekian detik.


Namun, kemudian ia kembali fokus pada tujuan awal, bahwa ia tak boleh goyah.


Kedatangannya di tempat maksiat tersebut demi menyelamatkan Keva dari lingkaran setan.


"Jika kau masih menyayangi tubuhmu, maka sebaiknya singkirkan tanganmu dari alat vitalku. Atau kau akan menyesal seumur hidup setelah bertemu denganku." Ancaman Rafi sukses membuat pelacur itu merinding ngilu.


Pelan dan menusuk ke jantung, kalimat Rafi sungguh tajam. Alhasil wanita berambut lebat tersebut menarik tangannya.


"Apakah dia temanmu?" Karena merasa terancam, pelacur itu pun bertanya kepada Keva.


"Lupakan saja dia. Kau cukup melayani aku!" Keva seolah tak memperdulikan keberadaan Rafi. Dirinya masih fokus pada paha empat gadis di sisinya itu.


Sedangkan Rido sudah berada di dalam kamar. Tentu saja bersama ***** pesanannya.

__ADS_1


Mereka telah bergulat di atas tempat tidur setengah jam yang lalu.


Keduanya bahkan bermandikan peluh. Menikmati surga dunia yang sungguh nikmat tiada dua.


__ADS_2