
Tidak peduli apapun masalahnya, Keva tetap menanti Yumi. Wanita itu memang bukanlah seorang gadis seperti kebanyakan, tetapi dia sangat istimewa.
Yumi tak ubahnya seorang perempuan berhati mulia. Meski tersakiti oleh masa lalunya, tetapi ia masih mengenyampingkan ego demi kebahagiaan seseorang.
Pada simpul ini, tentu saja Keva tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia bukanlah pria bodoh yang tak tahu menilai seseorang.
Dari kebanyakan wanita yang berupaya mendekatinya, Yumi lah yang sukses memenangkan hati serta jiwanya.
Yumi ibarat magnet yang menarik setiap sudut hati Keva. Meski kedua orang tuanya belum tentu menerima hubungan mereka.
Sedangkan Yumi merasa tak pantas bagi pria tersebut. Masa depannya terlalu cerah, sedangkan dia hanyalah seorang janda. Namun, bukankah janda juga berhak bahagia?
Janda bukanlah aib yang harus ditutupi, bukan pula penyakit yang harus disembuhkan. Apa lagi hama yang harus dibasmi.
Janda juga manusia. Mereka butuh dihargai, bukan dicemooh selayaknya wanita kupu-kupu malam.
"Apa aku mengganggumu?" Keva datang dengan sebutket bunga di tangan. Pria itu mengunjungi Yumi di kantornya.
Di kantor itu masih ada beberapa pegawai, termasuk Fabian. Hari ini tim pemasaran sedang melakukan deadline.
"Keva," ucap Yumi dengan raut terkejut.
Mereka tidak membuat temu janji, hanya saja Keva berinisiatif untuk menemui wanita itu di kantor.
Para pegawai wanita yang bersama Yumi, berdecak kagum pada Keva. Pria itu terlihat sungguh tampan. Terlebih lagi dia sangat romantis.
Terutama Rohana, wanita itu seolah tak ingin ketinggalan kereta.
"Dengar, mulai sekarang aku mengumumkan, bahwa aku tidak lagi menyukai Tuan Fabian." Dia pun memberitahu para pegawai terkait perasaannya terhadap Fabian.
Sudah menjadi rahasia umum lagi bila Rohana menaruh hati kepada Sang CEO. Akan tetapi, kehadiran Keva saat ini membuatnya berubah haluan. Dia mulai menyukai pria tersebut.
"Wanita itu pasti sudah gila," gumam Erika. Namun, masih bisa didengar oleh Rohana.
"Bunga ini untukmu." Keva menghampiri Yumi, lantas memberikan sebuket bunga di tangannya.
"Terimakasih." Yumi menerima bunga tersebut dengan senang hati. Bibirnya terukir senyuman manis.
Ada sedikit rasa malu di hati, karena Keva memperlakukan dirinya dengan manis serta lembut.
"Duduklah." Yumi mempersilahkan Keva sebelum akhirnya mengambil sebuah kursi.
Semua orang yang melihat mereka merasa terharu sekaligus iri, terutama Rohana. Dia pikir bisa mendekati Keva. Rupanya pria tersebut sangat dingin padanya. Seolah tak menganggapnya sebagai wanita menarik.
__ADS_1
Sejujurnya Rohana tidaklah buruk, hanya saja perangainya yang bar-bar membuat banyak pria menghindar sekaligus takut mendekatinya.
"Apa kalian tidak mempunyai pekerjaan? Mengapa kalian berkumpul di sini?" Sementara Fabian yang baru saja bergabung, terlihat kesal saat melihat adanya Keva di antara orang-orang tersebut.
Tampaknya Keva sukses mencuri perhatian semua orang.
"Lalu apa yang Tuan bawa? Bukankah itu makanan?" Erika memperhatikan Fabian yang sedang memegang sekantung makanan untuk para pegawai, termasuk Yumi.
Tadinya Fabian ingin memberi Yumi kejutan, berhubung wanita itu sedang berulang tahun. Namun, kehadiran Keva membuatnya patah semangat. Hatinya seperti tersayat.
Ada rasa cemburu yang mulai meronta ria di dalam sana. Fabian sulit mencegah perasaan itu. Sehingga menunjukan sikap yang aneh.
"Oh ya, kebetulan Keva juga membawa makanan untuk kita. Bagaimana kalau makanan yang dibawah oleh Tuan Fabian, digabung bersama ini?" Yumi menengahi dua pria tersebut agar situasinya tidak begitu canggung.
Wanita itu menunjukan sekantung makanan dari Keva, lantas mengambil alih makanan yang dibawah oleh Fabian. Dia menyatukan dalam satu wadah yang sama.
"Apa kabar." Keva menyapa Fabian dengan menjulurkan tangan.
"Bukankah sudah ku katakan, bahwa orang luar tidak boleh keluar masuk di kantor ini!" Namun, Fabian yang masih emosional menolak uluran tangan tersebut.
Dia menyindir Keva selayaknya musuh. "Dia adalah tamuku, aku yang mengundangnya untuk makan malam," sahut Yumi, membela Keva.
"Ah ya, bukankah hari ini kau sedang berulang tahun? Apakah kau datang untuk itu?" tanya Erika.
Keva yang malu-malu, tersenyum manis di depan Yumi. Rupanya Keva adalah pria romantis.
Semula Rohana tidak menyukai Yumi karena Fabian. Namun, yang terlihat saat ini adalah seperti dua orang yang saling mengasihi satu sama lain.
"Doakan yang terbaik untuk kami."
Hati Fabian semakin terluka tatkala Keva meminta doa dari para pegawainya. Pria itu benar-benar sukses memenangkan hati semua orang, termasuk Yumi.
"Apa kalian masih ingin bercerita? Bukankah masih ada yang harus dikerjakan? Aku tidak membayar gaji kalian dengan hasil bergosip," omel Fabian penuh penekanan.
"Bukannya sudah selesai, ya? Apakah masih ada yang kurang?" sahut Erika.
"Iya, benar. Tadi aku sudah mengcopy semua fila yang Tuan butuhkan. Bahkan aku telah mengirimnya lewat email, Tuan. Tuan bisa memeriksanya. Bukankah Nona Yumi telah mereservasi tempat pertemuan besok?" sela Erik, kepala pemasaran.
Kali ini Fabian tidak berkutik. Seluruh pegawainya membela Keva. Sebetulnya bukan membela, melainkan memberitahu pria itu, bahwa semua pekerjaan telah selesai. Waktunya untuk rehat.
"Kalau begitu sekarang waktunya tiup lilin dan makan. Kebetulan aku sudah lapar." Sengaja Yumi mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu tegang.
Pasalnya Yumi mulai mencium aroma cemburu antara Fabian dan Keva.
__ADS_1
"Ah iya, kebetulan tadi aku memesan kue kesukaan Yumi," ucap Keva.
"Semoga kau menyukai kue dariku," bisik Keva kepada Yumi.
"Ngomong-ngomong, apa kau tidak ingin bergabung bersama kami?" Kemudian Keva beralih kepada Fabian yang tampak muram.
"Silahkan dinikmati kuenya, aku masih ada kerjaan. Selamat malam." Fabian tidak ingin bergabung bersama orang-orang itu. Dia masuk ke dalam ruangannya dengan membawa serta hadiah untuk Yumi.
Hadiah itu berupa gelang emas kesukaan Yumi. Dahulu ia tidak pernah memberi wanita itu perhiasan meski telah melayaninya dengan baik selama dua tahun.
Fabian memang tidak ringan tangan, tetapi hatinya seperti kosong terhadap Yumi. Sekarang dia baru menyadari betapa pentingnya wanita itu di sisinya.
"Ayah, apa kau sudah memberi Nona Yumi hadiah?" Tiba-tiba Kenzo menghubungi Fabian. Bocah delapan tahun itu tahu kapan Yumi berulang tahun.
"Sepertinya Ayah tidak bisa memberinya sekarang. Kami masih banyak kerjaan." Fabian melirik para pegawai yang tengah menikmati makan malam bersama.
Terlihat Yumi tengah disuapi oleh Keva dari jendela ruangannya. Dua orang itu terlihat serasi dan bahagia.
Yumi tertawa, sedangkan pegawai lainnya memberinya ucapan selamat. Sementara Erika memeluk Sang sahabat.
Kini Fabian hanya bisa menatap nanar hadiahnya. Ada sedikit sesal di hati karena niat tak kesampaian.
Tadinya Fabian ingin memberi Yumi kejutan, tetapi Keva mendahului dirinya. Sekali lagi dia telah kehilangan kesempatan itu.
"Tenang saja, Ayah masih mempunyai banyak waktu. Aku jamin, Nona Yumi pasti menyukainya." Setidaknya masih ada Kenzo yang membesarkan hati Fabian. Tadinya pria itu telah putus asa, maka tidak salah bila ia memiliki Kenzo di sisinya.
Anak itu benar-benar sangat baik sekaligus pengertian. "Apa kau sangat menyukai Nona Yumi?" tanya Fabian, masih dengan memainkan hadiah di tangan.
"Tentu saja aku suka. Dia telah membelaku dari Ibu itu. Dia bahkan percaya padaku," lirih Kenzo.
"Apa aku boleh masuk?" Kemudian Yumi masuk ke dalam ruangan Fabian dengan sepiring kue di tangan.
Sontak Fabian menutup telponnya. "Nanti kita bicara lagi."
"Ada apa? Bukankah kau sedang merayakan ulang tahun bersama kekasih barumu?" Pura-pura Fabian bertanya, padahal dalam hati luar biasa bahagia. Dia tahu, bahwa Yumi masih memperhatikan dirinya. Terbukti, wanita itu masih menyisakan kue ulang tahun untuknya.
"Lantas siapa kekasih lamaku?" ledek Yumi. Sontak Fabian tidak sanggup menjawab pertanyaan Sang mantan istri.
"Makanlah sedikit kue, sejak tadi kau belum makan," ungkap Yumi seraya meletakan sepiring kue di meja Fabian.
Yumi berencana meninggalkan Fabian. Namun, pria itu mencegahnya. "Selamat ulang tahun." Fabian memberi wanita itu hadiah yang ia pegang.
"Semoga masih belum terlambat," imbuh pria itu.
__ADS_1
"Terimakasih, tapi sebaiknya kau simpan hadiah itu untuk calon isrimu." Yumi menolak pemberian Fabian. Baginya, dia tidak berhak menerima apapun dari pria tersebut.
Masa lalu di antara mereka telah berakhir. Kedatangannya kali ini bukan untuk kembali, melainkan Yumi teringat, bahwa mantan suaminya itu belum makan apapun sejak siang. Sedangkan besok masih ada pertemuan penting yang membutuhkan tenaga serta pikiran. Bukankah dia harus makan?