
Malam itu cuaca tidak mendukung. Telah turun hujan deras mengguyur kota Jakarta. Ranting pohon berjatuhan. Dedaunan mulai basah. Jalanan pun licin. Sehingga mengakibatkan kendaraan tak banyak yang berlalu lalang.
Sementara masih ada Yumi dan Erika di kantornya. Kedua wanita itu menunggu hujan reda agar bisa kembali ke rumah masing-masing.
"Kalian masih di sini?" Rupanya Fabian juga masih belum kembali. Pria itu berada dalam ruangan rahasia, yang mana hanya dia dan Yumi yang tahu.
Waktu telah menunjukan pukul sembilan malam. Cukup lama Yumi dan Erika menunggu cuaca mereda.
"Iya, lalu bagaimana dengan, Tuan? Mengapa masih di sini?" Erika tak cukup kaku ketika menghadapi Fabian. Faktanya mereka saling mengenal satu sama lain sejak dahulu. Terlebih lagi mereka tidak terlibat masalah apapun. Satu-satunya masalah yang hadir di antara keduanya hanyalah urusan pekerjaan.
Sedangkan Yumi masih enggan untuk bersuara. Seolah menikmati hujan lewat titisan jendela.
"Tadi aku masih ada kerjaan. Apakah kalian masih ingin tetap di sini? Atau sebaiknya ikut bersamaku, biar aku antar pulang." Tadinya Fabian berencana ingin pulang, tetapi karena merasa lelah, maka ia pun memutuskan untuk tidur sejenak di kamar rahasianya.
"Tidak, terimakasih. Aku sedang menunggu jemputan." Yumi sengaja berbohong kepada Fabian. Seolah Keva akan menjemputnya.
Nyatanya adalah Yumi sedang menunggu hujan reda agar ia bisa memesan taksi untuk kembali ke rumah.
"Yumi, ayolah. Ini sudah pukul sembilan malam. Sebaiknya kita pulang bersama Fabian. Lagi pula belum tentu Keva datang menjemputmu, kan?" Rupanya Erika tidak bisa diajak kerja sama. Wanita dengan jas coklat muda itu menyetujui ide Fabian.
"Kau pulang lah bersamanya, aku masih ingin di sini. Menunggu hujan reda," sahut Yumi tanpa melihat wajah Fabian maupun Erika.
"Baiklah, biarkan dia di sini. Sebaiknya kita pulang. Siapa tahu ada hantu yang mau menemaninya." Fabian sengaja menakut-nakuti Yumi, agar wanita itu bersedia pulang bersamanya.
"Tidak masalah." Sayangnya Yumi tetap dengan pendiriannya untuk tetap tinggal.
Bukan karena menunggu Keva atau karena ada Erika di antara mereka. Hanya saja dia ingin menjaga hati agar tidak patah lagi.
Pasalnya, hati Yumi mulai goyah pasca pertemuan mereka. Maka tidak ada salahnya bila ia hendak menjaga diri agar tak jatuh ke dalam lubang yang sama.
Fabian memang banyak berubah, tetapi Yumi enggan untuk mempercayainya.
"Baiklah, ayo kita pergi dari sini. Biarkan dia sendiri menemui hantu di kantor ini." Lagi-lagi Fabian sengaja menakut-nakuti Yumi. Akan tetapi, wanita itu tetap tak bergeming.
Tatapannya tetap tertuju pada jalanan yang basah. Netra coklat itu tak berpaling sejak tadi.
Akhirnya Fabian dan Erika meninggalkan Yumi, meski dengan berat hati. Terutama Erika, wanita itu masih ingin menemani Yumi, tapi apalah daya, matanya tersisa lima wath.
__ADS_1
"Apa dia akan baik-baik saja di kantor ini sendirian?" Meski begitu, Erika tetap mencemaskan kondisi sahabatnya itu.
"Kau tenang saja. Yumi lebih galak dari hantu di kantor ini," sahut Fabian, yang membuat Erika terkekeh karena guyonannya.
"Ngomong-ngomong, apa benar di kantor ini ada hantu?" Ragu-ragu Erika bertanya, takut makhluk halus itu tiba-tiba muncul.
"Iya, kalau kau terus bicara," sahut Fabian seadanya.
Pikiran pria itu berkelana kepada Yumi. Hatinya was-was saat memikirkan mantan istrinya tersebut.
Sementara itu, Yumi masih berdiri di depan jendela, tempatnya tadi bersama Erika. Dalam hati wanita itu mulai takut. Dirasakan bulu kuduk mulai berdiri. Seperti ada seseorang di belakang.
Brak!
Yumi menoleh saat ada benda jatuh ke lantai. Dan tiba-tiba saja petir berdesir, bersamaan dengan itu, lampu pun padam. Alhasil perasaan Yumi semakin tidak karuan.
Detak jantung wanita dua puluh delapan tahun itu semakin berdegup kencang.
"Siapa di sana?" ucap Yumi semakin takut.
Yumi mengambil ponsel di dalam tasnya untuk menerangi ruangan itu. Cahayanya cukup remang-remang, sehingga tak memperlihatkan siapa sosok yang berdiri di ambang pintu.
"Aakk--" Tiba-tiba seseorang memeluk Yumi dari belakang.
"Lepaskan aku! dasar manusia mesum!" Yumi memukul orang itu.
Anehnya, orang itu tidak melakukan perlawanan, hingga Yumi leluasa menghantam wajahnya.
"Yumi ini aku, Fabian!"
"Fabian, kau? Sedang apa kau di sini? Bukankah tadi kau pulang bersama Erika?" tanya Yumi bertubi-tubi.
"Tadinya begitu, tapi aku melupakan sesuatu di sini," sahut Fabian berbohong. Faktanya adalah pria itu mencemaskan Sang mantan istri.
"Lalu Erika? Di mana dia?" tanya Yumi sekali lagi.
"Aku di sini." Rupanya wanita itu juga masih berada di kantor.
__ADS_1
"Kalian berdua masih di sini? Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Biar aku jelaskan." Kali ini Erika yang mulai menerangkan layaknya seorang guru.
"Tadinya kami sudah ada di lobi, tapi tiba-tiba saja Fabian memintaku untuk menunggu. Namun, mendadak lampunya padam, dan kami mencemaskan dirimu. Lebih tepatnya dia yang mencemaskanmu. Sedangkan aku hanya seperempat saja," jelas Erika sembari bergurau.
"Astaga, wanita ini tidak bisa dipercaya. Bisa hancur harga diriku kalau begini. Yumi pasti akan besar kepala kalau tahu aku mencemaskan dirinya," gumam Fabian, nyaris didengar oleh dua wanita itu.
"Sudahlah, sebaiknya kita pulang sebelum hantu di kantor ini benar-benar muncul," tandas Fabian, sengaja mengalihkan perhatian.
Akhirnya mereka pun kembali bersama-sama.
Pertama Fabian mengantar Erika ke rumahnya. Berhubung jalannya searah dan lebih dulu menemukan rumah gadis itu.
Selanjutnya Yumi, tetapi kali ini Fabian memperlambat perjalanan. Sebab, ia masih ingin berlama-lama dengannya.
"Mengapa kau kembali?" tanya Yumi dengan nada dingin.
"Mengapa Keva tidak menjemputmu? Bukankah dia adalah calon tunanganmu?"
"Itu bukan urusanmu!" seru Yumi tak mau memulai perdebatan.
"Lalu apa yang menjadi urusanku!" seru pria itu seraya menginjak pedal rem.
Fabian menghentikan mobil di tepi jalan.
"Kantor, itulah urusanmu. Berhenti mengikuti urusan pribadiku. Jangan lupa, aku hanyalah sekretarismu bukan kekasih atau istrimu! Ataukah sekarang urusan pribadi sekretaris harus diketahui oleh atasan mereka?" sarkas Yumi mulai meninggikan suara.
Keduanya terlibat perdebatan di tengah jalan saat hujan semakin deras. Guntur pun seakan tak mau kalah, suaranya menggema memenuhi langit yang gelap.
"Antar aku pulang, aku tidak ingin berdebat denganmu. Kau tidak akan mengerti."
"Apanya yang tidak aku mengerti? Apakah kau jatuh cinta lagi padaku?" tanya Fabian penuh harap.
Harapan Fabian malam itu adalah ia ingin mengetahui isi hati Yumi padanya. Andaikan wanita itu bersedia berterus terang, maka kali ini dia bersumpah tak akan melepas tangan Yumi lagi.
"Kau terlalu percaya diri, Tuan Fabian. Jangan lupa, bahwa aku lah yang meninggalkanmu dulu. Aku yang menginginkan perceraian kita!" Untuk pertama kalinya Yumi menyinggung perceraian delapan tahun lalu. Pasalnya Fabian mulai berlebihan.
__ADS_1
Cup!
Dan tanpa memberi aba-aba, Fabian menyumbat mulut cerewet Yumi dengan bibir tipisnya.